Love Isn't For Everyone?

Sore itu Winter tiba di rumahnya pukul 17.00. Dua jam lebih awal dari waktu makan malam yang ditentukan ayahnya. Ia sengaja datang lebih awal —setelah selesai mengurus berkas di kampusnya—karena ingin bermain-main sebentar di kamarnya setelah hampir 4 tahun tidak pulang ke rumah.

Setelah melepas kangen dengan bibi yang biasa mengurus rumah, Winter segera naik ke lantai 2 menuju kamarnya.

Tidak banyak yang berubah dari kamar yang ditinggal penghuninya selepas lulus SMA itu. Barang-barangnya masih tertata rapi seperti saat ia meninggalkannya.

Winter berkeliling kamarnya, mencoba mengenang kembali memorinya di kamar itu. Setelah puas bernostalgia, Winter merebahkan tubuhnya di spot favoritnya. Tidak lama kemudian Winter pun terlelap di kasurnya.


Winter terbangun oleh suara ketukan dari pintu kamarnya.

“Non, ditunggu bapak di meja makan.”

“Iya bi, aku cuci muka dulu sebentar,” ucap Winter bergegas menuju kamar mandi.

Setelah mengeringkan mukanya dengan handuk dan merapikan pakaiannya, Winter bergegas turun ke lantai bawah.

“Kamu sampai di rumah jam berapa tadi?” tanya ayah Winter membuka pembicaraan sambil menyendokan nasi ke piringnya.

“Jam 5, pa. Tadi abis ngurus-ngurus berkas di kampus langsung mampir ke sini,” ucap Winter sambil memilih lauk yang diinginkannya.

“Jadwal wisuda kamu sudah keluar?”

“Belum ada kepastian, pa. Tapi kalo nggak salah sekitaran akhir Agustus.”

“Akhir Agustus kemungkinan papa lagi nggak di sini. Nanti kamu kabarin papa aja kalo ada yang harus dibayar untuk wisuda.”

“Iya, pa,” jawab Winter singkat. Nafsu makannya hilang seketika.

Setelah itu mereka menyelesaikan makan malam dalam keheningan.


Setelah selesai makan malam, mereka pindah duduk di taman belakang untuk melanjutkan pembicaraan yang belum selesai tadi.

“Kamu masih pacaran sama Karina?” tanya Ayah Winter sambil menyalakan rokoknya.

“Masih, pa,” jawab Winter pelan. Selama ini, ayahnya tidak pernah membahas tentang hubungannya dengan Karina.

“Kamu sudah dewasa Winter. Sebentar lagi kamu akan masuk dunia kerja dan meneruskan perusahaan papa,” ucap ayahnya sambil menghisap rokoknya.

Mengetahui arah pembicaraan ayahnya, ingin rasanya Winter segera pergi dari rumahnya.

“Kamu itu pacaran karena selama ini kamu kesepian aja. Bukan karena cinta. Nanti kalo kamu sudah masuk dunia kerja, sudah merasakan sibuknya mencari uang, kamu bakalan sadar kalo pacaran itu cuma buang-buang waktu aja.”

Winter mengencangkan pegangannya pada kursi yang ia duduki.

“Kamu lihat papa. Papa merasa lebih bahagia setelah pisah dari mama kamu. 16 tahun hidup papa terbuang sia-sia.”

Oke, cukup. gumam Winter dalam hati.

“Maaf pa, tanpa mengurangi rasa hormat Winter ke papa, Winter punya jalan hidup sendiri. Tolong jangan samain Winter sama papa. Papa mungkin ngira selama ini Winter pacaran cuma buat pelarian doang. Tapi Winter serius sama Karina. Papa boleh ngatur Winter seumur hidup untuk jadi boneka papa. Tapi kalo urusan cinta, tolong papa jangan ikut campur.” Winter segera beranjak dari duduknya.

“Winter pamit, pa. Takut kena macet di jalan. Makasih buat makan malamnya.” pamit Winter sambil mencium tangan ayahnya.

Winter berjalan secepat mungkin menuju mobilnya. Dengan tergesa-gesa ia membuka kunci mobilnya dan melempar tasnya ke kursi belakang dengan kasar. Winter segera menancapkan gas meninggalkan rumahnya.