Lay Your Head on Me

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin itu adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan situasi Karina hari ini. Setelah dosen pembimbingnya secara tiba-tiba memintanya untuk mengganti judul skripsi di bimbingan ke 7, kini ia harus menerima kenyataan bahwa sepeda kesayangannya mengalami putus rantai dan rintik hujan mulai turun membasahi dirinya. Niatnya untuk segera kembali ke kosan untuk mengistirahatkan otaknya yang lelah harus ditunda karena kesialan yang bertubi-tubi ini.

Jika ia sudah bisa menerima kenyataan bahwa di usianya yang ke 21 tahun tidak akan memiliki soulmate selamanya karena tidak munculnya tato di tubuhnya-persetan dengan tato yang sering dibicarakan oleh teman-temannya-Karina masih dendam dengan keputusan dosen pembimbingnya yang seenak jidat menyuruhnya mengganti judul. Dengan langkah gontai, baju sedikit lepek dan emosi yang masih tinggi, Karina memarkirkan sepedanya di depan coffee shop yang baru saja buka di dekat kampus lalu masuk ke dalam sambil menunggu hujan reda.


Karina sedang mengetik di ponselnya sambil cemberut, menceritakan kesialannya kepada sang ibu ketika antrian di depannya sudah bergerak dan kini gilirannya untuk memesan.

Sunshine after the rain,” ucap Karina tanpa sadar ketika ia melihat senyuman gadis yang melayaninya. Seperti cahaya matahari yang memberikan kehangatan sehabis hujan, senyuman dari gadis di depannya mampu membuatnya melupakan sesaat rasa emosi yang menumpuk di dadanya.

Dengan pipi kemerahan akibat malu karena keceplosan, Karina segera mengalihkan pandangannya ke meja untuk melihat menu apa saja yang ditawarkan coffee shop ini ketika sebuah papan tulis kecil disodorkan kepadanya.

Maaf saya bisu tapi saya bisa mengerti ucapan kamu. Silahkan pesan menu yang kamu mau. Kalau bingung, kamu bisa minta rekomendasi ke saya. Terima kasih :) -Winter-” bunyi tulisan di papan itu.

Karina tersenyum setelah membaca tulisan di papan. Ia mengarahkan tatapannya ke gadis di depannya yang masih tersenyum lebar lalu mengangkat ibu jarinya dan berkata, “Oke.”

Lima menit berlalu dan Karina masih tampak bingung untuk menentukan pesanannya. Untungnya, saat ini tidak ada antrian sama sekali di belakangnya sehingga Winter membiarkan sang pembeli untuk melihat-lihat menu lebih lama dari biasanya. Atau sebenarnya ini hanya akal-akalan Karina saja sengaja berlama-lama agar ia bisa berdekatan lebih lama dengan Winter.

Setelah hampir 10 menit berlalu, Karina akhirnya menyerah dan baru saja akan meminta rekomendasi kepada Winter ketika papan kecil kembali diberikan kepadanya.

Hari ini kami punya menu spesial, Key Lime Pie Frappuccino yang kebetulan hanya tersedia di waktu tertentu. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan kamu. Mau coba?” bunyi tulisan di papan itu.

Karina tersenyum meringis membaca tulisan hari keberuntungan mengingat hal yang ia dapatkan hari ini adalah kesialan yang bertubi-tubi. Sampai akhirnya ia menyadari mungkin pertemuannya dengan gadis di depannya adalah awal dari keberuntungannya. Who knows.

“Aku pesan sesuai rekomendasi kamu ya.” Karina melirik ke arah jendela untuk melihat cuaca di luar. Untungnya, hujan sudah mulai reda dan matahari pun telah menampakkan dirinya yang berarti ia sudah bisa melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kosan. “Untuk dine-in atas nama Karina,” sambungnya. Tidak ada salahnya kan berjaga-jaga menunggu 1 jam lagi di sini. Bagaimana kalo hujan tiba-tiba turun lagi saat ia masih di tengah perjalanan. Lalu karena basah kehujanan, dirinya akan jatuh sakit padahal ia masih harus melanjutkan mencari judul skrip- Karina menghentikan monolog di dalam kepalanya ketika ia merasakan ketukan di jari tangannya.

Winter, masih dengan senyuman manisnya menunjuk ke arah layar di depan Karina yang berisi harga yang harus ia bayar.

Lo masih kurang ngebuat kebodohan apalagi sih, Rin!” batin Karina dalam hati sambil tergesa-gesa mengeluarkan uang dari dompetnya.

Winter menerima uang yang diberikan kepadanya kemudian mempersilakan Karina untuk mencari tempat duduk sambil menunggu pesanannya jadi.


Untung aja gue minta dine-in. Kalo nggak gue beneran bakal sial banget berarti hari ini,” batin Karina saat hujan deras tiba-tiba kembali turun ketika ia telah mendapatkan posisi tempat duduk yang nyaman di coffee shop itu.

Sambil menunggu pesanannya datang, Karina mengeluarkan laptop dari tasnya dan memulai pencariannya dalam mencari judul baru untuk tugas akhirnya. Ia sedang fokus dengan layar laptop di depannya ketika Winter datang membawakan pesanannya.

Sorry, kayaknya aku cuma pesan minuman aja deh,” ucap Karina yang tampak bingung saat gadis di depannya memberikan segelas minuman dan sepiring cake untuknya.

Winter mengeluarkan post-it dan pulpen dari kantong celemek yang ia pakai lalu menuliskan sesuatu di kertas itu dan memberikannya kepada Karina.

Spesial dari aku. Kayaknya kamu butuh tambahan yang manis-manis biar nggak cemberut terus :D” bunyi tulisan di kertas itu.

Karina tersenyum membaca tulisan Winter. Ia baru saja akan mengucapkan terima kasih atas pemberian kue untuknya ketika Winter kembali memberikan kertas kepadanya.

Kalo kamu ngerasa cake dan minumannya kurang manis, kabarin aku aja ya. Nanti aku ambilin cermin dulu di belakang.

Karina mengernyitkan dahinya lalu menatap Winter dengan kebingungan setelah membaca tulisan di tangannya. Winter kembali menuliskan sesuatu dan kali ini memberikan 2 lembar post-it kepadanya.

“Biar kamu tahu kalo senyum kamu manis banget,” bunyi post-it pertama.

Just keep smiling, Karina. And one day, life will get tired of upsetting you,” bunyi post-it kedua.

Winter langsung membungkukkan badannya, berpamitan tanpa memberikan kesempatan kepada Karina untuk mengucapkan sepatah kata pun demi menutupi rasa malunya. Untungnya, Karina cukup sigap menarik tangan Winter sebelum ia pergi menjauh.

Thank you, Winter. It means a lot to me.” Karina tersenyum sambil mengusap telapak tangan Winter dalam genggamannya.

Winter merasakan getaran pada celananya. Ia ambil ponsel di kantong, membaca pesan yang diterima lalu menoleh ke arah meja kasir dan mendapati rekan kerjanya sedang sibuk melayani pembeli dengan beberapa antrian di depannya. Menyadari bahwa ia telah menghalangi Winter di waktu kerjanya, Karina menepuk bahu Winter dan mempersilahkannya untuk kembali ke meja kasir.


Dua bulan telah berlalu sejak 'nasib sial' yang membawa Karina bertemu dengan Winter. Kedekatan keduanya yang semakin akrab serta kejutan-kejutan yang sering kali Winter berikan yang membuat harinya lebih berwarna membuat Karina berharap dapat terlahir kembali dengan Winter sebagai soulmate-nya. Tanpa memedulikan keterbatasan pada diri Winter. Karena entah kenapa meskipun dengan segala keterbatasan yang dimiliki Winter, ia selalu hadir disaat Karina membutuhkan seseorang di sampingnya tanpa Karina harus menceritakan sesuatu sebelumnya. Contohnya seperti pesan teks yang ia terima saat ini.

⭐: Karin, aku udah di bawah bawa seblak kesukaan kamu. Sambalnya tiga sendok, kencur dua sendok sama tambahin ceker yang banyak. Aku juga bawain es doger biar kamu nggak kepedesan.

💙: Winter, kamu ngapain ke kosan aku?

⭐: Aku nggak boleh main ke kosan kamu lagi? :') Cepetan bukain pagarnya. Banyak nyamuk ini.

💙: Maaf banget aku masih di kampus. Hari ini aku pulang malam banget soalnya ada yang harus aku urus dulu.

⭐: Masa sih? Tadi sore aku liat kamu udah balik dari kampus kok.

💙: Aku seriussss. Kamu salah liat kali.

