ThePluviophilee

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin itu adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan situasi Karina hari ini. Setelah dosen pembimbingnya secara tiba-tiba memintanya untuk mengganti judul skripsi di bimbingan ke 7, kini ia harus menerima kenyataan bahwa sepeda kesayangannya mengalami putus rantai dan rintik hujan mulai turun membasahi dirinya. Niatnya untuk segera kembali ke kosan untuk mengistirahatkan otaknya yang lelah harus ditunda karena kesialan yang bertubi-tubi ini.

Jika ia sudah bisa menerima kenyataan bahwa di usianya yang ke 21 tahun tidak akan memiliki soulmate selamanya karena tidak munculnya tato di tubuhnya-persetan dengan tato yang sering dibicarakan oleh teman-temannya-Karina masih dendam dengan keputusan dosen pembimbingnya yang seenak jidat menyuruhnya mengganti judul. Dengan langkah gontai, baju sedikit lepek dan emosi yang masih tinggi, Karina memarkirkan sepedanya di depan coffee shop yang baru saja buka di dekat kampus lalu masuk ke dalam sambil menunggu hujan reda.


Karina sedang mengetik di ponselnya sambil cemberut, menceritakan kesialannya kepada sang ibu ketika antrian di depannya sudah bergerak dan kini gilirannya untuk memesan.

Sunshine after the rain,” ucap Karina tanpa sadar ketika ia melihat senyuman gadis yang melayaninya. Seperti cahaya matahari yang memberikan kehangatan sehabis hujan, senyuman dari gadis di depannya mampu membuatnya melupakan sesaat rasa emosi yang menumpuk di dadanya.

Dengan pipi kemerahan akibat malu karena keceplosan, Karina segera mengalihkan pandangannya ke meja untuk melihat menu apa saja yang ditawarkan coffee shop ini ketika sebuah papan tulis kecil disodorkan kepadanya.

Maaf saya bisu tapi saya bisa mengerti ucapan kamu. Silahkan pesan menu yang kamu mau. Kalau bingung, kamu bisa minta rekomendasi ke saya. Terima kasih :) -Winter-” bunyi tulisan di papan itu.

Karina tersenyum setelah membaca tulisan di papan. Ia mengarahkan tatapannya ke gadis di depannya yang masih tersenyum lebar lalu mengangkat ibu jarinya dan berkata, “Oke.”

Lima menit berlalu dan Karina masih tampak bingung untuk menentukan pesanannya. Untungnya, saat ini tidak ada antrian sama sekali di belakangnya sehingga Winter membiarkan sang pembeli untuk melihat-lihat menu lebih lama dari biasanya. Atau sebenarnya ini hanya akal-akalan Karina saja sengaja berlama-lama agar ia bisa berdekatan lebih lama dengan Winter.

Setelah hampir 10 menit berlalu, Karina akhirnya menyerah dan baru saja akan meminta rekomendasi kepada Winter ketika papan kecil kembali diberikan kepadanya.

Hari ini kami punya menu spesial, Key Lime Pie Frappuccino yang kebetulan hanya tersedia di waktu tertentu. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan kamu. Mau coba?” bunyi tulisan di papan itu.

Karina tersenyum meringis membaca tulisan hari keberuntungan mengingat hal yang ia dapatkan hari ini adalah kesialan yang bertubi-tubi. Sampai akhirnya ia menyadari mungkin pertemuannya dengan gadis di depannya adalah awal dari keberuntungannya. Who knows.

“Aku pesan sesuai rekomendasi kamu ya.” Karina melirik ke arah jendela untuk melihat cuaca di luar. Untungnya, hujan sudah mulai reda dan matahari pun telah menampakkan dirinya yang berarti ia sudah bisa melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kosan. “Untuk dine-in atas nama Karina,” sambungnya. Tidak ada salahnya kan berjaga-jaga menunggu 1 jam lagi di sini. Bagaimana kalo hujan tiba-tiba turun lagi saat ia masih di tengah perjalanan. Lalu karena basah kehujanan, dirinya akan jatuh sakit padahal ia masih harus melanjutkan mencari judul skrip- Karina menghentikan monolog di dalam kepalanya ketika ia merasakan ketukan di jari tangannya.

Winter, masih dengan senyuman manisnya menunjuk ke arah layar di depan Karina yang berisi harga yang harus ia bayar.

Lo masih kurang ngebuat kebodohan apalagi sih, Rin!” batin Karina dalam hati sambil tergesa-gesa mengeluarkan uang dari dompetnya.

Winter menerima uang yang diberikan kepadanya kemudian mempersilakan Karina untuk mencari tempat duduk sambil menunggu pesanannya jadi.


Untung aja gue minta dine-in. Kalo nggak gue beneran bakal sial banget berarti hari ini,” batin Karina saat hujan deras tiba-tiba kembali turun ketika ia telah mendapatkan posisi tempat duduk yang nyaman di coffee shop itu.

Sambil menunggu pesanannya datang, Karina mengeluarkan laptop dari tasnya dan memulai pencariannya dalam mencari judul baru untuk tugas akhirnya. Ia sedang fokus dengan layar laptop di depannya ketika Winter datang membawakan pesanannya.

Sorry, kayaknya aku cuma pesan minuman aja deh,” ucap Karina yang tampak bingung saat gadis di depannya memberikan segelas minuman dan sepiring cake untuknya.

Winter mengeluarkan post-it dan pulpen dari kantong celemek yang ia pakai lalu menuliskan sesuatu di kertas itu dan memberikannya kepada Karina.

Spesial dari aku. Kayaknya kamu butuh tambahan yang manis-manis biar nggak cemberut terus :D” bunyi tulisan di kertas itu.

Karina tersenyum membaca tulisan Winter. Ia baru saja akan mengucapkan terima kasih atas pemberian kue untuknya ketika Winter kembali memberikan kertas kepadanya.

Kalo kamu ngerasa cake dan minumannya kurang manis, kabarin aku aja ya. Nanti aku ambilin cermin dulu di belakang.

Karina mengernyitkan dahinya lalu menatap Winter dengan kebingungan setelah membaca tulisan di tangannya. Winter kembali menuliskan sesuatu dan kali ini memberikan 2 lembar post-it kepadanya.

“Biar kamu tahu kalo senyum kamu manis banget,” bunyi post-it pertama.

Just keep smiling, Karina. And one day, life will get tired of upsetting you,” bunyi post-it kedua.

Winter langsung membungkukkan badannya, berpamitan tanpa memberikan kesempatan kepada Karina untuk mengucapkan sepatah kata pun demi menutupi rasa malunya. Untungnya, Karina cukup sigap menarik tangan Winter sebelum ia pergi menjauh.

Thank you, Winter. It means a lot to me.” Karina tersenyum sambil mengusap telapak tangan Winter dalam genggamannya.

Winter merasakan getaran pada celananya. Ia ambil ponsel di kantong, membaca pesan yang diterima lalu menoleh ke arah meja kasir dan mendapati rekan kerjanya sedang sibuk melayani pembeli dengan beberapa antrian di depannya. Menyadari bahwa ia telah menghalangi Winter di waktu kerjanya, Karina menepuk bahu Winter dan mempersilahkannya untuk kembali ke meja kasir.


Dua bulan telah berlalu sejak 'nasib sial' yang membawa Karina bertemu dengan Winter. Kedekatan keduanya yang semakin akrab serta kejutan-kejutan yang sering kali Winter berikan yang membuat harinya lebih berwarna membuat Karina berharap dapat terlahir kembali dengan Winter sebagai soulmate-nya. Tanpa memedulikan keterbatasan pada diri Winter. Karena entah kenapa meskipun dengan segala keterbatasan yang dimiliki Winter, ia selalu hadir disaat Karina membutuhkan seseorang di sampingnya tanpa Karina harus menceritakan sesuatu sebelumnya. Contohnya seperti pesan teks yang ia terima saat ini.

⭐: Karin, aku udah di bawah bawa seblak kesukaan kamu. Sambalnya tiga sendok, kencur dua sendok sama tambahin ceker yang banyak. Aku juga bawain es doger biar kamu nggak kepedesan.

💙: Winter, kamu ngapain ke kosan aku?

⭐: Aku nggak boleh main ke kosan kamu lagi? :') Cepetan bukain pagarnya. Banyak nyamuk ini.

💙: Maaf banget aku masih di kampus. Hari ini aku pulang malam banget soalnya ada yang harus aku urus dulu.

⭐: Masa sih? Tadi sore aku liat kamu udah balik dari kampus kok.

💙: Aku seriussss. Kamu salah liat kali.

⭐: Hmmm... Iya, mungkin aku salah liat. Ya udah kalo gitu seblak sama es dogernya aku gantung pagar ya. Jangan lupa bilang ke Pak Mamat buat diambil. Takut disemutin. Aku pulang dulu ya.

Sejujurnya, bukan maksud Karina untuk membohongi Winter dan membiarkannya pulang tanpa menemuinya padahal Winter sudah rela meluangkan waktu sepulang kerja untuk membawakan makanan kesukaannya. Hanya saja, Karina tidak ingin membuat Winter khawatir jika melihat keadaannya saat ini yang berantakan karena kejadian tadi siang di kampus.

Karina baru saja akan meminta tolong kepada penjaga kosan untuk mengambil makanan dan minuman yang digantung Winter di pagar kosan untuk dimasukan ke lemari pendingin ketika suara pesan masuk kembali berbunyi dari ponselnya.

⭐: I know we've only known each other for a short time. But I'm here and I'll always be here. For you.

Tanpa memedulikan kondisinya yang berantakan, dengan berbalut piyama bergambar bebek kesukaannya, Karina segera berlari keluar kamar sambil menelepon yang lebih muda. Berharap Winter merasakan getaran pada ponselnya dan belum pergi terlalu jauh dari kosan.

Dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari menuruni anak tangga, “Kenapa gue harus dapat kamar di lantai 3 sih?” batinnya kesal, Karina kembali berlari keluar kosan dengan mata berkaca-kaca karena merasa gagal menahan Winter yang masih tidak mengangkat teleponnya. Namun, betapa terkejutnya ia saat mendapati yang lebih muda ternyata sedang asik bermain catur dengan Pak Mamat-penjaga kosannya-di teras depan.

“Mbak Karin, temennya saya pinjem dulu ya. Nanti kalo udah selesai mainnya say- loh Mbak Karin kenapa nangis toh? Ya ampun Mbak, saya ndak jadi pinjam temennya kalo gitu. Nih saya udahan main caturnya, Mbak,” ucap Pak Mamat sambil merapikan pion catur ke dalam kotaknya.

Winter segera bangun dari duduknya lalu berpamitan dengan Pak Mamat sambil mengepalkan tangan kanannya dan memutarnya di depan dada sebagai tanda permintaan maaf. Ia hampiri Karina yang masih berdiri di depan pintu, diusapnya air mata yang membasahi pipi gadis berambut panjang itu sambil ia dekap erat pinggangnya, menggiring Karina untuk kembali ke kamar. Tak ingin orang lain melihat keadaan Karina saat ini.

“Maaf kamar aku berantakan banget. Kamu duduk dulu aja biar aku beresin dulu,” ucap Karina saat menyadari kamarnya yang seperti kapal pecah. Saat Karina akan merapikan kertas yang berserakan di lantai, Winter dengan sigap menarik tangannya lalu mendorong tubuh Karina hingga terduduk di kasur. Ia usap puncak kepala temannya yang tampak sedang tidak baik-baik saja. Sambil tersenyum, ia arahkan jari telunjuknya ke dirinya sendiri memberi tanda untuk membiarkan dirinya saja yang membereskan kertas yang berserakan itu. Karina menggelengkan kepalanya, tidak ingin merepotkan yang lebih muda. Namun, Winter tetap bersikukuh lalu menyentil pelan kening Karina agar yang lebih tua duduk di kasur saja.


“Coba kamu bayangin, Win. Aku udah nurutin permintaan beliau untuk ganti judul dan mulai semuanya dari awal terus pas udah beberapa kali pertemuan, tiba-tiba beliau bilang 'Kayaknya saya lebih suka sama judul pertama yang kamu pilih deh.' Dan beliau ngomong gitu sambil ketawa cengengesan. Gimana aku nggak gedek coba dengernya. Rasanya pengen aku siram muka dosenku pake seblak ini!” cerita Karina berapi-api entah karena kepedasan akibat seblak yang ia makan atau rasa lega karena akhirnya bisa menceritakan kekesalannya kepada dosen pembimbingnya di kampus. Saat ini keduanya tengah duduk di lantai beralaskan karpet dengan Karina bersandar pada dipan dan Winter duduk di depannya.

“Aku ceritanya kecepetan ya, Win? Maaf ya aku nggak sadar saking kesalnya sama dosenku,” ucap Karina saat menyadari Winter hanya terdiam dengan senyuman yang tersirat di kedua sudut bibirnya saat ia selesai menceritakan kesialannya hari ini.

Winter menggelengkan kepalanya. Ia arahkan jari telunjuknya ke dada kemudian ia angkat kepalan tangannya sejajar kepala sambil jari telunjuknya ia naik turunkan, menunjuk ke atas lalu menempelkannya dengan ibu jari berulang kali tanda bahwa ia mengerti semua ucapan Karina. Yang lebih muda merogoh kantong celananya, mengeluarkan post-it dan pulpen yang selalu siap sedia kemana pun ia pergi. Sesuai permintaan Karina.

FLASHBACK

“Kamu keberatan nggak kalo kita lagi ketemuan langsung, komunikasi kita jangan pakai pesan teks tapi pakai tulisan tangan kamu aja?” tanya Karina pada suatu hari di awal-awal pertemanan mereka, saat keduanya tengah bersantai di kamar kosannya sehabis menikmati seblak kesukaan yang lebih tua. “Aku suka baca ulang tulisan tangan kamu. Entah kenapa, setiap baca tulisan tangan kamu aku selalu ngerasa hangat.” sambungnya sambil mengambil post-it berbentuk bintang dan pulpen dari laci meja belajarnya lalu memberikannya ke Winter.

“Maksud kamu, tulisan aku jelek banget kaya ceker ayam sampai kamu susah baca dan mata kamu panas? :'(” bunyi tulisan Winter di post-it berbentuk bintang itu.

“YAH! Aku nggak ngomong gitu ya. Maksud aku tuh- ah udahlah percuma aja aku jelasin juga. Kamu pasti bakalan nge-twist omongan aku lagi.” Karina beranjak dari tidurnya di paha Winter lalu pindah ke atas kasur, memunggungi gadis berambut pendek yang masih duduk santai di lantai. Karina merasakan kasur di belakangnya bergerak ketika sebuah kertas ditempel di pipinya.

“Jangan cemberut gitu. Nanti bebek-bebek pada marah sama kamu. Udah kalah cantik, masa kalah manyun juga ;p”

Karina tersenyum membaca tulisan Winter. Entah kenapa, yang lebih muda selalu punya cara untuk membuat dirinya kembali tersenyum sejak pertemuan pertama mereka dulu. Namun, Karina masih ingin lebih lama 'menghukum' gadis di belakangnya, sehingga ia dengan asal menempelkan post-it di tangannya ke dinding di depannya, berpura-pura masih marah.

“Karin, jangan lama-lama ngambeknya, please. Ada hal penting yang mau aku omongin ke kamu.”

Karina kembali menempelkan post-it ke dinding di depannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Karin, please. :((” bunyi post-it terakhir yang Winter tempel di pipi Karina. Sambil tersenyum, Karina membalikkan badannya karena merasa kasihan kepada yang lebih muda. Namun, senyumnya berubah menjadi kepanikan saat ia melihat wajah Winter dipenuhi dengan tempelan post-it yang bertuliskan,

Karin

Perut

Aku

Melilit

Abis

Makan

Seblak

Tadi

Temenin

Aku

Ke

WC

Please :'(

“YAH! Kamu bukannya bilang dari tadi kalo sakit perut! Malah sempet-sempetnya ngabisin post-it aku!” Karina segera melepas post-it yang menutupi wajah Winter yang sedang cengengesan sambil meringis menahan gejolak di perutnya. Dengan sigap, ia tarik tangan yang lebih muda menuju toilet umum di luar kamar karena kebetulan toilet di kamarnya sedang rusak.

END OF FLASHBACK

Aku seneng ngeliat kamu mau ceritain semuanya ke aku. Kalo ada apa-apa jangan dipendam sendirian lagi kaya tadi ya.

Gadis berambut panjang itu tersenyum membaca tulisan yang diberikan padanya. Ia lanjut menghabiskan seblak miliknya, membiarkan yang lebih muda yang terlihat masih asik meninggalkan coretan di post-it-nya.

UHUK UHUK UHUK

Karina tersedak saat membaca tulisan yang baru saja Winter berikan kepadanya. Winter langsung mendekat ke arah Karina, memberikan es doger kepada yang lebih tua sambil mengusap punggungnya mencoba membantu meredakan batuknya. Air mata mulai mengalir dari kedua sudut mata Karina karena rasa pedih dan panas pada tenggorokannya.

Setelah batuknya reda, Winter mengangkat dagu Karina, menatapnya dengan wajah khawatir. Yang lebih muda menempelkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis ke keningnya lalu ia lipat ketiga jari tersebut menyisakan ibu jari dan kelingking yang terangkat, bertanya kenapa kepada yang lebih tua bisa sampai tersedak seperti itu.

“Kamu kok nggak pernah cerita ke aku kalo kamu punya crush, Win?” tanya Karina dengan wajah cemberut kepada Winter yang mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaannya. “Tadi kan kamu nulis 'Kalo kata Crush, I see you hurt and sufferin'. You're not alone, in case you're wondering. You can come to me. Lay your head on me',” sambungnya.

Winter tertawa dalam diam mendengar ucapan gadis di depannya. Ia cubit kencang hidung Karina sambil menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri, membuat Karina kesal dan menepis tangan di hidungnya.

Setelah tawanya reda, Winter mengarahkan jari telunjuknya di depan bibir lalu ia tunjuk jarinya ke telinga meminta Karina untuk mendengarkan secara seksama lagu yang akan ia putar di ponselnya.

So lay your head on me~

Lagu milik Crush yang berjudul Lay Your Head on Me baru saja selesai diputar di ponsel Winter ketika Karina menarik tubuhnya ke dalam dekapan, berusaha memeluknya seerat mungkin. Winter merasakan getaran pada tubuh yang lebih tua, menandakan Karina saat ini sedang menangis di dalam pelukannya. Ia tepuk pelan punggung Karina sambil sesekali mengusap rambutnya berusaha menenangkannya.

Sepuluh menit berlalu dan getaran tubuh Karina sudah tidak terasa dalam dekapannya. Winter berusaha melepaskan lingkaran tangan Karina pada tubuhnya, namun yang lebih tua malah mengencangkan pelukannya. Winter pun membiarkan Karina di posisi ternyamannya saat ini. Di dalam pelukan hangat Winter, sambil menyenandungkan kembali lagu yang baru saja didengarkannya tadi, Karina menggerakan jarinya memutar, menuliskan kata demi kata pada punggung yang lebih muda.

I

Wish

You

Are

My

Soulmate.

Lalu dengan kasar ia gosok punggung Winter seakan ingin menghilangkan bukti yang baru saja ia tulis tadi. Winter yang kaget langsung mendorong tubuh Karina dari dekapannya. Dengan tatapan bingung, ia gerakkan alisnya naik turun meminta penjelasan akan perbuatan yang lebih tua. Namun, Karina hanya menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan kata maaf berulang kali.

Tak ingin memperpanjang masalah sepele tersebut, “Mungkin Karin lagi capek aja sama kejadian hari ini dan butuh istirahat,” batin Winter, yang lebih muda mulai merapikan bungkus makanan dan minuman bawaannya mengingat hari sudah semakin larut.

Winter sedang membuang sampah di luar kamar ketika ponselnya berdering. Karina yang melihat nama teman 1 kontrakan Winter yang juga merupakan sahabat, rekan kerja serta pemilik coffee shop tempat Winter berkerja-Giselle-muncul di layar, segera mengangkat teleponnya tak ingin membuatnya khawatir.

“Jadi boleh kan, Gi? Nggak ngerepotin kok. Kan aku yang minta tolong,” ucap Karina kepada Giselle. Winter memperkenalkan keduanya saat Karina datang untuk ketiga kalinya ke coffee shop tempatnya berkerja.

Winter masuk ke kamar dengan tatapan heran melihat Karina sedang berbicara menggunakan ponselnya. “Giselle,” ucap Karina tanpa suara sambil menunjuk ponsel di tangannya. “Sipp. Kamu tenang aja. Thank you ya, Gi.” Karina mematikan sambungan telepon dan memberikan ponsel di tangannya kembali ke pemiliknya.

Setelah memasukkan ponselnya ke kantong celana, Winter mengambil jaket serta tas ransel miliknya dan bersiap untuk pamit mengingat hari sudah semakin larut dan Gigi-nama panggilan Giselle-pasti sudah menunggunya di rumah.

