I Like It — pt. 2
I Like It,
when you are panicked and ask me for help.
Waktu menunjukan pukul 07.00 pagi ketika Karina terbangun dari tidur nyenyaknya karena mendengar suara berisik dari luar kamar. Ia meraba sisi kasur di sebelahnya dan merasakan kain bersuhu dingin yang menandakan pemiliknya telah meninggalkan singgasananya cukup lama. Dengan perlahan ia beranjak dari ranjangnya menuju sumber suara di luar.
“Aduh, udah jam segini tapi buburnya belum jadi sama sekali. Ini panci kenapa di atas banget sih ngeletakinnya. Nggak lucu banget mau ngasih kejutan tapi harus ngebangunin orangnya dulu. Tapi kalo nggak bangunin Karin berarti buburnya nggak bakalan jadi. Mending bangunin apa gimana ya?” ceracau Winter sambil memotong wortel yang akan ia masukan ke dalam bubur.
Karina tersenyum mendengar ocehan Winter dari pintu dapur. Ia berjalan perlahan menghampiri sang kekasih yang sedang memasukan wortel yang telah dipotongnya ke dalam mangkuk.
“Pagi, sayang.”
Karina memeluk Winter erat dari belakang. Diciumnya pipi sang kekasih yang sedikit kaget akan keberadaannya di dapur.
“Kamu kok udah bangun jam segini?”
“Ada yang lagi konser di dapur soalnya. Jadi aku mau nontonin.”
“Maaf ya, sayang. Aku berisik banget ya?” tanya Winter sedikit merasa bersalah karena telah membangunkan Karina dengan kehebohannya.
“Nggak kok. Kamu nggak berisik. Aku kebangun soalnya sisi kasur sebelah aku dingin.”
“Aku selesain bikin buburnya dulu ya. Abis sarapan, nanti aku temenin kamu lagi. Tapi aku mau minta tolong dulu.”
“Mau diambilin panci yang mana?”
“Hehehe. Yang warna hijau.”
Karina menarik tubuh Winter bersamanya untuk mengambil panci yang diminta.
“Makasih ya, sayang,” ucap Winter setelah berhasil mendapatkan panci yang dibutuhkannya.
Winter menolehkan kepalanya ke arah kanan, ingin memberikan ciuman terima kasih kepada sang kekasih. Dan Karina pun dengan senang hati memberikannya.
“Udah, kamu balik ke kamar sana. Aku mau masak dulu. Nanti keburu kesiangan sarapannya, Karin. Aku kan lama kalo masak.” Winter berusaha melepaskan lingkaran tangan Karina dari perutnya. Namun Karina seperti enggan meninggalkannya.
“Nggak mau. Aku mau nemenin kamu masak.”
“Ya udah. Tapi kamu sambil duduk aja sana. Jangan nempel ke aku gini. Aku jadi nggak bisa fokus masaknya.”
Seakan tak mendengar ucapan yang lebih muda, Karina kini menyalakan kompor di depannya–masih dengan Winter di pelukannya–lalu mulai menumis bumbu-bumbu yang telah disediakan sang kekasih.
“Udah, aku aja yang masak.” Winter mengambil alih sodet dari tangan Karina lalu mulai mengaduk bumbu yang kini mulai harum.
“Tadi katanya nggak bisa fokus masaknya kalo aku nempel gini?”
“Aku makin nggak bisa fokus kalo kamu peluknya setengah-setengah.”
Karina tersenyum mendengar ucapan perempuan di depannya. Ia eratkan pelukannya pada tubuh sang kekasih sambil sedikit menundukkan badannya hingga kepalanya kini menempel pada pundak Winter.
“I love you, babe,” bisik Karina tepat di telinga Winter.
“Love you more, Karin.”
So I can backhug you to make you calm down.
I Like It,
when you are clingy and stubborn.
“Sayang, kamu ngapain sih kaki masih digips gitu malah lompat-lompatan di dapur?”
Karina yang baru saja kembali dari supermarket sehabis membeli kebutuhan bulanan, langsung berlari menghampiri sang kekasih meninggalkan kantong belanjanya berserakan di lantai. Tak ingin melihat yang lebih muda terjatuh, Karina segera memeluk Winter dari belakang, mencoba menopang tubuhnya yang sedikit goyah.
“Aku mau ngambil es krim di kulkas.”
“Kamu kan bisa nungguin aku pulang dulu, sayang. Kan tadi aku udah chat kamu kalo aku udah mau pulang.”
“Aku mau coba ngambil sendiri. Bosen tau udah seminggu di kamar terus.”
“Siapa suruh pecicilan sampai jatuh dari trotoar?”
“Ihh... Kok kamu jadi nyalahin aku? Aku kan cuma mau ngelus maltese yang lagi lewat doang waktu itu. Udah kamu beresin dulu belanjaannya sana. Aku mau ngambil es krim.”
Winter berusaha melepaskan Karina dari pelukannya untuk kembali melompat menuju lemari pendingin.
“Kamu mau es krim yang mana? Biar aku aja yang ambilin.”
Tanpa mau mengalah, Karina justru mengeratkan lingkar tangannya di tubuh Winter.
“Aku mau ngambil sendiri aja. Aku lupa di kulkas sisa rasa apa.”
“Ada mint choco, cookies and cream sama durian.”
“Ya udah aku mau makan semuanya kalo gitu.”
Winter masih berusaha melepaskan lingkaran tangan Karina dari perutnya.
“Pilih salah satu, sayang. Nanti amandel kamu kambuh.”