⭐: Hmmm... Iya, mungkin aku salah liat. Ya udah kalo gitu seblak sama es dogernya aku gantung pagar ya. Jangan lupa bilang ke Pak Mamat buat diambil. Takut disemutin. Aku pulang dulu ya.

Sejujurnya, bukan maksud Karina untuk membohongi Winter dan membiarkannya pulang tanpa menemuinya padahal Winter sudah rela meluangkan waktu sepulang kerja untuk membawakan makanan kesukaannya. Hanya saja, Karina tidak ingin membuat Winter khawatir jika melihat keadaannya saat ini yang berantakan karena kejadian tadi siang di kampus.

Karina baru saja akan meminta tolong kepada penjaga kosan untuk mengambil makanan dan minuman yang digantung Winter di pagar kosan untuk dimasukan ke lemari pendingin ketika suara pesan masuk kembali berbunyi dari ponselnya.

⭐: I know we've only known each other for a short time. But I'm here and I'll always be here. For you.

Tanpa memedulikan kondisinya yang berantakan, dengan berbalut piyama bergambar bebek kesukaannya, Karina segera berlari keluar kamar sambil menelepon yang lebih muda. Berharap Winter merasakan getaran pada ponselnya dan belum pergi terlalu jauh dari kosan.

Dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari menuruni anak tangga, “Kenapa gue harus dapat kamar di lantai 3 sih?” batinnya kesal, Karina kembali berlari keluar kosan dengan mata berkaca-kaca karena merasa gagal menahan Winter yang masih tidak mengangkat teleponnya. Namun, betapa terkejutnya ia saat mendapati yang lebih muda ternyata sedang asik bermain catur dengan Pak Mamat-penjaga kosannya-di teras depan.

“Mbak Karin, temennya saya pinjem dulu ya. Nanti kalo udah selesai mainnya say- loh Mbak Karin kenapa nangis toh? Ya ampun Mbak, saya ndak jadi pinjam temennya kalo gitu. Nih saya udahan main caturnya, Mbak,” ucap Pak Mamat sambil merapikan pion catur ke dalam kotaknya.

Winter segera bangun dari duduknya lalu berpamitan dengan Pak Mamat sambil mengepalkan tangan kanannya dan memutarnya di depan dada sebagai tanda permintaan maaf. Ia hampiri Karina yang masih berdiri di depan pintu, diusapnya air mata yang membasahi pipi gadis berambut panjang itu sambil ia dekap erat pinggangnya, menggiring Karina untuk kembali ke kamar. Tak ingin orang lain melihat keadaan Karina saat ini.

“Maaf kamar aku berantakan banget. Kamu duduk dulu aja biar aku beresin dulu,” ucap Karina saat menyadari kamarnya yang seperti kapal pecah. Saat Karina akan merapikan kertas yang berserakan di lantai, Winter dengan sigap menarik tangannya lalu mendorong tubuh Karina hingga terduduk di kasur. Ia usap puncak kepala temannya yang tampak sedang tidak baik-baik saja. Sambil tersenyum, ia arahkan jari telunjuknya ke dirinya sendiri memberi tanda untuk membiarkan dirinya saja yang membereskan kertas yang berserakan itu. Karina menggelengkan kepalanya, tidak ingin merepotkan yang lebih muda. Namun, Winter tetap bersikukuh lalu menyentil pelan kening Karina agar yang lebih tua duduk di kasur saja.


“Coba kamu bayangin, Win. Aku udah nurutin permintaan beliau untuk ganti judul dan mulai semuanya dari awal terus pas udah beberapa kali pertemuan, tiba-tiba beliau bilang 'Kayaknya saya lebih suka sama judul pertama yang kamu pilih deh.' Dan beliau ngomong gitu sambil ketawa cengengesan. Gimana aku nggak gedek coba dengernya. Rasanya pengen aku siram muka dosenku pake seblak ini!” cerita Karina berapi-api entah karena kepedasan akibat seblak yang ia makan atau rasa lega karena akhirnya bisa menceritakan kekesalannya kepada dosen pembimbingnya di kampus. Saat ini keduanya tengah duduk di lantai beralaskan karpet dengan Karina bersandar pada dipan dan Winter duduk di depannya.

“Aku ceritanya kecepetan ya, Win? Maaf ya aku nggak sadar saking kesalnya sama dosenku,” ucap Karina saat menyadari Winter hanya terdiam dengan senyuman yang tersirat di kedua sudut bibirnya saat ia selesai menceritakan kesialannya hari ini.

Winter menggelengkan kepalanya. Ia arahkan jari telunjuknya ke dada kemudian ia angkat kepalan tangannya sejajar kepala sambil jari telunjuknya ia naik turunkan, menunjuk ke atas lalu menempelkannya dengan ibu jari berulang kali tanda bahwa ia mengerti semua ucapan Karina. Yang lebih muda merogoh kantong celananya, mengeluarkan post-it dan pulpen yang selalu siap sedia kemana pun ia pergi. Sesuai permintaan Karina.

FLASHBACK

“Kamu keberatan nggak kalo kita lagi ketemuan langsung, komunikasi kita jangan pakai pesan teks tapi pakai tulisan tangan kamu aja?” tanya Karina pada suatu hari di awal-awal pertemanan mereka, saat keduanya tengah bersantai di kamar kosannya sehabis menikmati seblak kesukaan yang lebih tua. “Aku suka baca ulang tulisan tangan kamu. Entah kenapa, setiap baca tulisan tangan kamu aku selalu ngerasa hangat.” sambungnya sambil mengambil post-it berbentuk bintang dan pulpen dari laci meja belajarnya lalu memberikannya ke Winter.

“Maksud kamu, tulisan aku jelek banget kaya ceker ayam sampai kamu susah baca dan mata kamu panas? :'(” bunyi tulisan Winter di post-it berbentuk bintang itu.

“YAH! Aku nggak ngomong gitu ya. Maksud aku tuh- ah udahlah percuma aja aku jelasin juga. Kamu pasti bakalan nge-twist omongan aku lagi.” Karina beranjak dari tidurnya di paha Winter lalu pindah ke atas kasur, memunggungi gadis berambut pendek yang masih duduk santai di lantai. Karina merasakan kasur di belakangnya bergerak ketika sebuah kertas ditempel di pipinya.

“Jangan cemberut gitu. Nanti bebek-bebek pada marah sama kamu. Udah kalah cantik, masa kalah manyun juga ;p”

Karina tersenyum membaca tulisan Winter. Entah kenapa, yang lebih muda selalu punya cara untuk membuat dirinya kembali tersenyum sejak pertemuan pertama mereka dulu. Namun, Karina masih ingin lebih lama 'menghukum' gadis di belakangnya, sehingga ia dengan asal menempelkan post-it di tangannya ke dinding di depannya, berpura-pura masih marah.

“Karin, jangan lama-lama ngambeknya, please. Ada hal penting yang mau aku omongin ke kamu.”

Karina kembali menempelkan post-it ke dinding di depannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Karin, please. :((” bunyi post-it terakhir yang Winter tempel di pipi Karina. Sambil tersenyum, Karina membalikkan badannya karena merasa kasihan kepada yang lebih muda. Namun, senyumnya berubah menjadi kepanikan saat ia melihat wajah Winter dipenuhi dengan tempelan post-it yang bertuliskan,

Karin

Perut

Aku

Melilit

Abis

Makan

Seblak

Tadi

Temenin

Aku

Ke

WC

Please :'(

“YAH! Kamu bukannya bilang dari tadi kalo sakit perut! Malah sempet-sempetnya ngabisin post-it aku!” Karina segera melepas post-it yang menutupi wajah Winter yang sedang cengengesan sambil meringis menahan gejolak di perutnya. Dengan sigap, ia tarik tangan yang lebih muda menuju toilet umum di luar kamar karena kebetulan toilet di kamarnya sedang rusak.

END OF FLASHBACK

Aku seneng ngeliat kamu mau ceritain semuanya ke aku. Kalo ada apa-apa jangan dipendam sendirian lagi kaya tadi ya.

Gadis berambut panjang itu tersenyum membaca tulisan yang diberikan padanya. Ia lanjut menghabiskan seblak miliknya, membiarkan yang lebih muda yang terlihat masih asik meninggalkan coretan di post-it-nya.

UHUK UHUK UHUK

Karina tersedak saat membaca tulisan yang baru saja Winter berikan kepadanya. Winter langsung mendekat ke arah Karina, memberikan es doger kepada yang lebih tua sambil mengusap punggungnya mencoba membantu meredakan batuknya. Air mata mulai mengalir dari kedua sudut mata Karina karena rasa pedih dan panas pada tenggorokannya.