“Kamu mau ke mana, Win?” Karina menarik tas ransel dan jaket dalam genggaman Winter, membuat yang lebih muda tampak kebingungan. “Malam ini kamu tidur di sini ya. Temenin aku, please,” pinta Karina sambil meletakan kembali tas ransel dan jaket milik Winter di kursi belajarnya.

Winter langsung mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu di layarnya lalu mengarahkannya ke Karina, “Lain kali ya aku nginepnya? Aku belum izin ke Gigi juga, Rin. Nggak enak kalo dadakan kaya sekarang. Lagian aku nggak bawa baju ganti juga,” tulis Winter di ponselnya.

Karina menggelengkan kepalanya. Ia sodorkan kaos oversized dan celana hotpants miliknya yang sudah ia siapkan ke tangan Winter sambil menggandeng yang lebih muda ke arah kamar mandi untuk berganti baju.

“Kamu tenang aja. Aku udah minta izin sama Gigi kok. Katanya, kamu kalo mau nginep seminggu di sini juga nggak apa-apa,” ucap Karina sambil memeletkan lidahnya. Winter hanya bisa pasrah mendengar ucapan yang lebih tua. Sambil mengucapkan sumpah serapah di dalam hati untuk sahabatnya yang memberikan persetujuan sebelah pihak, Winter masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Tak terasa, 1 tahun sudah hubungan Karina dan Winter berjalan. Hubungan pertemanan yang membuat keduanya terlihat seperti sahabat yang sudah saling mengenal sejak masih dalam kandungan saking akrabnya mereka. Hubungan pertemanan yang membuat Giselle sering kali berucap, “Sumpah ya mendingan kalian berdua pacaran aja deh. Persetan dengan kalian bukan soulmate satu sama lain. Kalo aku jadi kalian, aku nggak akan peduli sama malapetaka yang akan aku terima selama aku udah ngerasa nemuin orang yang tepat. Bahkan aku bakalan bikin tato sendiri sekalian.

Karina menyadari, menyatakan perasaan kepada seseorang yang bukan soulmate-nya dapat mendatangkan malapetaka baginya. Namun ia cukup egois dan tidak memedulikan hal tersebut, karena ia sudah sangat yakin bahwa dirinya adalah salah satu bagian yang terlahir tanpa memiliki soulmate. Dan hari ini, hari di mana tepat 1 tahun pertemuan tidak sengajanya dengan Winter, Karina akan menuruti ucapan Giselle untuk mengubah status pertemanannya dengan Winter.

Pagi tadi, Karina bangun dengan semangat menggelora. Tidak seperti biasanya di mana ia selalu malas-malasan untuk berangkat ke kantor. Iya, Karina akhirnya dapat lulus kuliah tepat waktu walaupun perjalanannya dalam menyelesaikan skripsi sangat berkelok-kelok akibat ulah dosen pembimbingnya. Sesampainya di kantor, Karina mendapat kabar bahwa atasannya hari ini harus dinas mendadak sehingga ia dapat bersantai selama jam kerjanya. “Terima kasih Tuhan atas dukungannya hari ini,” batin Karina merasa hari ini seperti hari keberuntungannya. Ia pun segera mengirim pesan ke Winter untuk mengajaknya bertemu malam nanti.

💙: Win, nanti malam kamu sibuk nggak?

⭐: Tergantung kamu mau ngapain dulu? Kalo cuma mau gangguin aku aja, berarti aku sibuk

💙: Kok kamu gitu ngomongnya? 😱😱😱

⭐: WKWKWKWKWK. Bercanda 🤗 Kalo buat kamu aku selalu bisa ngeluangin waktu Kalaupun tiba-tiba di toko sibuk, biar Gigi aja yang ngurusin semuanya 🤪

💙: Ckckck. Parah banget numbalin temen sendiri

⭐: Bukan numbalin dong. Kan dia bosnya. Emang tanggung jawab dia kalo ada apa-apa di toko.

💙: Aku nggak nyangka ternyata kamu aslinya begini 🤨🤨🤨

⭐: Akhirnya aku nggak perlu pura-pura lagi 🤭

💙: Dasar stress Ya udah, nanti malam aku jemput kamu ya jam 7

⭐: Ngapain jemput, Rin? Nanti aku langsung ke kosan kamu aja kaya biasa

💙: Siapa yang nyuruh kamu ke kosan aku?

⭐: Ohh mau di kontrakan aku aja berarti?

💙: Aku nggak ngomong gitu

⭐: Terus kita mau ke manaaaa? 😒

💙: Rahasia 🤫🤫🤫 Pokoknya kamu siap-siap aja Udah ya aku mau balik kerja dulu

⭐: Heh jangan kabur Kasih tau dulu kita mau ke mana

💙: 🏃💨💨💨


Dengan senyum lebar sambil bersenandung riang, masih menggunakan pakaian kantor, Karina berjalan perlahan menuju coffee shop tempat Winter berkerja. Tempat yang mempertemukannya dengan gadis yang selalu ada di sisinya selama satu tahun ke belakang. Tempat yang menjadi saksi bagaimana Karina telah jatuh hati pada Winter sejak pandangan pertamanya. Iya, Karina sudah menjatuhkan hatinya pada Winter sejak yang lebih muda memamerkan senyumannya di hari paling sial selama hidupnya itu. Dan selama itu pula ia mencoba menahan perasaannya agar tidak terus tumbuh. Apakah berhasil? Tentu saja tidak. Maka dari itu, hari ini, tepat di satu tahun pertemuan mereka, Karina akan mengutarakan semua isi hatinya kepada Winter.

“Loh? Jam segini kok udah tutup sih? Tadi kan gue udah janjian sama Winter,” ucap Karina bingung setelah mengecek jam tangannya yang baru menunjukan pukul 7 malam. Tidak seperti biasanya, pintu coffee shop tempat Winter berkerja telah terkunci bahkan semua lampunya sudah padam dan hanya menyisakan lampu teras yang menyala.

Ia keluarkan ponselnya dari tas lalu ia kirim pesan kepada Winter untuk menanyakan keberadaannya. Sayangnya, pesannya tidak terkirim. Karina mencoba menelepon yang lebih muda namun yang ia dapatkan hanyalah jawaban robot bahwa ponselnya sedang tidak aktif atau berada di luar service area.

Dengan rasa cemas karena pesan tak terbalas, Karina mencoba menghampiri kontrakan Winter berharap yang lebih muda hanya tertidur pulas. Tiga puluh menit berlalu, sudah selama itu Karina menunggu di depan kontrakan Winter namun hasilnya nihil. Sudah berkali-kali ia mengetuk pagar dan memencet bel berharap Winter atau Giselle akan keluar dari dalam.

Sayangnya, sang pemilik rumah tidak juga menampakkan batang hidungnya. Ia pun sudah mencoba menghubungi Giselle dan sama seperti Winter, ponselnya juga dalam keadaan mati.

Dengan perasaan kalut mengingat waktu yang sudah semakin larut, Karina pergi tanpa jawaban bersambut.


Jika sebelumnya Karina selalu menyepelekan rumor tentang malapetaka yang akan didapatkan jika menyatakan perasaan kepada seseorang yang bukan soulmate-nya, kali ini Karina terpaksa memercayainya. Bagaimana tidak percaya, jika baru sebatas niat untuk mengutarakan perasaannya kepada Winter saja sudah membuat yang lebih muda hilang tanpa jejak. Bahkan, Giselle yang hanya memberikan ide gila pun ikut menghilang tanpa jejak. Membuat Karina ikut kehilangan akal warasnya akibat ulah 2 orang itu.

Sudah seminggu berlalu sejak hidup Karina yang tadinya biasa saja berubah menjadi luar biasa dalam sekejap. Luar biasa hancur maksudnya. Tiap hari, sehabis pulang dari kantor-Iya, Karina masih berusaha menjalankan kewajibannya di kantor karena sangat tidak lucu sudah kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya, harus kehilangan pekerjaan juga-ia selalu berharap dapat melihat bayangan Winter dari luar coffee shop. Melihat senyum manis Winter tiap kali ia melayani pembeli. Namun hasilnya nihil. Yang ia dapatkan hanyalah lampu teras yang menyala sejak pagi juga plang 'closed' yang menggantung di pintu.

🌙: Karin

Sebuah pesan singkat dari Giselle baru saja masuk ke ponselnya. Pesan singkat yang mampu membuat jantungnya terasa terangkat.

🌙: Kamu siap-siap ya

💙: Siap-siap ke mana, Gi? Winter di mana? Kenapa aku nggak bisa ngehubungin kalian berdua sama sekali? KALIAN BERDUA KENAPA TIBA-TIBA HILANG GITU AJA TANPA NGASIH AKU KABAR!!!!

Tangis Karina pecah setelah membalas pesan dari Giselle. Di satu sisi, ia merasa lega mengetahui bahwa Giselle dalam keadaan baik-baik saja. Namun, di sisi lain hatinya terasa remuk saat membaca balasan pesan Giselle.

🌙: Winter di rumah sakit Aku anterin kamu ke sana ya 5 menit lagi aku sampai kosan kamu Karin… Sorry…


“Sore itu, Winter pamit sama aku mau beli bunga, Rin. Pas aku tanya dalam rangka apa, dia cuma bilang lagi suka bunga dan mau ngehias kamarnya. Tiga puluh menit setelah dia pergi, Winter masih sempet chat aku ngabarin kalo dia abis kecelakaan dan lagi di rumah sakit. Katanya, motornya ditabrak mobil yang remnya blong sampai dia terpental. Untungnya, karena dia pake helm jadi nggak luka parah. Cuma lecet dikit dan kepala pusing karena terbentur aja katanya. Tapi pas aku sampai di rumah sakit, Winter udah masuk ICU. Kata dokter, Winter sempat muntah-muntah terus nggak sadarin diri. Ternyata ada pendarahan di kepalanya yang ngebuat dia koma. Dokter langsung mutusin buat operasi saat itu juga.”

Penjelasan Giselle selama di perjalanan menuju rumah sakit tentang alasan menghilangnya Winter seminggu ke belakang masih terngiang-ngiang di telinga Karina yang kini tengah berlari menuju kamar ICU tempat Winter dirawat. Ia segera turun di lobi rumah sakit meninggalkan Giselle yang masih harus mencari lahan parkir.

“TERUS KAMU KENAPA NGGAK NGABARIN AKU TENTANG KEADAAN WINTER, GI?” teriak Karina sambil memukul pundak Giselle berkali-kali, “KENAPA KAMU MALAH SEMBUNYIIN SEMUANYA DAN NGILANG GITU AJA DARI AKU?” tangisnya kembali pecah mendengar penjelasan dari Giselle. Satu minggu waktunya terbuang sia-sia begitu saja. Satu minggu yang seharusnya bisa ia manfaatkan untuk selalu berada di sisi Winter.

“Maafin aku, Rin. Aku emang bodoh banget bukannya ngabarin kamu malah ngikutin kemauan Winter. Sebelum Winter jatuh koma, dia ternyata sempat ninggalin catatan buat aku. Kalau sampai terjadi apa-apa sama dia, aku nggak boleh ngabarin kamu tentang keadaannya sedikit pun. Winter nggak mau kamu ngeliat keadaan dia yang kaya sekarang.” Giselle menggenggam tangan Karina, meremasnya kencang mencoba memberikan kekuatan.

“Setiap hari aku selalu kepikiran, Rin. Aku ngerasa jahat banget sama kamu karena udah nyembunyiin semuanya. Aku ngerasa bersalah karena nggak ngasih kesempatan kamu untuk nemenin Winter di saat-saat terakhirnya. Dokter bilang, kalo dalam seminggu ke depan Winter belum sadar juga pasca operasi, Do-Dokter nyaranin un-untuk…” Giselle tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya seakan tercekat membuatnya kesulitan bernafas. Yang lebih muda membiarkan Karina menekan kukunya dalam pada kulit tangannya, merelakan diri sebagai pelampiasan atas rasa penyesalannya.

“Kamar 101…” Karina kini berdiri tepat di depan kamar ICU tempat Winter dirawat. Tangannya bergetar memegang gagang pintu, tak kuasa untuk membukanya, membayangkan tubuh Winter yang terbaring lemah dipenuhi alat bantu medis.

“Mau aku temenin, Rin?” tanya Giselle yang langsung berlari menyusul Karina setelah berhasil memarkirkan mobilnya.

Karina menggelengkan kepalanya. Sambil menghirup nafas dalam-dalam, ia beranikan diri mendorong pintu yang menghubungkan dirinya dengan Winter.


Tut… Tut… Tut… Tut…

Hati Karina bertambah remuk saat menginjakan kakinya di kamar ICU tempat Winter dirawat. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana yang lebih muda terbaring lemah tak sadarkan diri dengan selang ventilator terpasang pada mulutnya. Kain perban tampak membalut kepalanya, menutupi luka pasca operasi pembedahan otak. Dan pipi tembamnya yang sering Karina cubit karena gemas terlihat semakin tirus setelah seminggu menjalani perawatan.

Karina menarik kursi penunggu lalu duduk di sebelah ranjang Winter sambil menggenggam tangannya yang bebas dari alat-alat medis.

“Maafin aku baru datang sekarang ya, Win,” ucap Karina sambil ibu jarinya mengusap buku tangan yang lebih muda.

“Maaf karena aku terlalu egois sampai kamu kecelakaan kaya gini. Seharusnya aku nggak nurutin kata hatiku untuk ngungkapin perasaan aku ke kamu. Seharusnya aku pendam semuanya biar kamu nggak kena malapetaka. Kenapa harus kamu yang kena padahal semuanya salah aku. Seharusnya aku yang ngalamin ini semua, Win.”

Air mata kembali mengalir membasahi kedua pipi Karina. Ia tundukan kepalanya, menempelkan keningnya pada genggaman tangannya dan Winter, meminta maaf sekali lagi karena melanggar janjinya. Sebelum masuk kamar ICU, Karina sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menangis di hadapan yang lebih muda. Ia berjanji untuk selalu tersenyum agar Winter merasa bangga saat melihatnya. ‘Just keep smiling, Karina. And one day, life will get tired of upsetting you.’ Kalimat yang Winter berikan saat pertemuan pertama mereka dulu terus terngiang-ngiang di benak Karina. “Gimana aku bisa senyum kalo salah satu penyemangat hidupku ada di batas antara hidup dan mati, Win,” batin Karina.


“Rin, bangun. Makan dulu, yuk. Abis itu baru temenin Winter lagi.” Giselle menepuk-nepuk pundak yang lebih tua. Ia usap rambutnya, membangunkan Karina yang tertidur akibat lelah karena menangis seharian dalam genggaman Winter. Belum lagi jadwal tidurnya yang memang berantakan semenjak ia kehilangan jejak Winter.

“Aku nggak laper, Gi. Aku di sini aja nemenin Winter. Takut Winter nyariin aku pas bangun,” ucap Karina yang tidak rela meninggalkan sisi Winter walaupun sedetik saja.

“Kamu nggak mungkin nggak laper, Rin. Udah hampir 12 jam kamu nemenin Winter. Bangun cuma untuk ke toilet aja. Makan dulu yuk sebentar. Kalo kamu sakit, nanti yang nemenin Winter siapa?”

Mendengar ucapan Giselle, Karina akhirnya mengalah dan ikut Giselle untuk makan di kantin rumah sakit.


“Orang tua Winter di mana, Gi? Kok dari tadi siang aku dateng belum ngeliat sama sekali ya? Mereka udah balik ke kampung?” tanya Karina heran saat keduanya telah selesai makan dan sedang berjalan kembali ke kamar Winter. Namun, Giselle hanya diam saja lalu menarik tangan Karina untuk duduk di depan kamar Winter terlebih dahulu.

“Ehm… Sebenarnya bukan tempatnya aku buat ceritain tentang hal ini ke kamu. Tapi aku rasa udah waktunya buat kamu tahu hal yang sebenarnya. Sebelumnya aku mau minta maaf dulu sama kamu…”

Karina mengerutkan keningnya mendengar jawaban Giselle yang berbelit padahal ia hanya bertanya tentang keberadaan orang tua Winter.

“Bukan maksud Winter buat bohongin kamu selama ini. Winter cuma nggak suka karena selama ini orang-orang selalu memandang dia dengan tatapan kasihan setiap tahu keadaan yang sebenarnya.” Giselle menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.

“Orang tua Winter dua-duanya udah meninggal sejak dia balita, Rin. Mereka ngalamin kecelakaan dalam perjalanan ke luar kota yang menyebabkan orang tuanya kehilangan nyawa dan Winter harus kehilangan kemampuan berbicara karena ada gangguan pada otaknya akibat benturan dari kecelakaan itu.”

Kepala Karina berputar hebat mendengar penjelasan dari Giselle tentang kehidupan Winter yang sebenarnya. Hatinya terenyuh saat mengetahui Winter yang selama ini selalu tampak ceria dengan senyuman secerah matahari dan jiwa secantik bunga edelweiss ternyata memiliki banyak luka selama hidupnya. Seketika dirinya merasa malu seringkali mengeluh tentang hal-hal kecil kepada Winter.

“Dan alasan Dokter untuk ngelepas semua alat bantu di tubuh Winter kalau dia belum sadar juga 1 minggu pasca operasi karena Winter pernah ngejalanin operasi otak di posisi yang sama. Kata dokter, kemungkinannya kecil untuk dia bisa kembali setelah 2x ngejalanin operasi otak.”

“Walaupun kecil tapi masih ada kemungkinan kan, Gi? Kalo Winter masih mau berjuang untuk main sama kita lagi, kita nggak boleh nyerah gitu aja kan?” Karina mencoba meyakini Giselle bahwa masih ada kesempatan untuk Winter berkumpul bersama mereka lagi. Atau Karina mencoba meyakini dirinya sendiri?

“Iya, Rin. Walaupun kecil masih ada kesempatan. Tapi kita juga harus realistis. Kalau misalnya sampai batas waktu yang ditentukan belum ada tanda-tanda perubahan dari Winter sama sekali, mungkin udah saatnya kita untuk ngeikhlasin dia.”

“Tapi aku yakin Winter masih berusaha untuk kembali sama kita, Gi. Aku nggak tahu gimana ngejelasinnya, tapi aku bisa ngerasainnya waktu megang tangan dia tadi.” Karina menepuk-nepuk dadanya meyakinkan Giselle tentang rasa asing yang muncul saat ia bersentuhan dengan Winter.

“Aku percaya sama kamu. Mungkin ini salah satu cara Winter untuk berkomunikasi sama kita. Terima kasih ya Rin karena selalu ada buat Winter. Semenjak kenal kamu, Winter kelihatan lebih bahagia ngejalanin hidupnya.” Karina menarik tubuh Giselle ke dalam dekapannya, memeluknya erat sambil berucap, “Justru aku yang berterima kasih banget sama Winter. Dia salah satu alasan aku untuk semangat ngejalanin hidupku.”


Enam hari telah berlalu sejak Karina mengetahui keberadaan Winter yang sebenarnya. Sudah enam hari juga ia tidur di rumah sakit, meninggalkan Winter hanya saat ia pergi ke kantor setelah bergantian dengan Giselle untuk menjaga Winter. Setiap jam, Giselle selalu memberi laporan kepada Karina-sesuai permintaannya-tentang kondisi yang lebih muda.

“Terima kasih ya, Sus,” ucap Karina kepada Suster yang baru saja memindahkan saluran infus dari tangan kiri ke tangan kanan Winter karena pembuluh darahnya yang membengkak setelah 1 minggu ditusuk jarum infus pada posisi yang sama.

Karina mengangkat kursi tempat ia biasa duduk menemani Winter, memindahkannya ke sisi tangan Winter yang bebas jarum infus agar ia bisa dengan leluasa menggenggam tangannya.

Karina meraih ponselnya di kantong, memainkan lagu Lay Your Head on Me yang selalu ia putar setiap hari sejak Winter mengenalkan padanya. Sambil menyenandungkan lagu yang diputar-berharap Winter dapat mendengar suaranya di dalam tidur-Karina meraih tangan Winter, mengusap buku tangannya yang sedikit bengkak bekas jarum infus.

Saat Karina sedang fokus memijat jari jemari Winter agar aliran darahnya lebih lancar, matanya tiba-tiba tertuju pada goresan hitam kecil pada jari manis yang lebih muda. Jari yang selama ini selalu Winter lapisi plester dengan alasan untuk menutupi luka. Sambil mengarahkan cahaya senter dari ponselnya agar terlihat lebih jelas, Karina membaca perlahan goresan yang ternyata adalah sebuah tulisan.

Sunshine After The Rain

FLASHBACK

“Luka kamu kok nggak sembuh-sembuh sih, Win? Udah diperiksa ke dokter?” tanya Karina saat mengunjungi Winter sepulang kampus di siang hari bolong ketika yang lebih muda mengantarkan minuman pesanannya.

Winter mengernyitkan keningnya, tampak bingung dengan pertanyaan yang lebih tua. Karina menarik tangan kiri Winter, mengusap lembut jari manisnya yang ditutupi plester.

“Sorry, Win. Sakit banget ya?” tanya Karina khawatir saat Winter menarik tangannya dengan cepat.

