I Like It

I like it,

when you are panicked and ask me for help.

“Kamu lagi mikirin apa, sayang?”

Karina menghampiri Winter yang sedang termenung sambil memandangi salju yang turun perlahan di balik jendela. Ia berikan segelas cokelat panas yang baru saja dibuat kepada sang kekasih, mendekap tubuh mungil Winter dari samping dan mencium keningnya lembut.

“Aku keingat date pertama kita. Pas kamu ajak aku main ice skating. Kalo diingat-ingat aku awalnya kesel banget date pertama malah diajak main gituan. Padahal aku udah bilang nggak bisa main ice skating.”

“Aku justru bersyukur ngajak kamu main ice skating.”

“Tuhkan, kamu pasti sengaja biar aku kelihatan bodoh di depan kamu kan?”

“Bukan karena itu, sayang.”

“KARIN! KAMU MINGGIR JANGAN DI SITU! AKU NGGAK BISA BERHENTI INI! KARIN, AWAS! KARIN, TOLONG! INI AKU HARUS GIMANA?”

Winter berteriak panik saat mendapati Karina sedang berdiri 2 meter di depannya. Dalam hati ia mengutuk wanita yang mengajaknya untuk bermain ice skating di date pertama mereka. Hancur sudah kesan pertama yang ingin ia berikan di kencan pertama ini.

BRUK

Tubuh mereka pun bertabrakan cukup kencang. Untungnya, pertahanan dan keseimbangan tubuh Karina sangat bagus sehingga hantaman dari yang lebih muda tidak membuat mereka berdua terjatuh. Winter masih mengistirahatkan kepalanya di dada wanita yang menangkapnya, berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak keruan ketika Karina menyentuh pipinya dan mengangkat kepalanya perlahan mencoba menatap matanya.

“Kamu aman sekarang. Kalo aku nggak nangkap kamu, yang ada kamu bakalan luka karena nabrak papan di belakang.”

Karina merapikan beanie yang menutupi kepala Winter, membebaskan keningnya dari poni yang menutupinya lalu mengecupnya lembut mencoba memberikan ketenangan pada wanita di depannya.

“Kita udahan aja ya. Aku lapar habis ditabrak kamu. Habis ini aku mau ajak kamu ke restoran tonkatsu kesukaan aku.”

Karina menarik tangan yang lebih muda, menuntunnya ke pinggir rink sambil mengoceh rencana apalagi yang akan mereka lakukan setelah selesai makan tanpa menyadari Winter masih membisu di genggamannya. Kecupan yang Karina harapkan dapat memberikan ketenangan, justru membuat jantung Winter berdetak lebih cepat daripada saat mereka bertabrakan tadi.

So I can kiss your forehead to make you calm down.


I like it,

when you are clingy and stubborn.

“Kamu kenapa nggak ada di samping aku pas aku bangun?”

Karina yang sedang mencicipi nasi goreng buatannya untuk terakhir kali, tersenyum ketika mendengar rengekan Winter dari pintu dapur. Ia segera mematikan kompor di depannya lalu berjalan menghampiri sang kekasih yang langsung merentangkan kedua tangannya dengan mata yang masih setengah terbuka.

“Pagi, sayang. Aku sengaja nggak bangunin kamu, supaya pas kamu bangun bisa langsung sarapan makanan kesukaan kamu.”

Karina memeluk tubuh Winter erat. Ditempelkan bibirnya di kening sang kekasih, lebih lama dari biasanya seakan mencoba mengumpulkan energi yang dibutuhkannya untuk menjalani hari.

“Aku nggak butuh sarapan. Aku butuhnya kamu ada di samping aku pas bangun.”

“Iya, maafin aku. Abis sarapan aku temenin kamu di kasur lagi ya. Masih sakit perutnya?” Karina kembali mengecup kening sang kekasih sambil mengusap punggungnya, berharap rasa sakit perempuan di pelukannya dapat berpindah ke tubuhnya.

“Masih.”

“Ya udah sarapan dulu, yuk. Biar kamu bisa rebahan lagi di kamar.”