Setelah batuknya reda, Winter mengangkat dagu Karina, menatapnya dengan wajah khawatir. Yang lebih muda menempelkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis ke keningnya lalu ia lipat ketiga jari tersebut menyisakan ibu jari dan kelingking yang terangkat, bertanya kenapa kepada yang lebih tua bisa sampai tersedak seperti itu.

“Kamu kok nggak pernah cerita ke aku kalo kamu punya crush, Win?” tanya Karina dengan wajah cemberut kepada Winter yang mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaannya. “Tadi kan kamu nulis 'Kalo kata Crush, I see you hurt and sufferin'. You're not alone, in case you're wondering. You can come to me. Lay your head on me',” sambungnya.

Winter tertawa dalam diam mendengar ucapan gadis di depannya. Ia cubit kencang hidung Karina sambil menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri, membuat Karina kesal dan menepis tangan di hidungnya.

Setelah tawanya reda, Winter mengarahkan jari telunjuknya di depan bibir lalu ia tunjuk jarinya ke telinga meminta Karina untuk mendengarkan secara seksama lagu yang akan ia putar di ponselnya.

So lay your head on me~

Lagu milik Crush yang berjudul Lay Your Head on Me baru saja selesai diputar di ponsel Winter ketika Karina menarik tubuhnya ke dalam dekapan, berusaha memeluknya seerat mungkin. Winter merasakan getaran pada tubuh yang lebih tua, menandakan Karina saat ini sedang menangis di dalam pelukannya. Ia tepuk pelan punggung Karina sambil sesekali mengusap rambutnya berusaha menenangkannya.

Sepuluh menit berlalu dan getaran tubuh Karina sudah tidak terasa dalam dekapannya. Winter berusaha melepaskan lingkaran tangan Karina pada tubuhnya, namun yang lebih tua malah mengencangkan pelukannya. Winter pun membiarkan Karina di posisi ternyamannya saat ini. Di dalam pelukan hangat Winter, sambil menyenandungkan kembali lagu yang baru saja didengarkannya tadi, Karina menggerakan jarinya memutar, menuliskan kata demi kata pada punggung yang lebih muda.

I

Wish

You

Are

My

Soulmate.

Lalu dengan kasar ia gosok punggung Winter seakan ingin menghilangkan bukti yang baru saja ia tulis tadi. Winter yang kaget langsung mendorong tubuh Karina dari dekapannya. Dengan tatapan bingung, ia gerakkan alisnya naik turun meminta penjelasan akan perbuatan yang lebih tua. Namun, Karina hanya menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan kata maaf berulang kali.

Tak ingin memperpanjang masalah sepele tersebut, “Mungkin Karin lagi capek aja sama kejadian hari ini dan butuh istirahat,” batin Winter, yang lebih muda mulai merapikan bungkus makanan dan minuman bawaannya mengingat hari sudah semakin larut.

Winter sedang membuang sampah di luar kamar ketika ponselnya berdering. Karina yang melihat nama teman 1 kontrakan Winter yang juga merupakan sahabat, rekan kerja serta pemilik coffee shop tempat Winter berkerja-Giselle-muncul di layar, segera mengangkat teleponnya tak ingin membuatnya khawatir.

“Jadi boleh kan, Gi? Nggak ngerepotin kok. Kan aku yang minta tolong,” ucap Karina kepada Giselle. Winter memperkenalkan keduanya saat Karina datang untuk ketiga kalinya ke coffee shop tempatnya berkerja.

Winter masuk ke kamar dengan tatapan heran melihat Karina sedang berbicara menggunakan ponselnya. “Giselle,” ucap Karina tanpa suara sambil menunjuk ponsel di tangannya. “Sipp. Kamu tenang aja. Thank you ya, Gi.” Karina mematikan sambungan telepon dan memberikan ponsel di tangannya kembali ke pemiliknya.

Setelah memasukkan ponselnya ke kantong celana, Winter mengambil jaket serta tas ransel miliknya dan bersiap untuk pamit mengingat hari sudah semakin larut dan Gigi-nama panggilan Giselle-pasti sudah menunggunya di rumah.

“Kamu mau ke mana, Win?” Karina menarik tas ransel dan jaket dalam genggaman Winter, membuat yang lebih muda tampak kebingungan. “Malam ini kamu tidur di sini ya. Temenin aku, please,” pinta Karina sambil meletakan kembali tas ransel dan jaket milik Winter di kursi belajarnya.

Winter langsung mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu di layarnya lalu mengarahkannya ke Karina, “Lain kali ya aku nginepnya? Aku belum izin ke Gigi juga, Rin. Nggak enak kalo dadakan kaya sekarang. Lagian aku nggak bawa baju ganti juga,” tulis Winter di ponselnya.

Karina menggelengkan kepalanya. Ia sodorkan kaos oversized dan celana hotpants miliknya yang sudah ia siapkan ke tangan Winter sambil menggandeng yang lebih muda ke arah kamar mandi untuk berganti baju.

“Kamu tenang aja. Aku udah minta izin sama Gigi kok. Katanya, kamu kalo mau nginep seminggu di sini juga nggak apa-apa,” ucap Karina sambil memeletkan lidahnya. Winter hanya bisa pasrah mendengar ucapan yang lebih tua. Sambil mengucapkan sumpah serapah di dalam hati untuk sahabatnya yang memberikan persetujuan sebelah pihak, Winter masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Tak terasa, 1 tahun sudah hubungan Karina dan Winter berjalan. Hubungan pertemanan yang membuat keduanya terlihat seperti sahabat yang sudah saling mengenal sejak masih dalam kandungan saking akrabnya mereka. Hubungan pertemanan yang membuat Giselle sering kali berucap, “Sumpah ya mendingan kalian berdua pacaran aja deh. Persetan dengan kalian bukan soulmate satu sama lain. Kalo aku jadi kalian, aku nggak akan peduli sama malapetaka yang akan aku terima selama aku udah ngerasa nemuin orang yang tepat. Bahkan aku bakalan bikin tato sendiri sekalian.

Karina menyadari, menyatakan perasaan kepada seseorang yang bukan soulmate-nya dapat mendatangkan malapetaka baginya. Namun ia cukup egois dan tidak memedulikan hal tersebut, karena ia sudah sangat yakin bahwa dirinya adalah salah satu bagian yang terlahir tanpa memiliki soulmate. Dan hari ini, hari di mana tepat 1 tahun pertemuan tidak sengajanya dengan Winter, Karina akan menuruti ucapan Giselle untuk mengubah status pertemanannya dengan Winter.

Pagi tadi, Karina bangun dengan semangat menggelora. Tidak seperti biasanya di mana ia selalu malas-malasan untuk berangkat ke kantor. Iya, Karina akhirnya dapat lulus kuliah tepat waktu walaupun perjalanannya dalam menyelesaikan skripsi sangat berkelok-kelok akibat ulah dosen pembimbingnya. Sesampainya di kantor, Karina mendapat kabar bahwa atasannya hari ini harus dinas mendadak sehingga ia dapat bersantai selama jam kerjanya. “Terima kasih Tuhan atas dukungannya hari ini,” batin Karina merasa hari ini seperti hari keberuntungannya. Ia pun segera mengirim pesan ke Winter untuk mengajaknya bertemu malam nanti.

💙: Win, nanti malam kamu sibuk nggak?

⭐: Tergantung kamu mau ngapain dulu? Kalo cuma mau gangguin aku aja, berarti aku sibuk

💙: Kok kamu gitu ngomongnya? 😱😱😱

⭐: WKWKWKWKWK. Bercanda 🤗 Kalo buat kamu aku selalu bisa ngeluangin waktu Kalaupun tiba-tiba di toko sibuk, biar Gigi aja yang ngurusin semuanya 🤪

💙: Ckckck. Parah banget numbalin temen sendiri

⭐: Bukan numbalin dong. Kan dia bosnya. Emang tanggung jawab dia kalo ada apa-apa di toko.

💙: Aku nggak nyangka ternyata kamu aslinya begini 🤨🤨🤨

⭐: Akhirnya aku nggak perlu pura-pura lagi 🤭

💙: Dasar stress Ya udah, nanti malam aku jemput kamu ya jam 7

⭐: Ngapain jemput, Rin? Nanti aku langsung ke kosan kamu aja kaya biasa

💙: Siapa yang nyuruh kamu ke kosan aku?

⭐: Ohh mau di kontrakan aku aja berarti?