Winter menggelengkan kepalanya sambil cengengesan. Ia buru-buru pamit saat ada pembeli yang baru saja datang dan sudah siap untuk memesan.


“Sebentar deh.” Karina melepaskan genggaman tangan Winter, melewati tubuh yang lebih muda yang sedang berbaring di kasurnya untuk mengambil sebuah plester di laci nakas lalu kembali ke posisinya di sisi dalam kasur.

“Kamu tuh ya, kalo nginep di sini suka kebiasaan nggak bawa plester ganti deh. Kapan sembuhnya kalo dibiarin basah gini.” Karina menarik tangan Winter bersiap melepas plester basah yang masih menempel pada jari gadis di depannya.

Dengan sekuat tenaga, Winter menarik jarinya dari genggaman Karina, tak ingin yang lebih tua membuka plesternya. Namun, tenaga Karina ternyata lebih kuat darinya membuat Winter kewalahan. Tidak memiliki cara lain untuk menghindar, Winter menggigit pergelangan tangan Karina, membuat yang lebih tua terpaksa melepas genggamannya.

“ISSHHHH… Kamu tuh kenapa sih selalu ngehindar kalau mau aku gantiin plesternya? Emang bakal keluar jin apa kalo aku buka?” ucap Karina kesal sambil mengusap bekas gigitan di pergelangannya. “Tuh pake sendiri sana. Aku tidur duluan.” Karina melempar plester di tangannya ke paha Winter kemudian berbaring menghadap dinding, memunggungi Winter yang merasa bersalah.

Setelah selesai mengganti plester di jari manisnya, Winter ikut berbaring menghadap Karina. Ia telusupkan tangan kirinya mencari kehangatan di perut gadis di depannya sambil menempelkan wajahnya di punggung yang lebih tua, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam yang memberikan ketenangan untuknya. Karina tersenyum saat merasakan dekapan gadis di belakangnya. Ia sematkan jari jemari keduanya saling menggenggam satu sama lain.

END OF FLASHBACK

Sunshine after the rain… Sunshine after the rain… Sunshine after the rain…” Kepala Karina berputar hebat saat menyadari goresan di jari manis Winter yang selama ini selalu ditutup-tutupi adalah kalimat pertama yang ia ucapkan saat melihat senyum manis Winter di siang hari itu. Luka yang selama ini Winter sembunyikan darinya adalah markah yang membuktikan bahwa keduanya adalah soulmate.

💙: Apalagi yang kamu dan Winter sembunyiin dari aku, Gi?

🌙: Malam juga, Rin Kamu belom tidur?

💙: Nggak usah ngalihin pembicaraan, Gi Apalagi yang kalian berdua sembunyiin dari aku?

🌙: Maksud kamu apa sih, Rin? Aku nggak ngerti

Karina mengirim foto jari manis Winter yang bertuliskan ‘Sunshine after the rain’

💙: Masih nggak ngerti juga?

🌙: Ini tangan siapa? Winter?

💙: Iya Dan tulisan di jarinya itu ucapan pertama aku ke Winter SEBENERNYA KAMU TAHU KAN KALO WINTER ITU SOULMATE AKU?

🌙: Demi Tuhan, aku nggak tahu apa-apa, Rin Aku baru tahu semuanya sekarang Winter nggak pernah cerita apa-apa tentang tatonya ke aku

💙: Udahlah. Aku capek Aku titip Winter ya, Gi

🌙: Kamu mau ke mana? Waktu Winter udah nggak banyak, Rin

💙: Aku butuh waktu, Gi Aku butuh waktu untuk nerima semuanya Aku butuh waktu untuk nerima kalo Winter selama ini nutup-nutupin kenyataan bahwa aku itu soulmate-nya

🌙: Mungkin Winter punya alasan lain belum bisa ngasih tahu kamu, Rin

💙: Aku pamit, Gi

Karina menutup aplikasi pesan, mematikan ponsel di tangannya lalu merapikan barang-barang yang ia bawa selama menemani Winter di rumah sakit. Setelah mengecek semua barangnya jangan sampai ada yang tertinggal, Karina menghampiri Winter yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Ia kecup kening yang lebih muda untuk berpamitan lalu melangkah perlahan meninggalkan ruangan tempatnya tinggal 1 minggu terakhir. Tanpa menyadari air mata menetes dari sudut mata Winter saat Karina menutup pintu kamar ICU.


“Tumben kamu ngajak aku keluar malam-malam gini, Win,” ucap Karina sambil mengencangkan jaket pada tubuhnya, mencoba menghangatkan diri dari dinginnya angin malam.

Sepulangnya dari kantor, saat ia baru saja akan membuka pagar kosan, Winter tiba-tiba muncul dengan nafasnya yang tersengal-sengal setelah berlari dari coffee shop sampai ke kosannya. Winter lalu mengajak Karina pergi ke lapangan tidak jauh dari kosannya untuk membicarakan hal penting.

“Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu, Rin.”

Di bawah sinar rembulan dengan diiringi suara jangkrik, Winter menarik tangan kanan Karina lalu mengarahkan jari telunjuk yang lebih tua ke jari manis yang selama ini selalu ia tutupi plester.

“Masih sakit?” Karina mengusap perlahan jari yang lebih muda.

Winter menggelengkan kepalanya. Ia tuntun jari Karina untuk melepas plester yang selama ini menutupi jarinya. Yang lebih muda mengeluarkan ponsel dari kantongnya lalu mengarahkan cahaya senter ke jari manisnya.

“Kamu inget kan kalimat yang pertama kali kamu ucapin waktu ngeliat aku?” Karina menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

“Maaf aku baru berani jujur ke kamu sekarang. Aku selama ini nutupin semuanya karena aku nggak mau kehilangan kamu. Aku takut semua orang yang aku sayang bakalan pergi dari hidup aku. Aku takut kamu akan pergi ninggalin aku kaya orang tua aku.” Winter menundukan kepalanya sambil terisak. Hatinya terasa lega akhirnya dapat mengatakan kebenaran setelah menyimpannya sekian lama.

“Makasih kamu udah mau jujur sama aku ya.” Karina menangkupkan kedua tangannya ke pipi Winter. Ia angkat kepalanya hingga kedua mata mereka saling bertemu lalu ia usap air mata yang membasahi pipi yang lebih muda.

“Tapi maaf semuanya udah telat, Win. Takdir kita udah berubah. Aku udah bukan milik kamu lagi.” Karina menunjukan tato pada bawah siku tangan kanannya. Tato kumpulan lambang ~ (tak terdefinisi) yang membentuk nama Winter sebagai tanda bahwa ikatannya dengan Winter sudah berakhir.

“Nggak, Karin. Kita masih bisa mengubah takdir kita. Aku udah jujur ke kamu. Aku masih milik kamu dan kamu milik aku,”

“Sayangnya nggak semudah itu, Winter. Waktu kita udah habis. Kecelakaan yang kamu alami itu hasil yang kamu dapatkan karena kamu dari awal nggak jujur ke aku. Selama satu tahun kita kenal, kamu selalu nutupin kalau kamu soulmate aku. Kamu sendiri yang dari awal mengubah takdir kita. Kamu yang ngebuat kita nggak bisa bersatu.”

Karina menarik tubuh Winter ke dalam dekapannya. Memeluk tubuhnya erat untuk yang terakhir kali sebelum takdir memisahkan keduanya secara nyata.

“Aku pamit ya. Jaga diri kamu baik-baik. Kalau di kehidupan selanjutnya kita dipertemukan kembali, aku tetap berharap kamu adalah soulmate aku.”

Karina melepaskan pelukannya dari tubuh Winter. Ia kecup kening yang lebih muda untuk yang terakhir kali. Lalu pergi meninggalkan Winter yang terjatuh ke tanah sambil menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya.


“Dokter! Suster! Winter kejang-kejang, Suster! Dokter!” Giselle yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung memencet bel pasien lalu berteriak sambil berlari keluar kamar ICU untuk meminta pertolongan.

Dokter dan Suster yang sedang berjaga di bangsal ICU segera berlari membawa peralatan medis ke kamar Winter untuk melakukan pertolongan. Giselle yang dilarang masuk ke kamar berusaha menghubungi Karina yang sudah menghilang seminggu lamanya.

Karin, please aktifin handphone-nya. Waktu Winter udah nggak banyak, Rin,” batin Giselle berusaha menghubungi Karina.

Sudah seminggu Giselle kehilangan jejak Karina sejak yang lebih tua meninggalkan ruang tempat Winter dirawat. Sudah seminggu juga ia memohon kepada Dokter untuk membiarkan alat bantu medis tetap terpasang di tubuh Winter. Giselle sudah berusaha meneleponnya namun hasilnya nihil. Teleponnya selalu dialihkan ke kotak suara. Sudah berkali-kali juga ia datang ke kosan Karina untuk mengeceknya. Namun, hasilnya juga nihil. Bahkan ia sudah meminta bantuan kepada Pak Mamat penjaga kosan Karina untuk menghubunginya jika Karina sudah kembali. Dan sampai saat ini Karina masih hilang bagai ditelan bumi.

“Karina, ayo dong nyalain- Halo? Karina? Rin, cepetan ke rumah sakit sekarang! Winter ke-”

BRUK

Giselle menoleh ke belakang saat mendengar suara barang terjatuh. Di belakangnya, sosok yang seminggu ke belakang sempat menghilang ditelan bumi baru saja menjatuhkan barang bawaannya dan berlari ke arahnya.

“Gi, Winter kenapa?” tanya Karina panik sambil menggoyangkan kedua pundak Giselle.

“Winter kejang-kejang, Rin. Dokter sama Suster lagi berusaha ngasih pertolongan. Seminggu terakhir kondisi Winter menurun banget. Kata Dokter, Winter udah-”

“Keluarga Nona Winter?” panggil Dokter memotong omongan Giselle.

“Saya keluarganya, Dok. Gimana keadaan Winter sekarang?” tanya Giselle sambil berusaha menenangkan Karina yang menangis di sampingnya.

“Puji Tuhan, keajaiban baru saja terjadi. Nona Winter telah melewati masa kritisnya dan saat ini sudah dalam keadaan sadar.”

“Alhamdulillah. Saya boleh masuk ke dalam, Dok?” tanya Karina sambil tersenyum bahagia walaupun air mata masih terus mengalir membasahi pipinya.

“Kami masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalau sudah selesai, pihak keluarga dapat menemui pasien di dalam. Saya permisi dulu,” ucap Dokter masuk kembali ke ruang perawatan Winter.

“Terima kasih banyak, Dok.”

“Dokter, terima kasih.”

Ucap Karina dan Giselle secara bersamaan. Karina langsung memeluk tubuh Giselle erat merasa lega setelah mendengar penjelasan Dokter.

“Gi, maafin aku udah pergi gitu aja ninggalin kamu sama Winter tanpa kasih kabar apapun.”

“Nggak apa-apa, Rin. Aku tahu kamu butuh waktu untuk mencerna semuanya. Yang penting sekarang kamu udah di sini dan Winter udah balik sama kita lagi,” ucap Giselle melepas pelukan Karina lalu mengusap air mata yang membasahi pipi gadis di depannya.


Mata Winter bergerak mengikuti langkah kaki Karina yang berjalan perlahan menghampirinya. Tubuhnya masih terasa lemas setelah tidur panjang selama kurang lebih 3 minggu.

“Hai, Win,” sapa Karina mengambil posisi duduk di sebelah kiri Winter. Posisi terakhirnya sebelum ia pergi meninggalkan yang lebih muda 1 minggu lalu.

“Terima kasih ya udah berjuang sejauh ini. Terima kasih udah mau bertahan sampai sekarang. Aku bangga banget sama kamu.” Karina menggenggam tangan Winter erat lalu menciumnya lekat seakan bersyukur sekaligus berterima kasih karena Winter kini telah kembali ke sisinya lagi.

Winter menarik tangan Karina dalam genggamannya ke atas perut. Mengusapnya perlahan dengan tangan kanannya yang masih menempel jarum infus lalu menepuknya 2 kali untuk meminta Karina memperhatikannya. Winter melepaskan genggamannya, menunjukkan tato di jari manisnya yang selalu ia tutup plester sambil tangan kanannya ia kepalkan sedikit lalu ia putar berkali-kali di depan dadanya sebagai permintaan maaf karena membohongi Karina selama ini.

Karina tersenyum melihat gerakan tangan Winter, “Kamu nggak perlu minta maaf, Win. Aku tahu kamu pasti punya alasan ngelakuin semua ini. Jangan pernah ngerasa bersalah ya. Yang penting, sekarang kita udah bersama lagi. Terima kasih ya udah jujur ke aku,” ucap Karina sambil mengusap tato di jari manis Winter. “Walaupun telat banget,” ledek Karina membuat Winter menangis di hadapannya.

“Ya ampun. Aku bercanda doang, Win. Mendingan telat daripada nggak sama sekali kan?” ucap Karina sambil mengusap air mata Winter dengan tisu di tangannya.

“Sayang, udah dong jangan nangis terus. Aku nggak maksud bikin kamu nangis.” Panggilan sayang Karina justru membuat tangis Winter semakin kencang karena rasa terharu yang ia rasakan.

“Winter sayang, udah ya nangisnya. Aku nggak marah sama kamu. Aku beneran bercanda doang tadi.” Kali ini giliran Karina yang ikut menangis karena merasa bersalah mengira sudah menyakiti perasaan Winter dengan ucapannya.

Winter menggelengkan kepalanya. Ia arahkan jari telunjuk ke dadanya, mengepalkan kedua tangannya dan menggoyangkan naik turun di depan mata lalu membuka kepalan kedua tangannya dan menggerakannya di atas kepala untuk menunjukkan bahwa dirinya menangis karena terharu dengan panggilan sayang Karina.

Karina yang bingung hanya membuka mulutnya sambil menangis. Merasa kehabisan akal untuk memberi tahu yang lebih tua maksud dibalik tangisnya, dengan malu-malu Winter mengangkat ibu jari, telunjuk dan kelingkingnya secara bersamaan lalu memutar tangannya yang berarti ‘I Love You’.

Bukannya senang, Karina yang belum banyak mengetahui tentang bahasa isyarat justru semakin bingung dan segera mengeluarkan ponselnya mengira Winter ingin mendengarkan lagu metal. Ia pun segera memutar lagu metal yang ia temukan di youtube.

Giselle yang baru saja kembali setelah bertemu dengan Dokter kaget melihat keadaan kamar ICU di mana kedua temannya sedang menangis sambil mendengarkan lagu metal. Ia segera mengambil handphone di tangan Karina dan memberhentikan lagu yang sedang diputar.

“Karina! Winter masih butuh istirahat kok malah dipasangin lagu metal sih?” bentak Giselle. “Terus kalian berdua kenapa nangis sambil dengerin lagu metal?” tanya Giselle heran melihat tingkah kedua temannya.

“Aku salah ngomong sampe ngebuat Winter nangis, Gi. Terus dia minta diputerin lagu metal biar nggak nangis lagi.”

“HAH?”

Winter menggelengkan kepalanya cepat. Ia arahkan jari telunjuknya ke dada lalu mengarahkannya ke Karina kemudian mengangkat ketiga jarinya seperti tadi dan menggoyangkannya berkali-kali. Giselle yang sudah sangat paham dengan bahasa isyarat langsung tertawa terbahak-bahak melihat penjelasan Winter. Ia bisikkan arti dari gerakan Winter ke telinga Karina hingga membuat yang lebih tua tersipu malu mendengarnya.


Dua minggu telah berlalu sejak Winter bangun dari tidur panjangnya. Saat ini dirinya telah dipindahkan dari kamar ICU ke kamar rawat inap biasa berkat progres kesembuhannya yang sangat bagus. Dan selama itu juga Winter harus mengikuti terapi berjalan untuk mengembalikan kekuatan kakinya mengingat dirinya hanya berbaring di tempat tidur selama 3 minggu. Untungnya, tidak ada dampak lain yang Winter dapatkan setelah 3 minggu koma.

Giselle sedang menyuapkan buah ke mulut Winter ketika Karina datang sepulang kerja dengan muka kusut.

“Kalo udah ketemu soulmate masih bisa diubah lagi nggak sih, Gi?” tanya Karina setelah duduk di sofa tempat ia biasa tidur saat menginap menemani Winter.

“Kalo ngomong hati-hati, Rin. Kalian berdua udah ngerasain gimana nggak enaknya saat harus berpisah. Nggak mau kan keulang lagi hal yang sama.” Giselle menarik turunkan alisnya sambil bertanya kenapa ke Winter. Namun, yang lebih muda sama bingungnya dan hanya menggelengkan kepalanya.

“Perasaan pas kemarin kamu balik, semuanya baik-baik aja. Bahkan kalian sempet pelukan lama banget,” ucap Giselle heran melihat tingkah Karina hari ini.

“JUSTRU ITU, GI!” ucap Karina sambil berlari ke kamar mandi.

FLASHBACK

“Sayang, aku pulang dulu. Takut keburu malam. Besok aku ke sini lagi sekalian nginep ya.” Karina mengusap kepala Winter lalu beranjak dari duduknya untuk bersiap-siap karena hari ini adalah giliran Giselle yang menemani Winter.

Winter menarik tangan Karina melarangnya pulang. Ia pasang wajah cemberut, berharap yang lebih tua akan luluh melihat tingkahnya.

“Jangan cemberut gitu dong. Besok sampai Minggu kan aku bakalan nginep di sini.”

Winter menggelengkan kepalanya masih sambil menarik tangan Karina.

“Ututututu. Manja banget sih yang mau ditinggal pulang. Sini aku peluk yang lama biar rasanya masih nempel sampe aku balik besok ya.”

Sambil berdiri, Karina menarik tubuh Winter ke dalam dekapannya. Membiarkan yang lebih muda menempelkan kepala di dadanya, berharap suara detak jantungnya dapat memberikan ketenangan kepada Winter.

“Hmmukk.”

“Kamu ngomong sesuatu, sayang?” Karina melepaskan Winter dari dekapannya. Ia merasa terharu karena untuk pertama kalinya selama mengenal Winter, dirinya bisa mendengar suara yang lebih muda. Walaupun ucapannya tidak terlalu jelas.

Winter menggelengkan kepalanya sambil tersipu malu lalu kembali menempelkan kepalanya ke dada Karina.

“Udah sih pelukannya. Kalo sampe nempel beneran nggak bisa lepas baru tahu rasa loh,” ucap Giselle yang sudah sedikit muak melihat kemesraan kedua temannya setiap hari.

“Aku balik ya. Besok secepat mungkin aku datang ke sini.” Karina mengecup bibir Winter lalu pulang kembali ke kosannya.

END OF FLASHBACK

Lima menit berlalu, Karina keluar dari kamar mandi setelah mencuci mukanya untuk menghapus riasan wajah dengan handuk yang diikat menutupi kepala hingga lehernya. Sambil mengerucutkan bibirnya, ia membuka ikatan handuknya.

“Rin? Seriusan? HAHAHAHAHAHAHA.” Giselle tidak dapat menahan tawanya saat melihat sebuah goresan pada rahang kanan Karina.

“Giii… Jangan ketawain aku,” rengek Karina dengan mata berkaca-kaca.

“Semua karena temen kamu ya.” Karina menunjukan jarinya ke arah Winter lalu menghentakan kakinya kesal sambil berjalan ke sofa.

Winter yang bingung melihat kelakuan teman dan soulmate-nya langsung turun dari tempat tidur, berjalan perlahan menghampiri Karina. “JANGAN DEKET-DEKET AKU!” bentak Karina saat melihat Winter berjalan ke arahnya.

Namun, Winter tidak menghiraukannya. Ia ambil posisi duduk di sebelah kanan Karina sambil tangannya mengusap tato di rahang yang lebih tua.

“Nyan-ti’,” ucap Winter sedikit terbata-bata sambil tersenyum. (Re: Cantik.)

“Kamu jangan ngeledek aku ya!”

Winter menggelengkan kepalanya. “Ham-mu be-ne-an nyan-ti’, A-yin.” (Re: Kamu beneran cantik, Karin.)

“Seharusnya, kamu bilang aku cantik itu kemarin, Winter. Saat kamu pertama kali ngucapin kata ke aku.” Karina memijat kepalanya yang berdenyut kencang. “Kamu punya tato bagus 'Sunshine after the rain' sedangkan aku…” ia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik nafas panjang.

“Bisa-bisanya kamu ngucapin 'empuk' sebagai kata pertama kamu ke aku. Bisa-bisanya pertama kalinya kamu ngomong langsung ke aku karena kamu ngerasa nyaman sama dada aku.”

“HAHAHAHAHAHAHA. Seumur hidup nggak pernah aku lihat tato orang tulisannya empuk, Rin,” ledek Giselle yang langsung menahan tawanya saat Karina melemparkan tatapan mautnya.

“A-yin, ma-abin a-wu ya. A-wu be-ne-yan eng-nga’ eng-nga-ja om-mong it-tu e am-mu. E-ha-wu-a a-wu eng-nga’ uh-ah om-mong ap-ba ap-ba em-ma-yin,” ucap Winter dengan mata berkaca-kaca sambil menundukan kepalanya, merasa bersalah kepada Karina. (Re: Karin, maafin aku ya. Aku beneran nggak sengaja ngomong itu ke kamu. Seharusnya aku nggak usah ngomong apa-apa kemarin.)

