Malam Jumat Kerama(t)s

Waktu menunjukan pukul 21.00 saat Winter tiba di rumah. Setelah mengunci pagar dan mobil, dengan tubuh yang sangat lelah Winter masuk perlahan ke dalam rumah yang lampunya sudah padam.

Setelah meletakkan tas kerjanya di sofa dan minum segelas air putih di dapur, Winter berjalan menghampiri Karina di kamar.

Karina sedang asik membaca buku di ranjang ketika ia mendengar pintu kamar dibuka. Dengan segera, ia menutup bukunya dan berjalan menghampiri Winter.

“Jangan peluk. Badan aku kotor banget seharian ini ketemu banyak orang. Kamu lanjut baca dulu aja. Nanti kalo aku udah selesai mandi, aku panggil kamu ya,” ucap Winter memberikan senyuman manisnya kepada Karina yang cemberut karena dilarang untuk memeluk.

“Aku nggak jadi keramas hari ini, sayang. Nanti kamu selesai mandi langsung tidur aja ya. Kamu pasti capek banget hari ini.” Karina merasa kasihan setelah melihat wajah Winter yang terlihat sangat lelah. Matanya sayu dengan lingkar hitam yang terlihat jelas di bawah matanya. Bibirnya terlihat pucat.

“Dih, kok gitu sih. Siapa bilang aku capek. Pokoknya nanti aku selesai mandi kamu langsung masuk aja ya pas aku panggil.”


20 menit kemudian, Winter keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan menghampiri Karina yang tertidur dengan buku menutupi wajahnya.

“Jangan pura-pura tidur. Aku tadi ngedenger suara kamu ketawa pas baca buku.”

Winter mengambil buku yang menutupi wajah Karina dan meletakkannya di nakas.

“Sayang, udahan pura-puranya. Akting kamu jelek tau.”

Winter mengelus kepala Karina dan tersenyum saat melihat kedua sudut bibir Karina naik saat rambutnya dipegang.

“Ya udah deh aku pakai baju aja kalo kamu nggak jadi keramas,” ucap Winter melepaskan tangannya dari kepala Karina.

“AAAAAHHHHH. Winter kamu bikin kaget aja. Katanya mau pakai baju,” teriak Karina yang kaget melihat wajah Winter hanya berjarak 5 cm dari mukanya saat membuka matanya.

“Hahahaha. Ya lagian kamu pura-pura tidur segala. Ayo sayang cepetan aku keramasin dulu biar tidurnya enak.”

“Nggak mau, sayang. Udah malam ini. Besok-besok aja keramasnya,” ucap Karina sambil menarik tangannya dari genggaman Winter.

Mendapat penolakan dari Karina, Winter akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Namun, yang dilakukan selanjutnya membuat Karina berteriak histeris.

Winter mengangkat tubuh Karina dengan bridal style dan membawanya menuju kamar mandi. Siapa sangka tubuh mungilnya mampu mengangkat tubuh Karina yang lebih besar darinya.

“Winter! Turunin aku. Hahahaha.”

“Ya Allah aku takut tulang kamu patah, sayang.”

“Winter geli ih jarinya jangan digerak-gerakin gitu.”

“Sayang! Awas, kepala aku hampir kepentok pintu.”

Karina tak henti-hentinya berteriak meminta agar Winter segera menurunkannya dari gendongan.

Setelah sampai di kamar mandi, Winter baru menurunkan tubuh Karina dan mendudukannya di kursi yang telah ia siapkan di depan wastafel.

“Udah enak belum posisinya?”

“Hmmmmm...” Karina memberikan senyuman dan menutup kedua matanya saat Winter mengelus kepalanya.

Mendapat lampu hijau, dengan perlahan Winter membasahi rambut Karina.

Butuh waktu 5 menit untuk membasahi rambut Karina yang panjang dan tebal itu.

Setelah basah, Winter mengusapkan shampoo dengan aroma lavender kesukaannya ke rambut Karina.

Sesekali terdengar suara lenguhan saat Winter mengencangkan pijatannya pada kepala Karina.

“Kamu kenapa sih suka banget ngeramasin aku, sayang?” tanya Karina masih dengan matanya yang terpejam.

“Aku juga bingung. Tapi entah kenapa aku kaya dapet energi setiap selesai ngeramasin kamu.”

“Sebentar...”