💙: Aku nggak ngomong gitu

⭐: Terus kita mau ke manaaaa? 😒

💙: Rahasia 🤫🤫🤫 Pokoknya kamu siap-siap aja Udah ya aku mau balik kerja dulu

⭐: Heh jangan kabur Kasih tau dulu kita mau ke mana

💙: 🏃💨💨💨


Dengan senyum lebar sambil bersenandung riang, masih menggunakan pakaian kantor, Karina berjalan perlahan menuju coffee shop tempat Winter berkerja. Tempat yang mempertemukannya dengan gadis yang selalu ada di sisinya selama satu tahun ke belakang. Tempat yang menjadi saksi bagaimana Karina telah jatuh hati pada Winter sejak pandangan pertamanya. Iya, Karina sudah menjatuhkan hatinya pada Winter sejak yang lebih muda memamerkan senyumannya di hari paling sial selama hidupnya itu. Dan selama itu pula ia mencoba menahan perasaannya agar tidak terus tumbuh. Apakah berhasil? Tentu saja tidak. Maka dari itu, hari ini, tepat di satu tahun pertemuan mereka, Karina akan mengutarakan semua isi hatinya kepada Winter.

“Loh? Jam segini kok udah tutup sih? Tadi kan gue udah janjian sama Winter,” ucap Karina bingung setelah mengecek jam tangannya yang baru menunjukan pukul 7 malam. Tidak seperti biasanya, pintu coffee shop tempat Winter berkerja telah terkunci bahkan semua lampunya sudah padam dan hanya menyisakan lampu teras yang menyala.

Ia keluarkan ponselnya dari tas lalu ia kirim pesan kepada Winter untuk menanyakan keberadaannya. Sayangnya, pesannya tidak terkirim. Karina mencoba menelepon yang lebih muda namun yang ia dapatkan hanyalah jawaban robot bahwa ponselnya sedang tidak aktif atau berada di luar service area.

Dengan rasa cemas karena pesan tak terbalas, Karina mencoba menghampiri kontrakan Winter berharap yang lebih muda hanya tertidur pulas. Tiga puluh menit berlalu, sudah selama itu Karina menunggu di depan kontrakan Winter namun hasilnya nihil. Sudah berkali-kali ia mengetuk pagar dan memencet bel berharap Winter atau Giselle akan keluar dari dalam.

Sayangnya, sang pemilik rumah tidak juga menampakkan batang hidungnya. Ia pun sudah mencoba menghubungi Giselle dan sama seperti Winter, ponselnya juga dalam keadaan mati.

Dengan perasaan kalut mengingat waktu yang sudah semakin larut, Karina pergi tanpa jawaban bersambut.


Jika sebelumnya Karina selalu menyepelekan rumor tentang malapetaka yang akan didapatkan jika menyatakan perasaan kepada seseorang yang bukan soulmate-nya, kali ini Karina terpaksa memercayainya. Bagaimana tidak percaya, jika baru sebatas niat untuk mengutarakan perasaannya kepada Winter saja sudah membuat yang lebih muda hilang tanpa jejak. Bahkan, Giselle yang hanya memberikan ide gila pun ikut menghilang tanpa jejak. Membuat Karina ikut kehilangan akal warasnya akibat ulah 2 orang itu.

Sudah seminggu berlalu sejak hidup Karina yang tadinya biasa saja berubah menjadi luar biasa dalam sekejap. Luar biasa hancur maksudnya. Tiap hari, sehabis pulang dari kantor-Iya, Karina masih berusaha menjalankan kewajibannya di kantor karena sangat tidak lucu sudah kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya, harus kehilangan pekerjaan juga-ia selalu berharap dapat melihat bayangan Winter dari luar coffee shop. Melihat senyum manis Winter tiap kali ia melayani pembeli. Namun hasilnya nihil. Yang ia dapatkan hanyalah lampu teras yang menyala sejak pagi juga plang 'closed' yang menggantung di pintu.

🌙: Karin

Sebuah pesan singkat dari Giselle baru saja masuk ke ponselnya. Pesan singkat yang mampu membuat jantungnya terasa terangkat.

🌙: Kamu siap-siap ya

💙: Siap-siap ke mana, Gi? Winter di mana? Kenapa aku nggak bisa ngehubungin kalian berdua sama sekali? KALIAN BERDUA KENAPA TIBA-TIBA HILANG GITU AJA TANPA NGASIH AKU KABAR!!!!

Tangis Karina pecah setelah membalas pesan dari Giselle. Di satu sisi, ia merasa lega mengetahui bahwa Giselle dalam keadaan baik-baik saja. Namun, di sisi lain hatinya terasa remuk saat membaca balasan pesan Giselle.

🌙: Winter di rumah sakit Aku anterin kamu ke sana ya 5 menit lagi aku sampai kosan kamu Karin… Sorry…


“Sore itu, Winter pamit sama aku mau beli bunga, Rin. Pas aku tanya dalam rangka apa, dia cuma bilang lagi suka bunga dan mau ngehias kamarnya. Tiga puluh menit setelah dia pergi, Winter masih sempet chat aku ngabarin kalo dia abis kecelakaan dan lagi di rumah sakit. Katanya, motornya ditabrak mobil yang remnya blong sampai dia terpental. Untungnya, karena dia pake helm jadi nggak luka parah. Cuma lecet dikit dan kepala pusing karena terbentur aja katanya. Tapi pas aku sampai di rumah sakit, Winter udah masuk ICU. Kata dokter, Winter sempat muntah-muntah terus nggak sadarin diri. Ternyata ada pendarahan di kepalanya yang ngebuat dia koma. Dokter langsung mutusin buat operasi saat itu juga.”

Penjelasan Giselle selama di perjalanan menuju rumah sakit tentang alasan menghilangnya Winter seminggu ke belakang masih terngiang-ngiang di telinga Karina yang kini tengah berlari menuju kamar ICU tempat Winter dirawat. Ia segera turun di lobi rumah sakit meninggalkan Giselle yang masih harus mencari lahan parkir.

“TERUS KAMU KENAPA NGGAK NGABARIN AKU TENTANG KEADAAN WINTER, GI?” teriak Karina sambil memukul pundak Giselle berkali-kali, “KENAPA KAMU MALAH SEMBUNYIIN SEMUANYA DAN NGILANG GITU AJA DARI AKU?” tangisnya kembali pecah mendengar penjelasan dari Giselle. Satu minggu waktunya terbuang sia-sia begitu saja. Satu minggu yang seharusnya bisa ia manfaatkan untuk selalu berada di sisi Winter.

“Maafin aku, Rin. Aku emang bodoh banget bukannya ngabarin kamu malah ngikutin kemauan Winter. Sebelum Winter jatuh koma, dia ternyata sempat ninggalin catatan buat aku. Kalau sampai terjadi apa-apa sama dia, aku nggak boleh ngabarin kamu tentang keadaannya sedikit pun. Winter nggak mau kamu ngeliat keadaan dia yang kaya sekarang.” Giselle menggenggam tangan Karina, meremasnya kencang mencoba memberikan kekuatan.

“Setiap hari aku selalu kepikiran, Rin. Aku ngerasa jahat banget sama kamu karena udah nyembunyiin semuanya. Aku ngerasa bersalah karena nggak ngasih kesempatan kamu untuk nemenin Winter di saat-saat terakhirnya. Dokter bilang, kalo dalam seminggu ke depan Winter belum sadar juga pasca operasi, Do-Dokter nyaranin un-untuk…” Giselle tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya seakan tercekat membuatnya kesulitan bernafas. Yang lebih muda membiarkan Karina menekan kukunya dalam pada kulit tangannya, merelakan diri sebagai pelampiasan atas rasa penyesalannya.

“Kamar 101…” Karina kini berdiri tepat di depan kamar ICU tempat Winter dirawat. Tangannya bergetar memegang gagang pintu, tak kuasa untuk membukanya, membayangkan tubuh Winter yang terbaring lemah dipenuhi alat bantu medis.

“Mau aku temenin, Rin?” tanya Giselle yang langsung berlari menyusul Karina setelah berhasil memarkirkan mobilnya.

Karina menggelengkan kepalanya. Sambil menghirup nafas dalam-dalam, ia beranikan diri mendorong pintu yang menghubungkan dirinya dengan Winter.


Tut… Tut… Tut… Tut…

Hati Karina bertambah remuk saat menginjakan kakinya di kamar ICU tempat Winter dirawat. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana yang lebih muda terbaring lemah tak sadarkan diri dengan selang ventilator terpasang pada mulutnya. Kain perban tampak membalut kepalanya, menutupi luka pasca operasi pembedahan otak. Dan pipi tembamnya yang sering Karina cubit karena gemas terlihat semakin tirus setelah seminggu menjalani perawatan.

Karina menarik kursi penunggu lalu duduk di sebelah ranjang Winter sambil menggenggam tangannya yang bebas dari alat-alat medis.

“Maafin aku baru datang sekarang ya, Win,” ucap Karina sambil ibu jarinya mengusap buku tangan yang lebih muda.