Hati Karina terenyuh mendengar ucapan yang lebih muda. Dirinya menyadari sikapnya yang terlalu egois padahal Winter sudah mengumpulkan keberanian untuk akhirnya berbicara langsung tanpa bantuan alat tulis seperti biasa. Bukankah dengan Winter yang mulai berbicara kepadanya berarti Winter telah memberikan kepercayaan yang sangat besar kepada dirinya.

Karina menangkup wajah Winter dengan kedua tangannya. Sambil mengusap pipi gadis di depannya ia berkata, “Winter, kamu jangan minta maaf ya. Aku yang seharusnya minta maaf karena terlalu berlebihan sama kamu. Aku suka dengar suara kamu. Aku nggak masalah dengan tato di rahang aku. Aku masih bisa nutupin tatonya pake bedak atau aku juga bisa nunjukin tato ini ke semua orang kalo aku milik kamu.”

Karina mengecup bibir Winter lalu meletakan kepalanya di atas dadanya, mengusap pelan punggung dan rambut yang lebih muda sambil sesekali memberikan kecupan pada kepalanya.

“Mulai sekarang, kamu nggak perlu post-it lagi untuk ngobrol sama aku ya. Maaf bahasa isyarat aku masih belom lancar. Aku akan terus belajar biar kamu nyaman ngobrol sama aku. Aku juga suka banget dengar suara kamu. Don’t be shy and let me hear your voice, please.” Karina mengencangkan dekapannya pada Winter membuat yang lebih muda tersenyum.

“A-yin,” panggil Winter sambil melepaskan dekapan Karina dari tubuhnya, “Eyim-ma ah-ih ya ham-mu u-wah eyim-ma a-u ap-ba ad-danya.” (Re: Terima kasih ya kamu udah terima aku apa adanya.) Mata Karina berkaca-kaca mendengar ucapan Winter. Begitu pun dengan Giselle yang sedari tadi memerhatikan obrolan kedua temannya.

“Da-da ham-mu ben-ne-yan em-huk,” lanjut Winter sambil tertawa cengengesan membuat Karina murka. (Re: Dada kamu beneran empuk.)

“YAAAAAAAH!!! BENER-BENER YA KAMU, WIN! MINTA BANGET AKU SMACK DOWN!” Karina menarik kepala Winter lalu mendekapnya kencang pada dadanya membuat Winter berontak karena tidak bisa bernafas.

“Hadeh. Kesempatan banget kalian berdua. Aku pulang aja deh ya kalo gitu. Selamat melanjutkan smack down-nya. Jangan kebablasan, takut ada suster masuk,” ucap Giselle meninggalkan kamar rawat inap Winter sambil menggelengkan kepalanya. “I’m so happy for both of you,” batin Giselle melihat kebahagiaan kedua temannya itu. Ia pun selalu berharap akan segera menemukan belahan jiwanya seperti Winter dan Karina.

Sorry!”

“Maaf!”

Giselle terkejut saat ia membuka pintu dan mendapati sebuah kereta dorong berisi obat-obatan yang sedang didorong oleh seorang suster hampir saja menabraknya.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya suster bersuara lengking itu. Sang suster mendekati Giselle sambil mengecek kondisinya dengan rasa khawatir.

“Nggak apa-apa kok. Untungnya nggak kena. Aku cuma kaget aja, Sus-” Giselle melirik name tag yang menempel pada seragam Suster tersebut, “Suster Ning,” ucap Giselle sambil tersenyum lebar.

“Syukurlah kalo kamu nggak apa-apa. Maaf banget ya aku nggak hati-hati. Hari ini, hari pertama aku. Jadi aku belum terbiasa sama semuanya.”

“Iya, Sus. Nggak apa-apa kok. Aku pamit dulu ya. Takut keburu kemalaman.” Giselle membungkukkan tubuhnya, berpamitan kepada Suster Ning.

“Tunggu! Nama kamu siapa?” tanya Suster Ning sambil menarik tangan Giselle sebelum sempat menjauh.

“Aku Giselle,” ucap Giselle sambil menjulurkan tangannya.

“Ning,” Suster Ning ikut menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Giselle, “Sekali lagi aku minta maaf ya, Mbak Giselle. Kalo kita ketemu lagi, aku bakalan traktir kamu di cafe depan rumah sakit. Hati-hati di jalan ya!” Suster Ning mempersilahkan Giselle untuk melanjutkan perjalanannya.

Sambil tersenyum, Giselle dan Ning berjalan menjauh satu sama lain. Tanpa menyadari sebuah takdir baru saja mengikat hidup keduanya.

“YA AMPUN! PASIEN SAYA JANGAN DIKEKEP GITU, MBAK!” teriak Suster Ning panik saat masuk ke kamar perawatan Winter untuk memberikan obat dan mendapati Winter sedang mengangkat kedua tangannya untuk meminta tolong dengan kepalanya yang masih didekap Karina di dadanya.

I Like It,

when you are panicked and ask me for help.

Waktu menunjukan pukul 07.00 pagi ketika Karina terbangun dari tidur nyenyaknya karena mendengar suara berisik dari luar kamar. Ia meraba sisi kasur di sebelahnya dan merasakan kain bersuhu dingin yang menandakan pemiliknya telah meninggalkan singgasananya cukup lama. Dengan perlahan ia beranjak dari ranjangnya menuju sumber suara di luar.

“Aduh, udah jam segini tapi buburnya belum jadi sama sekali. Ini panci kenapa di atas banget sih ngeletakinnya. Nggak lucu banget mau ngasih kejutan tapi harus ngebangunin orangnya dulu. Tapi kalo nggak bangunin Karin berarti buburnya nggak bakalan jadi. Mending bangunin apa gimana ya?” ceracau Winter sambil memotong wortel yang akan ia masukan ke dalam bubur.

Karina tersenyum mendengar ocehan Winter dari pintu dapur. Ia berjalan perlahan menghampiri sang kekasih yang sedang memasukan wortel yang telah dipotongnya ke dalam mangkuk.

“Pagi, sayang.”

Karina memeluk Winter erat dari belakang. Diciumnya pipi sang kekasih yang sedikit kaget akan keberadaannya di dapur.

“Kamu kok udah bangun jam segini?”

“Ada yang lagi konser di dapur soalnya. Jadi aku mau nontonin.”

“Maaf ya, sayang. Aku berisik banget ya?” tanya Winter sedikit merasa bersalah karena telah membangunkan Karina dengan kehebohannya.

“Nggak kok. Kamu nggak berisik. Aku kebangun soalnya sisi kasur sebelah aku dingin.”

“Aku selesain bikin buburnya dulu ya. Abis sarapan, nanti aku temenin kamu lagi. Tapi aku mau minta tolong dulu.”

“Mau diambilin panci yang mana?”

“Hehehe. Yang warna hijau.”

Karina menarik tubuh Winter bersamanya untuk mengambil panci yang diminta.

“Makasih ya, sayang,” ucap Winter setelah berhasil mendapatkan panci yang dibutuhkannya.

Winter menolehkan kepalanya ke arah kanan, ingin memberikan ciuman terima kasih kepada sang kekasih. Dan Karina pun dengan senang hati memberikannya.

“Udah, kamu balik ke kamar sana. Aku mau masak dulu. Nanti keburu kesiangan sarapannya, Karin. Aku kan lama kalo masak.” Winter berusaha melepaskan lingkaran tangan Karina dari perutnya. Namun Karina seperti enggan meninggalkannya.

“Nggak mau. Aku mau nemenin kamu masak.”

“Ya udah. Tapi kamu sambil duduk aja sana. Jangan nempel ke aku gini. Aku jadi nggak bisa fokus masaknya.”

Seakan tak mendengar ucapan yang lebih muda, Karina kini menyalakan kompor di depannya–masih dengan Winter di pelukannya–lalu mulai menumis bumbu-bumbu yang telah disediakan sang kekasih.

“Udah, aku aja yang masak.” Winter mengambil alih sodet dari tangan Karina lalu mulai mengaduk bumbu yang kini mulai harum.

“Tadi katanya nggak bisa fokus masaknya kalo aku nempel gini?”

“Aku makin nggak bisa fokus kalo kamu peluknya setengah-setengah.”

Karina tersenyum mendengar ucapan perempuan di depannya. Ia eratkan pelukannya pada tubuh sang kekasih sambil sedikit menundukkan badannya hingga kepalanya kini menempel pada pundak Winter.

“I love you, babe,” bisik Karina tepat di telinga Winter.

“Love you more, Karin.”

So I can backhug you to make you calm down.


I Like It,

when you are clingy and stubborn.

“Sayang, kamu ngapain sih kaki masih digips gitu malah lompat-lompatan di dapur?”

Karina yang baru saja kembali dari supermarket sehabis membeli kebutuhan bulanan, langsung berlari menghampiri sang kekasih meninggalkan kantong belanjanya berserakan di lantai. Tak ingin melihat yang lebih muda terjatuh, Karina segera memeluk Winter dari belakang, mencoba menopang tubuhnya yang sedikit goyah.

“Aku mau ngambil es krim di kulkas.”

“Kamu kan bisa nungguin aku pulang dulu, sayang. Kan tadi aku udah chat kamu kalo aku udah mau pulang.”

“Aku mau coba ngambil sendiri. Bosen tau udah seminggu di kamar terus.”

“Siapa suruh pecicilan sampai jatuh dari trotoar?”

“Ihh... Kok kamu jadi nyalahin aku? Aku kan cuma mau ngelus maltese yang lagi lewat doang waktu itu. Udah kamu beresin dulu belanjaannya sana. Aku mau ngambil es krim.”

Winter berusaha melepaskan Karina dari pelukannya untuk kembali melompat menuju lemari pendingin.

“Kamu mau es krim yang mana? Biar aku aja yang ambilin.”

Tanpa mau mengalah, Karina justru mengeratkan lingkar tangannya di tubuh Winter.

“Aku mau ngambil sendiri aja. Aku lupa di kulkas sisa rasa apa.”

“Ada mint choco, cookies and cream sama durian.”

“Ya udah aku mau makan semuanya kalo gitu.”

Winter masih berusaha melepaskan lingkaran tangan Karina dari perutnya.

“Pilih salah satu, sayang. Nanti amandel kamu kambuh.”

“Tapi aku lagi pengen semuanya, Kariiinnn.”

Winter menolehkan sedikit wajahnya ke arah Karina sambil memamerkan bibir cemberutnya. Karina pun menundukkan tubuhnya sedikit, menempelkan dagunya pada pundak yang lebih muda lalu berkata,

“Kamu boleh ambil sendiri es krimnya.”

Dikecupnya samping bibir sang kekasih sebelum melanjutkan ucapannya.

“Tapi kamu cuma boleh pilih satu rasa aja ya.”

Kali ini ia kecup pipi perempuan di pelukannya, lalu berlanjut ke puncak kepala sang kekasih dan ditutup dengan kecupan dalam di belakang kepala Winter.

“Ya udah, kalo gitu. Tapi lepasin pelukannya.”

“Siapa bilang aku bakal ngelepasin pelukannya?”

“Ahahaha... Kariiinn turunin aku,” teriak Winter saat merasakan kakinya menjauh dari lantai.

Karina mengangkat tubuh mungil kekasih di pelukannya lalu berlari sekuat tenaga menuju lemari pendingin agar Winter tak perlu berjalan sendiri untuk mengambil es krim yang diinginkannya.

“Kariiiinnn, pelan-pelan nanti aku jatuh!”

“Karinnn, peluk yang kenceng aku takut.”

I Love you too, sayang. Sekarang cepetan ambil es krim yang kamu mau biar aku bisa gendong kamu balik ke kamar.”

“Aku mau yang ini!” Winter berteriak girang saat mengambil es krim durian kesukaannya.

“Ahahahaha.. Tolooonggg...”

Dan kehebohan pun kembali terjadi saat Karina menggendong tubuh Winter kembali ke kamar.

So I can backhug you to make you follow my order.


I Like It,

when you take your stress out on me.

Iya, kemarin kan sudah disetujui semua. Kenapa tiba-tiba jadi ada revisi lagi disaat semua sudah siap cetak sih?”

Karina meletakkan remot tv di tangannya lalu berjalan menghampiri sang kekasih yang sedang menerima telepon dari karyawannya. Sudah 15 menit berlalu sejak keduanya harus menghentikan kegiatan menonton di akhir pekan karena panggilan darurat dari kantor Winter.

Ya udah, kamu coba ubah sesuai permintaan. Kalau sudah selesai, segera email hasilnya ke saya.

Winter menutup percakapannya bertepatan saat Karina menghampiri dan memeluknya dari belakang.

“Aneh banget nggak sih, sayang. Kemarin padahal semuanya udah disetujuin dan nggak ada komentar apapun. Giliran udah mau naik cetak tiba-tiba jadi ada revisi. Mana baru dikabarin sore-sore gini. Kenapa nggak sekalian ngabarin nanti malam aja biar aku lembur sekalian. Suka nggak liat waktu deh orang-orang kantor tuh.”

Winter menutup ocehannya dengan menghempaskan tubuhnya ke dalam pelukan Karina sambil menyenderkan kepalanya ke pundak yang lebih tua. Yang memeluk pun langsung mengeratkan dekapannya sambil berkali-kali mengecup kening sang kekasih, mencoba memberikan energi positif untuk mengembalikan mood perempuan di pelukannya.

“Kamu gemes banget kalo lagi kesal gini.”

“Gemes apanya sih. Aku tuh pengen makan orang tau rasanya.”

“Aku mau dimakan sama kamu.”

“Ihh.. Dasar mesum. Maksud aku bukan gitu, Kariiinn,” rengek Winter sambil mencubit lengan Karina di perutnya.

“Awww... Sakit, sayang. Aku kan cuma bercanda doang.”

Karina mencoba melepaskan lingkaran tangannya bersiap untuk kembali ke sofa. Namun, dengan sigap Winter menahannya.

“Nanti dulu. Aku masih mau dipeluk kamu.”

Karina tersenyum mendengar ucapan sang kekasih. Ia kembali mengetatkan pelukannya. Dikecupnya tengkuk leher yang lebih muda sambil sesekali menghirup dalam aroma tubuh perempuan di pelukannya yang berhasil membuat tubuh Winter semakin rileks di dekapannya.

“Udah lega sekarang?”

Winter menganggukkan kepalanya.

“Ya udah. Sekarang kita balik nonton lagi. Kesian itu pemeran utamanya udah mangap 20 menit lebih. Udah berapa lalat yang masuk ke dalam mulutnya.”

Karina mengecup pipi sang kekasih lalu melepaskan pelukannya dan berbalik badan untuk kembali ke sofa.

So I can backhug you to make you feel better.

But I like it more,

Winter segera menarik belakang baju yang dikenakan Karina sebelum sang kekasih melangkah lebih jauh. Dengan sedikit berjinjit, ia lingkarkan tangannya di pinggang perempuan yang lebih tua sambil mencoba mengistirahatkan dagunya di pundak Karina.

when you stand on your tiptoes.

Walaupun gagal untuk tetap berjinjit, Winter tetap mengeratkan dekapannya pada tubuh sang kekasih. Ditempelkan wajahnya di punggung sang pujaan hati sambil ia hirup dalam-dalam wangi tubuh perempuan yang beberapa tahun terakhir ini selalu ada di sisinya.

I love so much, Karin,” ucap Winter walaupun suaranya sedikit terhalang karena bibirnya yang menempel pada punggung Karina.

I love you more than anything else, Winter.”

So you can backhug me too.

I like it,

when you are panicked and ask me for help.

“Kamu lagi mikirin apa, sayang?”

Karina menghampiri Winter yang sedang termenung sambil memandangi salju yang turun perlahan di balik jendela. Ia berikan segelas cokelat panas yang baru saja dibuat kepada sang kekasih, mendekap tubuh mungil Winter dari samping dan mencium keningnya lembut.

“Aku keingat date pertama kita. Pas kamu ajak aku main ice skating. Kalo diingat-ingat aku awalnya kesel banget date pertama malah diajak main gituan. Padahal aku udah bilang nggak bisa main ice skating.”

“Aku justru bersyukur ngajak kamu main ice skating.”

“Tuhkan, kamu pasti sengaja biar aku kelihatan bodoh di depan kamu kan?”

“Bukan karena itu, sayang.”

“KARIN! KAMU MINGGIR JANGAN DI SITU! AKU NGGAK BISA BERHENTI INI! KARIN, AWAS! KARIN, TOLONG! INI AKU HARUS GIMANA?”

Winter berteriak panik saat mendapati Karina sedang berdiri 2 meter di depannya. Dalam hati ia mengutuk wanita yang mengajaknya untuk bermain ice skating di date pertama mereka. Hancur sudah kesan pertama yang ingin ia berikan di kencan pertama ini.

BRUK

Tubuh mereka pun bertabrakan cukup kencang. Untungnya, pertahanan dan keseimbangan tubuh Karina sangat bagus sehingga hantaman dari yang lebih muda tidak membuat mereka berdua terjatuh. Winter masih mengistirahatkan kepalanya di dada wanita yang menangkapnya, berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak keruan ketika Karina menyentuh pipinya dan mengangkat kepalanya perlahan mencoba menatap matanya.

“Kamu aman sekarang. Kalo aku nggak nangkap kamu, yang ada kamu bakalan luka karena nabrak papan di belakang.”

Karina merapikan beanie yang menutupi kepala Winter, membebaskan keningnya dari poni yang menutupinya lalu mengecupnya lembut mencoba memberikan ketenangan pada wanita di depannya.

“Kita udahan aja ya. Aku lapar habis ditabrak kamu. Habis ini aku mau ajak kamu ke restoran tonkatsu kesukaan aku.”

Karina menarik tangan yang lebih muda, menuntunnya ke pinggir rink sambil mengoceh rencana apalagi yang akan mereka lakukan setelah selesai makan tanpa menyadari Winter masih membisu di genggamannya. Kecupan yang Karina harapkan dapat memberikan ketenangan, justru membuat jantung Winter berdetak lebih cepat daripada saat mereka bertabrakan tadi.

So I can kiss your forehead to make you calm down.


I like it,

when you are clingy and stubborn.

“Kamu kenapa nggak ada di samping aku pas aku bangun?”

Karina yang sedang mencicipi nasi goreng buatannya untuk terakhir kali, tersenyum ketika mendengar rengekan Winter dari pintu dapur. Ia segera mematikan kompor di depannya lalu berjalan menghampiri sang kekasih yang langsung merentangkan kedua tangannya dengan mata yang masih setengah terbuka.

“Pagi, sayang. Aku sengaja nggak bangunin kamu, supaya pas kamu bangun bisa langsung sarapan makanan kesukaan kamu.”

Karina memeluk tubuh Winter erat. Ditempelkan bibirnya di kening sang kekasih, lebih lama dari biasanya seakan mencoba mengumpulkan energi yang dibutuhkannya untuk menjalani hari.

“Aku nggak butuh sarapan. Aku butuhnya kamu ada di samping aku pas bangun.”

“Iya, maafin aku. Abis sarapan aku temenin kamu di kasur lagi ya. Masih sakit perutnya?” Karina kembali mengecup kening sang kekasih sambil mengusap punggungnya, berharap rasa sakit perempuan di pelukannya dapat berpindah ke tubuhnya.

“Masih.”

“Ya udah sarapan dulu, yuk. Biar kamu bisa rebahan lagi di kamar.”

Karina berusaha melepaskan pelukan Winter dari tubuhnya. Namun, yang lebih muda seakan tak ingin berpisah sedetik pun dengannya. Tak ingin nasi goreng buatannya menjadi dingin, Karina segera mengangkat tubuh Winter dan menggendongnya seperti koala lalu memindahkan makanan buatannya dari wajan ke piring.

Di sofa ruang TV, Karina—masih dengan Winter di pangkuannya, yang tidak ingin lepas sedetik pun darinya—berusaha menyuapi sang kekasih yang sedari tadi masih menolak untuk membuka mulutnya.

“Kalo kamu nggak makan, kita nggak akan balik ke kamar, sayang.”

Karina mengusap kepala sang kekasih lalu mengecup keningnya lembut. Seakan terhipnotis, Winter langsung membuka mulutnya dan Karina segera menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.

“Aaaak lagi dong,” pinta Karina saat melihat Winter telah berhenti mengunyah.

Winter kembali menggelengkan kepalanya. Dan Karina pun kembali memberikan kecupan pada kening sang kekasih hingga nasi goreng di piringnya habis.

So I can kiss your forehead to make you follow my order.


I like it,

when you take your stress out on me.

“Aku tuh nggak ngerti ya sama orang kantor. Udah aku bilang kalo Jumat ini aku izin cuti karena mau nemenin kamu ke rumah sakit. Tiba-tiba tadi aku dipanggil sama atasan buat ke ruangannya dan aku disuruh jadi perwakilan kantor untuk nerima penghargaan di hari aku seharusnya cuti dan nemenin kamu ke rumah sakit.”

