Dimabuk Asmara

“Win, minta yang biasa dong. Udah lama banget gue nggak minum-minum nih,” ucap Giselle mengedipkan matanya kepada Winter memberikan kode.

Waktu menunjukkan pukul 11.00 malam. Saat ini mereka berempat sedang bersantai di kamar Winter menunggu datangnya tahun baru setelah seharian bermain, menonton film dan berfoto bersama.

“Oh iya, lupa. Sebentar ya gue ambilin dulu di bawah. Mau pakai es lagi apa nggak usah?”

“Pakai aja, Win. Biar nggak terlalu kuat rasanya. Takut tuh anak 2 pada nggak suka,” ucap Giselle sambil menunjuk ke arah Karina dan Ningning yang sedang mengobrol.

“Gigi! Lo kok ngajarin yang nggak bener sih! Ini kita masih pada di bawah umur loh! Aku sama Ningning nggak mau, Win. Kamu berdua sama Gigi aja yang minum,” ucap Karina dengan raut muka kesal.

“Udah nggak apa-apa kak, ikutan minum aja. Gigi pas aku tawarin pertama kali juga nolak. Tapi abis itu ketagihan. Kalo lagi mau minum-minum pasti dateng ke sini.”

“Ya justru itu bahayanya kalo ketagihan. Aku nggak mau ya kalo dateng ke sini cuma buat minum-minum doang.”

“Ya Kak Karin mah ke sini buat ngapain aja aku juga nerima. Nggak harus minum-minum doang,” ucap Winter dengan senyum malu tapi mau.

“EHEMBUCINEHEM. Udah win buruan sana lo ambil minumannya. Gue penasaran mau nyobain juga,” ucap Ningning yang langsung duduk menjauh dari Karina setelah tatapan Karina berubah 180 derajat kepadanya.

“Hahaha siap. Sebentar gue ambil ke bawah dulu.” Winter meninggalkan kamarnya untuk mengambil minuman di dapur.


“Woy, bukain pintunya dong. Tangan gue penuh nih,” teriak Winter sambil menendang-nendang pintu dengan kakinya.

Winter kaget saat melihat Karina yang membukakan pintu untuknya karena hampir saja ia menendang kaki Karina.

“Eh maaf, kak. Untung nggak kena.”

“Sini aku bantuin,” ucap Karina masih dengan muka galaknya, mengambil nampan berisi 4 buah gelas dan mangkuk berisi es batu.

Winter segera masuk dan meletakkan kantong plastik yang berisi 4 botol minuman di atas meja.

“Lah, ini mah temulawak si anjir. Gue kira apaan,” ucap Ningning setelah melihat isi plastik yang dibawa Winter.

“Ya emang temulawak. Lo kira apaan deh, Ning?” ucap Winter sambil menyengir lebar melihat Ningning dan Karina.

Ningning hanya bisa tertawa dan Karina masih terdiam duduk di depan ranjang melihat kesibukan 3 temannya yang sedang heboh menuangkan minuman ke gelas.

“Nih kak diminum temulawaknya. Tenang aja nggak bikin mabuk kok.”

Winter memberikan gelas yang berisikan temulawak dan es batu kepada Karina. Karina mencoba minuman itu untuk pertama kalinya.

“Enak juga, Win,” ucap Karina sambil mencoba menghabisi minuman itu dalam 1 kali teguk. Sampai tiba waktunya Winter mengucapkan kalimat yang membuat minuman di mulutnya kembali keluar.

“Aku daripada mabuk minuman mendingan dimabuk cinta sih, kak.”

“UHUK.. UHUK.. UHUK...” Karina memuncratkan minuman yang ada di mulutnya. Tenggorokannya terasa sakit. Mukanya memerah mendengar ucapan Winter.

“Ya Allah, kak. Pelan-pelan makanya minumnya. Tadi marah-marah pas ditawarin. Sekarang nafsu banget minumnya,” ucap Winter yang langsung mengambil handuk untuk membereskan kekacauan yang dihasilkan Karina.

Karina hanya bisa menunduk malu. Malu mendengar ucapan Winter dan malu karena kebodohannya yang memuncratkan minuman.

Giselle dan Ningning yang sedari tadi memperhatikan keduanya hanya bisa tertawa terbahak-bahak.