“Maaf karena aku terlalu egois sampai kamu kecelakaan kaya gini. Seharusnya aku nggak nurutin kata hatiku untuk ngungkapin perasaan aku ke kamu. Seharusnya aku pendam semuanya biar kamu nggak kena malapetaka. Kenapa harus kamu yang kena padahal semuanya salah aku. Seharusnya aku yang ngalamin ini semua, Win.”

Air mata kembali mengalir membasahi kedua pipi Karina. Ia tundukan kepalanya, menempelkan keningnya pada genggaman tangannya dan Winter, meminta maaf sekali lagi karena melanggar janjinya. Sebelum masuk kamar ICU, Karina sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menangis di hadapan yang lebih muda. Ia berjanji untuk selalu tersenyum agar Winter merasa bangga saat melihatnya. ‘Just keep smiling, Karina. And one day, life will get tired of upsetting you.’ Kalimat yang Winter berikan saat pertemuan pertama mereka dulu terus terngiang-ngiang di benak Karina. “Gimana aku bisa senyum kalo salah satu penyemangat hidupku ada di batas antara hidup dan mati, Win,” batin Karina.


“Rin, bangun. Makan dulu, yuk. Abis itu baru temenin Winter lagi.” Giselle menepuk-nepuk pundak yang lebih tua. Ia usap rambutnya, membangunkan Karina yang tertidur akibat lelah karena menangis seharian dalam genggaman Winter. Belum lagi jadwal tidurnya yang memang berantakan semenjak ia kehilangan jejak Winter.

“Aku nggak laper, Gi. Aku di sini aja nemenin Winter. Takut Winter nyariin aku pas bangun,” ucap Karina yang tidak rela meninggalkan sisi Winter walaupun sedetik saja.

“Kamu nggak mungkin nggak laper, Rin. Udah hampir 12 jam kamu nemenin Winter. Bangun cuma untuk ke toilet aja. Makan dulu yuk sebentar. Kalo kamu sakit, nanti yang nemenin Winter siapa?”

Mendengar ucapan Giselle, Karina akhirnya mengalah dan ikut Giselle untuk makan di kantin rumah sakit.


“Orang tua Winter di mana, Gi? Kok dari tadi siang aku dateng belum ngeliat sama sekali ya? Mereka udah balik ke kampung?” tanya Karina heran saat keduanya telah selesai makan dan sedang berjalan kembali ke kamar Winter. Namun, Giselle hanya diam saja lalu menarik tangan Karina untuk duduk di depan kamar Winter terlebih dahulu.

“Ehm… Sebenarnya bukan tempatnya aku buat ceritain tentang hal ini ke kamu. Tapi aku rasa udah waktunya buat kamu tahu hal yang sebenarnya. Sebelumnya aku mau minta maaf dulu sama kamu…”

Karina mengerutkan keningnya mendengar jawaban Giselle yang berbelit padahal ia hanya bertanya tentang keberadaan orang tua Winter.

“Bukan maksud Winter buat bohongin kamu selama ini. Winter cuma nggak suka karena selama ini orang-orang selalu memandang dia dengan tatapan kasihan setiap tahu keadaan yang sebenarnya.” Giselle menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.

“Orang tua Winter dua-duanya udah meninggal sejak dia balita, Rin. Mereka ngalamin kecelakaan dalam perjalanan ke luar kota yang menyebabkan orang tuanya kehilangan nyawa dan Winter harus kehilangan kemampuan berbicara karena ada gangguan pada otaknya akibat benturan dari kecelakaan itu.”

Kepala Karina berputar hebat mendengar penjelasan dari Giselle tentang kehidupan Winter yang sebenarnya. Hatinya terenyuh saat mengetahui Winter yang selama ini selalu tampak ceria dengan senyuman secerah matahari dan jiwa secantik bunga edelweiss ternyata memiliki banyak luka selama hidupnya. Seketika dirinya merasa malu seringkali mengeluh tentang hal-hal kecil kepada Winter.

“Dan alasan Dokter untuk ngelepas semua alat bantu di tubuh Winter kalau dia belum sadar juga 1 minggu pasca operasi karena Winter pernah ngejalanin operasi otak di posisi yang sama. Kata dokter, kemungkinannya kecil untuk dia bisa kembali setelah 2x ngejalanin operasi otak.”

“Walaupun kecil tapi masih ada kemungkinan kan, Gi? Kalo Winter masih mau berjuang untuk main sama kita lagi, kita nggak boleh nyerah gitu aja kan?” Karina mencoba meyakini Giselle bahwa masih ada kesempatan untuk Winter berkumpul bersama mereka lagi. Atau Karina mencoba meyakini dirinya sendiri?

“Iya, Rin. Walaupun kecil masih ada kesempatan. Tapi kita juga harus realistis. Kalau misalnya sampai batas waktu yang ditentukan belum ada tanda-tanda perubahan dari Winter sama sekali, mungkin udah saatnya kita untuk ngeikhlasin dia.”

“Tapi aku yakin Winter masih berusaha untuk kembali sama kita, Gi. Aku nggak tahu gimana ngejelasinnya, tapi aku bisa ngerasainnya waktu megang tangan dia tadi.” Karina menepuk-nepuk dadanya meyakinkan Giselle tentang rasa asing yang muncul saat ia bersentuhan dengan Winter.

“Aku percaya sama kamu. Mungkin ini salah satu cara Winter untuk berkomunikasi sama kita. Terima kasih ya Rin karena selalu ada buat Winter. Semenjak kenal kamu, Winter kelihatan lebih bahagia ngejalanin hidupnya.” Karina menarik tubuh Giselle ke dalam dekapannya, memeluknya erat sambil berucap, “Justru aku yang berterima kasih banget sama Winter. Dia salah satu alasan aku untuk semangat ngejalanin hidupku.”


Enam hari telah berlalu sejak Karina mengetahui keberadaan Winter yang sebenarnya. Sudah enam hari juga ia tidur di rumah sakit, meninggalkan Winter hanya saat ia pergi ke kantor setelah bergantian dengan Giselle untuk menjaga Winter. Setiap jam, Giselle selalu memberi laporan kepada Karina-sesuai permintaannya-tentang kondisi yang lebih muda.

“Terima kasih ya, Sus,” ucap Karina kepada Suster yang baru saja memindahkan saluran infus dari tangan kiri ke tangan kanan Winter karena pembuluh darahnya yang membengkak setelah 1 minggu ditusuk jarum infus pada posisi yang sama.

Karina mengangkat kursi tempat ia biasa duduk menemani Winter, memindahkannya ke sisi tangan Winter yang bebas jarum infus agar ia bisa dengan leluasa menggenggam tangannya.

Karina meraih ponselnya di kantong, memainkan lagu Lay Your Head on Me yang selalu ia putar setiap hari sejak Winter mengenalkan padanya. Sambil menyenandungkan lagu yang diputar-berharap Winter dapat mendengar suaranya di dalam tidur-Karina meraih tangan Winter, mengusap buku tangannya yang sedikit bengkak bekas jarum infus.

Saat Karina sedang fokus memijat jari jemari Winter agar aliran darahnya lebih lancar, matanya tiba-tiba tertuju pada goresan hitam kecil pada jari manis yang lebih muda. Jari yang selama ini selalu Winter lapisi plester dengan alasan untuk menutupi luka. Sambil mengarahkan cahaya senter dari ponselnya agar terlihat lebih jelas, Karina membaca perlahan goresan yang ternyata adalah sebuah tulisan.

Sunshine After The Rain

FLASHBACK

“Luka kamu kok nggak sembuh-sembuh sih, Win? Udah diperiksa ke dokter?” tanya Karina saat mengunjungi Winter sepulang kampus di siang hari bolong ketika yang lebih muda mengantarkan minuman pesanannya.

Winter mengernyitkan keningnya, tampak bingung dengan pertanyaan yang lebih tua. Karina menarik tangan kiri Winter, mengusap lembut jari manisnya yang ditutupi plester.

“Sorry, Win. Sakit banget ya?” tanya Karina khawatir saat Winter menarik tangannya dengan cepat.

Winter menggelengkan kepalanya sambil cengengesan. Ia buru-buru pamit saat ada pembeli yang baru saja datang dan sudah siap untuk memesan.


“Sebentar deh.” Karina melepaskan genggaman tangan Winter, melewati tubuh yang lebih muda yang sedang berbaring di kasurnya untuk mengambil sebuah plester di laci nakas lalu kembali ke posisinya di sisi dalam kasur.