Winter baru saja tiba di apartemen milik mereka berdua ketika ia mengeluarkan kekesalannya yang telah dipendam dari kantor kepada Karina yang tampak asik di ruang TV. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air mineral di kulkas mencoba mendinginkan tubuhnya yang terasa panas setelah mengeluarkan unek-uneknya. Melihat perangai sang kekasih yang tampak tertekan, Karina yang sedang duduk di ruang TV sambil membaca buku segera beranjak menghampiri Winter di dapur.

“Aku bisa sendiri kok, sayang. Kamu kan project leader-nya, jadi wajar kalo kamu yang diminta kantor untuk jadi perwakilan penerima penghargaan.”

“Kalau gitu kenapa dari awal mereka nyetujuin permohonan cuti aku. Kalau kaya gini kan aku jadi nggak bisa nepatin janji aku ke kamu, Karin. Tiga tahun terakhir aku selalu nemenin kamu setiap kamu mau medical check up. Terus tiba-tiba sekarang aku nggak bisa nemenin kamu padahal kamu aja selalu nemenin ak-”

Ocehan Winter terhenti saat Karina menarik tubuhnya, mendekapnya erat ke dalam pelukannya. Diusapnya rambut pendek sang kekasih lalu dikecupnya puncak kepala perempuan di pelukannya yang dilanjutkan dengan kecupan hangat di keningnya secara bergantian lalu kembali memeluknya erat.

Saat Karina merasakan tubuh tegang perempuan dalam dekapannya sudah jauh lebih tenang, ia lepaskan pelukannya, merapikan rambut sang kekasih yang menutupi wajahnya lalu kembali menempelkan bibirnya di bagian favoritnya, yaitu kening.

“Udah lega?”

Winter menganggukan kepalanya.

“Ya udah, kamu mandi dulu sana. Biar lebih segar badannya.”

Karina berusaha melepaskan lingkaran tangan Winter dari pinggangnya. Namun, yang lebih muda justru menariknya lebih erat sambil menempelkan jari telunjuk di keningnya, meminta kecupan sekali lagi. Karina tersenyum melihat permintaan sang kekasih. Mendekatkan bibirnya ke arah kening lalu menempelkannya lebih lama dari biasanya.

So I can kiss your forehead to make you feel better.

But I like it more,

Winter melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Karina lalu meletakkan kedua tangannya di pundak yang lebih tua sambil menjinjitkan kedua kakinya.

when you stand on your tiptoes.

Ia coba sejajarkan bibirnya dengan kening perempuan di depannya. Walaupun harus mendongakkan sedikit kepalanya. Karina pun menundukkan kepalanya, memberikan sedikit kemudahan untuk Winter. Dan membiarkan bibir sang kekasih membalas untuk mencium keningnya.

So you can kiss my forehead too.

“Dek, bangun. Filmnya udah abis. Kamu bukannya nonton malah tidur. Kalo mau tidur mending di kosan aja. Mau Mbak anterin pulang?” tanya Mbak Taeyeon sambil mengusap kepala Winter yang tertidur di pahanya.

Mbak Taeyeon, Winter, Ning beserta Zero dan Doongie telah tiba di rumah Giselle tepat pukul 9 malam. Setelah berbincang sebentar, mereka pun memutuskan untuk menonton film sambil menunggu pergantian tahun. Winter yang terpaksa ikut ke rumah Giselle hanya karena ingin melakukan video call dengan sang kekasih pun lebih memilih untuk tidur dibandingkan menonton bersama ketiga penghuni kosan lainnya.

“Mmmmhhh... Nggak mau pulang. Adek masih nungguin video call dari Ayin. Kalo adek pulang nanti Ayin marah,” jawab Winter dalam keadaan setengah sadar.

“Ya tapi kamu jangan tidur aja dong. Bangun dulu, Dek. Paha Mbak kesemutan nih ditidurin kamu 2,5 jam. Sebentar lagi tahun baru, Dek. Gigi sama Ning udah pada ke lantai atas tuh buat ngerayain.” Mbak Taeyeon menepuk-nepuk pipi sang adik memintanya untuk bangun. Namun, bukannya bangun, Winter justru mengubah posisi tidurnya menghadap Mbak Taeyeon dan memindahkan tangan sang kakak dari pipinya ke rambut meminta untuk diusap kembali.

Suara gemuruh petasan dan kembang api dari lapangan seberang rumah Giselle mulai terdengar memeriahkan suasana tahun baru yang kurang dari 5 menit lagi. Merasa terganggu dengan suara tersebut, Winter akhirnya menyerah dan bangun dari tidurnya.

“Ayo ke atas, Dek. Nggak enak sama yang lain udah pada nungguin.” Mbak Taeyeon menarik tangan Winter untuk naik ke lantai atas.


Saat Winter memijakkan kakinya di lantai atas, bertepatan juga dengan pergantian tahun yang menandakan usianya tepat bertambah satu tahun. Gemuruh suara petasan dari luar rumah, bunyi trompet yang ditiupkan Giselle dan Ning serta teriakan 'Happy Birthday' membuat Winter tercengang dengan kejutan yang diberikan padanya. Apalagi saat ia menyadari sosok yang dirindukannya selama 2 hari ke belakang, kini sedang berjalan perlahan menghampirinya sambil membawa kue ulang tahun berhiaskan 2 buah lilin angka 2 yang menandakan usianya saat ini.

Happy birthday, sayangnya Ayin. Make a wish dulu yuk. Abis itu baru tiup lilinnya.” Karina mendekatkan kue ulang tahun di tangannya ke arah Winter yang masih tercengang melihat kehadirannya.

“Dek, buruan make a wish abis itu tiup lilin. Keburu meleleh itu nanti lilinnya kalo kelamaan,” ucap Mbak Taeyeon sambil mencubit pipi sang adik yang masih terdiam.

“Awww... Sakit ih Mbak nyubitnya.” Winter mengusap pipinya yang sakit lalu memejamkan kedua matanya, menempelkan kedua tangannya di depan dada dan mengucapkan permintaannya di dalam hati. Setelah selesai, Winter meniup kedua lilin di depannya lalu pergi menghampiri Giselle dan Ning yang tengah duduk di lantai, meninggalkan Karina yang tampak termangu.

“Winter marah ya sama Karin, Mbak?” bisik Karina saat Mbak Taeyeon mencoba membantunya meletakkan kue di meja.

“Tadi sebelum ke atas sih dia masih semangat nungguin kamu buat video call. Mbak juga bingung kenapa tiba-tiba jadi kaya gitu pas liat kamu langsung. Udah kamu urusin si bocil aja. Ini kuenya Mbak potong nggak apa-apa?”

“Iya dipotong aja kuenya nggak apa-apa. Maaf ya jadi ngerepotin, Mbak.”

“Nggak ngerepotin kok, Karin. Gigi! Ning! Bantuin Mbak dulu yuk sini.” Mbak Taeyeon menepuk pundak Karina pelan memberinya kesempatan untuk berbicara berdua dengan Winter.

Giselle dan Ning yang mendengar namanya dipanggil segera beranjak menghampiri Mbak Taeyeon.

“Semangat Rin ngebujuk bayi gedenya!” ucap Giselle saat berpapasan dengan Karina yang dibalas senyuman.


“Sayangnya Ayin kenapa cemberut aja? Nggak seneng ya ketemu Ayin?” tanya Karina setelah mengambil posisi duduk di sebelah Winter. Tangannya ia letakkan di kepala sang kekasih, mengusapnya perlahan.

“Iya,” jawab Winter singkat tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun ke arah Karina.

“Aaaakkkk....” Karina tiba-tiba berteriak kesakitan sambil memegang dadanya yang membuat Winter panik dan segera menghadap ke arahnya.

“Ayin kenapa? Sakit banget ya? Mau Winter temenin ke dokter?”

“Dada Ayin sakit soalnya Winter nggak seneng ketemu Ayin. Padahal dari kemarin Winter maksa banget nyuruh Ayin cepet-cepet pulang.”

Menyadari tipuan Karina, Winter mengubah posisi duduknya membelakangi yang lebih tua. Tangannya ia lipat di depan dada dan bibirnya ia kerucutkan.

“Siapa juga sih yang bakalan seneng kalo dibohongin sama pacar sendiri. Katanya tanggal 1 cuma ada tahun baru. Waktu pergi nggak peluk sama cium Winter dulu. Mana setiap diajak video call sel-”

Winter menghentikan ocehannya saat Karina memeluk tubuhnya dari belakang. Pipinya terasa panas saat bibir lembut milik sang kekasih menyentuh kulitnya.

“Tuh udah dicium sama peluk. Masih marah nggak sama Ayin?”

“Masih.”

Karina mengeratkan pelukannya lalu kembali mencium pipi Winter berulang kali yang diakhiri dengan gigitan gemas di pipinya.

“Masih marah juga?”

“Masih.”

“Ya udah Winter marah sama Ayin terus nggak apa-apa deh. Ayin bingung harus gimana lagi.” Karina melepaskan pelukannya dari tubuh Winter lalu bersiap beranjak dari duduknya saat Winter membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Karina.

“Hehehe. Winter bercanda doang, Ayin. Jangan ngambek gitu dong. Winter boleh jujur nggak ke Ayin?”

“Jujur apa?” tanya Karina heran.

“Sebenernya Winter tahu kalo Ayin nginep di rumah Gigi.”

“Winter tahu dari siapa?”

“Dari Gigi langsung.”

“Kok bisa?”

“Winter inget kalo lukisan yang ada di background foto yang Ayin kirim dari kemarin itu ada di kamar tamunya Gigi. Terus pas Winter tanya langsung ke Gigi, katanya iya Ayin lagi nginep di sini.”

Karina langsung mengarahkan pandangannya ke arah Giselle yang terlihat sedikit panik saat menyadari sahabatnya itu telah mengetahui kejadian yang sebenarnya.

“Gue diancem, Rin. Kalo nggak jujur, figurine gue di kosan bakal dibuang ke tempat sampah sama Winter,” ucap Giselle memberikan pembelaan.

Karina menarik nafas panjang mencoba mengerti alasan Giselle membocorkan rahasianya.

“Terus Winter kenapa ngambek ke Ayin dari kemarin padahal tahu kalo Ayin di rumah Gigi?”

“Hmmmm... Itu sebenernya akting doang biar kejutan dari Ayin kelihatan berhasil. Keren ya akting Winter. Udah bisa diundang jadi bintang tamu Upin Ipin. Hehehe.”

Mendengar ucapan Winter, Karina akhirnya menyadari bahwa rencananya yang telah ia siapkan selama 1 bulan ke belakang ternyata sia-sia. Ia pun segera mengambil bantal dari sofa di belakangnya dan bersiap untuk melemparnya ke arah Winter, ketika Winter dengan sigap beranjak dari duduknya dan berlari menghindari Karina yang kini mulai mengejarnya.

“Mbak, tolongin adek! Adek cuma mau ngomong jujur kok malah dimarahin sih!”

Sorry, bocil. Mbak nggak mau ikut-ikutan masalah rumah tangga orang. Mendingan Mbak abisin kue ulang tahunnya.”

“Aaahhhh... Mbak! Kue adek jangan diabisin. Gigi! Ning! Bantuin gue anjir. Makan aja lo berdua.”

“Emang enak. Kualat sih lo sama gue, Win,” ucap Giselle masih tetap asik menyantap kue ulang tahun milik Winter.

“Larinya yang lama ya, Win. Tunggu kuenya abis dulu baru berhenti,” ledek Ning tidak mau kalah.

“Brengsek nih semuanya. Cuma mau makan kuenya doang bukannya bantuin.”

“Winter! Kalo ngomong yang sopan!” teriak Karina saat mendengar ucapan Winter.

“Ya Allah.... Birthday wish Winter tadi emang nggak mau jauh-jauh dari Ayin. Tapi bukan dikejar-kejar gini juga maksudnyaaaaa.”


CW // Kiss


Karina terkejut saat membuka pintu kamar dan mendapati Winter sedang duduk di ranjangnya. Ia segera menghampiri sang kekasih yang langsung mengulurkan kedua tangannya meminta untuk dipeluk.

“Ayin, maafin Winter,” ucap yang lebih muda saat Karina telah duduk di sampingnya dan memeluknya.

“Emang Winter salah apa?”

“Tadi Winter udah drama banget ke Ayin cuma karena minyak telon.”

“Itu aja?”

“Sama udah ngambek ke Ayin karena bales chat-nya lama.”

“Terus?”

“Ngatain Ayin ngambekan padahal yang suka ngambek Winter.”

“Udah kan?”

“Hmmmm... Ada 1 lagi.”

Karina melepaskan pelukannya, merasa heran karena tidak dapat mengingat hal lainnya.

“Apa?”

“Coklat Ayin di meja belajar Winter abisin.”

Tak butuh waktu lama untuk Karina mendorong tubuh Winter hingga terbaring di atas kasur setelah mendengar ucapan yang lebih muda. Tangannya langsung menggelitik tubuh sang kekasih yang kini sedang tertawa sambil meminta ampun kepadanya.

“Ahahaha... Ayin ampuun nanti Winter ganti coklatnya,” teriak Winter sambil menggeliatkan tubuhnya mencoba menghindari tangan Karina.

“Nggak ada ampun-ampunan. Siapa suruh makan coklat Ayin nggak bilang-bilang dulu,” ucap Karina yang kini telah duduk di atas perut Winter.

“Ya lagian Ayin tadi letakin coklatnya sembarangan. Tadi tuh ada semut yang mau ngambil coklatnya. Daripada sayang, jadi Winter ambil dan makan duluan.”

Winter berusaha melepaskan tangan Karina yang menggelitikinya. Namun, kekuatan tangan Karina tidak dapat Winter kalahkan.

“Winter banyak alasan nih.”

“Ahahaha... Iya ampun, Ayin. Nanti Winter beliin yang baru. Udahan gelitikinnya. Nanti Winter ngompol.”

Karina menghentikan aksinya setelah melihat sang kekasih yang hampir kehabisan nafas dengan mata yang berair. Ia pun menjatuhkan tubuhnya di samping Winter sambil mengistirahatkan kepalanya di dada sang kekasih, merasakan detak jantungnya yang belum kembali normal.

“Winter tadi makan berapa potong?” tanya Karina saat nafas Winter telah kembali normal.

Saat ini keduanya saling berhadapan satu sama lain. Karina memainkan poni gadis di depannya yang sedang memejamkan matanya, menikmati setiap usapan jemari Karina di kepalanya.

“Satu doang kok.”

“Nggak mungkin, sayang. Tadi Ayin baru makan tiga potong.”

“Hmmm... Tiga juga. Hehehe,” ucap Winter sambil tersenyum lebar memamerkan lesung pipi dan mata sipitnya.

“Bener ya tiga?” tanya Karina yang secara tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Winter.

“B-bener kok cuma tiga,” jawab Winter terbata-bata saat merasakan hembusan nafas Karina menyentuh wajahnya.

“Satu.”

Karina menurunkan tangannya ke arah pipi Winter lalu menarik wajahnya, memberikan satu kecupan lembut pada bibir sang kekasih.

“Dua.”

Karina kembali mengecup bibir gadis di depannya. Kali ini lidahnya mulai bermain di permukaan bibir Winter. Menikmati rasa coklat yang masih menempel di setiap sisi bibir yang lebih muda. Sesekali giginya ia gunakan untuk menggigit bibir sang kekasih seakan-akan sedang menggigit potongan coklat. Sedangkan Winter hanya bisa memejamkan matanya, mencoba menjernihkan pikirannya yang berkabut saat merasakan kecupan, jilatan serta gigitan Karina pada bibirnya.

“K-Karin udah. Anggep aja Winter cuma makan dua. Nanti sisanya Winter beliin yang baru,” ucap Winter terbata-bata dengan nafas sedikit tersengal setelah Karina menghentikan permainan lidahnya. Pipinya masih terasa panas dingin, teringat cara Karina mencium bibirnya beberapa saat lalu.

“Yakin?”

“I-iya. Nanti coklatnya Winter beliin pas ke warung.”

“Beneran?”

“B-Bener kok.”

“Kalo ciuman satu laginya mau ditabung dulu buat diminta kapan-kapan juga boleh kok,” ucap Karina menggoda yang lebih muda.

“Hmmmm... Y-ya udah. B-boleh deh kalo gitu.”

“Kalo mau bonus juga boleh.”

“Ng-Nggak usah satu aja cukup.”

“Sama bonus aja deh ya nggak apa-apa?”

Karina mencoba menahan tawanya, melihat Winter yang tidak berani menatap matanya secara langsung.

“Nggak mau. Satu aja cukup pokoknya. Udah ah Winter mau mandi dulu. Ayin mandi juga sana. Badan Ayin bau asem,” ucap Winter sambil beranjak dari tidurnya tak sanggup jika harus berdua dengan sang kekasih lebih lama.

“Dih, enak aja bau asem. Sayang, sebentar dulu.” Karina menarik tangan Winter sebelum ia berhasil berdiri dan meninggalkan kamar.

“Kenapa lagi sih, Ayin?”

“Mandi bareng aja gimana? Biar hemat air.”

“Nggak mau ihh. Ayin mesum banget. Nanti Winter diapa-apain.”

Winter berusaha menarik tangannya dari genggaman Karina.

“Loh kok mesum? Kan cuma mandi doang. Ngebersihin badan. Emang Winter mikirnya mandi sambil ngapain?”

“S-sambil itu mmmmm... Anu mmmmm....”

“Hayooo Winter mikirnya sambil apa?”

“Ihh udah ah Ayin sengaja mau mancing-mancing Winter nih pasti. Ayin mau ngejebak Winter kan? Maaf ya Winter bukan anak kecil yang gampang dipancing.”

“Uwuwuwuwu... Iya deh bukan anak kecil. Tapi anak bayi. Ya udah sana mandi. Minyak telonnya di meja makan ya. Kalo misalnya jadi mau mandi bareng bilang aja.”

“Nggak... Nggak... Nggak... Winter jangan dengerin kata Ayin. Aaaaaakkkk...” Winter segera berlari meninggalkan kamar sang kekasih sambil menutup kedua telinga dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Karina hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol Winter.

Setelah membaca pesan terakhir dari Winter dan berhasil membuka pintu kamar dengan cara menggesernya, Karina menghampiri Winter yang duduk di pojok kasur sambil memeluk boneka Upin Ipin kesayangannya. Winter menepuk sisi kosong di sebelahnya meminta Karina untuk duduk di sampingnya.

“Winter abis nangis ya?” tanya Karina saat melihat mata Winter yang kemerahan dan berkaca-kaca.

Merasa bersalah karena telah membuat Winter salah paham, Karina mengecup pipi kiri yang lebih muda. Namun, tak seperti biasanya, Winter hanya terdiam tak bereaksi sedikitpun. Karina pun mencoba kesempatan keduanya dengan memberikan kecupan di pipi kanan Winter. Lagi-lagi Winter hanya terdiam tanpa reaksi. Merasa frustrasi, Karina menarik kepala Winter lalu mencium kening, hidung dan dagunya secara bergantian. Berharap dapat melihat kembali tawa dari yang lebih muda.

“Hahahahaha. Karin, Winter sebenernya nggak nangis kok, walaupun Winter kesel sedikit sama Karin. Tadi itu Winter abis nahan ketawa sampai keluar air mata aja gara-gara ngeliat Karin buka pintunya di dorong bukan digeser. Tapi makasih ya ciumannya. Ada yang ketinggalan nih belom dicium.”

Winter menempelkan jari telunjuknya di bibir, memberikan kode kepada Karina. Namun, kali ini giliran Winter yang dibuat merasa bersalah saat melihat Karina yang tiba-tiba menangis di hadapannya untuk pertama kali.

“Karin, kenapa nangis? Winter bercanda doang tadi. Maafin Winter ya bercandanya berlebihan. Lain kali Winter nggak akan ngetawain Karin lagi walaupun Karin buka pintunya diangkat.”

Winter menarik tubuh Karina lalu memeluknya erat. Diusapnya punggung Karina mencoba menenangkannya.

“Karin, udah dong jangan nangis terus. Winter nggak suka ngeliat Karin nangis. Winter minta maaf.”

Tanpa disadari air mata ikut mengalir membasahi pipi Winter.

“Winter kenapa ikutan nangis juga?” tanya Karina saat merasakan Winter sesenggukan di pelukannya.

“Dada Winter sakit ngeliat Karin nangis. Winter nggak mau ngeliat Karin sedih. Winter nggak mau kehilangan senyum Karin. Winter maunya Karin bahagia terus. Winter akan ngelakuin apapun buat bikin Karin bahagia soalnya Winter sayang banget sama Karin.”

“Maafin Karin juga ya udah bikin Winter nangis. Tadi Karin tuh takut banget kalo Winter sampai marah. Karin bukan nangis karena marah sama Winter tapi karena ngerasa lega mata merah Winter bukan karena nangis. Soalnya Karin juga nggak suka ngeliat Winter sedih.”