“Kenapa, sayang? Mata kamu perih ya? Aku cuci tangan dulu sebentar,” ucap Winter yang panik saat Karina menyentuh tangannya.

“Ih, bukan gitu, sayang. Aku baru ngeh kalo abis dikeramasin kamu, badan aku rasanya jadi relaks banget. Tidur aku jadi nyenyak. Ternyata kamu ya yang sedot energi aku,” ucap Karina sambil mengelus lengan Winter.

“Dih, kamu bikin aku panik aja. Yah, jadi ketahuan deh ya kalo aku sebenernya hantu yang suka sedot energi kamu. Makanya secapek apapun aku setiap pulang kerja, aku nggak masalah buat ngeramasin kamu. Soalnya itu salah satu cara buat ngebalikin energi aku.”

“Cara lainnya apa?” tanya Karina penasaran.

“Disayang kamu lah.” Winter tersenyum sambil mengedipkan matanya.

“Agak nyesel ya aku pas denger jawabannya.”

“Dih, kok kamu gitu. Kamu nggak sayang sama aku?”

“Aduh, sayang. Mata aku perih.”

“Apaan sih. Kena juga nggak.”

“Ihhh.. Seriusan... Cepetan cium mata aku sebelum aku nangis,” ucap Karina sambil mengedipkan kedua matanya.

Winter mencium kedua mata Karina sambil tersenyum.

“Ini kamu beneran perih apa akal-akalan aja sih?”

“Seriusan, sayaang. Bibir kamu kok tumben sih dingin banget. Tuh, sekarang hidung aku gatel banget rasanya.”

“Tangan aku masih berbusa, Kariinnn. Tangan kamu kan bersih. Garuk sendiri dong, sayang.”

“Nggak mau digaruk. Maunya dicium juga biar nggak gatel lagi.”

Winter hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Karina. Saat-saat bersama seperti ini yang membuatnya lupa dengan rasa lelah setelah seharian di kantor.

“Muaaah.. Udah ya. Aku mau bilas rambut kamu dulu. Udah 15 menit kita di kamar mandi. Belum lagi nanti aku harus ngeringin rambut kamu yang panjang banget ini.”

“Kok kamu kaya nggak ikhlas gitu sih, sayang?”

Winter menghembuskan nafas panjang sebelum memulai ucapannya.

“Bukannya nggak ikhlas, Karin. Aku cuma takut khilaf terus kita baru keluar dari kamar mandi besok pagi.”

“Ya udah sih sesekali ini,” ucap Karina sambil mengigit bibirnya, mencoba menggoda Winter.

“Niatnya sekali tapi jadinya berkali-kali. Besok kita masih kerja, sayang. Udah ya aku bilas rambut kamu dulu,” ucap Winter bersiap menyalakan air untuk membilas rambut Karina.

“Nanti dulu. 5 menit lagi, please. Abis itu kamu baru bilas rambut aku.”

“Awas ya kalo minta lebihin lagi.”

Winter kembali memijat kepala Karina yang berbusa sambil bersenandung ketika Karina tiba-tiba berteriak kesakitan.

“Kenapa, sayang? Aku kekencengan ya pijat kepala kamunya?” tanya Winter khawatir.

“Nggak kok. Ini bibir aku tiba-tiba sakit,” ucap Karina sambil mengelus bibirnya.

“Terus?”

“Harus dicium biar sembuh.”

“Sayang, tadi kamu aku ajakin keramas sempet nolak loh. Sekarang malah mancing terus.”

“Mancing apa sih. Ya udah, kalo nggak dicium aku tidur di kamar mandi aja kalo gitu.”

“Kaya yang berani aja. Ini malam jumat loh, sayang. Hiiii serem.”

“Nggak takut. Wleeee.”

“Karin... Kamu tumben clingy banget gini. Tanggal berapa sih sekarang emangnya?” Winter melihat jam tangannya dan menyadari bahwa saat ini adalah waktunya Karina memasuki masa PMS.

“Tanggal tua.”

Karina melipat kedua tangannya dan mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang mengambek.

Gemas melihat tingkah Karina, akhirnya Winter menyerah dan mencium bibirnya.

Berharap mendapat senyuman setelah memberikan ciuman namun Karina tetap ngambek tanpa mengubah posisi sama sekali.

“Karin, kan udah aku cium. Kok masih ngambek sih?”