“Kamu tuh ya, kalo nginep di sini suka kebiasaan nggak bawa plester ganti deh. Kapan sembuhnya kalo dibiarin basah gini.” Karina menarik tangan Winter bersiap melepas plester basah yang masih menempel pada jari gadis di depannya.

Dengan sekuat tenaga, Winter menarik jarinya dari genggaman Karina, tak ingin yang lebih tua membuka plesternya. Namun, tenaga Karina ternyata lebih kuat darinya membuat Winter kewalahan. Tidak memiliki cara lain untuk menghindar, Winter menggigit pergelangan tangan Karina, membuat yang lebih tua terpaksa melepas genggamannya.

“ISSHHHH… Kamu tuh kenapa sih selalu ngehindar kalau mau aku gantiin plesternya? Emang bakal keluar jin apa kalo aku buka?” ucap Karina kesal sambil mengusap bekas gigitan di pergelangannya. “Tuh pake sendiri sana. Aku tidur duluan.” Karina melempar plester di tangannya ke paha Winter kemudian berbaring menghadap dinding, memunggungi Winter yang merasa bersalah.

Setelah selesai mengganti plester di jari manisnya, Winter ikut berbaring menghadap Karina. Ia telusupkan tangan kirinya mencari kehangatan di perut gadis di depannya sambil menempelkan wajahnya di punggung yang lebih tua, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam yang memberikan ketenangan untuknya. Karina tersenyum saat merasakan dekapan gadis di belakangnya. Ia sematkan jari jemari keduanya saling menggenggam satu sama lain.

END OF FLASHBACK

Sunshine after the rain… Sunshine after the rain… Sunshine after the rain…” Kepala Karina berputar hebat saat menyadari goresan di jari manis Winter yang selama ini selalu ditutup-tutupi adalah kalimat pertama yang ia ucapkan saat melihat senyum manis Winter di siang hari itu. Luka yang selama ini Winter sembunyikan darinya adalah markah yang membuktikan bahwa keduanya adalah soulmate.

💙: Apalagi yang kamu dan Winter sembunyiin dari aku, Gi?

🌙: Malam juga, Rin Kamu belom tidur?

💙: Nggak usah ngalihin pembicaraan, Gi Apalagi yang kalian berdua sembunyiin dari aku?

🌙: Maksud kamu apa sih, Rin? Aku nggak ngerti

Karina mengirim foto jari manis Winter yang bertuliskan ‘Sunshine after the rain’

💙: Masih nggak ngerti juga?

🌙: Ini tangan siapa? Winter?

💙: Iya Dan tulisan di jarinya itu ucapan pertama aku ke Winter SEBENERNYA KAMU TAHU KAN KALO WINTER ITU SOULMATE AKU?

🌙: Demi Tuhan, aku nggak tahu apa-apa, Rin Aku baru tahu semuanya sekarang Winter nggak pernah cerita apa-apa tentang tatonya ke aku

💙: Udahlah. Aku capek Aku titip Winter ya, Gi

🌙: Kamu mau ke mana? Waktu Winter udah nggak banyak, Rin

💙: Aku butuh waktu, Gi Aku butuh waktu untuk nerima semuanya Aku butuh waktu untuk nerima kalo Winter selama ini nutup-nutupin kenyataan bahwa aku itu soulmate-nya

🌙: Mungkin Winter punya alasan lain belum bisa ngasih tahu kamu, Rin

💙: Aku pamit, Gi

Karina menutup aplikasi pesan, mematikan ponsel di tangannya lalu merapikan barang-barang yang ia bawa selama menemani Winter di rumah sakit. Setelah mengecek semua barangnya jangan sampai ada yang tertinggal, Karina menghampiri Winter yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Ia kecup kening yang lebih muda untuk berpamitan lalu melangkah perlahan meninggalkan ruangan tempatnya tinggal 1 minggu terakhir. Tanpa menyadari air mata menetes dari sudut mata Winter saat Karina menutup pintu kamar ICU.


“Tumben kamu ngajak aku keluar malam-malam gini, Win,” ucap Karina sambil mengencangkan jaket pada tubuhnya, mencoba menghangatkan diri dari dinginnya angin malam.

Sepulangnya dari kantor, saat ia baru saja akan membuka pagar kosan, Winter tiba-tiba muncul dengan nafasnya yang tersengal-sengal setelah berlari dari coffee shop sampai ke kosannya. Winter lalu mengajak Karina pergi ke lapangan tidak jauh dari kosannya untuk membicarakan hal penting.

“Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu, Rin.”

Di bawah sinar rembulan dengan diiringi suara jangkrik, Winter menarik tangan kanan Karina lalu mengarahkan jari telunjuk yang lebih tua ke jari manis yang selama ini selalu ia tutupi plester.

“Masih sakit?” Karina mengusap perlahan jari yang lebih muda.

Winter menggelengkan kepalanya. Ia tuntun jari Karina untuk melepas plester yang selama ini menutupi jarinya. Yang lebih muda mengeluarkan ponsel dari kantongnya lalu mengarahkan cahaya senter ke jari manisnya.

“Kamu inget kan kalimat yang pertama kali kamu ucapin waktu ngeliat aku?” Karina menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

“Maaf aku baru berani jujur ke kamu sekarang. Aku selama ini nutupin semuanya karena aku nggak mau kehilangan kamu. Aku takut semua orang yang aku sayang bakalan pergi dari hidup aku. Aku takut kamu akan pergi ninggalin aku kaya orang tua aku.” Winter menundukan kepalanya sambil terisak. Hatinya terasa lega akhirnya dapat mengatakan kebenaran setelah menyimpannya sekian lama.

“Makasih kamu udah mau jujur sama aku ya.” Karina menangkupkan kedua tangannya ke pipi Winter. Ia angkat kepalanya hingga kedua mata mereka saling bertemu lalu ia usap air mata yang membasahi pipi yang lebih muda.

“Tapi maaf semuanya udah telat, Win. Takdir kita udah berubah. Aku udah bukan milik kamu lagi.” Karina menunjukan tato pada bawah siku tangan kanannya. Tato kumpulan lambang ~ (tak terdefinisi) yang membentuk nama Winter sebagai tanda bahwa ikatannya dengan Winter sudah berakhir.

“Nggak, Karin. Kita masih bisa mengubah takdir kita. Aku udah jujur ke kamu. Aku masih milik kamu dan kamu milik aku,”

“Sayangnya nggak semudah itu, Winter. Waktu kita udah habis. Kecelakaan yang kamu alami itu hasil yang kamu dapatkan karena kamu dari awal nggak jujur ke aku. Selama satu tahun kita kenal, kamu selalu nutupin kalau kamu soulmate aku. Kamu sendiri yang dari awal mengubah takdir kita. Kamu yang ngebuat kita nggak bisa bersatu.”

Karina menarik tubuh Winter ke dalam dekapannya. Memeluk tubuhnya erat untuk yang terakhir kali sebelum takdir memisahkan keduanya secara nyata.

“Aku pamit ya. Jaga diri kamu baik-baik. Kalau di kehidupan selanjutnya kita dipertemukan kembali, aku tetap berharap kamu adalah soulmate aku.”

Karina melepaskan pelukannya dari tubuh Winter. Ia kecup kening yang lebih muda untuk yang terakhir kali. Lalu pergi meninggalkan Winter yang terjatuh ke tanah sambil menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya.


“Dokter! Suster! Winter kejang-kejang, Suster! Dokter!” Giselle yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung memencet bel pasien lalu berteriak sambil berlari keluar kamar ICU untuk meminta pertolongan.

Dokter dan Suster yang sedang berjaga di bangsal ICU segera berlari membawa peralatan medis ke kamar Winter untuk melakukan pertolongan. Giselle yang dilarang masuk ke kamar berusaha menghubungi Karina yang sudah menghilang seminggu lamanya.

Karin, please aktifin handphone-nya. Waktu Winter udah nggak banyak, Rin,” batin Giselle berusaha menghubungi Karina.

Sudah seminggu Giselle kehilangan jejak Karina sejak yang lebih tua meninggalkan ruang tempat Winter dirawat. Sudah seminggu juga ia memohon kepada Dokter untuk membiarkan alat bantu medis tetap terpasang di tubuh Winter. Giselle sudah berusaha meneleponnya namun hasilnya nihil. Teleponnya selalu dialihkan ke kotak suara. Sudah berkali-kali juga ia datang ke kosan Karina untuk mengeceknya. Namun, hasilnya juga nihil. Bahkan ia sudah meminta bantuan kepada Pak Mamat penjaga kosan Karina untuk menghubunginya jika Karina sudah kembali. Dan sampai saat ini Karina masih hilang bagai ditelan bumi.

