I'll Never Let You Go

Jam dinding di kamar Winter menunjukan pukul 12.30 siang. Sudah 2 jam Winter kembali dari kampusnya sehabis mengumpulkan tugas UTS dan absen ujian di meja dosen. Semalam ia begadang sampai jam 3 pagi demi menyelesaikan tugas ujiannya itu.

Saat ini Winter sedang tertidur pulas di kamarnya, memakai sweater tebal, celana training panjang dan kaos kaki double. Selimut tebal menutupi tubuhnya dari ujung kaki sampai leher. Ia sengaja tidak menyalakan AC sama sekali. Karena tanpa AC pun tubuhnya tetap menggigil kedinginan. Sesekali terdengar suara racauan dari mulutnya.

Di luar, terdengar suara kunci pintu apartemen Winter terbuka. Karina masuk perlahan setelah meletakkan access card yang diberikan Winter kepadanya saat anniversary mereka 5 bulan lalu ke rak coklat dekat pintu masuk.

Karina segera pergi ke dapur untuk menghangatkan bubur yang baru saja ia beli untuk Winter. Selagi menunggu buburnya mendidih, Karina menyiapkan air minum di gelas dan merapikan obat yang ia beli di apotek.

Pagi tadi Karina terbangun dengan hati yang berat. Tidurnya tidak nyenyak karena pertengkaran yang terjadi semalam dengan Winter. Ia masih merasa kesal dengan ucapan Winter tadi malam. Namun ia memahami tekanan yang dirasakan Winter saat ini. Apalagi dengan kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit. Maka dari itu, pagi tadi Karina bergegas memesan tiket travel jurusan Bandung – Jakarta untuk menemui Winter.

Saat meminta izin orangtuanya, ia beralasan bahwa temannya ada yang sakit sendirian di kosan dan tidak ada yang merawat. Tentu saja orang tuanya melarang. Namun saat mendengar ucapan Karina selanjutnya, orang tuanya akhirnya memberikan izin.

“Karin nggak pernah merasa setertekan ini selama liburan. Kita liburan bertiga tapi Karin tuh nggak ngerasa senang malah kaya lagi di penjara. Keluarga lain liburan bareng itu saling ngobrol, ketawa bareng, bercanda bareng. Bukan diem-dieman aja dan cuma terlihat bahagia kalo di depan orang lain,” ucap Karina penuh emosi. Bukan bermaksud untuk durhaka, hanya saja ia merasa muak dengan sikap kedua orang tuanya yang kekanak-kanakan.

Dan begitulah alasan kenapa Karina bisa berada di apartemen Winter saat ini. Padahal seharusnya ia ada di Bandung.

Setelah selesai menyiapkan semuanya, secara perlahan Karina membuka pintu kamar Winter dengan sikunya sambil membawa nampan berisi bubur, air minum dan obat. Mulutnya tersenyum namun hatinya sedih melihat Winter yang tertidur pulas dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.

Karina meletakkan nampan yang ia bawa di meja nakas samping kasur dan segera duduk di kasur samping Winter. Tangannya merapikan poni Winter yang menutupi wajahnya. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Winter. Demamnya masih tinggi. Karina pun mengambil bye bye fever yang ia beli tadi dan menempelkannya di dahi Winter.

“Hngggmm.... Maaf.... Mmmmnggg... Kariinn... Maaf....” Winter meracau dalam tidurnya. Dahinya berkerut, tangannya bergerak dari balik selimut.

“Sayang, bangun yuk. Kamu makan dulu abis itu minum obat,” ucap Karina sambil mengelus kepala Winter mencoba membangunkannya.

“Winter, ayo bangun sayang. Makan dulu ya biar cepet sembuh,” panggil Karina halus. Saat ini posisinya berbaring miring menghadap Winter, dengan tangan kanannya menumpu kepala dan tangan kiri mengelus pipi Winter.

Setengah sadar, Winter memegang tangan Karina yang mengelus pipinya. Bibirnya tersenyum saat tangannya menyentuh tangan hangat Karina. Bahkan di dalam mimpi pun Karina sangat perhatian kepadanya, pikir Winter. Rasa bersalah menyelimuti perasaan Winter mengingat ucapannya pada Karina semalam. Tanpa terasa air mata keluar dari sudut matanya. Bibirnya tidak lagi tersenyum. Dahinya mengkerut kencang. Dan nafasnya sesak terengah-engah. Dalam sekejap mimpinya berubah. Karina pergi meninggalkannya karena sifat kekanak-kanakannya.

Panik melihat perubahan Winter yang tiba-tiba, Karina segera membangunkan Winter dengan mengguncang pelan tubuhnya.

“Win, bangun sayang. Kamu mimpi buruk ya. Sayang, ayo bangun.”

Perlahan Winter membuka matanya. Nafasnya masih belum normal. Air matanya masih mengalir. Ia bingung melihat Karina di sampingnya.

“Karin,” panggil Winter dengan suara seraknya.

Karina tersenyum, bersiap membalikkan badannya, mengambilkan air minum untuk Winter. Namun dengan cepat Winter menarik tubuhnya dan memeluknya. Wajahnya dibenamkan di dada Karina. Suara isakan terdengar jelas dari mulut Winter.

“Sayang jangan pergi. Maafin omongan aku kemarin. Aku salah udah ngelampiasin semuanya ke kamu.”

Karina mengencangkan pelukannya lalu mengelus punggung Winter. Bibirnya mencium puncak kepala Winter. Mencoba menenangkannya.

“Aku nggak mau pergi, Win. Aku cuma mau ngambil minum. Kamu sekalian makan dulu yuk. Udah aku beliin bubur buat kamu. Nanti keburu dingin,” ucap Karina sambil mengambil air minum setelah Winter melepaskan pelukannya.

Winter mengambil gelas yang diberikan Karina dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Karina mengambil gelas yang sudah kosong setengah dari tangan Winter dan meletakkannya kembali di meja. Lalu ia menyodorkan mangkuk bubur ke Winter.

“Dimakan dulu yuk buburnya. Abis itu minum obat.” Karina menyodorkan mangkung berisi bubur itu ke Winter.

“Nggak mau makan. Aku masih kenyang.”

“Emang kapan kamu terakhir makan?” tanya Karina curiga.

“Kemarin siang.”

“Winter ini sekarang udah mau jam 1 siang. Kamu udah 24 jam nggak makan. Ayo makan dulu biar bisa minum obat.”

“Maunya disuapinnn,” rengek Winter manja.

“Kemarin aja marah-marah katanya bisa ngurus diri sendiri. Sekarang minta disuapin,” celoteh Karina meledek Winter.

“Kariinnn kok gitu ngomongnya,” ucap Winter sambil ngambek. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Oh yaudah kalo mau ngambek mending aku balik ke Bandung aja,” ucap Karina sambil berpura-pura bangun dari kasur.

Winter langsung membuka selimutnya. Matanya berkaca-kaca. Ia menarik tangan Karina mencegahnya untuk pergi. “Jangan pergi.”

“Kamu tuh kalo lagi sakit gini manja banget kaya anak bayi. Nggak kok sayang aku nggak bakalan pergi,” ucap Karina sambil memeluk Winter erat, tangan kanannya mengelus punggungnya dan bibirnya berkali-kali mencium rambut Winter.

Kamu tenang aja win. Aku nggak bakalan kaya orang tuaku yang selalu lari dari masalah tanpa menyelesaikannya, ucap Karina di dalam hatinya.