Aku. Kamu. Kita
Waktu menunjukan pukul 06.00 pagi di kosan Karina. Ia terbangun dengan 29 pesan singkat dari Winter. Semalam, Karina sengaja untuk tidur cepat setelah pulang dari kantor karena ia berniat untuk bangun lebih pagi demi menyelesaikan pekerjaan kantornya terlebih dahulu, sebelum pergi ke apartemen Winter.
Karina tersenyum melihat pesan dari Winter. Jika sober Winter terlihat seperti orang dewasa dengan jokes recehnya, tipsy winter justru kebalikannya. Ia terlihat seperti anak kecil polos yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Tentu saja tetap dengan jokes recehnya. Karena Winter tanpa jokes recehnya bukanlah Winter yang ia kenal.
Karina sengaja tidak membalas pesan dari Winter karena takut membangunkan kekasihnya itu. Ia hanya ingin sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya dan menghampiri Winter di apartemennya. Karena Karina yakin ada sesuatu yang terjadi semalam saat Winter bertemu dengan ayahnya, melihat dari pesan yang dikirim Winter semalam.
Karina tiba di apartemen Winter pukul 10.00 setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia membawa tas kerja berisi laptop serta tas ransel berisi baju ganti dan baju untuk ke kantor. Karina berencana berangkat ke kantor hari senin nanti dari apartemen Winter karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.
“Winter?” panggil Karina setelah menutup pintu. Suara tv terdengar sayup-sayup dari living room.
“Sayang, kamu udah bangun?” panggil Karina lagi namun tidak ada jawaban dari kekasihnya.
Karina berjalan menuju living room setelah meletakkan tas kerja dan ranselnya di ruang kerja Winter.
“Pantesan dipanggilin nggak nyaut,” gumam Karina melihat Winter yang masih tertidur nyenyak di sofa. Badannya meringkuk kedinginan tanpa selimut. Di meja, berserakan makanan ringan dan 2 botol bir kosong. Bukan temulawak seperti pengakuannya.
Karina bergegas mengambil selimut dari kamar Winter dan menutupi tubuh Winter yang kedinginan itu. Setelah itu ia membersihkan meja yang berserakan cemilan dan botol kosong.
Sambil menunggu Winter bangun, Karina bergegas menyiapkan makan siang di dapur. Kebetulan masih ada stok 1 ekor ayam di kulkas. Karina berencana membuat sup ayam untuk membantu Winter menghilangkan pengarnya saat bangun nanti.
Winter terbangun karena mendengar suara dari dapur. “Karin?” panggil Winter, namun Karina tidak mendengarnya karena terlalu asik memasak. Winter melirik jam dinding di atas tv yang menunjukkan pukul 11.30 siang.
Winter mencoba bangun dari sofa namun terduduk kembali karena kepalanya yang pusing. Setelah 5 menit berusaha menstabilkan kepalanya yang berat, Winter berjalan perlahan menghampiri Karina di dapur.
Winter tersenyum melihat punggung Karina yang sedang asik memasak sambil bersenandung lagu Bruno Mars-Marry You. Bergerak perlahan, ia berjalan menghampiri Karina, mencoba memeluknya dari belakang. Karina berteriak saat tangan Winter melingkar di pinggangnya. Hampir saja ia memukul Winter dengan sodet yang dipegangnya.
“Winter! Bikin kaget aja. Untung aku nggak sampe mukul kamu.” ucap Karina sambil mengelus punggung tangan Winter di perutnya. Ia melanjutkan mengaduk panci berisi sup ayam yang masih setengah mendidih.
Winter hanya tertawa kecil, mengencangkan pelukannya dan menempelkan wajahnya pada rambut belakang Karina.
“Hmmm.. Wangi banget,” gumam Winter sambil menggerakkan tubuhnya dan Karina ke kanan dan ke kiri.
“Sabar ya, sebentar lagi mateng kok,” ucap Karina sambil meniup sendok di tangannya. Mencicipi makanan yang dimasaknya.
“Bukan makanannya. Kamu wangi banget hari ini,” Winter menjatuhkan dahinya ke pundak Karina, hidungnya kembali menghirup dalam aroma tubuh Karina. Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua matanya. Tidak ingin Karina tahu, Winter segera mengangkat wajahnya dari pundak Karina.