Karina berusaha melepaskan pelukan Winter dari tubuhnya. Namun, yang lebih muda seakan tak ingin berpisah sedetik pun dengannya. Tak ingin nasi goreng buatannya menjadi dingin, Karina segera mengangkat tubuh Winter dan menggendongnya seperti koala lalu memindahkan makanan buatannya dari wajan ke piring.

Di sofa ruang TV, Karina—masih dengan Winter di pangkuannya, yang tidak ingin lepas sedetik pun darinya—berusaha menyuapi sang kekasih yang sedari tadi masih menolak untuk membuka mulutnya.

“Kalo kamu nggak makan, kita nggak akan balik ke kamar, sayang.”

Karina mengusap kepala sang kekasih lalu mengecup keningnya lembut. Seakan terhipnotis, Winter langsung membuka mulutnya dan Karina segera menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.

“Aaaak lagi dong,” pinta Karina saat melihat Winter telah berhenti mengunyah.

Winter kembali menggelengkan kepalanya. Dan Karina pun kembali memberikan kecupan pada kening sang kekasih hingga nasi goreng di piringnya habis.

So I can kiss your forehead to make you follow my order.


I like it,

when you take your stress out on me.

“Aku tuh nggak ngerti ya sama orang kantor. Udah aku bilang kalo Jumat ini aku izin cuti karena mau nemenin kamu ke rumah sakit. Tiba-tiba tadi aku dipanggil sama atasan buat ke ruangannya dan aku disuruh jadi perwakilan kantor untuk nerima penghargaan di hari aku seharusnya cuti dan nemenin kamu ke rumah sakit.”

Winter baru saja tiba di apartemen milik mereka berdua ketika ia mengeluarkan kekesalannya yang telah dipendam dari kantor kepada Karina yang tampak asik di ruang TV. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air mineral di kulkas mencoba mendinginkan tubuhnya yang terasa panas setelah mengeluarkan unek-uneknya. Melihat perangai sang kekasih yang tampak tertekan, Karina yang sedang duduk di ruang TV sambil membaca buku segera beranjak menghampiri Winter di dapur.

“Aku bisa sendiri kok, sayang. Kamu kan project leader-nya, jadi wajar kalo kamu yang diminta kantor untuk jadi perwakilan penerima penghargaan.”

“Kalau gitu kenapa dari awal mereka nyetujuin permohonan cuti aku. Kalau kaya gini kan aku jadi nggak bisa nepatin janji aku ke kamu, Karin. Tiga tahun terakhir aku selalu nemenin kamu setiap kamu mau medical check up. Terus tiba-tiba sekarang aku nggak bisa nemenin kamu padahal kamu aja selalu nemenin ak-”

Ocehan Winter terhenti saat Karina menarik tubuhnya, mendekapnya erat ke dalam pelukannya. Diusapnya rambut pendek sang kekasih lalu dikecupnya puncak kepala perempuan di pelukannya yang dilanjutkan dengan kecupan hangat di keningnya secara bergantian lalu kembali memeluknya erat.

Saat Karina merasakan tubuh tegang perempuan dalam dekapannya sudah jauh lebih tenang, ia lepaskan pelukannya, merapikan rambut sang kekasih yang menutupi wajahnya lalu kembali menempelkan bibirnya di bagian favoritnya, yaitu kening.

“Udah lega?”

Winter menganggukan kepalanya.

“Ya udah, kamu mandi dulu sana. Biar lebih segar badannya.”

Karina berusaha melepaskan lingkaran tangan Winter dari pinggangnya. Namun, yang lebih muda justru menariknya lebih erat sambil menempelkan jari telunjuk di keningnya, meminta kecupan sekali lagi. Karina tersenyum melihat permintaan sang kekasih. Mendekatkan bibirnya ke arah kening lalu menempelkannya lebih lama dari biasanya.

So I can kiss your forehead to make you feel better.

But I like it more,

Winter melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Karina lalu meletakkan kedua tangannya di pundak yang lebih tua sambil menjinjitkan kedua kakinya.

when you stand on your tiptoes.

Ia coba sejajarkan bibirnya dengan kening perempuan di depannya. Walaupun harus mendongakkan sedikit kepalanya. Karina pun menundukkan kepalanya, memberikan sedikit kemudahan untuk Winter. Dan membiarkan bibir sang kekasih membalas untuk mencium keningnya.

So you can kiss my forehead too.