“Duduk dulu sini.”

“Kursinya kan cuma satu, sayang. Aku disuruh duduk di lantai maksudnya?”

“Aku pangku maksudnya,” ucap Karina sambil menepuk kedua pahanya.

“Sayang....”

“Ya udah. Aku tidur dulu ya.” Karina menutup kedua matanya dengan bibir yang masih dibuat mengerucut dan tangan dilipat di dada.

Sadar dengan hari yang sudah semakin malam dan akan butuh waktu 20 menit untuk mengeringkan rambut Karina, Winter akhirnya pasrah dan duduk di pangkuan Karina.

Bibir Karina tersenyum saat menyadari Winter telah duduk di pangkuannya. Namun ia tetap menutup matanya dan berpura-pura tidur.

“Akting kamu jelek.”

Winter memberikan ciuman ke kedua mata Karina.

“Seharusnya kita udah selesai dari tadi.”

Ciuman kedua mendarat di hidung Karina.

“Tau gitu tadi aku biarin aja kamu nggak usah keramas hari ini.”

Ciuman ketiga Winter berikan pada tahi lalat di bawah bibir Karina.

“Kamu tau aku paling lemah sama bibir kamu.”

Winter terdiam tidak lagi memberikan ciuman kepada Karina.

Karina yang kesal karena Winter tidak melanjutkan ciumannya akhirnya membuka matanya dan menarik tubuh Winter ke dalam pelukannya.

Dan bibir mereka pun akhirnya bersentuhan.

Dengan penuh nafsu Winter mencium bibir sintal milik Karina. Tangannya yang masih berbusa ia letakkan pada kepala Karina dengan sesekali memberikan pijatan kencang.

Suara lenguhan dari keduanya terdengar menggema di dinding kamar mandi yang tidak terlalu luas itu.

Ciuman dan gigitan mereka lakukan silih berganti. Sesekali lidah mereka ikut bermain, bertautan satu sama lain.

Detik berubah menjadi menit. Lima menit berubah menjadi lima belas menit.

Suhu kamar mandi terasa memanas dan ciuman keduanya semakin ganas.

Tersadar akan dirinya yang terjatuh dalam perangkap Karina, Winter menghentikan ciumannya sambil mencoba mengambil nafas.

Setelah nafasnya kembali normal, Winter berusaha bangun dari pangkuan kekasihnya namun dengan sigap Karina menahannya.

“Udah ya, sayang. Kamu tadi bilang 5 menit doang. Ini udah lebih banget ya.” Winter akhirnya berhasil bangun dari pangkuan Karina dan mulai membilas rambut kekasihnya.

“Lihat nih, tangan aku keriput gara-gara kamu.”

“Ihhh... Biasanya kalo keriput juga kamu nggak pernah ngeluh. Malah minta lagi.”

“Beda konteks, sayaang.”

“Apa bedanya sih. Kan sama-sama keriput, basah terus...”

“Kamu pilih diem atau aku siram mukanya?” Winter menghentikan omongan Karina sebelum semakin menjurus ke arah lain.

“Kaya yang berani aja kamu nyiram muka aku. Kecuali kalo pas di kasur tuh baru kamu AAAAAARGRGRGHHHHH.... SAYANG, KAMU KOK SIRAM MUKA AKU BENERAN?”

Karina segera mengangkat kepalanya yang menyebabkan bajunya basah terkena tetesan air dari rambut.

“Ya siapa suruh nggak bisa diem!”

“Ya kamu kalo di kasur juga nggak...”

“Karin!” Winter kembali memotong omongan Karina.

“Udahlah kamu beneran tidur di kamar mandi aja hari ini.” Winter berjalan keluar kamar mandi meninggalkan Karina dengan rambut basahnya.

“Ya udah. Aku nggak takut kok. Wleee.”

Karina beranjak dari duduknya untuk mengambil handuk ketika listrik rumah mereka padam.

“WIIINN!”

“WINTERRRR!!”

“INI RUMAH KITA DOANG YANG MATI LISTRIK APA RUMAH SEBELAH JUGA?”

“WINTERRRR! KOK KAMU DIEM AJA SIH?”

Merasa takut, Karina akhirnya berlari keluar kamar mandi untuk menghampiri Winter.

Namun karena lantai yang basah, Karina terpleset dan kepalanya terbentur ke lantai yang membuat dirinya tidak sadarkan diri.


