Steak With You
Saat Karina turun, Ryujin, Ning dan Giselle sudah berkumpul terlebih dahulu di meja makan, menyisakan kursi kosong untuknya, Winter dan Mbak Taeyeon yang keduanya masih berada di kamar masing-masing.
“Gi, tukeran tempat duduk dong,” bujuk Karina kepada sahabatnya, berharap ia tak perlu duduk bersebelahan dengan Winter.
Di meja makan berbentuk persegi panjang itu, Ryujin dan Ning sudah menempati 1 sisi meja makan dan menyisakan 2 kursi kosong di seberangnya. Sedangkan di seberang Giselle, masih terdapat kursi kosong yang biasa ditempati oleh Mbak Taeyeon.
“Nggak ah. Gue udah pewe di sini. Lo dudukin kursi Mbak Taeyeon aja sana kalo mau.”
“Gi, ayo dong tukeran hari ini aja. Nggak mungkin juga gue dudukin kursi Mbak Taeyeon. Gue malu kalo duduk di se...”
“Karin, kok nggak duduk?” tanya Mbak Taeyeon saat keluar dari kamar, memotong pembicaraan antara Karina dan Giselle.
Tidak lama kemudian Winter pun keluar dari kamarnya dan dengan terpaksa Karina harus duduk bersebelahan dengan Winter.
“Ayo dimakan nanti keburu dingin loh steaknya. Jangan lupa makasih sama Giselle,” ucap Mbak Taeyeon.
“Terima kasih Kakak Giselle.” Ryujin dan Ning dengan kompak menirukan suara anak kecil yang diikuti gelak tawa dari penghuni kosan, kecuali Winter dan Karina yang masih merasa canggung satu sama lain.
Sambil menikmati hidangan, para penghuni kosan bercengkrama satu sama lain saling bertanya tentang kesibukan masing-masing. Semua terlihat menikmati hidangan yang disediakan kecuali Winter dan Karina. Untuk pertama kalinya Karina merasa makanan kesukaannya terasa biasa saja karena ia tidak bisa mengontrol detak jantungnya sejak Winter duduk di sebelahnya.
Sedangkan Winter, katakan saja Winter dan steak adalah musuh besar. Bukan karena ia alergi atau tidak suka, tapi selama ini saat makan steak bersama keluarganya, Bapak Danang dan Ibu Danang dengan senang hati akan memotongkan daging untuk putri kesayangannya. Bahkan tidak jarang ikut menyuapi Winter sampai makanannya habis. Dan saat orang tuanya tidak ada seperti saat ini, satu-satunya orang yang bisa ia harapkan adalah Mbak Taeyeon. Namun sayangnya Mbak Taeyeon terlalu sibuk dengan makanan dan gawainya sampai tidak sadar Winter sudah memelototinya dari tadi.
Setelah berulang kali gagal mencoba memotong daging di piringnya, akhirnya Winter menyerah dan meletakkan pisau dan garpu secara kasar di atas piringnya. Semua mata kini tertuju pada Winter yang membuat kegaduhan di makan malam itu. Tidak senang menjadi pusat perhatian, Winter beranjak dari kursinya dan segera masuk kembali ke kamarnya meninggalkan steak yang belum ia makan sama sekali.
“Adek! Kok main pergi aja sih kamu. Abisin dulu ini makanannya,” teriak Mbak Taeyeon saat melihat piring Winter.
“Adek udah kenyang!” jawab Winter dari dalam kamarnya.
“Maaf ya semuanya. Mbak lupa Winter harus dipotongin dagingnya kalo makan steak,” ucap Mbak Taeyeon sambil menarik piring milik Winter untuk memotong dagingnya yang kemudian dihalangi oleh Karina.
“Biar Karin aja yang motongin, Mbak.”
Mbak Taeyeon terdiam. Dahinya mengkerut dan dengan mata tajamnya ia memandangi wajah Karina yang kini terlihat gelagapan. Merasa terlalu ikut campur, Karina melepaskan genggamannya dari piring Winter dan menundukkan kepalanya sambil meremas bantalan kursi yang didudukinya.
“Kamu mau bikin deg-degan adek mbak lagi ya?” tanya Mbak Taeyeon sambil tersenyum jahil dan memainkan kedua alisnya. Giselle, Ryujin dan Ning yang melihatnya pun langsung tertawa melihat Karina yang salah tingkah.
“Mbaaak, Karin tadi bercanda doang sumpah. Karin nggak maksud ngegodain Winter. Jangan diungkit-ungkit lagi, please.”
“Bohong Mbak bohong.”
“Iya, Mbak. Jangan percaya, Mbak.”
“Coba cek handphone-nya, Mbak. Jangan-jangan udah lama sayang-sayangannya.”
Ucap Ryujin, Ning dan Giselle bersamaan berusaha memanas-manasi suasana yang membuat Mbak Taeyeon tertawa saat mendengarnya.