Sayangnya, Winter telat menyadarinya. Air matanya terlanjur jatuh membasahi pundak Karina yang memakai blouse sabrina. Menyadari tetesan air di pundaknya, Karina segera mematikan kompor dan membalikkan badannya menghadap Winter.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Karina khawatir. Tangannya memegang dagu Winter berusaha membuat Winter untuk fokus kepadanya.
“Nggak apa-apa kok. Tadi kena asap aja makanya agak perih,” ucap Winter mengelap air matanya sambil mencoba tersenyum.
“Aku mandi dulu ya sebentar biar segeran dikit,” ucap Winter memberi kecupan di bibir Karina dan berbalik badan menuju kamarnya.
Kali ini Karina semakin yakin telah terjadi sesuatu tadi malam antara Winter dan ayahnya.
Setelah selesai makan siang dan menghabiskan 2 mangkuk sup -aku makan ini setiap hari nggak bakalan bosen kayanya- Winter mengajak Karina untuk beristirahat di kamarnya.
“Winter, jangan tiduran dulu. Kamu baru abis makan 2 mangkuk sup. Nanti muntah,” ucap Karina menepuk-nepuk bahu Winter memintanya untuk segera duduk seperti dirinya. Karina menjulurkan kedua tangannya, memberikan kode kepada Winter untuk bersandar di tubuhnya.
“Sayang, aku mau nanya dong sama kamu. Tapi jawab jujur ya,” ucap Winter setelah menemukan posisi nyaman dipelukkan Karina.
“Kamu pernah ngerasa nyesel nggak sih pacaran sama aku?” tubuh Winter sedikit menegang setelah memberikan pertanyaan tersebut.
“Aku nggak tau apa yang kamu omongin sama papa kamu kemarin, ngeliat dari drunk teks kamu semalam sampai sikap aneh kamu hari ini aku yakin kamu lagi mikirin sesuatu,” ucap Karina tidak menjawab pertanyaan Winter.
“Aku nggak pernah nyesel pacaran sama kamu selama ini. Satu penyesalan aku cuma kenapa aku nggak nembak kamu dari semester 1 waktu SMA dulu.”
“Kamu nggak nyesel walaupun jenis kelamin kita sama? Kepercayaan kita beda? Sikap kekanak-kanakan aku yang sering nyusahin kamu?” air mata mulai mengalir dari sudut mata Winter.
Karina melepaskan pelukannya, meminta Winter untuk duduk menghadapnya. Tangannya mengepal kedua tangan Winter sambil sesekali mengelus punggung tangannya.
“Dari awal aku pilih kamu jadi pacar aku, aku udah mikirin semuanya, sayang. Aku udah yakin sama pilihan aku. Kalo jenis kelamin kita beda, aku justru nggak bakalan milih kamu. Kamu kan tau aku sukanya perempuan. Kalo kepercayaan kita sama apa bakal mempermudah jalan kita juga? Justru dengan perbedaan itu kita bisa lebih saling menghargai satu sama lain. Perbedaan itu yang ngebuat kita bisa saling menguatkan satu sama lain.”
“Di dunia yang isinya selalu menilai perbuatan orang lain tanpa melihat proses di baliknya, pasti akan ada orang yang nggak suka sama hal yang kita lakuin. Kita nggak bisa maksain mereka buat melihat hal dengan pandangan yang sama dengan kita. It's okay to be selfish sometime, Win. Selama itu nggak ngerugiin siapapun. Don't let others shitty opinion get into your head. Karena yang ngejalanin semua ini kita. Ini proses perjalanan hidup kita. Aku dan kamu. Bukan mereka,” ucap Karina sambil menghapus air mata Winter.
“Kalo masalah sikap kekanak-kanakan kamu... Ya aku cuma pasrah aja. Mau diilangin juga nggak bisa.” Karina tertawa mendengar rengekan dari mulut Winter.
“Semalam kan kamu bilang kalo kamu nggak sempurna. Aku juga nggak sesempurna itu kok, sayang. Sekarang gimana caranya dari ketidaksempurnaan itu kita buat jadi sempurna. Kalo kamu dari awal udah terlalu sempurna, aku kaya pacaran sama Andra and The Backbone nggak sih?” ucap Karina sambil tertawa mencoba menghibur Winter.
“Sini peluk dulu ucuk ucuk ucuk udah jangan dipikirin terus. Kita nikmatin aja semua yang kita jalanin sekarang ya.” Karina memeluk erat Winter lalu memberikan ciuman di keningnya.
Hari itu mereka habiskan bersama di kamar Winter sambil menonton film.