“Karin minta maaf ya udah bikin salah paham. Rencananya, abis Winter baca kartu dari Karin, Karin mau ngomong langsung ke Winter kalo Karin nggak bisa nerimanya itu ucapan Winter yang panggil Karin 'dek'. Kalo permintaan jadi pacar Winter, Karin mau.”

Karina melepaskan pelukannya dari tubuh Winter lalu diusapnya air mata yang mengalir di pipi Winter.

“Winter jangan nangis lagi ya.”

“Karin juga janji jangan nangis lagi.”

Winter mengusap air mata yang membasahi pipi Karina lalu mengulurkan jari kelingkingnya.

“Iya, Karin janji.”

Karina pun mengaitkan kelingking keduanya yang membuat Winter tersenyum lebar.

“Dan Karin juga janji akan selalu ada di sisi Winter. Kalo Winter sedih, Karin akan hapus kesedihan Winter dan buat Winter kembali tersenyum. Tapi Karin harap Winter selalu bahagia. Karena Karin akan selalu berusaha melipat gandakan kebahagiaan Winter jadi Winter nggak akan pernah ngerasa sedih.”

Winter pun kembali menitikkan air mata setelah mendengar ucapan Karina, membuat yang lebih tua kembali panik.

“Winter kenapa nangis lagi? Karin salah ngomong ya? Maaf ya, sayang. Karin nggak maksud buat Winter sedih.”

Karina menarik tubuh Winter dan kembali memeluknya erat.

“Winter bukan nangis sedih. Winter itu lagi terharu denger omongan Karin. Mulut Karin kok bisa manis banget gitu sih? Karin bukan buaya kan?”

Karina melepaskan pelukannya lalu menarik dagu Winter dengan tangan kanannya.

“Enak aja ngatain Karin buaya. Karin sayangnya cuma sama Winter aja ya. Nggak ada yang lain. Kalo masalah mulut Karin manis, emang Winter pernah nyobain?”

Seakan terhipnotis, Winter mendekatkan wajahnya ke arah Karina. Matanya terpaku pada bibir sintal gadis di depannya. Gerakannya sempat terhenti, sedikit ragu akan keputusannya. Namun tarikan tangan Karina pada dagunya memantapkan hatinya. Matanya ia pejamkan, tak kuasa menatap paras cantik kekasihnya. Jarak di antara keduanya semakin mengecil dan saat hembusan nafas Karina mengenai kulit wajahnya bibir mereka pun-

GUK... GUK... GUK...

Gonggongan Zero berhasil memecahkan kesunyian kamar Winter. Karina dan Winter yang kaget saat mendengar gonggongan Zero langsung menjauhkan tubuh mereka satu sama lain.

“Zero ngapain sih masuk ke kamar kakak? Kakak lagi sibuk dulu. Zero tunggu di luar dulu ya. Sebentar lagi Mbak pulang.”

Winter menggendong Zero lalu meletakkannya di luar kamar dan menutup pintu kamarnya rapat. Merasa canggung setelah gagal berciuman, Winter hanya terdiam di pintu, tak berani menghampiri sang kekasih.

“Sayang, sini duduk lagi. Kok malah diem aja di situ?” panggil Karina sambil menepuk sisi kosong di sebelahnya.

Bukannya berjalan menghampiri Karina, Winter justru memutar badan dan menempelkan kepalanya ke pintu kamar. Pipinya terasa panas mendengar panggilan sayang dari Karina. Telinganya pun tak mau kalah berubah warna menjadi merah. Tak mendapat jawaban dari Winter, Karina beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Winter. Ia peluk sang kekasih dari belakang dan ia tempelkan dagunya di pundak Winter.

“Sayang, kenapa? Kok nggak mau deket-deket Karin?”

“Karin jangan panggil Winter sayang. Winter jadi bingung tahu harus ngapain.”

“Terus Karin harus panggil apa dong kalo gitu?”

“Nggak tahu. Winter lagi nggak bisa mikir. Jangan tanya-tanya dulu.”

Merasa gemas dengan sikap Winter yang salah tingkah, Karina mengeratkan pelukannya lalu mengecup pipi sang kekasih dan menggigitnya pelan.

“Kariiinnn....” rengek Winter saat merasakan gigitan di pipinya. Kakinya terasa lemas mendapat perlakuan seperti ini untuk pertama kalinya dari sang kekasih.

“Kenapa sih? Biasanya juga suka minta dicium. Sekarang giliran udah pacaran malah malu-malu. Ayo, duduk di kasur lagi.” Karina menyeret tubuh Winter yang masih dalam pelukannya.

Karina naik ke atas ranjang terlebih dahulu, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang kemudian diikuti oleh Winter yang mengambil posisi di antara kaki Karina dengan tubuhnya yang bersandar pada sang kekasih.

“Karin?” panggil Winter setelah mendapat posisi nyaman. Kepalanya ia senderkan di pundak Karina

“Kenapa, sayang?”

“Ini kita beneran pacaran?”

“Kok Winter nanya gitu? Emang Winter maunya gimana?”

“Ya maunya pacaran. Tapi Winter masih nggak percaya aja.”

“Terus biar Winter percaya, Karin harus gimana?”

Winter hanya terdiam. Otaknya masih belum sepenuhnya percaya bahwa gadis yang 3 bulan lalu sempat ribut dengannya telah menjadi kekasihnya. Bukannya menjawab pertanyaan Karina, Winter justru memainkan jari sang kekasih di perutnya tanpa memedulikan Karina yang kini sedang tersenyum menatapnya.

“Winter Sonyata sayangnya Karina Miranti?”

Winter melepaskan jari Karina dari genggamannya saat mendengar nama lengkapnya dipanggil. Ia tolehkan kepalanya ke arah sang kekasih. Nafasnya terhenti, kaget saat menyadari jarak wajah keduanya yang begitu dekat. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya, Karina memegang pipi Winter dengan tangan kanannya lalu merapatkan jarak di antara keduanya. Hidung mereka saling bersentuhan. Keduanya dapat merasakan hembusan nafas satu sama lain. Bibir mereka pun-

TOKK... KEK.... TOKK... KEK.... TOKK... KEK....

Suara Doongie yang tiba-tiba muncul berhasil membuat keduanya kaget. Winter segera duduk tegap yang membuat kepalanya beradu dengan dagu sang kekasih.

“KARIN, MAAF!” Teriak Winter saat melihat Karina mengelus dagunya kesakitan.

“Nggak apa-apa kok. Winter kepalanya nggak apa-apa kan?” tanya Karina khawatir sambil mengecek kepala sang kekasih.

“Nggak apa-apa. Tenang aja. Winter kan keras kepala. Hehehe.”

Karina hanya bisa tertawa saat mendengar kepolosan Winter yang menganggap dirinya keras kepala.

“Doongie ngapain sih ikutan masuk ke kamar kakak? Abang Zero udah di luar dari tadi. Sana main berdua sama abang. Sebentar lagi mama kamu balik.” Winter mengangkat Doongie yang mengintip dari bawah ranjang lalu meletakkannya di luar kamar.

Setelah berhasil mengeluarkan Doongie, Winter kali ini merasa lebih berani berjalan menghampiri Karina walaupun percobaan ciuman kedua mereka baru saja gagal.

“Karin geseran dikit,” rengek Winter kepada Karina yang kini sedang berbaring di kasurnya.

“Winter kan biasanya tidur di pojok. Langkahin Karin aja nggak apa-apa. Karin nggak mau tidur di pojok.”

“Ihh.. Winter lagi nggak mau tidur di pojok. Winter maunya di pinggir. Kalo Karin nggak geser, Winter tiban nih.”

“Dih, kesempatan banget main tiban-tiban aja. Udah sana Winter langkahin Karin aja. Nanti Winter jatuh kalo tiduran di pinggir.”

“Apaan sih! Emangnya Winter anak bayi apa nggak boleh tiduran di pinggir?”

“Iya. Winter kan bayinya Karin. Sini bayinya Karin tiduran di atas Karin aja nggak apa-apa deh. Biar bisa Karin peluk sekalian.” Karina merentangkan kedua tangannya ke arah Winter yang justru tampak ragu saat keinginannya dikabulkan.

“Nggak jadi deh. Winter tidur di pojok aja nggak apa-apa. Kasihan nanti Karin keberatan kalo Winter tiban.”

“Berat apa sih? Jelas-jelas Winter lebih kecil dari Karin. Sini cepetan Karin mau peluk Winter,” ucap Karina sambil menarik-narik tangan Winter.

“Nggak mau. Winter di pojok aja. Winter malu kalo tiduran di atas Karin.” Winter segera melangkahi Karina dan mengambil posisinya di pojok kasur.

“Malu kenapa sih emangnya?” Goda Karina mencubit dagu Winter dan hidungnya secara bergantian. Saat ini keduanya saling berhadapan satu sama lain.

“Ya malu aja pokoknya.”

“Hmmmm... Karinnn?” panggil Winter tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.

“Kenapa, sayang?”

“Jadi mau dipeluk nggak?”

“Gemes banget sih ragu-ragu gitu nanyanya. Jadi dong.” Karina merentangkan kedua tangannya, menarik tubuh Winter ke dalam dekapannya.

“Sayang?” bisik Winter merasa malu memanggil Karina sayang untuk pertama kalinya.

“Winter ngomong apa? Karin nggak bisa denger. Jangan bisik-bisik dong.”

“Sayang?” panggil Winter masih setengah berbisik.

“Sayang, Karin nggak bisa denger kalo bisik-bisik gitu.”

“Ihh. Karin mah sengaja banget sih. Orang kita deketan gini masa nggak denger Winter ngomong apa?”

“Seriusan, Win. Suara Winter kecil banget soalnya.”

“S-sayang?” panggil Winter dengan suara yang lebih lantang.

“Hahaha. Kenapa harus gugup banget sih mau manggil sayang aja? Iya, sayangnya Karin. Kenapa?”

“Hmmmm. Mau ngelanjutin yang tadi nggak?”

“Ngelanjutin apa sih?”

“Ngelanjutin yang ituuu.”

“Ngelanjutin itu apa sih? Yang jelas coba ngomongnya.”

“Karin mah dari tadi ngeledekin Winter terus sih. Winter tuh masih belum biasa tahu punya pacar kaya gini. Rasanya masih kagok. Jangan bikin Winter kesel deh,” rengek Winter menenggelamkan wajahnya di lengan sang kekasih.

“Ya udah kalo Winter kesel berarti nggak usah dilanjutin ya itunya?”

“Ihh. Nggak gitu maksudnya. Winter nggak kesel kok. Ayo cepetan. Winter penasaran rasanya. Soalnya dari tadi gagal mulu.”

Tak ingin membuat Winter semakin penasaran, Karina pun menuruti permintaan yang lebih muda. Mulanya, ia kecup keningnya yang membuat Winter tersenyum lebar saat merasakan bibir lembut Karina menyentuh kulitnya. Lalu kecupannya turun ke hidung mungil sang kekasih yang membuat Winter mengerutkan hidungnya karena geli. Dan Winter pun memejamkan matanya saat ia merasakan bibir Karina turun secara perlahan dan mulai menyentuh gumunnya. Jantungnya berdetak cepat menyadari hanya sedikit lagi jarak yang harus ditempuh bibir Karina untuk akhirnya bertemu dengan bibirnya. Hingga akhirnya-

BRAK

“ADEK! DIPANGGILIN DARI TADI KOK DIEM AJA SIH?” Teriak Mbak Taeyeon yang langsung masuk ke dalam kamar diikuti oleh Giselle, Ning dan Ryujin setelah berhasil mendobrak pintu kamar Winter hingga pintunya terlepas dari jalur rel.

“YA ALLAH! WINTER SALAH APA SIH. DARI TADI MAU NYOBAIN CIUMAN SAMA KARIN AJA DIGANGGUIN TERUS!”

Tanpa memedulikan kakinya yang masih sedikit sakit, Winter segera turun dari ranjangnya dan berlari keluar kamar, tidak rela jika Karina pergi makan malam dengan Mbak Taeyeon. Winter terkejut saat membuka pintu kamar dan hampir saja menabrak Karina yang sudah berdiri di depan kamarnya.

“Winter, ngapain sih lari-lari gitu? Kaki Winter kan masih sakit!” cecar Karina dengan wajah khawatir. Ia berjongkok mengecek kaki Winter yang masih sedikit bengkak di pergelangannya.

“Winter nggak mau Karin makan berdua sama Mbak.”

“Kalo makan bertiga mau?”

“Nggak mau. Karin cuma boleh makan berdua sama Winter pokoknya.” Winter menarik lengan Karina lalu memeluknya erat.

“Dih main nempel-nempel aja. Dasar kesempatan. Mentang-mentang kita cuma berdua doang di kosan.”

“Hah? Emang yang lain pada ke mana?” tanya Winter heran saat menyadari suasana kosan terasa sepi.

“Kan tadi pada pamit pergi. Winter nggak baca grup whatsapp emangnya?”

“Nggak. Hehehe. Tadi grup whatsapp-nya Winter mute soalnya suka berisik. Winter takut nggak denger kalo ada whatsapp dari Karin.”

“Dih, jangan kaya gitu. Kalo ada yang penting gimana?”

“Iya nanti Winter unmute. Karin ngumpetin apa sih itu? Buat Winter ya?” tanya Winter saat melihat Karina memegang sesuatu di balik tubuhnya. Karina pun menunjukkan buket yang ia pegang.

“Ihhh... Lucu banget. Karin makasih banyak ya. Ini kartunya boleh Winter baca?” tanya Winter saat melihat sebuah kartu ucapan terselip di sisi belakang buket.

“Nanti aja abis makan dibacanya ya. Sekarang kita makan dulu. Tadi katanya Winter laper?” Karina menarik tubuh Winter yang masih memeluk lengannya ke arah meja makan.

“Loh katanya kita mau makan di luar?” tanya Winter heran saat melihat meja makan telah dipenuhi makanan dan cemilan.

“Iya. Ini kan kita makan di luar. Di luar kamar maksudnya. Hehehe.”

“Karin lucu banget sih. Winter jadi makin sayang.” Winter segera duduk di kursi makan dan meletakkan buket yang ia pegang di meja makan.

“Apa sih genit banget main sayang-sayangan aja. Winter mau Karin suapin apa makan sendiri?” tanya Karina yang masih berdiri di samping Winter sambil mengusap kepalanya.

“Dih, Karin apaan sih. Emangnya Winter anak kecil apa masih disuapin. Winter makan sendiri aja.”

“Minggu lalu aja minta disuapin pas makan bubur. Sekarang sok-sokan nggak mau.” Karina mengacak rambut Winter lalu berjalan meninggalkan Winter untuk duduk di kursinya. Namun, dengan cepat Winter menarik tangannya.

“Eh mau ke mana? Karin jangan pergi. Di sini aja sama Winter.”

“Karin mau makan juga, Win. Tadi katanya Winter nggak mau Karin suapin?”

“Iya emang Winter nggak mau disuapin tapi Winter mau makan sambil dipangku Karin.” Winter mendongakan kepalanya menghadap Karina, berusaha menunjukkan wajah memelas berharap Karina menyetujuinya.

“Yeee malah ngelunjak. Karin laporin Mbak Taeyeon nih ya!” ancam Karina menoyor kening Winter lalu berjalan menuju kursinya di hadapan Winter.

“Karin mah sekarang gitu sih. Dikit-dikit ngadu ke Mbak terus.”

“Iya bercanda, Win. Dipangkunya nanti aja ya abis makan. Sekarang kita makan dulu. Nanti keburu dingin makanannya.”

Karina mulai memakan masakan yang telah ia buat dengan lahap. Tak mau kalah dengan Karina, Winter pun mulai melahap hidangan yang telah tersedia di hadapannya. Tanpa banyak bicara keduanya tampak fokus dengan makanan masing-masing. Karina merasa sedikit gugup karena ini adalah pertama kalinya ia memasak makanan favoritnya untuk orang lain.

“Karin, enak banget masakannya!” ucap Winter mengacungkan 2 jempol ke arah Karina setelah memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.

“Beneran? Besok Karin masakin menu ini lagi ya kalo gitu? Setiap hari Karin masakin buat Winter juga nggak masalah,” ucap Karina penuh semangat merasa bangga masakannya dipuji oleh Winter.

“Eh nggak usah repot-repot, Karin. Besok-besok biar kita beli makan di luar aja ya.”

Karina menjatuhkan sendok dan garpu di tangannya saat mendengar ucapan Winter.

“Masakan Karin nggak enak ya sebenernya? Winter jujur aja sama Karin. Nggak usah bohong.” Karina menundukkan kepalanya merasa sedih saat mendengar penolakan dari Winter.

Melihat perubahan raut wajah yang lebih tua, Winter pun beranjak meninggalkan kursinya lalu berjalan menghampiri Karina. Ia pegang kedua pipi Karina lalu diangkat menghadapnya dan berkata,

“Bukan gitu, Karin. Masakan Karin enaaaak banget. Winter suka. Tapi masa iya tiap hari kita makan mie instan sih. Karin jangan ngegemesin kaya gini deh. Yang harusnya gemes itu Winter bukan Karin.” Winter menundukkan kepalanya berniat untuk mencium kening Karina. Namun, dengan cepat Karina menahan bibir Winter dengan tangannya.

“Winter, mulutnya berminyak ih jangan cium-cium.”

“Dikit doang mumpung yang lain lagi pada di luar, Karin.”

“Nggak mau. Mulut Winter bau mie instan.”

“Ya kan gara-gara Karin mulut Winter jadi bau mie. Karin harus tanggung jawab.”

Keduanya tak ada yang mau mengalah. Karina masih berusaha menghindar dari ciuman Winter. Sedangkan Winter masih berusaha mengecup kening Karina. Suara teriakan dan tawa keduanya memenuhi kosan yang saat ini hanya diisi oleh mereka berdua.

DUK

Karina dan Winter langsung menghentikan pertengkarannya saat mendengar suara yang sangat kencang entah darimana sumbernya.

“Karin, yang lain beneran nggak ada di kosan?” bisik Winter yang kini telah duduk di pangkuan Karina saat mendengar suara tadi.

“Beneran kok. Tadi yang lain pamit ke Karin juga pas mau jalan. Winter sih maksa mau cium Karin. Yang punya kosan jadi marah kan!”

“Maksudnya Papa sama Mama Winter?”

“Bukaaan. Maksud Karin makhluk halus yang nungguin kosan.”

“Karin ihh kalo ngomong suka sembarangan. Winter kan jadi takut.” Winter memeluk tubuh Karina erat dan menempelkan wajahnya di tengkuk leher yang lebih tua.

“Win, nafasnya pelan-pelan. Leher Karin geli ih. Ini Winter kok kesempatan banget sih jadi nempel-nempel sama Karin? Udah ah Winter balik lagi sana duduknya,” ucap Karina sambil menepuk-nepuk punggung Winter memintanya untuk bangun.

“Nggak mau. Winter udah nyaman kaya gini. Tadi kan Karin udah janji mau pangku Winter abis makan.”

“Kalo Winter nggak bangun, Karin nggak bakal ngasih jawaban ke Winter loh.”

“Hmmmm... 10 menit lagi ya. Lagian Karin juga pasti bakal nerima Winter jadi pacar Karin.”

“Dih, pede banget sih bocil. Siapa juga mau jadi... AAWWWW Winter sakit ih. Kok main gigit pundak Karin aja sih.”

“Siapa suruh manggil Winter bocil. Awas aja nanti ketagihan kalo udah nyobain ciuman Winter.”

”......”

“Karin kok diem aja? Lagi ngebayangin ciuman sama Winter ya?”

“Ini apa sih dari tadi bahas ciuman mulu. Karin laporan ke Mbak ya, Win?”

“Laporin aja. Winter nggak takut. Wleeeee,” tantang Winter kepada Karina.

Karina pun melepaskan tangannya dari punggung Winter mencoba meraih handphone-nya di meja makan lalu membuka ruang percapakan miliknya dengan Mbak Taeyeon. Winter yang menyadari Karina sedang mengetik sesuatu langsung melepaskan pelukannya dan mencoba merebut handphone dari tangan Karina.

“Karin, jangan diaduin ke Mbak. Winter cuma bercanda doang.”

“Tadi katanya nggak takut?”

“Winter cuma nggak mau Mbak salah paham.”

“Banyak alasan kamu. Udah sana duduk dulu di sofa. Karin mau beresin meja makannya dulu.”

“Winter mau bantuin Karin.”

“Nggak usah. Kaki Winter kan masih sakit. Winter duduk aja ya di sofa sambil nunggu Karin selesai.” Karina menepuk-nepuk pipi Winter lalu mengecupnya lembut yang membuat Winter tersenyum lebar.

“Yang satu lagu nggak sekalian?”

“Mau pake tangan kanan atau kiri?”

“Hehehe. Iya bercanda. Karin jangan lama-lama ya beberesnya. Winter takut sendirian.”

“Iya, tenang aja. Winter nonton TV dulu aja ya biar nggak takut.”

Winter pun berjalan menuju sofa sambil membawa buket untuknya, meninggalkan Karina yang mulai merapikan meja makan.