Waktu menunjukan pukul 21.45 saat Winter tiba di rumah. Setelah mengunci pagar dan mobilnya, dengan tubuh yang sangat lelah Winter masuk perlahan ke dalam rumah yang lampunya sudah padam.

Setelah meletakkan tas kerjanya di sofa dan minum segelas air putih di dapur, Winter berjalan menghampiri Karina di kamar.

Winter panik saat membuka pintu kamar melihat karina tergeletak di depan pintu kamar mandi dengan rambut basah sambil memegang handuk.

“Karin, bangun sayang. Kamu kenapa tiduran di lantai sambil basah-basahan gini sih?” tanya Winter sambil berjongkok mencoba membangunkan Karina.

“Sayang, bangun dong. Kamu jangan bikin aku panik.” Winter mencoba memeriksa denyut nadi dan nafas Karina. Semua terasa normal.

Winter berlari menuju nakas untuk mengambil minyak kayu putih dan meletakkannya di hidung Karina.

5 menit kemudian Karina mulai sadar dan membuka matanya.

“Lampunya udah nyala dari tadi? Kamu jahat banget ninggalin aku gelap-gelapan. Aku panggilin nggak nyaut lagi!” Karina mencoba duduk sambil memukul pundak Winter.

Dengan wajah bingung Winter membantu Karina bangun dan memintanya duduk di ranjang.

“Aku mandi dulu ya sebentar. Abis itu aku keringin rambut kamu.”

“Kamu kok mandi lagi sih, sayang? Tadi kan kamu udah mandi sebelum keramasin aku? Terus kok kamu pake baju kerja lagi?” tanya Karina bingung.

“Aku ikut kamu ke kamar mandi pokoknya. Aku takut. Kamu jangan ninggalin aku sendirian lagi,” rengek Karina.

“Kamu pasti pusing ya? Aku mandi dulu 5 menit aja abis itu aku keringin rambut kamu terus kita tidur ya. Pintu kamar mandi aku buka. Aku bakalan ngajak kamu ngobrol selama mandi. Kamu jangan takut ya,” Winter mencium kening Karina dan berjalan menuju kamar mandi.


5 menit kemudian, masih menggunakan bathrobe, Winter meminta Karina duduk di kursi rias untuk mengeringkan rambutnya.

“Maaf aku pulangnya kemaleman ya, sayang. Kamu sampe keramas duluan gini. Tadi mobil aku bannya bocor. Jadi harus nyari bengkel dulu.”

Karina menarik tangan Winter dari kepalanya dan meremasnya kencang.

“Kamu bercandanya nggak lucu ah. Jelas-jelas tadi kamu yang ngeramasin aku. Pake pura-pura mandi lagi segala. Aku minta maaf kalo aku ngisengin kamu terus tadi di kamar mandi. Tapi kamu jangan bikin aku takut gini dong.”

“Siapa yang bercanda sih. Kamu coba cek handphone kamu deh. Tadi aku wa kamu jam 21.15 ngasih tau kalo aku pulang telat.”

Karina berjalan mengambil handphone-nya dan berteriak saat melihat pesan dari Winter. Ia melempar handphone-nya ke kasur dan berlari memeluk Winter. Karina menangis ketakutan dalam pelukan Winter.

“Terus yang tadi ngeramasin aku siapa dong, sayang?”

“Mungkin tadi kamu cuma mimpi dikeramasin sama aku. Tadi kan kamu jatuh terus kepala kamu kebentur lantai jadi kamu masih agak linglung. Kamu tenang aja ya, yang penting sekarang aku udah di sini,” ucap Winter sambil mengelus rambut Karina.

Tidak lama kemudian lampu kamar mereka berkedip dan listrik kembali padam. Samar-samar terdengar suara gamelan dari kejauhan. Karina mengencangkan pelukannya ke tubuh Winter. Tubuhnya merinding dan bulu kuduknya berdiri. Kegelapan dan samar suara gamelan membuat suasana terasa mencekam.

Dengan tenang Winter mengelus punggung Karina dan mengencangkan pelukannya lalu berbisik...

“Katanya tadi kamu nggak takut tidur sendirian di kamar mandi walaupun sekarang malam Jumat. Sekarang kamu mau sendirian atau saya temenin? HIHIHIHI.”

—SELESAI—