Blue Christmas
“Win...” Karina terdiam setelah memanggil nama Winter. Hanya terdengar suara isakan kecil dari mulut Karina.
“Kaak, lepasin aja semuanya ya jangan dipendam. Aku bakal dengerin semuanya kok,” ujar Winter berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Mendengar ucapan Winter, tangisan Karina semakin menjadi. Ia mencoba melepaskan rasa sesak yang dari tadi mengganjal di dadanya.
Winter hanya terdiam mendengarkan Karina menangis. Ia sengaja memberikan waktu bagi Karina untuk menenangkan dirinya.
Setelah 5 menit, tangisan Karina mulai mereda. Ia mulai membuka suara menceritakan apa yang terjadi saat makan malam di hari natal yang seharusnya menjadi momen bahagia keluarganya.
-flashback-
Keluarga Karina sedang makan malam bersama di ruang makan setelah pulang dari peribadatan di gereja. Di meja kotak itu Karina dan kedua orang tuanya duduk berhadapan sambil menikmati makan malam.
Suasana hening berubah saat ayahnya menanyakan hal tentang masa depannya.
“Kamu rencananya jadi mau lanjut kuliah di mana, Rin?” tanya ayahnya sembari menambahkan kuah sup ke dalam mangkuknya.
“Aku rencana mau kuliah di UI aja pa. Biar deket pulang pergi ke rumah. Nggak perlu ngekos,” ujar Karina sambil mengunci layar hpnya. Ia sudah selesai makan dan sedang chatting dengan Winter. Karina adalah murid yang pintar. Ia sudah mendapat undangan dari PTN favorit karena kecerdasannya. Sebenarnya alasan utama Karina tidak mau kuliah di luar kota karena ia tidak ingin berjauhan dari Winter.
“Oh ya udah bagus kalo gitu. Biar mama kamu ngga terus-terusan keluar dan ngumpul-ngumpul ngga jelas,” tegas ayahnya.*
Dan keributan pun dimulai. Ibu Karina tidak terima dengan perkataan suaminya. Ia merasa selama ini sudah berbakti kepada suaminya dengan mengurus keluarganya dengan sungguh-sungguh. Dan kegiatan berkumpul bersama teman-temannya hanyalah salah satu cara untuk menghilangkan jenuh saat Karina dan suaminya tidak di rumah. Teriakan demi teriakan terdengar bersahutan karena keduanya tidak ada yang mau mengalah.
PLAKK
Bunyi tamparan mengagetkan Karina yang sedang termenung melihat keributan orang tuanya. Selama ini Karina sering mendengar orang tuanya bertengkar saat di kamarnya. Namun ini adalah kali pertama ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya menampar ibunya. Karina segera menghampiri ibunya untuk memeluknya, namun ayahnya melarang Karina untuk mendekat dan menyuruh Karina untuk masuk ke kamar. Karina pun terpaksa menuju ke kamarnya sambil menahan tangis dan ketakutan melihat perilaku ayahnya. Siapa sangka malam natal yang seharusnya menjadi malam damai penuh suka cita berubah menjadi malam yang meninggalkan luka bagi Karina.
-end of flashback-
“Mama kamu sekarang gimana? Papa kamu ngga ngapa-ngapain kamu kan?” tanya Winter setengah panik setelah mendengar cerita Karina.
“Aku nggak tau mama gimana. Tadi pas aku mau ke kamar, mama lagi nangis di lantai. Sekarang di bawah udah sepi ngga ada suara lagi. Aku nggak apa-apa win. Cuma masih shock aja. Papaku emang temperamental. Tapi aku masih nggak nyangka papa sampe berani main tangan sama mama,” kata Karina sambil sesekali membuang ingusnya.
“Yaudah, sekarang kakak tidur ya. Pasti capek tadi abis dari gereja juga kan. Jangan nangis terus ya kak. Nanti muka pacarnya aku jadi jelek,” kata Winter sambil cengengesan. Mencoba mencairkan suasana.
Karina tertawa kecil mendengar ledekan Winter. “Iya sayang aku mau cuci muka dulu ya. Muka aku kucel banget. Kamu juga tidur ya sayang. Makasih udah dengerin cerita aku. Maaf ya kita ngga jadi video call-an.”
“Iya kak Karin sayaang ngga apa-apa kok. Sekarang yang penting kakak istirahat dulu ya. I love you to the moon and back. Good night, kak,” ucap Winter.
“I love you too, sayang. Thank you for being there for me. Good night, Win,” ucap Karina memutuskan sambungan telepon dan beranjak dari kasur menuju kamar mandi.