“Karina, ayo dong nyalain- Halo? Karina? Rin, cepetan ke rumah sakit sekarang! Winter ke-”

BRUK

Giselle menoleh ke belakang saat mendengar suara barang terjatuh. Di belakangnya, sosok yang seminggu ke belakang sempat menghilang ditelan bumi baru saja menjatuhkan barang bawaannya dan berlari ke arahnya.

“Gi, Winter kenapa?” tanya Karina panik sambil menggoyangkan kedua pundak Giselle.

“Winter kejang-kejang, Rin. Dokter sama Suster lagi berusaha ngasih pertolongan. Seminggu terakhir kondisi Winter menurun banget. Kata Dokter, Winter udah-”

“Keluarga Nona Winter?” panggil Dokter memotong omongan Giselle.

“Saya keluarganya, Dok. Gimana keadaan Winter sekarang?” tanya Giselle sambil berusaha menenangkan Karina yang menangis di sampingnya.

“Puji Tuhan, keajaiban baru saja terjadi. Nona Winter telah melewati masa kritisnya dan saat ini sudah dalam keadaan sadar.”

“Alhamdulillah. Saya boleh masuk ke dalam, Dok?” tanya Karina sambil tersenyum bahagia walaupun air mata masih terus mengalir membasahi pipinya.

“Kami masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalau sudah selesai, pihak keluarga dapat menemui pasien di dalam. Saya permisi dulu,” ucap Dokter masuk kembali ke ruang perawatan Winter.

“Terima kasih banyak, Dok.”

“Dokter, terima kasih.”

Ucap Karina dan Giselle secara bersamaan. Karina langsung memeluk tubuh Giselle erat merasa lega setelah mendengar penjelasan Dokter.

“Gi, maafin aku udah pergi gitu aja ninggalin kamu sama Winter tanpa kasih kabar apapun.”

“Nggak apa-apa, Rin. Aku tahu kamu butuh waktu untuk mencerna semuanya. Yang penting sekarang kamu udah di sini dan Winter udah balik sama kita lagi,” ucap Giselle melepas pelukan Karina lalu mengusap air mata yang membasahi pipi gadis di depannya.


Mata Winter bergerak mengikuti langkah kaki Karina yang berjalan perlahan menghampirinya. Tubuhnya masih terasa lemas setelah tidur panjang selama kurang lebih 3 minggu.

“Hai, Win,” sapa Karina mengambil posisi duduk di sebelah kiri Winter. Posisi terakhirnya sebelum ia pergi meninggalkan yang lebih muda 1 minggu lalu.

“Terima kasih ya udah berjuang sejauh ini. Terima kasih udah mau bertahan sampai sekarang. Aku bangga banget sama kamu.” Karina menggenggam tangan Winter erat lalu menciumnya lekat seakan bersyukur sekaligus berterima kasih karena Winter kini telah kembali ke sisinya lagi.

Winter menarik tangan Karina dalam genggamannya ke atas perut. Mengusapnya perlahan dengan tangan kanannya yang masih menempel jarum infus lalu menepuknya 2 kali untuk meminta Karina memperhatikannya. Winter melepaskan genggamannya, menunjukkan tato di jari manisnya yang selalu ia tutup plester sambil tangan kanannya ia kepalkan sedikit lalu ia putar berkali-kali di depan dadanya sebagai permintaan maaf karena membohongi Karina selama ini.

Karina tersenyum melihat gerakan tangan Winter, “Kamu nggak perlu minta maaf, Win. Aku tahu kamu pasti punya alasan ngelakuin semua ini. Jangan pernah ngerasa bersalah ya. Yang penting, sekarang kita udah bersama lagi. Terima kasih ya udah jujur ke aku,” ucap Karina sambil mengusap tato di jari manis Winter. “Walaupun telat banget,” ledek Karina membuat Winter menangis di hadapannya.

“Ya ampun. Aku bercanda doang, Win. Mendingan telat daripada nggak sama sekali kan?” ucap Karina sambil mengusap air mata Winter dengan tisu di tangannya.

“Sayang, udah dong jangan nangis terus. Aku nggak maksud bikin kamu nangis.” Panggilan sayang Karina justru membuat tangis Winter semakin kencang karena rasa terharu yang ia rasakan.

“Winter sayang, udah ya nangisnya. Aku nggak marah sama kamu. Aku beneran bercanda doang tadi.” Kali ini giliran Karina yang ikut menangis karena merasa bersalah mengira sudah menyakiti perasaan Winter dengan ucapannya.

Winter menggelengkan kepalanya. Ia arahkan jari telunjuk ke dadanya, mengepalkan kedua tangannya dan menggoyangkan naik turun di depan mata lalu membuka kepalan kedua tangannya dan menggerakannya di atas kepala untuk menunjukkan bahwa dirinya menangis karena terharu dengan panggilan sayang Karina.

Karina yang bingung hanya membuka mulutnya sambil menangis. Merasa kehabisan akal untuk memberi tahu yang lebih tua maksud dibalik tangisnya, dengan malu-malu Winter mengangkat ibu jari, telunjuk dan kelingkingnya secara bersamaan lalu memutar tangannya yang berarti ‘I Love You’.

Bukannya senang, Karina yang belum banyak mengetahui tentang bahasa isyarat justru semakin bingung dan segera mengeluarkan ponselnya mengira Winter ingin mendengarkan lagu metal. Ia pun segera memutar lagu metal yang ia temukan di youtube.

Giselle yang baru saja kembali setelah bertemu dengan Dokter kaget melihat keadaan kamar ICU di mana kedua temannya sedang menangis sambil mendengarkan lagu metal. Ia segera mengambil handphone di tangan Karina dan memberhentikan lagu yang sedang diputar.

“Karina! Winter masih butuh istirahat kok malah dipasangin lagu metal sih?” bentak Giselle. “Terus kalian berdua kenapa nangis sambil dengerin lagu metal?” tanya Giselle heran melihat tingkah kedua temannya.

“Aku salah ngomong sampe ngebuat Winter nangis, Gi. Terus dia minta diputerin lagu metal biar nggak nangis lagi.”

“HAH?”

Winter menggelengkan kepalanya cepat. Ia arahkan jari telunjuknya ke dada lalu mengarahkannya ke Karina kemudian mengangkat ketiga jarinya seperti tadi dan menggoyangkannya berkali-kali. Giselle yang sudah sangat paham dengan bahasa isyarat langsung tertawa terbahak-bahak melihat penjelasan Winter. Ia bisikkan arti dari gerakan Winter ke telinga Karina hingga membuat yang lebih tua tersipu malu mendengarnya.


Dua minggu telah berlalu sejak Winter bangun dari tidur panjangnya. Saat ini dirinya telah dipindahkan dari kamar ICU ke kamar rawat inap biasa berkat progres kesembuhannya yang sangat bagus. Dan selama itu juga Winter harus mengikuti terapi berjalan untuk mengembalikan kekuatan kakinya mengingat dirinya hanya berbaring di tempat tidur selama 3 minggu. Untungnya, tidak ada dampak lain yang Winter dapatkan setelah 3 minggu koma.

Giselle sedang menyuapkan buah ke mulut Winter ketika Karina datang sepulang kerja dengan muka kusut.

“Kalo udah ketemu soulmate masih bisa diubah lagi nggak sih, Gi?” tanya Karina setelah duduk di sofa tempat ia biasa tidur saat menginap menemani Winter.

“Kalo ngomong hati-hati, Rin. Kalian berdua udah ngerasain gimana nggak enaknya saat harus berpisah. Nggak mau kan keulang lagi hal yang sama.” Giselle menarik turunkan alisnya sambil bertanya kenapa ke Winter. Namun, yang lebih muda sama bingungnya dan hanya menggelengkan kepalanya.

“Perasaan pas kemarin kamu balik, semuanya baik-baik aja. Bahkan kalian sempet pelukan lama banget,” ucap Giselle heran melihat tingkah Karina hari ini.

“JUSTRU ITU, GI!” ucap Karina sambil berlari ke kamar mandi.

FLASHBACK

“Sayang, aku pulang dulu. Takut keburu malam. Besok aku ke sini lagi sekalian nginep ya.” Karina mengusap kepala Winter lalu beranjak dari duduknya untuk bersiap-siap karena hari ini adalah giliran Giselle yang menemani Winter.

Winter menarik tangan Karina melarangnya pulang. Ia pasang wajah cemberut, berharap yang lebih tua akan luluh melihat tingkahnya.

“Jangan cemberut gitu dong. Besok sampai Minggu kan aku bakalan nginep di sini.”

Winter menggelengkan kepalanya masih sambil menarik tangan Karina.

“Ututututu. Manja banget sih yang mau ditinggal pulang. Sini aku peluk yang lama biar rasanya masih nempel sampe aku balik besok ya.”

