8 Januari 2021
“Non Karin, ini ada titipan dari Non Winter. Katanya dibuka pas Non Karin udah bersih-bersih,” ucap Pak Marno sambil menyerahkan kotak besar berwarna biru tua di depan pintu apartemen.
“Oh iya. Terima kasih pak.”
“Saya pamit dulu ya, Non. Takut keburu macet di jalan,” pamit Pak Marno kepada Karina.
“Iya, pak. Terima kasih banyak ya udah nganterin saya. Hati-hati di jalan, pak.”
“Siap, Non.”
Pak Marno segera pergi meninggalkan lantai apartemen Winter dan Karina. Dengan perlahan Karina menggesekan kartu akses ke pintu apartemen dan masuk ke dalamnya.
Karina segera membawa kotak pemberian Winter ke dalam kamar dan meletakkannya di atas ranjang. Ia ingin sekali segera membukanya. Namun pesan dari Pak Marno tadi membuatnya mengurungkan niatnya dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tiga puluh menit kemudian, setelah selesai mengeringkan rambutnya, masih berbalut handuk di tubuhnya, Karina membuka kotak pemberian Winter dan tersenyum saat melihat isinya.
Sebuah gaun hitam dengan post it ditempel di atasnya.
8 pm. Rooftop ❤️⭐
Karina melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 19.30. Ia bergegas memakai gaun pemberian Winter dan berdandan sedikit agar terlihat layak.
Setelah merasa siap, 25 menit kemudian Karina pergi meninggalkan apartemen menuju rooftop.
![]()
Waktu menunjukkan pukul 19.59 ketika pintu rooftop terbuka. Winter baru saja selesai menyalakan lilin terakhir di lantai ketika wajah Karina terlihat mengintip dari balik pintu.
Dengan segera, Winter berjalan ke arah kekasihnya itu dan menariknya menuju meja yang telah disiapkan.
Winter mempersilakan Karina untuk duduk terlebih dahulu setelah menggeserkan kursi untuknya.
“Kamu udah makan?” ucap Winter yang masih berdiri di samping Karina sambil mengelus rambutnya.
“Udah kok tadi sebelum pulang.”
“Mau minum?” tanya Winter singkat. Dirinya mulai merasa gugup saat melihat Karina dari balik pintu rooftop.
“Tumben bukan temulawak?” ledek Karina saat melihat Winter memegang botol wine.
“Kalo kamu mau temulawak, aku ambilin dulu nih di bawah.”
“Hahaha. Nggak kok. Bercanda, sayang. Kamu kelihatan tegang banget soalnya.”
“Kamu cantik banget soalnya. Aku jadi deg-degan,” ucap Winter yang segera duduk setelah menuangkan minuman ke gelas.
“Katanya kamu sibuk sampai nggak bisa ngerayain anniversary kita? Padahal aku udah ngebayangin kamu pakai pita loh” ucap Karina menarik tangan Winter dan menggenggamnya.
“Itu nanti buat bagian kedua. Kamu tumben nafsuan banget hari ini?” Winter mengedipkan matanya, menggoda Karina.
“Kamu beda banget hari ini. Kelihatan lebih glowing,” ucap Karina mencium tangan Winter yang digenggamnya.
“Kamu nggak ketuker antara aku sama kunang-kunang kan?”
“Kamu miripnya kuyang bukan kunang-kunang.” Karina tertawa melihat perubahan ekspresi wajah Winter.
“Jadi gini rasanya lagi mau romantis tapi nggak diseriusin.”
Karina kembali tertawa mendengar ucapan kekasihnya. Winter mengambil gelas di meja dan meminum isinya dalam sekali teguk.
“Sayang, pelan-pelan minumnya.”
“Sorry, aku kedinginan. Hehehe.”
“Ya udah turun aja yuk. Nanti kamu sakit kalo kelamaan di sini.”
“Nanti dulu, Kariiin. Aku udah nyiapin dari pagi masa di sininya nggak sampai 10 menit,” ucap Winter menarik tangan Karina agar tidak pergi.
“Kamu kan tadi pagi ke kantor sekalian nganter aku?” tanya Karina heran.
“Hehehe. Iya aku nganterin kamu tapi abis itu aku balik ke apartemen.”