Setelah selesai merapikan kekacauan yang Karina buat dan tawa Giselle serta Ningning mereda, Mereka melanjutkan menunggu datangnya tahun baru dengan bermain.

“Main truth or dare aja yuk sambil nunggu jam 12,” ajak Giselle mengambil botol kosong dan berjalan ke tengah ruangan kamar Winter.

Saat ini mereka sedang duduk melingkar dengan urutan Karina, Giselle, Winter dan Ningning. Giselle mulai memutar botol dan berhenti mengarah ke Ningning.

“Asikkk. Truth or dare, Ning?” ucap Winter yang bersemangat saat teman sekelasnya itu mendapat giliran pertama.

Dare ajalah cemen banget masa pilih truth.”

“Ya udah yang gampang dulu ya. Tunjukin muka jelek lo. Yang lain jangan pada ketawa,” ucap Giselle meminta yang lain untuk diam dan fokus kepada Ningning.

Ningning mencoba menarik mulutnya ke bawah sehingga hidungnya ikut tertarik. Matanya ia buat sipit dan lipatan lehernya sengaja ia tunjukkan. Awalnya ketiga temannya berhasil menahan tawa. Namun ketika Ningning mengeluarkan suara aneh, mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak.

“HAHAHAHA.. Jelek banget lo sumpah Ning nggak bohong,” ucap Winter dengan suaranya yang melengking sambil memukul pundak Ningning.

“Hahahaha. Udah ya lanjut lagi. Keburu tahun baru yang ada kalo ketawa terus. Gue puter lagi ya,” ucap Giselle sambil memutar botol kosong.

Botol itu kini berhenti tepat ke arah Winter.

Dare. Udah buruan apaan sini. Gampang kalo buat muka jelek doang mah.”

“Dih belom ditanyain juga. Siapa bilang buat muka jelek lagi. Kalo gitu gue tantang buat cium orang yang ada di depan lo,” ucap Ningning sambil melirik ke Giselle.

“Oh iya, kalo lo nolak, hukumannya cium orang yang ada di depan lo juga ya. Lupa tadi bilang pas di awal,” ucap Giselle menimpali perkataan Ningning. Keduanya melirik satu sama lain sambil menahan tawa.

“Nggak lah apaan sih kok jadi gini dare-nya”

“Kok gue jadi ikutan kena juga sih?”

Karina dan Winter menolak secara bersamaan. Saat ini muka keduanya memerah. Jantung mereka berdegup kencang memikirkan tantangan itu. Sejujurnya, siapa yang tidak senang mencium dan mendapat ciuman dari pujaan hati. Tapi tidak dengan cara seperti ini.

“Woy! Malah bengong lo berdua. Buruan kerjain tantangannya, Win. Jangan dibayangin doang. 15 menit lagi udah 2012 anjir,” ucap Giselle melempar bantal ke arah Winter.

“Sabar sih. Kok jadi lo yang nafsu.”

Winter berjalan dengan lututnya menghampiri Karina. Tangannya berkeringat. Jantungnya berdegup kencang. Pipinya terasa panas. Karina yang dihampiri hanya bisa menutup matanya dengan kepala yang sedikit menunduk. Ia yakin ketiga temannya, apalagi Winter dapat mendengar betapa kencang detak jantungnya saat ini.

“Gue hitung sampai 3 ya. Lama lo abisan,” ucap Giselle yang kemudian mulai menghitung bersama Ningning.

“Satu..”

“Dua...”

“Tiga...”

Winter pun langsung mencium tangan Karina yang berada di paha seperti anak yang sedang sungkem kepada orang tuanya.

“Assalamualaikum, pergi dulu bu,” ucap Winter yang langsung kabur ke kamar mandi setelah mencium tangan Karina.

Giselle dan Ningning langsung tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Winter. Sedangkan Karina hanya bisa terdiam masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

“Sabar-sabar aja ya rin kalo udah jadian nanti. Emang agak ajaib kelakuannya,” ucap Giselle menyemangati temannya itu.

Tidak lama kemudian, Winter keluar dari kamar mandi seperti tidak terjadi apa-apa. Ia kembali duduk di depan Karina yang masih tidak berani untuk menatap matanya.

“Cupu lo, Win. Dikasih kesempatan malah disia-siain,” ucap Ningning sambil memutar botol kembali.

Sorry, bukannya cupu. Gue menghargai Kak Karin yee. Bukan main nyosor-nyosor aja kaya lo sama Gigi.”