“Hahaha. Iya, maaf. Mbak bercanda doang kok. Tolong bantuin mbak potongin dagingnya dan kasih ke Winter ya, sayang. Mbak mau ada zoom meeting 5 menit lagi. Nanti piring kotor kalian ditumpuk di dapur aja. Biar mbak yang nyuci. Giselle makasih banyak ya. Mbak ke kamar duluan ya, semuanya.”
Mbak Taeyeon pun meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya meninggalkan Karina, Giselle, Ryujin dan Ning yang sudah hampir selesai menikmati hidangan.
“Sayang, potongin daging aku dong.”
“Aku juga mau, sayang.”
“Sayang, aku juga ya.”
Ledek Giselle, Ryujin dan Ning secara bersamaan saat Karina sedang memotong daging untuk Winter.
“Mau bibir siapa duluan sini gue potong kalo masih banyak bacot,” balas Karina sambil mengetuk pisau di tangannya ke piring.
Ketiga temannya tersebut langsung terdiam saling melirik satu sama lain kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Bercanda, Rin. Udah sana buruan suapin bayi galak lo. Kesian pasti kelaparan belom makan sama sekali.” Giselle beranjak dari duduknya menuju ke dapur dan diikuti Ryujin dan Ning yang sudah menyelesaikan makan malam mereka.
Tok... Tok... Tok...
“Win, gue masuk ya. Pintunya nggak dikunci kan?”
Karena tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar, Karina memberanikan diri masuk sambil membawa piring dan gelas di kedua tangannya. Di dalam kamar itu, Winter terlihat meringkukan badannya menghadap dinding dengan tubuhnya yang ditutupi selimut.
“Win, ayo makan dulu. Ini dagingnya udah dipotongin.”
“Gue nggak laper.”
“Nggak laper gimana. Lo tadi cuma makan side dish-nya doang. Dagingnya belom lo makan sama sekali.”
“Gue udah kenyang!”
“Winter... Ayo dong dimakan dulu. Kalo udah dingin nanti nggak enak loh.”
“Kalo nggak enak dibuang aja.”
“Win, ayo dong sehari aja bisa nggak sih dewasa sedikit. Jujur aja gue suka bingung sama lo. Kalo ditolongin suka marah-marah. Tapi kalo nggak ditolongin malah marah-marah juga. Nggak semua orang bisa nge.....”
BRUK...
Sebuah bantal mendarat kencang ke arah Karina diikuti suara pecahan piring dan gelas yang terlepas dari genggamannya. Dengan wajah panik Winter segera bangun dari tidurnya dan bergegas untuk membersihkan kekacauan yang ia sebabkan.
“Jangan turun dari kasur. Lo diem aja di situ biar gue yang beresin,” perintah Karina dengan nada tenang.
Karina berlari keluar kamar untuk mengambil sapu, pengki dan kain pel untuk membersihkan serpihan beling di kamar Winter.
Mbak Taeyeon yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar keributan heran melihat Karina dengan baju basah dan kotor keluar dari kamar adiknya. Ia pun segera berlari menuju kamar Winter dan kaget saat melihat pecahan piring dan gelas berserakan di lantai. Sedangkan sang pemilik kamar terlihat sedang duduk di pojok kasur mendekap kedua kakinya dengan kepala tertunduk.
“Adek! Kamu ngapain sih sampe pada pecah gini? Karin sini biar mbak aja yang beresin semuanya. Kamu istirahat aja,” ucap Mbak Taeyeon saat Karina masuk ke kamar membawa peralatan.
“Udah nggak apa-apa Mbak biar Karin aja. Itu tadi handphone mbak bunyi terus di kamar kayanya ada telepon penting.”
“Karin, makasih banyak ya. Maaf Mbak jadi ngerepotin kamu terus.” Mbak Taeyeon berlari meninggalkan Winter dan Karina menuju kamarnya.
Tidak ada pertukaran kata yang terjadi selama Karina membersihkan lantai kamar. Berulang kali Winter mencoba membuka mulutnya untuk meminta maaf namun lidahnya terasa kaku. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya ketika ia mencoba berbicara.
Saat Karina telah selesai dan bersiap meninggalkan kamarnya, Winter akhirnya memiliki keberanian untuk mengucapkan permintaan maafnya.
“Karin, sumpah gue nggak maksud bikin kekacauan kaya tadi. Lo jangan marah ya. Karin maafin gue, please,” ucap Winter dengan mata berkaca-kaca merasa bersalah dengan sikap kekanak-kanakannya tadi.
Dalam diam Karina pergi meninggalkan Winter tanpa jawaban.
“Karin, jangan diemin gue,” ucap Winter lirih saat Karina menutup pintu kamarnya.
Sambil memegang dadanya yang terasa sesak, Winter merasakan patah hati untuk kedua kalinya di dalam hidup. Patah hati pertamanya ia rasakan saat melihat Ipin kehilangan syal merahnya di serial Upin Ipin 'Kain Merah Ipin'. Dan patah hati keduanya ia rasakan saat melihat Karina menghilang dari pandangannya saat ia menantikan jawaban.