“Mentang-mentang bos seenaknya ambil cuti,” ucap Karina sambil cemberut.
“Dih bukan gitu. Aku ada alasan sendiri kenapa hari ini nggak ke kantor.”
Winter menggenggam kedua tangan Karina dan mendekatkannya ke wajahnya.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Kamu inget nggak awal mula kita ketemu, dikenalin sama Gigi pas pulang sekolah. Terus kamu malu-malu gitu pas kita kenalan. Hari itu aku bersyukur banget Gigi udah ngenalin kamu ke aku. Kalo hari itu Gigi nggak ngenalin kamu ke aku, mungkin aku yang sekarang nggak bakal ada di sini.” ucap Winter mencium kedua tangan Karina yang digenggamnya.
“Kita pacaran udah 9 tahun, tinggal bareng udah hampir 2,5 tahun. Kamu udah tau banget dalamnya aku, aku udah hafal banget kebiasaan kamu. Kalo aku boleh jujur, peran kamu ke hidup aku selama 9 tahun ini yang bisa ngebuat aku kaya sekarang. You made me for who I am now because you are my home.” Winter menghentikan pembicaraannya untuk menyeka air mata yang membasahi pipi Karina.
“Karina, waktu aku robek pertanyaan kamu dan aku ganti dengan tulisan forever 9 tahun yang lalu, aku bukannya mau sok romantis. Tapi aku beneran emang mau selamanya sama kamu. This love will last forever because you are my home, my life and my forever. Hari ini, 8 Januari 2021, setelah 9 tahun kita bersama aku mau memastikan lagi ke kamu.” Winter melepaskan genggamannya dari tangan Karina dan mengambil kotak kecil yang ia sembunyikan di bawah meja.
“Will you always be by my side until the death do us part?”
Winter membuka kotak perhiasan berisi sepasang cincin. Karina tidak menjawab pertanyaan Winter namun ia langsung memeluk Winter erat diiringi dengan tangisannya yang semakin kencang.
“Kamu nggak jawab pertanyaan aku terus nangis sesenggukan gini karena sedih ya harus hidup selamanya sama aku?” tanya Winter sambil mengelus rambut Karina dengan tangan kirinya.
“Kamu diem dulu. Aku lagi terharu. Jangan ngerusak suasana.”
Winter tersenyum mendengar ucapan Karina. Ia meletakkan kotak perhiasannnya di meja dan memeluk erat tubuh Karina. Tanpa disadari air mata mulai turun dari kedua matanya. Bukan hal yang mudah bagi Winter untuk memberanikan diri mengucapkan janji untuk hidup bersama Karina sampai maut memisahkan mereka. Namun membayangkan hidup tanpa Karina sampai akhir hayatnya membuat Winter lebih merasa takut.
“Sayang, kamu kenapa nangis juga?” tanya Karina heran setelah tangisannya mulai mereda.
“Abis kasihan kamu nangis sendirian. Jadi aku temenin.”
“Lagi kaya gini masih aja ngelawak terus. Tapi sampai kita tua nanti kamu jangan pernah berubah ya. Aku suka kamu yang kaya gini walaupun sering ngeselin.” Karina melepaskan pelukannya dan mengelap air mata di pipi Winter.
“Jadi kamu mau hidup sampai tua sama aku, sayang?”
“Ya abis mau gimana lagi. Aku kan udah pernah bilang kalo baju aku udah numpuk banget di lemari. Daripada aku harus ninggalin kamu bawa barang banyak banget ya mending aku pasrah aja,” ucap Karina sambil tersenyum.
“Kalo besok hari terakhir kita tinggal di sini gimana?”
“Terus aku gimana?” tanya Karina dengan raut wajah bingung.
“Ya makanya tadi aku tanya ke kamu. Kamu mau nggak selalu ada di sisi aku selamanya. Kalo kamu mau, mulai hari minggu kita pindah tinggal di rumah aku.”
“Terus kalo misalnya aku nolak?”
“Ya kamu tinggal di sini aja nggak apa-apa. Aku ikhlas dan nggak maksa kamu. Cuma aku mau ngasih tau juga kalo semua baju kamu udah dikemas dan di bawa ke rumah tadi sore.”