Sambil berdiri, Karina menarik tubuh Winter ke dalam dekapannya. Membiarkan yang lebih muda menempelkan kepala di dadanya, berharap suara detak jantungnya dapat memberikan ketenangan kepada Winter.

“Hmmukk.”

“Kamu ngomong sesuatu, sayang?” Karina melepaskan Winter dari dekapannya. Ia merasa terharu karena untuk pertama kalinya selama mengenal Winter, dirinya bisa mendengar suara yang lebih muda. Walaupun ucapannya tidak terlalu jelas.

Winter menggelengkan kepalanya sambil tersipu malu lalu kembali menempelkan kepalanya ke dada Karina.

“Udah sih pelukannya. Kalo sampe nempel beneran nggak bisa lepas baru tahu rasa loh,” ucap Giselle yang sudah sedikit muak melihat kemesraan kedua temannya setiap hari.

“Aku balik ya. Besok secepat mungkin aku datang ke sini.” Karina mengecup bibir Winter lalu pulang kembali ke kosannya.

END OF FLASHBACK

Lima menit berlalu, Karina keluar dari kamar mandi setelah mencuci mukanya untuk menghapus riasan wajah dengan handuk yang diikat menutupi kepala hingga lehernya. Sambil mengerucutkan bibirnya, ia membuka ikatan handuknya.

“Rin? Seriusan? HAHAHAHAHAHAHA.” Giselle tidak dapat menahan tawanya saat melihat sebuah goresan pada rahang kanan Karina.

“Giii… Jangan ketawain aku,” rengek Karina dengan mata berkaca-kaca.

“Semua karena temen kamu ya.” Karina menunjukan jarinya ke arah Winter lalu menghentakan kakinya kesal sambil berjalan ke sofa.

Winter yang bingung melihat kelakuan teman dan soulmate-nya langsung turun dari tempat tidur, berjalan perlahan menghampiri Karina. “JANGAN DEKET-DEKET AKU!” bentak Karina saat melihat Winter berjalan ke arahnya.

Namun, Winter tidak menghiraukannya. Ia ambil posisi duduk di sebelah kanan Karina sambil tangannya mengusap tato di rahang yang lebih tua.

“Nyan-ti’,” ucap Winter sedikit terbata-bata sambil tersenyum. (Re: Cantik.)

“Kamu jangan ngeledek aku ya!”

Winter menggelengkan kepalanya. “Ham-mu be-ne-an nyan-ti’, A-yin.” (Re: Kamu beneran cantik, Karin.)

“Seharusnya, kamu bilang aku cantik itu kemarin, Winter. Saat kamu pertama kali ngucapin kata ke aku.” Karina memijat kepalanya yang berdenyut kencang. “Kamu punya tato bagus 'Sunshine after the rain' sedangkan aku…” ia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik nafas panjang.

“Bisa-bisanya kamu ngucapin 'empuk' sebagai kata pertama kamu ke aku. Bisa-bisanya pertama kalinya kamu ngomong langsung ke aku karena kamu ngerasa nyaman sama dada aku.”

“HAHAHAHAHAHAHA. Seumur hidup nggak pernah aku lihat tato orang tulisannya empuk, Rin,” ledek Giselle yang langsung menahan tawanya saat Karina melemparkan tatapan mautnya.

“A-yin, ma-abin a-wu ya. A-wu be-ne-yan eng-nga’ eng-nga-ja om-mong it-tu e am-mu. E-ha-wu-a a-wu eng-nga’ uh-ah om-mong ap-ba ap-ba em-ma-yin,” ucap Winter dengan mata berkaca-kaca sambil menundukan kepalanya, merasa bersalah kepada Karina. (Re: Karin, maafin aku ya. Aku beneran nggak sengaja ngomong itu ke kamu. Seharusnya aku nggak usah ngomong apa-apa kemarin.)

Hati Karina terenyuh mendengar ucapan yang lebih muda. Dirinya menyadari sikapnya yang terlalu egois padahal Winter sudah mengumpulkan keberanian untuk akhirnya berbicara langsung tanpa bantuan alat tulis seperti biasa. Bukankah dengan Winter yang mulai berbicara kepadanya berarti Winter telah memberikan kepercayaan yang sangat besar kepada dirinya.

Karina menangkup wajah Winter dengan kedua tangannya. Sambil mengusap pipi gadis di depannya ia berkata, “Winter, kamu jangan minta maaf ya. Aku yang seharusnya minta maaf karena terlalu berlebihan sama kamu. Aku suka dengar suara kamu. Aku nggak masalah dengan tato di rahang aku. Aku masih bisa nutupin tatonya pake bedak atau aku juga bisa nunjukin tato ini ke semua orang kalo aku milik kamu.”

Karina mengecup bibir Winter lalu meletakan kepalanya di atas dadanya, mengusap pelan punggung dan rambut yang lebih muda sambil sesekali memberikan kecupan pada kepalanya.

“Mulai sekarang, kamu nggak perlu post-it lagi untuk ngobrol sama aku ya. Maaf bahasa isyarat aku masih belom lancar. Aku akan terus belajar biar kamu nyaman ngobrol sama aku. Aku juga suka banget dengar suara kamu. Don’t be shy and let me hear your voice, please.” Karina mengencangkan dekapannya pada Winter membuat yang lebih muda tersenyum.

“A-yin,” panggil Winter sambil melepaskan dekapan Karina dari tubuhnya, “Eyim-ma ah-ih ya ham-mu u-wah eyim-ma a-u ap-ba ad-danya.” (Re: Terima kasih ya kamu udah terima aku apa adanya.) Mata Karina berkaca-kaca mendengar ucapan Winter. Begitu pun dengan Giselle yang sedari tadi memerhatikan obrolan kedua temannya.

“Da-da ham-mu ben-ne-yan em-huk,” lanjut Winter sambil tertawa cengengesan membuat Karina murka. (Re: Dada kamu beneran empuk.)

“YAAAAAAAH!!! BENER-BENER YA KAMU, WIN! MINTA BANGET AKU SMACK DOWN!” Karina menarik kepala Winter lalu mendekapnya kencang pada dadanya membuat Winter berontak karena tidak bisa bernafas.

“Hadeh. Kesempatan banget kalian berdua. Aku pulang aja deh ya kalo gitu. Selamat melanjutkan smack down-nya. Jangan kebablasan, takut ada suster masuk,” ucap Giselle meninggalkan kamar rawat inap Winter sambil menggelengkan kepalanya. “I’m so happy for both of you,” batin Giselle melihat kebahagiaan kedua temannya itu. Ia pun selalu berharap akan segera menemukan belahan jiwanya seperti Winter dan Karina.

Sorry!”

“Maaf!”

Giselle terkejut saat ia membuka pintu dan mendapati sebuah kereta dorong berisi obat-obatan yang sedang didorong oleh seorang suster hampir saja menabraknya.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya suster bersuara lengking itu. Sang suster mendekati Giselle sambil mengecek kondisinya dengan rasa khawatir.

“Nggak apa-apa kok. Untungnya nggak kena. Aku cuma kaget aja, Sus-” Giselle melirik name tag yang menempel pada seragam Suster tersebut, “Suster Ning,” ucap Giselle sambil tersenyum lebar.

“Syukurlah kalo kamu nggak apa-apa. Maaf banget ya aku nggak hati-hati. Hari ini, hari pertama aku. Jadi aku belum terbiasa sama semuanya.”

“Iya, Sus. Nggak apa-apa kok. Aku pamit dulu ya. Takut keburu kemalaman.” Giselle membungkukkan tubuhnya, berpamitan kepada Suster Ning.

“Tunggu! Nama kamu siapa?” tanya Suster Ning sambil menarik tangan Giselle sebelum sempat menjauh.

“Aku Giselle,” ucap Giselle sambil menjulurkan tangannya.

“Ning,” Suster Ning ikut menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Giselle, “Sekali lagi aku minta maaf ya, Mbak Giselle. Kalo kita ketemu lagi, aku bakalan traktir kamu di cafe depan rumah sakit. Hati-hati di jalan ya!” Suster Ning mempersilahkan Giselle untuk melanjutkan perjalanannya.

Sambil tersenyum, Giselle dan Ning berjalan menjauh satu sama lain. Tanpa menyadari sebuah takdir baru saja mengikat hidup keduanya.

“YA AMPUN! PASIEN SAYA JANGAN DIKEKEP GITU, MBAK!” teriak Suster Ning panik saat masuk ke kamar perawatan Winter untuk memberikan obat dan mendapati Winter sedang mengangkat kedua tangannya untuk meminta tolong dengan kepalanya yang masih didekap Karina di dadanya.