“Udah heh kok malah bahas gue. Nyosor-nyosor lo kira soang. Nah pas nih berhenti di Karin. Truth or dare, rin?”

Truth aja,” jawab Karina singkat. Lebih baik jujur daripada harus melakukan hal yang membuat jantungnya seperti mau copot.

“Kapan lo mau nembak Winter?”

Untuk kedua kalinya jantung Karina seperti mau lepas dari rongga dadanya. Ingin sekali ia menempelkan lakban ke mulut Giselle saat ini juga.

Karina mulai gelisah karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak ingin membuat Winter merasa canggung.

Melihat Karina yang merasa tidak nyaman, Winter akhirnya mengeluarkan suara.

“Eh, 3 menit lagi tahun baru. Turun yuk ke bawah. Biasanya bakal banyak yang nyalain kembang api,” ajak Winter yang langsung beranjak dari duduknya dan berlari keluar kamar yang diikuti oleh Giselle dan Ningning yang kompak berteriak “Halah alasan aja lo. Mau kabur ya”. Sedangkan Karina mencoba mengambil sesuatu dari tasnya dan memasukkannnya ke kantong celana baru mengikuti ketiga temannya turun ke bawah.


Di taman belakang rumah Winter, suara gemuruh dari petasan dan kembang api meramaikan suasana tahun baru yang akan terjadi kurang dari 1 menit lagi. Sesekali juga terdengar suara tiupan terompet dari kejauhan. Giselle dan Ningning sedang berlarian di taman beratapkan percikan cahaya kembang api yang dinyalakan tetangga sekitar rumah Winter.

Winter segera menarik tangan Karina menuju taman untuk melakukan hitung mundur ketika Karina sampai di pintu belakang.

“Sepuluh...”

“Sembilan...”

“Delapan...”

“Tujuh...”

“Enam...”

“Lima...”

“Empat...”

“Tiga...”

“Dua...”

“Satu...”

HAPPY NEW YEAR

Mereka semua berteriak sambil melompat girang menyambut kedatangan tahun 2012.

“Winter, happy birthday ya!” ucap Ningning sambil memeluk teman sebangkunya itu.

Thank you, Ning. Makasih juga ya udah mau tahun baruan di sini.”

“Win, makin tua aja lo. Selamat ulang tahun yaa. Jangan kelamaan,” ucap Giselle sambil mengedipkan matanya.

“Tetep aja tuaan lo. Hahaha. Makasih ya, Gi. Kelamaan apaan sih. Belom ada sejam umur gue nambah.”

Giselle dan Ningning lalu kembali bermain kejar-kejaran meninggalkan Karina dan Winter untuk berbicara.

Karina menarik tangan Winter untuk duduk di bangku taman.

Suara petasan dan kembang api yang tidak berhenti bergemuruh sedari tadi kini mulai mereda. Yang tersisa hanyalah suara teriakan Ningning dan Giselle yang sedang asik bermain.

“Selamat ulang tahun ya, Winter,” ucap Karina sambil mengelus rambut Winter.

“Makasih kak. Makasih juga ya udah mau jauh-jauh dateng ke sini. Semoga nggak trauma ya. Hehehe.”

“Nggak lah. Aku seneng kok main ke sini. Oh iya, aku ada sesuatu buat kamu.” Karina mengeluarkan kantong kertas kecil berwarna biru dan memberikannya ke Winter.

“Ya ampun. Makasih ya, kak. Jadi ngerepotin. Aku buka ya?”

Karina menganggukan kepalanya. Winter segera membuka hadiah dari Karina. Bibirnya tersenyum saat melihat isinya. Sebuah gelang dengan origami bintang berwarna biru dan putih.

“Aku pakaikan ya, Win.”

Karina memakaikan gelang tersebut ke pergelangan tangan kiri Winter. Dengan sangat antusias Winter memeluk erat Karina.

“Makasih banyak ya, kak. Bagus banget gelangnya.”

“Sama-sama, Win. May it be a light to you in dark places, when all other lights go out. Jangan sampai hilang ya,” ucap Karina sambil mengelus rambut Winter.

Malam itu, disaksikan rembulan dan bintang di langit serta pepohonan yang bergoyang tertiup angin, sepasang muda-mudi sedang mengukir kisahnya.