8 Januari 2012
Acara Pensi baru saja selesai dengan penutupan dari band indie Efek Rumah Kaca. Seluruh siswa satu-persatu mulai meninggalkan lapangan untuk pulang ke rumah masing-masing. Beberapa panitia masih terlihat di sekitar panggung yang sedang dibongkar itu.
Tidak jauh dari panggung, tampak Winter dan Giselle yang sedang asik mengobrol. Saat ini mereka hanya berdua saja karena Karina sedang sibuk dengan tugasnya sebagai panitia dan Ningning tidak datang karena sakit.
“Win, baliknya nanti dulu ya. Gue mau nyari keong dulu sebentar,” ucap Giselle sambil tersenyum malu.
“Awas aja lo berdua kalo sampai nggak jadian,” gumam Giselle dalam hati.
“Hah? Kenapa tiba-tiba mau nyari keong? Lo sehat, Gi?” ucap Winter dengan muka bingung.
“Gue nyari keong demi masa depan lo pokoknya. Mau ikut nggak?”
“Lah, kok jadi gue. Ikutlah. Males juga gue di sini sendirian.”
Setelah 30 menit berkeliling sekolah, Giselle dan Winter belum menemukan 1 keong sama sekali. Winter mulai terlihat lelah. Sedangkan Giselle masih bersemangat karena ia tidak ingin menggagalkan rencana temannya.
“Gi, balik aja yuk. Udah 30 menit ini kita nggak nemu keong sama sekali. Pegel banget kaki gue muterin sekolah nggak jelas,” ucap Winter dengan muka cemberut.
“Sabar. Feeling gue sebentar lagi keongnya ketemu.”
5 menit kemudian, Karina menghampiri Winter dan Giselle yang berdiri tidak jauh dari panggung tadi.
“Nah, keongnya dateng juga akhirnya,” ucap Giselle setelah melihat Karina jalan mendekat.
“Halo, Gi. Winter. Winternya gue pinjem dulu ya, Gi,” ucap Karina sambil menarik tangan Winter.
“Jangan kelamaan, Rin. Pegel gue setengah jam nyariin keong.”
“Iya, tenang aja.”
Seperti anak ayam yang mengikuti induknya, Winter hanya bisa pasrah saat Karina menariknya menuju pohon besar tidak jauh dari lapangan.
“Capek ya Win abis nyari keong?” tanya Karina yang tertawa sambil merapikan rambut Winter yang sedikit berantakan.
“Tadinya iya. Tapi abis ketemu Kak Karin langsung seger lagi nih.” Winter memamerkan senyum lebarnya kepada Karina.
“Maaf ya kamu jadi nggak bisa langsung pulang. Sebenernya aku yang nyuruh Gigi buat nahan kamu pulang. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Karina sambil memegang tangan Winter.
“Kak Karin sakit ya? Kok tangannya dingin banget sih? Aku anter pulang aja yuk, Kak. Ngomongnya nanti aja di mobil,” ucap Winter panik sambil berusaha menarik tangan Karina.
“Eh aku nggak sakit kok, Win. Lagi gugup aja. Hehehe.”
“Ya Allah, Kak. Gugup kenapa? Kaya lagi mau nembak orang aja pake gugup segala.”
“Iya bener, Win.”
“Ohh pantesan gugup banget.”
“HAH? MAKSUDNYA KAK?” Winter sedikit berteriak saat menyadari ucapan Karina.
“Iya, Winter. Aku langsung ngomong aja ya biar nggak kemalaman. Kamu mau nggak jadi pacar aku? Sebentar ya jangan dijawab dulu.” Karina mengeluarkan sebuah notebook kecil dan pulpen dari kantong jaketnya lalu menulis sesuatu di dalamnya.
“Kamu lingkarin ya jawaban yang kamu pilih.”
Winter mengambil notebook kecil itu dari tangan Karina. Di dalamnya terdapat tulisan
Mau ❤️ — Nggak Mau 💔
Karina berjalan menjauh, memberikan Winter kesempatan untuk memikirkan jawaban atas pertanyaannya. Melihat kedua temannya yang sebentar lagi akan resmi berpacaran, -harap Giselle di dalam hati- Giselle berjalan perlahan untuk memberikan selamat kepada keduanya.
Namun langkah Giselle terhenti saat ia melihat Winter merobek kertas notebook itu dan membuangnya ke tanah. Lalu di lembar halaman setelahnya, Winter meninggalkan suatu tulisan.
Setelah selesai menuliskan pesannya, Winter berjalan menuju Karina yang saat ini sedang menangis setelah melihat penolakan atas cintanya saat Winter merobek kertas notebook-nya itu.
“Maaf ya, kak,” ucap Winter yang kemudian berlari kencang menuju Giselle yang berdiri terdiam tidak jauh dari lokasi.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang terus mengalir, Karina mencoba melihat jawaban dari Winter walaupun ia sudah yakin akan penolakannnya.
“WINTER!” teriak Karina setelah membaca tulisan di notebook-nya. Ia segera berlari menuju Winter yang saat ini sedang menundukkan kepalanya dipelukan Giselle.
“Lepasin cewek gue, Gi,” ucap Karina menarik Winter dari pelukan Giselle.
“Hah? Apaan sih? Lo nggak bisa maksain Winter dong Rin kalo dia nolak lo,” ucap Giselle masih menarik tangan Winter.
“Maksain apaan sih? Nih, lo baca aja tulisannya.” Karina memberikan notebook-nya kepada Giselle.
Giselle melepas Winter dari pegangannya. Ia langsung membaca jawaban Winter pada notebook itu.
“Lah terus lo tadi ngapain lari terus meluk gue, Win?” tanya Giselle saat melihat jawaban Winter.
“Gue malu. Hehehe,” ucap Winter yang saat ini berada di pelukan Karina.
“Si anjir! Emang masih punya urat malu lo. Gue udah takut aja kalo lo berdua nggak jadian! Gue nggak mungkin harus milih buat temenan di antara lo berdua!” teriak Giselle emosi setelah mendengar ucapan Winter.
“Eh santai aja dong, Gi. Jangan marahin pacar gue,” ucap Karina sambil tersenyum mengejek Giselle.
“Awas kering itu gigi senyum mulu. Udahlah gue balik sendirian aja kalo gitu. Males jadi nyamuk.”
“Gigi, jangan ngambek gitu dong. Ayo, kita pulang. Pak Marno udah nungguin di parkiran. Kak Karin aku anterin pulang yuk sekalian. Udah malem, nggak baik cewek cantik pulang sendirian.”
“HOEKK... Aduh, gue jadi kangen Ningning. Pake nggak masuk segala lagi tuh anak. Berasa nyamuk banget gue nanti di mobil,” ledek Giselle yang tersenyum melihat temannya yang telah resmi berpacaran.
“Nggak jadi nyamuk juga sih, Gi. Kan ada Pak Marno. Nanti lo bisa ngobrol sama beliau.” ledek Winter kepada Giselle.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan lapangan untuk menuju parkiran. Dengan bergandengan tangan dan diiringi canda gurauan, Winter dan Karina memulai kisahnya dalam berhubungan.