Setelah puas mengusili adiknya, Mbak Taeyeon mengembalikan handphone yang ia pegang kepada pemiliknya.

“Ini Karin. Makasih banyak ya. Udah sana kamu ke kamar Winter. Kasihan nanti pingsan lagi nungguin bubur.”

“Iya sama-sama, Mbak. Mbak aja yang ngasih buburnya ke Winter ya. Karin mau ke atas.”

“Loh, kenapa? Kan dia dari tadi nungguin kamu.” Mbak Taeyeon memberikan mangkok bubur milik Winter ke tangan Karina.

“Nggak apa-apa, Mbak. Hehehe.” Karina mengembalikan mangkok di tangannya ke Mbak Taeyeon.

“Mbak nggak ngelarang kalian berdua pacaran kok. Tenang aja ya.”

“Karin sama Winter ngga pacaran, Mbak!” jawab Karina dengan nada sedikit tinggi.

“Dih kok ngegas. Hahaha. Iya kalian belom pacaran. Tenang aja Mbak tuh cuma gemes aja ngerjain kalian berdua. Tapi jangan bilang-bilang ke bocil ya kalo Mbak ngerestuin kalian. Kamu pura-pura aja nggak tau. Udah sana kamu ke kamar Winter. Keburu kesiangan nanti dia sarapannya.”

“Hehehe. Iya, Mbak. Makasih banyak ya udah ngerestuin Winter sama Karin. Karin ke kamar Winter dulu ya.”

“Eh sebentar-sebentar.” Mbak Taeyeon membisikan sesuatu ke telinga Karina.

“Oke, Mbak. Siap.” Karina meninggalkan meja makan menuju kamar Winter setelah mendengarkan pesan Mbak Taeyeon.


Tok... Tok... Tok...

“Win, Karin masuk ya? Karin bawa bubur nih.” Tak mendapat jawaban dari sang pemilik kamar, Karina segera membuka pintu dan masuk perlahan.

Seperti biasanya saat Karina masuk ke kamar Winter, Winter terlihat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Karina meletakkan mangkuk bubur di meja nakas lalu mengistirahatkan tubuhnya di ranjang Winter.

“Winter kok masih selimutan sih. Tadi katanya laper. Makan dulu yuk.”

“Nanti aja ah. Winter marah sama Karin. Karin ngapain sih minjemin handphone-nya nya ke Mbak Taeyeon,” ucap Winter dari balik selimut.

“Ya emang kenapa? Itu kan hp Karin. Jadi bebas dong Karin mau pinjemin ke siapa aja.”

“Iya sih. Tapi kan Winter jadi malu ke Mbak Taeyeon udah ngomong kaya gitu. Karin nggak usah peluk-peluk Winter deh. Dikira Winter cewek gampangan apa,” ucap Winter saat merasakan pelukan dari belakang tubuhnya.

“Siapa yang bilang Winter cewek gampangan sih. Karin kangen tau sama Winter. Kemarin kan kita cuma sebentar aja pelukannya. Winter jangan munggungin Karin dong tidurnya.”

“Nggak mau. Winter masih marah sama Karin.”

“Beneran nih nggak mau hadap ke sini? Tadi katanya mau tau bibir Karin merah pake lipstik apa.” Tanpa ragu Winter memutar posisinya. Winter merasakan pelukan di tubuhnya terasa semakin erat yang membuat senyumannya di bawah selimut semakin lebar.

“Karin?”

“Kenapa?”

“Karin coba cium kening Winter deh. Kepala Winter pusing soalnya. Siapa tahu jadi hilang pusingnya kalo dicium Kar- AAAWWW... Karin sakit ih cubitnya kenceng banget. Winter bercanda doang tahu,” ucap Winter saat merasakan cubitan di pinggangnya.

“Ya abis Winter terang-terangan banget ngomongnya. Karin kan malu padahal kita belum pacaran. Winter coba tutup matanya ya kalo mau dicium.”

Winter merasakan selimut yang menutupi kepalanya turun hingga ke alis. Sebuah ciuman lembut mendarat di keningnya yang membuat tubuhnya terasa panas dingin. Jantungnya pun tak mau kalah ikut berdetak cepat. Ingin mencoba peruntungannya, Winter meminta 1 hal kembali kepada Karina.

“Kariiinnn...”

“Kenapa lagi sih? Mau dicium lagi?”

“Hehehe. Hidung Winter sakit juga. Mau dicium biar cepet sembuh.” Winter menggoyangkan kepalanya di dalam selimut membayangkan Karina mencium hidungnya. Secara perlahan kini selimut yang menutupi wajahnya turun sampai ke dagu. Masih dengan mata tertutup, Winter tersenyum lebar saat merasakan bibir yang lembut menyentuh hidungnya. Mencoba menahan hasrat ingin teriak, Winter menggigit ujung selimut dengan kencang. Namun, dalam sekejap senyumannya menghilang.

“Karin?”

“Apalagi? Mau cium bibir sekarang?”

“Mauuuu! Eh nggak bukan itu.”

“Terus kenapa?”

“Karin pake parfum baru ya? Kok wanginya mirip...”

Winter segera membuka matanya saat mengingat wangi parfum yang diciumnya. Ia terkejut saat melihat sosok yang memeluk dan menciumnya sedari tadi.

“MBAK NGAPAIN SIH TIDURAN DI KASUR ADEK!” Teriak Winter saat melihat Mbak Taeyeon tertawa terbahak-bahak di hadapannya. Dengan penuh paksa ia mencoba melepas pelukan Mbak Taeyeon dari tubuhnya. Sedangkan Karina yang sebenarnya, sedang duduk di sudut kasur sambil tertawa terbahak-bahak mengelap air mata yang terus keluar saat melihat wajah panik Winter ketika menyadari yang memeluk dan menciumnya bukanlah dirinya.

“Mau dicium lagi nggak, dek?” ledek Mbak Taeyeon mencubit hidung adiknya.

“Karin sama aja kaya Mbak reseknya. Udahlah mendingan pada keluar aja dari kamar adek sekarang!” Winter menarik kasar selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

“Yailah pake ngambek segala. Tadi aja seneng banget pas Mbak cium. Udah ah ngambeknya. Sarapan dulu kamu.” Mbak Taeyeon menepuk-nepuk pundak Winter dari luar selimut lalu beranjak meninggalkan Winter dan Karina.

“Win, sarapan dulu yuk. Nanti buburnya keburu dingin,” bujuk Karina yang kini sudah berpindah posisi duduk di sebelah Winter. Tangannya ia letakkan di pundak Winter yang tertutup selimut, menepuknya pelan meminta Winter untuk bangun.

“Nggak mau. Karin mending ikut Mbak Taeyeon aja sana. Nggak usah deket-deket deh.”

“Dih, gitu doang ngambek sih. Mbak Taeyeon tuh kangen sama kamu, Win. Katanya semenjak ada Karin, Winter jadi nggak mau dipeluk dan dicium sama Mbak Taeyeon lagi.” Kali ini tangannya ia masukkan ke dalam selimut, mencoba mengusap puncak kepala yang lebih muda.

“Ya kan malu kalo masih dipeluk sama dicium Mbak.”

“Kalo dipeluk sama dicium Karin emangnya nggak malu?”

“Hmmmm... Nggak.”

“Emang apa bedanya?”

“Ya Winter kan sayang sama Karin.”

“Terus Winter nggak sayang sama Mbak?”

“Ihhh... Bukan gitu maksudnya. Ya udah nanti Winter bakalan sering peluk dan cium Mbak. Tapi...” Winter tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.

“Tapi apalagi?”

“Tapi Karin jangan cemburu.”

“Hahaha... Iya gemesss. Karin nggak bakal cemburu. Ayok cepetan makan dulu ini buburnya. Kalo abis nanti Karin kasih hadiah.”

Winter segera membuka selimut dan beranjak dari tidurnya. Dalam posisi duduk ia senderkan tubuhnya ke headboard.

“Asikkk... Hadiahnya apa?” Dengan mata berbinar Winter bertanya penuh harap.

“Tadi kan Winter katanya pusing jadi...”

“Karin mau nyium kening Winter?” tanya Winter dengan penuh semangat.

“Nanti Karin kasih panadol ya hadiahnya. Biar nggak pusing lagi.”

“Nyenyenyenye.”

“Winter....” Karina memelototkan matanya ke arah Winter. Ia mengambil Mangkuk bubur dari nakas lalu bersiap untuk menyuapi Winter.

“Iya.. Iya.. Tapi itu kenapa buburnya ngga polos sih? Abangnya gimana deh. Biasanya juga hafal pesenan Winter,” protes Winter saat melihat mangkok buburnya berisi topping komplit tidak seperti biasanya.

“Abangnya nggak salah. Emang Karin yang minta dimasukin topping.”

“Karin gimana sih? Kok main ganti pesenan Winter gitu aja,” rengek Winter yang kecewa bubur polosnya kini dihiasi oleh suiran ayam, kacang, daun bawang, kerupuk dan bumbu kuah.

“Win... Emangnya kamu masih bayi makan bubur polos doang.”

“Iya Winter kan masih bayi.”

“Bayi apaan kaya gini?”

“Bayinya Karin. Hehehe.”

“Dih ngaku-ngaku. Waktu itu aja dipanggil bayi langsung lari sampai jatuh.”

“Karin Ihhh... Jangan diingetin lagi sih,” Winter melipat tangannya di depan dada dan mengerucutkan bibirnya.

“Iya... Iya... Udah cepetan buka mulutnya. Pesawatnya harus isi bensin dulu nih... Aaaak....” Karina menggerakkan tangannya yang memegang sesendok bubur ke arah mulut Winter seperti jalannya pesawat.

“Karin apaan sih. Winter bukan anak kecil,” protes Winter, menahan pergelangan tangan Karina yang mencoba menyuapinya.

“Tadi katanya masih bayi.”

“Ya tapi bukan gitu juga maksudnya. Udah sini Winter makan sendiri aja. Karin udah makan belum?” Winter mengambil mangkuk dari tangan Karina lalu mengaduk buburnya.

“Belum.”

“Dih gimana sih. Buruan sana ambil bubur Karin.”

“Males nanti aja makannya di atas”

“Dih kok gitu sih. Buruan makan bareng atau nggak...”

“Atau nggak apa?”

“Atau nggak Winter cium nanti bibir Karin”

Secepat kilat Karina beranjak dari ranjang, meninggalkan Winter untuk mengambil buburnya yang ia tinggalkan di meja makan.

“Dih kok kabur beneran sih. Gagal deh Winter sarapan bibir Karin.”

Tak perlu waktu lama bagi Karina, membatalkan semua rencananya yang telah ia atur untuk 1 minggu ke depan setelah melihat kiriman foto Winter di instagram. Walaupun pesan terakhir yang ia kirim belum dilihat apalagi dibalas oleh Winter, dengan penuh cemas Karina pergi meninggalkan Bandung.

Saat ini Karina baru saja tiba di apartemen Winter setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Setelah meletakkan tas ranselnya di sofa, ia bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas air mineral dan obat penghilang rasa sakit di kotak obat.

Saat membuka pintu kamar, terlihat Winter tertidur pulas di ranjang dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya yang mungil. Dengan senyum tipis di bibirnya, perlahan Karina menghapus jarak yang telah ia ukir selama 1 bulan terakhir untuk kembali ke sisi kekasihnya.

“Sayang, bangun yuk. Minum obatnya dulu biar enakan perutnya,” ucap Karina yang kini telah duduk di samping kekasihnya, mencoba membangunkan Winter dengan memberikan usapan di kepala.

“Aku saking kangennya sama kamu sampai ngerasa kamu beneran ada.... HOEEEK...” Winter yang membuka matanya saat merasakan usapan di kepala segera berlari menuju kamar mandi saat rasa mual dan sakit di perutnya tak tertahankan. Karina yang sudah biasa melihat hal seperti ini setiap bulannya bergegas menyusul Winter ke kamar mandi.

Merasa sedikit lega setelah mengeluarkan isi perutnya yang sebenarnya masih kosong, Winter segera berkumur untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Dengan tubuh gemetar, rasa sakit di perut dan keringat dingin yang mengucur, Winter berusaha sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak terjatuh di kamar mandi. Karina yang merasa tubuh Winter terlihat lunglai segera memeluknya dari belakang berusaha menopang tubuh sang kekasih agar tidak terjatuh.

“Karin? Ini beneran kamu? Bukannya tadi pagi kamu masih di Bandung?” Winter terkejut saat merasakan pelukan dari belakang tubuhnya. Ia masih berpikir Karina yang mengusap kepala dan membantunya saat muntah tadi hanyalah halusinasi.

“Nanti aku jelasin ya. Sekarang kita balik ke kamar dulu.” Karina mengambil handuk kecil dari rak lalu mengelap wajah kekasihnya yang basah. Dengan perlahan ia menuntun tubuh lunglai Winter kembali ke kamar.

Setelah membantu Winter mendapatkan posisi nyaman di ranjangnya, Karina kembali duduk di samping Winter, mengambil minyak telon dari laci nakas lalu membalurkannya ke bagian perut dan dada kekasihnya untuk memberikan kehangatan dan menghilangkan rasa mual. Winter yang masih tidak percaya sang pujaan hati telah kembali, hanya bisa menatap Karina sambil memamerkan senyum lebar dari bibirnya seakan lupa dengan rasa sakit yang dideritanya.

“Kamu kenapa sih ngeliatin aku kaya gitu? Serem tahu, kaya pervert.”

“Aku masih nggak percaya kamu ada di sini. Tahu gitu aku dapet setiap hari aja ya biar kamu nggak ninggalin aku,” ucap Winter menarik tangan Karina dari perutnya lalu menciumnya.

“HEH! Jangan ngomong sembarangan deh kamu. Aku tuh paling nggak suka ya ngeliat kamu kalo lagi dapet kaya gini. Kalo kamu bisa transfer rasa sakitnya ke aku, mendingan aku aja yang ngerasain semuanya. Daripada ngeliat kamu selalu tersiksa kaya gini. Sekarang mendingan kamu minum dulu obatnya biar enakan,” cecar Karina sambil memberikan segelas air mineral dan 1 buah tablet obat penghilang rasa sakit. Winter segera mengambil gelas dari tangan Karina lalu meminum obat yang diberikan kepadanya.

“Karin?” panggil Winter setelah meminum obat.

“Kenapa, sayang?” tanya Karina sambil mengusap perut kekasihnya mencoba memberikan pijatan untuk menambahkan rasa hangat.

“Jangan tinggalin aku lagi ya, please. Aku nggak bisa kalo harus jauh dari kamu.”

Tanpa terasa air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Karina yang panik saat melihat Winter menangis segera berbaring menghadap sang kekasih dan mendekap tubuhnya erat. Berkali-kali ia kecup puncak kepala kekasihnya berusaha meyakinkan Winter bahwa dirinya tidak akan kemana-mana. Tak pernah sekalipun terlintas di benak Karina melihat Winter yang serapuh ini dalam waktu 4 tahun mereka bersama.

Ssssttt... Jangan nangis dong, sayang. Iya, kamu tenang aja. Pokoknya aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi. Maaf ya aku kelamaan ninggalin kamu.” Karina mengusap punggung Winter, mencoba menenangkannya yang masih menangis dalam pelukan.

“Tapi kamu bukan seharusnya di Bandung sampai minggu depan, ya? Kok tiba-tiba udah ada di sini aja?” tanya Winter saat tangisnya mulai mereda.

“Rencananya gitu. Tapi pas aku lihat instagram story kamu tadi pagi, aku langsung check out dan buru-buru ke sini. Karena aku takut kamu kenapa-kenapa. Orang hotel sampai bingung pas aku mau check out padahal aku udah pesan hotel sampai minggu depan.”

Winter melepaskan pelukan Karina dari tubuhnya setelah mendengar ucapan sang kekasih. Dengan wajah terkejut ia berkata, “Karin, kamu mendingan balik aja ke Bandung. Kan sayang, Karin. Aku udah nggak apa-apa kok. Soalnya udah ngeliat kamu se... HOEEEK...” rasa mual kembali dirasakan Winter. Karina bergegas mengambil ember kecil yang telah ia siapkan dari bawah ranjang lalu memeganginya di depan wajah Winter sambil mengusap punggungnya. Untungnya, tak ada yang keluar dari mulut Winter karena memang perutnya sudah kosong. Hanya saja rasa mual dan sakit di perut yang teramat sangat membuat Winter merasa ingin muntah. Setelah selesai berkumur dan membuangnya di ember, keduanya kembali berbaring dengan Karina menghadap ke arah Winter yang berbaring dengan posisi terlentang.

“Udah ya. Kamu nggak usah sok kuat. Aku tuh selalu ingat 2 hari pertama kalo lagi dapet, kamu pasti harus bed rest. Jadi berhenti suruh aku balik ke hotel karena sayang. Aku lebih sayang sama kamu daripada sama hotel, Win. Kamu juga bukannya langsung kabarin aku malah update di instagram aja. Aku kan udah bilang kalo ada hal darurat kamu harus langsung kabarin aku.” Winter yang sedang memejamkan matanya sambil menikmati usapan tangan Karina di perutnya, tersenyum saat mendengarkan ucapan Karina. Tanpa ia sadari air mata kembali mengalir dari sudut matanya.

“Bayi aku kenapa nangis terus sih hari ini. Aku tinggal sebulan kok jadi cengeng gini,” goda Karina kepada Winter yang kini mencoba tersenyum dalam tangisnya.

“Kamu sering bergadang ya selama aku pergi, sayang?” tanya Karina khawatir saat melihat lingkar hitam di bawah mata Winter yang terlihat jelas. “Pipi tembem kamu juga makin tirus gini. Pasti kamu sering nunda makan ya?” Winter yang rindu mendengar ocehan dari kekasihnya merasakan hangat di dada saat mendengar pertanyaan yang tak kunjung henti keluar dari mulut Karina.

“Kamu nih aku tanyain malah senyum-senyum aja!”

“Aku kangen banget dimarahin sama kamu kaya gini. Jujur selama kamu nggak ada aku jadi sering bergadang soalnya aku susah tidur.”

“Kamu nggak salah susah tidur? Kalo kita sleep call-an aja kamu sering banget ninggalin aku tidur duluan. Bahkan kalo aku lagi nginep di sini dan kita lagi ngobrol kamu biasanya langsung ketiduran pas nempel di pundak aku.”

“Iya, tapi itu semua karena aku lagi sama kamu. Suara kamu bikin pikiran aku jadi tenang. Pundak kamu tempat paling nyaman untuk aku bersandar. Makanya tanpa kamu aku jadi susah tidur.”

“Terus pipi kamu jadi tirus karena nggak bisa makan aku?”

“Itu salah satunya. AWWWW PELAN-PELAN SIH NYUBITNYA. Kamu yang nanya tapi kamu juga yang marah.” Winter mengusap-usap pinggangnya yang dicubit oleh kekasihnya. Merasa bersalah, Karina pun mengecup pipi kekasihnya.

“Abis kamu banyak banget alasannya. Jangan bilang kamu juga nggak minum vitamin kaya yang aku suruh?”

“Hehehe. Aku minum kalo inget doang.”

“Udahlah aku mending pergi lagi aja kalo gitu. Kamu aku tinggalin malah nggak berubah sama sekali.” Karina mencoba beranjak dari tidurnya. Namun, dengan sigap Winter segera menahan badan kekasihnya, menghalangi Karina untuk pergi. Karina akhirnya mengubah posisi tidurnya, saling berhadapan satu sama lain. Winter mendekatkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Karina. Kepalanya ia benamkan ke tubuh kekasihnya. Ia hirup dalam-dalam menikmati harum tubuh sang kekasih yang sudah 1 bulan ini ia rindukan. Karina pun tak mau kalah, ia kencangkan pelukannya pada tubuh Winter. Berkali-kali ia kecup puncak kepala kekasihnya, mencoba menikmati wangi shampoo pada rambut sang kekasih yang sudah 1 bulan ini ia rindukan.

“Maaf ya, sayang. Aku kayanya terlalu kaget sama permintaan kamu yang tiba-tiba sampai otak aku nggak bisa berfungsi normal.” Winter mendongakkan kepalanya mencium lembut bibir kekasihnya yang sudah lama tidak ia kecup.

“Aku yang seharusnya minta maaf karena terlalu mendadak kasih tahu kamunya. Terima kasih ya kamu udah nurutin permintaan aku. Terima kasih juga kamu udah mau bertahan sejauh ini sama aku. Maaf kalo selama ini aku terlalu banyak nuntut kamu. Maaf karena aku, kamu jad...” Winter membungkam kekasihnya dengan kecupan singkat di bibir.