“Tapi aku lagi pengen semuanya, Kariiinnn.”
Winter menolehkan sedikit wajahnya ke arah Karina sambil memamerkan bibir cemberutnya. Karina pun menundukkan tubuhnya sedikit, menempelkan dagunya pada pundak yang lebih muda lalu berkata,
“Kamu boleh ambil sendiri es krimnya.”
Dikecupnya samping bibir sang kekasih sebelum melanjutkan ucapannya.
“Tapi kamu cuma boleh pilih satu rasa aja ya.”
Kali ini ia kecup pipi perempuan di pelukannya, lalu berlanjut ke puncak kepala sang kekasih dan ditutup dengan kecupan dalam di belakang kepala Winter.
“Ya udah, kalo gitu. Tapi lepasin pelukannya.”
“Siapa bilang aku bakal ngelepasin pelukannya?”
“Ahahaha... Kariiinn turunin aku,” teriak Winter saat merasakan kakinya menjauh dari lantai.
Karina mengangkat tubuh mungil kekasih di pelukannya lalu berlari sekuat tenaga menuju lemari pendingin agar Winter tak perlu berjalan sendiri untuk mengambil es krim yang diinginkannya.
“Kariiiinnn, pelan-pelan nanti aku jatuh!”
“Karinnn, peluk yang kenceng aku takut.”
“I Love you too, sayang. Sekarang cepetan ambil es krim yang kamu mau biar aku bisa gendong kamu balik ke kamar.”
“Aku mau yang ini!” Winter berteriak girang saat mengambil es krim durian kesukaannya.
“Ahahahaha.. Tolooonggg...”
Dan kehebohan pun kembali terjadi saat Karina menggendong tubuh Winter kembali ke kamar.
So I can backhug you to make you follow my order.
I Like It,
when you take your stress out on me.
“Iya, kemarin kan sudah disetujui semua. Kenapa tiba-tiba jadi ada revisi lagi disaat semua sudah siap cetak sih?”
Karina meletakkan remot tv di tangannya lalu berjalan menghampiri sang kekasih yang sedang menerima telepon dari karyawannya. Sudah 15 menit berlalu sejak keduanya harus menghentikan kegiatan menonton di akhir pekan karena panggilan darurat dari kantor Winter.
“Ya udah, kamu coba ubah sesuai permintaan. Kalau sudah selesai, segera email hasilnya ke saya.“
Winter menutup percakapannya bertepatan saat Karina menghampiri dan memeluknya dari belakang.
“Aneh banget nggak sih, sayang. Kemarin padahal semuanya udah disetujuin dan nggak ada komentar apapun. Giliran udah mau naik cetak tiba-tiba jadi ada revisi. Mana baru dikabarin sore-sore gini. Kenapa nggak sekalian ngabarin nanti malam aja biar aku lembur sekalian. Suka nggak liat waktu deh orang-orang kantor tuh.”
Winter menutup ocehannya dengan menghempaskan tubuhnya ke dalam pelukan Karina sambil menyenderkan kepalanya ke pundak yang lebih tua. Yang memeluk pun langsung mengeratkan dekapannya sambil berkali-kali mengecup kening sang kekasih, mencoba memberikan energi positif untuk mengembalikan mood perempuan di pelukannya.
“Kamu gemes banget kalo lagi kesal gini.”
“Gemes apanya sih. Aku tuh pengen makan orang tau rasanya.”
“Aku mau dimakan sama kamu.”
“Ihh.. Dasar mesum. Maksud aku bukan gitu, Kariiinn,” rengek Winter sambil mencubit lengan Karina di perutnya.
“Awww... Sakit, sayang. Aku kan cuma bercanda doang.”
Karina mencoba melepaskan lingkaran tangannya bersiap untuk kembali ke sofa. Namun, dengan sigap Winter menahannya.
“Nanti dulu. Aku masih mau dipeluk kamu.”
Karina tersenyum mendengar ucapan sang kekasih. Ia kembali mengetatkan pelukannya. Dikecupnya tengkuk leher yang lebih muda sambil sesekali menghirup dalam aroma tubuh perempuan di pelukannya yang berhasil membuat tubuh Winter semakin rileks di dekapannya.
“Udah lega sekarang?”
Winter menganggukkan kepalanya.
“Ya udah. Sekarang kita balik nonton lagi. Kesian itu pemeran utamanya udah mangap 20 menit lebih. Udah berapa lalat yang masuk ke dalam mulutnya.”
Karina mengecup pipi sang kekasih lalu melepaskan pelukannya dan berbalik badan untuk kembali ke sofa.
So I can backhug you to make you feel better.
But I like it more,
Winter segera menarik belakang baju yang dikenakan Karina sebelum sang kekasih melangkah lebih jauh. Dengan sedikit berjinjit, ia lingkarkan tangannya di pinggang perempuan yang lebih tua sambil mencoba mengistirahatkan dagunya di pundak Karina.
when you stand on your tiptoes.
Walaupun gagal untuk tetap berjinjit, Winter tetap mengeratkan dekapannya pada tubuh sang kekasih. Ditempelkan wajahnya di punggung sang pujaan hati sambil ia hirup dalam-dalam wangi tubuh perempuan yang beberapa tahun terakhir ini selalu ada di sisinya.
“I love so much, Karin,” ucap Winter walaupun suaranya sedikit terhalang karena bibirnya yang menempel pada punggung Karina.
“I love you more than anything else, Winter.”
So you can backhug me too.