“Kamu bercanda kan, sayang? Terus kalo aku nolak gimana?”
“Kamu dari tadi nanya kalo nolak terus. Emang kamu ada kepikiran buat nolak aku?” tanya Winter dengan muka cemberut.
“Ya nggaklah. Aku nggak pernah kepikiran hidup tanpa kamu.”
“Ya aku juga udah yakin kamu nggak bakalan nolak. Makanya semua barang-barang kamu udah diangkut semua. Jadi hari minggu kita nggak perlu repot-repot pindahan barang.”
“Tapi kamu nyisain baju buat aku pakai sampai hari minggu kan, sayang?”
Winter membuka mulutnya dengan mata membelalak.
“Sayang, aku lupa nyisain baju kamu sampai hari minggu.”
“Winter! Kamu kalo mau ngasih kejutan nggak gini juga caranya.” Karina segera bangun dari duduknya dan berlari menuju pintu rooftop.
“Karin! Jangan pergi dulu. Ya Allah cincinnya aja belum dipasang udah mau kabur duluan. Kamu katanya mau hidup sampai tua sama aku. Belum ada sejam udah kabur gini. Aku udah pisahin baju kamu. Kamu tenang aja. Aku bercanda doang tadi,” teriak Winter sambil mematikan lilin yang masih menyala mengelilingi meja dan tidak lupa mengambil kotak cincin yang isinya masih tertata rapi di dalamnya.
Karina segera menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Winter. Ia memutar balik badannya dan kembali berjalan menghampiri Winter.
“Kalo bercanda jangan kelewatan makanya.”
“Sorry, babe. Aku janji kalo bercanda lihat situasi dulu.”
“Coba ulangin sekali lagi.”
“Aku janji kalo bercanda lihat situasi dulu.”
“Bukan itu. Yang sebelumnya.”
“Sorry, babe?”
“Cepetan pasangin cincinnya ke aku. Aku udah nggak tahan,” ucap Karina sambil menjulurkan tangannya ke Winter.
“Kamu mau pipis, babe?” tanya Winter sambil memakaikan cincin ke jari manis Karina.
Karina segera menarik tangan Winter untuk turun ke apartemen mereka namun Winter menahannya.
“Kamu kebelet banget, babe? Kamu nggak mau pasangin cincinnya buat aku? Ya Allah nggak ada romantis-romantisnya banget ini masangin cincin sambil kebelet.”
Karina segera memakaikan cincin di jari manis Winter. Lalu dengan penuh nafsu Karina mencium bibir Winter. Winter melempar kotak perhiasan yang dipegangnya dan memeluk tubuh Karina erat.
“Babe, kamu katanya tadi kebelet. Turun dulu yuk. Nanti ngompol loh,” ucap Winter saat sedang mencoba mengambil nafas.
“Aku kebelet pikpokpak slebew slebew,” bisik Karina di telinga Winter.
Winter segera mendorong tubuh Karina.
“Sayang, kamu ngerusak suasana banget sumpah,” ucap Winter sambil tertawa.
“Ya udah kalo nggak mau. Aku sendirian juga bisa,” ucap Karina sambil berjalan meninggalkan Winter.
“Sayang! Bukan gitu maksudnya. Enak aja mau sendirian. Ya Allah tadi kelempar kemana lagi kotak cincinnya. Karin tungguin dulu.”
“Buruan Winter. Aku hitung sampai 5 ya atau nggak aku tinggal.”
“Udah ketemu! Ayo ki...” Winter terdiam melihat Karina yang sudah menghilang dari pandangannya.
Winter pun segera berlari untuk mengejar Karina.
9 tahun bukanlah waktu yang cepat bagi keduanya untuk meyakinkan diri masing-masing bahwa mereka ingin melanjutkan kehidupan bersama sampai maut memisahkan.
Namun, 9 tahun juga bisa saja terasa cepat bagi pasangan yang sudah mengikrarkan janjinya untuk hidup bersama sampai maut memisahkan.
Semuanya tergantung bagaimana mereka berdua akan menjalaninya.
Semoga saja Winter dan Karina masih akan selalu bersama sampai maut memisahkan mereka.