“Kamu kaya Mpok Minah kebanyakan minta maaf. Yang seharusnya minta maaf itu aku, sayang. Kalo aku nggak terlalu bersikap kekanak-kanakan, kalo aku bisa lebih perhatian ke kamu, kalo aku bisa lebih aktif di hubungan kita, kamu nggak akan mungkin minta jeda kaya kemarin. Jadi mulai sekarang tolong kasih tahu aku secara langsung kalo kamu ngerasa aku mulai ngelakuin hal itu lagi ya. Aku nggak mau ngulangin hal yang sama 2 kali. Saat ini cukup jadi yang pertama dan terakhir kamu minta jeda sama aku.” Winter menutup pembicaraannya dengan mencium bibir kekasihnya. Kali ini jauh dari kesan lembut. Giginya ia mainkan, menggigit pelan bibir Karina. Yang digigit hanya bisa melenguh. Menikmati setiap gigitan yang diberikan kepadanya. Lidahnya pun tak mau kalah, seakan memaksa untuk masuk ke mulut kekasihnya.

“Sayang, maaf,” ucap Winter tiba-tiba sambil menghentikan ciumannya karena ia kembali merasakan mual.

“Iya nggak apa-apa. Kamu mendingan tidur dulu ya biar nanti pas bangun udah enakan perutnya.” Karina mengecup kening dan hidung Winter bergantian lalu kembali mendekapnya erat.

“Nggak mau. Aku masih kangen banget sama kamu.”

“Nanti pas kamu bangun kan juga aku pasti masih di sini, sayang. Hari ini aku nginep kok nemenin kamu. Jadi sekarang kamu istirahat ya.”

“Nggak mau, Karin.”

“Kan kamu mulai keluar kekanak-kanakannya lagi.”

“Aku nggak mau kamu nginep.”

Karina melepaskan Winter dari pelukan. Ia pegang dagu kekasihnya lalu diangkat dagunya untuk melihat dengan jelas tatapan mata Winter. Dadanya tiba-tiba terasa berat. Bukankah Winter baru saja berkata bahwa ia sangat merindukannya? Lalu kenapa Winter melarangnya untuk menginap? Winter yang melihat perubahan pada raut wajah kekasihnya segera menarik tangan Karina dari dagunya lalu menggenggamnya erat dan menciumnya lekat.

“Selama 1 bulan jauh dari kamu, aku baru sadar kalo aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu. Everything i do will always remind me of you. Aku sebenarnya takut karena aku ngerasa terlalu ketergantungan sama kamu. Tapi aku lebih takut kalo harus berjauhan lagi sama kamu. I don't think i can function well without you, Karin. Aku nggak nyangka kamu bakalan balik ke aku secepat ini. Tapi aku udah amat sangat yakin sama pilihan aku. Maaf karena keadaan aku lagi kaya gini. Tapi aku nggak mau kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya.” Winter mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.

“Karin, aku maunya kamu tinggal bareng sama aku, jadi teman hidup yang akan selalu ada di sisiku, yang akan membantu menuntunku, mengingatkan saat aku salah, menemaniku menjalani hari, merangkai ki...” Karina membungkam bibir Winter dengan bibirnya. Walaupun belum mendapatkan jawaban langsung dari kekasihnya, ciuman dari Karina cukup membuat Winter merasa lega telah mengungkapkan isi hatinya.

“Karin aku belum selesai ngomongnya. Main sosor aja sih. Tadi sampai mana ya? Aku tuh udah ngafalin dari minggu lalu tapi gara-gara kamu jadi lupa kan,” rengek Winter saat melepas ciuman Karina.

“Gemes banget sih baru dicium aja sampai lupa gitu. Tanpa kamu lanjutin aku akan jawab mau, sayang.”

“Bener ya! Awas kalo tiba-tiba nggak mau. Oh iya sebentar aku udah inget lagi. Merangkai kisah kita berdua sampai maut memisahkan, mengizinkan aku memanggilmu mommy di setiap saat. AWWWWW KARIN SAKIT BANGET IH GIGITNYA,” teriak Winter sambil mengelus lengannya yang digigit kencang oleh Karina.

“Ya kamu langsung ngelunjak gitu sih pas aku bilang mau.”

“Sakit, mommy,” jawab Winter lirih. Bibirnya ia kerucutkan, berlagak kesakitan.

“Sayang, jangan cari masalah ya. Inget kamu lagi dapet.”

“Ya kan yang lagi dapet aku. Mommy kan nggak. Mommy emangnya nggak kangen sama aku?”

“Win...”

Yes, Mommy?” dengan raut wajah lugu dan mata sendu, Winter mencoba mengadu sambil berharap kekasihnya akan setuju untuk melepas rasa 'rindu'.

“Aku balik ke kosan ya sekarang?”

“Nggak boleh ih! Iya maaf aku bercanda doang. Kalo minta peluk aja boleh?”

“Boleh, tapi inget no funny business. Aku nggak mau kamu tambah capek pas lagi sakit gini.” Karina pun langsung menarik tubuh Winter dan mendekapnya erat seakan tak ingin melepasnya walau hanya sesaat.

“Win, kamu ngerti no funny business, kan?” tanya Karina tiba-tiba.

“Ngerti kok.”

“Terus tangan kamu ngapain mainin dada aku sih?” Karina menyentil kening kekasihnya hingga Winter teriak kesakitan.

“Sakit, Karin. Lagian mainin apa sih. Orang aku cuma ngelus-ngelus aja. Hehehe.”

“Bodo amat.

“Karin?”

“Kenapa lagi? Kamu kapan tidurnya kalo manggil aku terus.”

“Nanti kalo aku udah selesai dapetnya, aku bantuin kamu packing pindahan ya. Tapi seminggu ini kamu jangan pulang ke kosan. Di sini aja pokoknya temenin aku. Aku nggak mau jauh dari kamu.”

“Iya bayiii. Kamu tenang aja ya. Aku nggak akan kemana-mana kok,” ucap Karina sambil mengusap punggung Winter. Yang diusap merasakan kantung matanya semakin berat. Menikmati setiap gerak tangan kekasihnya. Merasakan ketenangan yang lama tidak Winter dapatkan selama sebulan terakhir. Tak lama kemudian nafasnya mulai terdengar teratur di pelukan Karina.

“Karin, i love you,” bisik Winter sebelum masuk ke alam mimpi.

I love you more, Winter.”

Terkadang, jeda dalam berhubungan dibutuhkan untuk memastikan kembali sejauh mana kita mampu melangkah untuk kedepannya. Menentukan pilihan apakah lebih baik berhenti atau terus berjalan. Memberikan waktu untuk membenahi diri masing-masing sebelum kembali memulai perjalanan panjang. Pada akhirnya Karina pun menyadari, sejauh apapun kakinya membawanya pergi melangkah, tujuan akhir dari perjalanannya tetaplah Winter seorang.

—END

previously on the last chapter

Karina menarik nafas panjang setelah mendengar ucapan Winter. Sambil mengencangkan genggamannya Karina berucap,

“Winter, sorry...”

Dan tangis Winter kembali pecah mendengar 2 kata yang terucap dari mulut Karina.

Jika mencintai seorang wanita rasanya akan sesakit ini, Winter hanya bisa berharap 2 orang pria yang selama ini selalu menemaninya tidak akan menyakiti hatinya seperti Karina.


“Win, jangan nangis. Dengerin dulu yang mau gue omongin sampai selesai ya.” Karina menyentuh pipi Winter, mencoba menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.

“Sorry banget udah bikin lo ngerasa kaya gini 1 minggu kemarin. Gue nggak ada maksud buat nyakitin lo. Gue pengen banget ngejelasin semuanya dari minggu lalu. Tapi lo selalu ngehindar dari gue.”

“Lo tenang aja ya. Gue nggak akan pindah kosan kok. Gigi cuma salah sangka aja waktu itu. Sebenernya gue nyari kosan buat adik sepupu yang mau kuliah di kampus kita juga.”

Bukannya senang mendengar penjelasan Karina, tangisan Winter justru semakin menjadi. Winter menggeser posisi duduknya memunggungi Karina dan kembali menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Kok lo malah tambah nangis sih, Win? Jadi lo mau gue pindah atau gimana sih sebenernya?” tanya Karina bingung karena Winter terdengar lebih sedih saat mengetahui ia tidak akan pindah kosan.

“Wimter mammu.”

“Lo kenapa, Win?” Karina berpindah posisi duduknya agar berhadapan langsung dengan Winter. Ia turunkan tangan Winter yang menutupi wajahnya.

“Winter malu udah salah sangka dan nggak ngasih kesempatan buat Karin ngejelasin semuanya.”

“Nggak usah malu. Gue juga salah nggak langsung ngejelasin semuanya ke lo,” ucap Karina sambil mengusap kepala Winter namun dengan cepat Winter menurunkan tangan Karina dari kepalanya.

“Winter juga malu udah jujur ke Karin. Karin ke atas aja sana. Jangan temuin Winter dulu sampai Winter siap buat ketemu Karin lagi.” Winter menggeser badannya ke sisi dalam kasur, merebahkan tubuhnya lalu menutupnya dengan selimut dari ujung kepala sampai ujung kaki. Karina hanya bisa tersenyum melihat tingkah gemas dari Winter.

“Jadi Winter ngusir Karin nih dari kamar? Padahal Karin mau jujur juga kalo seminggu kemarin tanpa Winter, hidup Karin rasanya hampa. Karin nggak bisa senyum kaya pas Karin lagi sama Winter. Tapi kalo Winter emang nggak mau ketemu Karin dulu ya mau gimana lagi. Semoga aja Karin masih kuat nggak ketemu Winter dulu. Winter istirahat aja kalo gitu. Kalo ada apa-apa kabarin ke Mbak Taeyeon ya. Karin mau ke atas dulu”

Tak lama kemudian terlihat tangan Winter mengintip dari balik selimut meraba-raba mencari sesuatu.

“Winter cari apa?”

“Tangan Karin mana?” tanya Winter masih dari balik selimut.

“Ini?” Karina menggeser tangannya, mendekatkannya ke tangan Winter yang langsung menggenggamnya.

“Karin jangan ke atas. Karin di sini aja kalo gitu temenin Winter.”

“Jadi Winter udah siap ketemu Karin? Selimutnya dibuka dong kalo gitu. Karin kan mau liat muka Winter.” Karina berusaha menarik pelan selimut yang menutupi tubuh Winter. Namun, dengan cepat Winter menahannya.

“Jangan dibuka dulu. Winter masih malu. Kita kaya gini dulu aja ya. Nanti kalo udah siap Winter buka selimutnya.”

“Winter jangan lama-lama ya malunya. Karin mau peluk Winter soalnya.”

“Ya udah Karin tolong matiin lampu kamarnya.”

“Kok malah dimatiin? Nanti malah gelap dong? Winter mau tidur?”

“Winter juga mau peluk Karin. Tapi Winter masih malu.”

“Aaaaaakkk... Gemes banget. Enakan resepsi indoor atau outdoor ya. Apa sih, Rin. Jadian juga belum lo,” batin Karina menepuk-nepuk pipinya sendiri.

“Aduh, dada Karin sakit,” teriak Karina tiba-tiba sambil memegang dadanya.

Mendengar Karina yang kesakitan, Winter segera membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan bergeser mendekati Karina.

“Karin, kenapa? Karin mau ke dokter? Winter panggilin ambulans ya biar kita ke rumah sakit?” tanya Winter panik.

“Dada Karin sakit soalnya Winter gemes banget. Karin nggak kuat,”

“Ihh... Karin bikin Winter panik aja.” Winter tersipu malu mendengar ucapan Karina. Ia segera merebahkan badannya kembali dan berusaha menutupnya dengan selimut. Namun, dengan cepat Karina berhasil menariknya.

“Jangan ditutup dulu. Tadi katanya mau peluk?” Karina berusaha menarik selimut Winter.

“Kan Winter bilang matiin dulu lampunya kalo mau peluk.” Winter pun tak mau kalah berusaha menarik selimutnya.

Tak ingin Winter kembali menutup tubuhnya dengan selimut, Karina segera naik ke atas ranjang dan dengan posisi merangkak ia menarik selimut Winter.

“Karin nggak mau gelap-gelapan meluk Winternya.”

“Tapi Winter masih malu kalo liat Karin langsung.”

“Malu kenapa sih. Karin kelitikin ya kalo masih narik selimutnya juga.”

“Ahahahaha. Karin, geli ih.”

“Ahahaha. Kariiinnnn, nanti Winter ngompol nih.”

“Biarin aja. Siapa suruh nggak mau dipeluk.”

“Dibilangin matiin dulu lampunya. Winter maluuu.”

“Ahahahaha Karin ampuuun.Winter nyerah. Iya iya Winter mau dipeluk.”

Merasa kehabisan nafas setelah 'bertarung' dengan Winter, Karina merebahkan tubuhnya di samping Winter yang saat ini juga sedang mengatur nafasnya.

Seakan mengulang kembali adegan satu minggu lalu, setelah nafas keduanya mulai teratur, Karina merentangkan tangannya ke arah Winter, memintanya untuk mendekat ke dalam pelukannya. Perlahan Winter menggeser badannya, menjadikan lengan Karina sebagai bantal. Karina menarik tubuh mungil Winter, mendekapnya lebih erat, menghilangkan jarak diantara keduanya. Dagunya ia tempelkan ke puncak kepala Winter. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tubuh Winter tidak terasa kaku di dalam pelukannya.

“Karin?”

“Hmmmmm?”

“Winter mau ngomong sesuatu sama Karin. Tapi Karin jangan ketawa.”

“Winter mau ngomong apa? Karin nggak bakal ketawa kok.”

“Winter say.....”

“ADEK? ADEK NGGAK APA-APA? ADEK KOK BISA KESEREMPET MOTOR SIH? YA ALLAH DEK. KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG YA.” Mbak Taeyeon yang baru saja pulang sehabis berpergian masuk ke kamar Winter dengan wajah panik. Winter yang kaget dengan kehadiran Mbak Taeyeon yang tiba-tiba langsung mendorong Karina dari kasur hingga terjatuh.

“Mbak! Kalo mau masuk kamar adek ketok pintu dulu dong! Adek kan punya privasi!”

“Privasi apa sih, dek. Kamu kalo ke kamar Mbak juga main nyelonong aja. Loh?? Karin? Ngapain di lantai gitu?” tanya Mbak Taeyeon saat menyadari Karina sedang dalam posisi merayap di lantai.

“Lagi nyari Doongie, Mbak. Tadi kata Ning kabur. Hehehe,” ucap Karina sambil tertawa canggung.

“Kenapa, Mbak?” tanya Ning yang segera turun saat mendengar teriakan Mbak Taeyeon sambil membawa Doongie di tangannya.

“Itu Winter tadi keserempet motor. Loh katanya Karin, Doongie kabur?”

“Nggak kok, Mbak. Dari tadi lagi main sama aku di atas.”

Saat menyadari maksud Winter yang meminta privasi dan posisi Karina yang merayap di lantai, Mbak Taeyeon melipat lengan kemejanya lalu mengambil sapu lidi dari balik pintu kamar dan mengarahkannya ke Winter dan Karina.

“Kalian ngapain berduaan di kamar?” tanya Mbak Taeyeon sambil memukul sapu di tangannya ke arah dinding.

“Adek lagi istirahat doang, Mbak. Karin lagi nyari Doongie kan.”

“Masih berani bohong ya sama Mbak.” Mbak Taeyeon berjalan mendekat, kali ini memukul lemari pakaian dengan sapu di tangannya.

Giselle dan Ryujin yang mendengar keributan di bawah, bergegas turun ke lantai bawah.

“Mbak Taeyeon kenapa, Ning?” tanya Ryujin.

“Winter sama Karin lagi berduaan di kamar tapi nggak mau ngaku. Karin ngakunya lagi nyari Doongie. Padahal....” Ning menunjukkan Doongie di tangannya.

“Lo pada pasang siapa nih kira-kira yang bakal jujur duluan mereka lagi ngapain?” ucap Giselle.

“Gue Winter.” Ryujin memberikan uang lima puluh ribu dari kantongnya.

“Gue juga Winter deh. Duitnya nanti ya di atas,” ucap Ning.

“Ya udah gue pegang Karin kalo gitu.”

“Beneran kok Mbak kita berdua nggak ngapa-ngapain,” jawab Karina yang kini sudah duduk di ranjang.

“Kalo masih nggak ngaku juga, Mbak usir salah satu dari kalian dari kosan ya!”

“Mbak jangan usir Karin dari kosan. Adek nggak mau jauh-jauh dari Karin. Tadi adek sama Karin cuma lagi pelukan aja. Nggak lebih kok. Paling tadi Karin cium kepala adek dikit doang,” ucap Winter panik sambil menempelkan kedua tangannya meminta maaf.

“Yes, kita menang!” Ryujin dan Ning saling toss satu sama lain saat mendengar pengakuan Winter.

“Cium kepala apa sih, Win? Nggak kok, Mbak. Karin nggak cium kepala Winter. Sumpah!” Karina mengangkat kedua tangannya dan menggoyangkannya tak merasa mencium Winter.

“Dih apaan! Beneran tadi Winter ngerasa Karin cium kepala Winter.”

“Yeee... Malah berantem. Coba emang tadi posisi kalian kaya gimana?”

Tanpa ragu Winter menarik tangan Karina untuk reka ulang adegan pelukan mereka.

“Tadi kan Karin tiduran kaya gini, terus tangan Karin jadi bantal buat adek kaya gini. Nah abis itu Karin narik badan adek kan, terus tangan Karin meluk badan adek.” Winter berusaha memeragakan adegan pelukannya dengan Karina.

“Udah? Terus katanya Karin cium kepala kamu?”

“Belom selesai, Mbak. Dagunya Karin kan nempel di kepala adek. Terus pas adek panggil Karin, adek ngerasa Karin cium kepala adek.”

Mbak Taeyeon, Giselle, Ryujin dan Ning hanya bisa menahan tawa saat melihat keseriusan Winter melakukan reka ulang adegan pelukan, apalagi melihat Karina dengan polosnya mengikuti semua omongan Winter.

“Karin, cepetan cium kepala Winter.”

“Kaya gini?” Karina lalu mencium kepala Winter. Seakan lupa dengan keberadaan penghuni Kosan lain, keduanya menikmati kehangatan momen kebersamaan mereka.

“Mbak, kok kita jadi nontonin mereka sih?” bisik Giselle ke telinga Mbak Taeyeon. Mbak Taeyeon lalu kembali membisikan sesuatu ke telinga Giselle.

“Karin?”

“Hmmmmm?”

“Winter kan tadi mau ngomong sesuatu sama Karin.”

“Iya, Winter mau ngomong apa?”

“Winter say.....”

Byur.....

“Mbak!!!”

“Mbak Taeyeon!!!”

Teriak Winter dan Karina bersamaan saat Mbak Taeyeon menyiram mereka dengan 1 gelas air dingin. Keduanya langsung melepaskan pelukan dan bangun ke posisi duduk.

“Kenapa? Berani marahin Mbak? Malah kesempatan kalian. Nggak kasihan apa sama Giselle, Ryujin dan Ning cuma bisa ngeliatin aja!”

“Dih males juga sih, Mbak.”

“Ogah juga Mbak pelukan sama bocil.”

“Ini mah kaya nontonin tante sama keponakan nggak sih?”

Ucap Ning, Ryujin dan Giselle secara bersamaan.

“Udah.. Udah.. Pada balik ke kamar masing-masing sana,” ucap Mbak Taeyeon membubarkan kerumunan.

“Karin?” Mbak Taeyeon memanggil Karin sambil mengarahkan sapu lidi ke arahnya.

“Winter, Karin ke atas dulu ya. Kalo ada apa-apa kabarin aja.” Karina mengusap kepala Winter lalu menciumnya dengan cepat.

“EHEM...”

“Iya Karin ke atas, Mbak. Hehehe.” Karina langsung lari ke kamarnya saat Mbak Taeyeon akan memukulnya dengan sapu.

“Adek mau ke rumah sakit nggak?” tanya Mbak Taeyeon mengecek pergelangan kaki Winter yang sedikit bengkak saat semua penghuni Kosan telah kembali ke kamar masing-masing.

“Nggak usah, Mbak. Minggu depan juga paling udah sembuh.”

“Ya udah adek istirahat kalo gitu. Kalo butuh apa-apa kabarin Mbak aja ya.” Mbak Taeyeon menepuk pelan pipi adiknya. Saat ia akan mencium rambut Winter dengan sigap Winter menahan bibir Mbak Taeyeon dengan telapak tangannya.

“Mbak, jangan cium adek!”

“Emang kenapa sih? Biasanya juga Mbak suka cium kamu!”

“Adek udah gede!”

“Terus kalo Karin boleh cium kamu?”

“Hehehe. Kalo Karin beda.”

Mendengar ucapan Winter, Mbak Taeyeon langsung memegang kepala Winter dengan kedua tangannya dan mencium kepala dan wajah Winter berkali-kali.

“Ahahahaha. Mbak, ampuuuun.”

“Muach...”

“Ihhh... Mbak, basaah bibirnya.”

“Muach...”

“Mbak, udah dong. Nanti bekas ciuman Karin hilang dari kepala adek.”

“Muach... Muach... MUAAAAACH...”

“Mbak ihhhh. Udah keluar sana.” Winter menghapus bekas ciuman di wajahnya dengan kaos yang dipakainya.

“Dasar tengil kamu.” Mbak Taeyeon menyentil jidat Winter lalu pergi meninggalkan Winter seorang diri.