Stick With You

Setelah membalas pesan dari Winter, Karina bergegas turun menuju kamar Mbak Taeyeon untuk mengambil selimut tambahan. Selama 5 menit Karina berlalu-lalang dari kamar Mbak Taeyeon ke ruang laundry untuk mencari selimut tambahan, namun hasilnya nihil. Tidak ingin membuat Winter menunggu lebih lama, Karina menyudahi pencariannya. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju kamar Winter dengan tidak lupa membawa segelas air minum, obat penurun demam dan plester kompres demam.


Saat Karina membuka pintu, terlihat Winter menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan selimut. Dengan bantuan cahaya dari lampu tidur, Karina berjalan menghampiri Winter. Secara perlahan ia turunkan selimut yang menutupi kepala Winter setelah meletakkan gelas dan obat demam di nakas.

Mmmm... Papap jamngan sakib,” racau Winter saat Karina menurunkan selimutnya.

“Win, bangun yuk. Minum obatnya dulu abis itu tidur lagi,” bujuk Karina yang kini telah duduk di ranjang sambil mengelus rambut Winter mencoba membangunkannya.

Merasakan sentuhan di kepalanya, Winter pun terjaga dan membuka matanya secara perlahan. Dalam keadaan setengah sadar ia menarik tangan kanan Karina dari kepalanya dan meletakkannya di atas pipinya. Mencoba mencari tambahan kehangatan dari telapak tangan Karina.

“Dingin... Mau selimut... Pusing...” ucap Winter saat melihat Karina di hadapannya.

“Iya, minum obat dulu makanya. Abis itu gue ambilin selimut di atas ya. Selimut di bawah lagi pada dibawa ke laundry semua kayanya sama Mbak Taeyeon,” ucap Karina sambil merapikan poni Winter yang menutupi keningnya untuk menempelkan plester kompres demam. Winter meringis saat merasakan dinginnya plester kompres demam menempel di keningnya dan berusaha melepasnya saat itu juga. Namun, dengan sigap Karina menahan tangan Winter.

“Jangan di lepas dong, Win. Kan biar demamnya cepet turun. Sekarang duduk dulu yuk minum obatnya.”

Mendengar kata obat dari mulut Karina, Winter pun memutar badannya memunggungi Karina dan kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Karina menarik nafas panjang melihat tingkah Winter sambil mencoba mencari cara agar Winter mau meminum obatnya. Sampai akhirnya ia teringat pesan dari Mbak Taeyeon sebelum pergi ke Bogor.

“Win, kalo misalnya Winter lagi sakit, terus disuruh minum obat tapi Winter nolak berarti Winter na...”

”...kal,” jawab Winter dari balik selimut.

“Kalo nakal, kata Mbak Taeyeon, Karin boleh ngapus koleksi Upin Ipin Winter nggak? “

“Boleh.”

“Winter nakal nggak?”

“Nggak.”

“Mau minum obat?”

“Mau.”

Winter pun membuka selimutnya sampai ke perut lalu kembali memutar badannya ke posisi terlentang setengah duduk setelah mendengar konsekuensi apabila ia tidak mau meminum obatnya. Karina segera memberikan 1 buah tablet obat dan segelas air mineral sebelum Winter berubah pikiran.

“Hoeeek.. Pahit..” rengek Winter setelah meminum obatnya.

“Namanya juga obat, Win. Kalo manis namanya Win...”

“Ter...”

“Pinter banget sih yang lagi sakit,” ledek Karina mencubit dagu Winter.

“Karin apaan sih. Winter lagi sakit gini masih aja suka iseng,” rengek Winter yang kini sudah kembali ke posisi tidur setelah menyadari maksud ucapan Karina.

“Hahahaha. Gue bercanda doang biar pusing lo cepet ilang. Sekarang lo tidur lagi sana. Gue mau ke atas dulu sebentar ngambil selimut tambahan.” Karina bersiap berdiri untuk mengambil selimut di kamarnya namun dengan sigap Winter menarik baju Karina, mencegahnya untuk bangun dari ranjang.

“Nggak boleh. Karin di sini aja temenin Winter.”

“Iya, abis ngambil selimut nanti gue temenin lagi.”

“Nggak mauu. Pokoknya Karin nggak boleh kemana-mana.” Winter menarik tangan Karina dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya agar Karina tidak pergi meninggalkannya.

“Ya udah gue nggak kemana-mana tapi lepasin tangan gue dulu ya? “

“Nggak mau nanti Karin kabur.”

Karina membuang nafas panjang. Mengalah dan membiarkan Winter menggenggam tangannya.

Gemes banget ini bocil satu kalo lagi sakit jadi clingy gini. Karin lo harus kuat. Jangan mikirin yang macem-macem,” batin Karina sambil menggelengkan kepalanya.

“Ya udah Winter sekarang tidur ya. Biar besok pagi udah enakan badannya.”

Dengan wajah memelas Winter menatap mata Karina “Tapi Karin janji jangan kemana-mana.”

“Iya, Karin janji.”

Mendengar ucapan Karina, Winter kemudian menggeser tubuhnya ke arah dinding memberikan ruang yang lebih besar untuk Karina, masih sambil menggenggam tangannya.

“Winter, jangan terlalu mepet ke dinding tidurnya. Nanti lo tambah kedinginan.”

“Karin, geseran ke sini.” Winter melepas genggamannya dan menepuk ruang kosong di sebelahnya meminta Karina untuk mendekat ke sisinya.

“Gue duduk di ujung sini aja nggak apa-apa. Biar lo nggak terlalu mepet dinding.”

“Karin jangan duduk. Karin tiduran juga sama Winter.” Winter kembali menarik kaos yang dipakai Karina memintanya untuk berbaring di sebelahnya.

“Kasurnya sempit, Win. Nggak muat kalo gue tidur di sini juga. Gue duduk aja nggak apa-apa kok,” jawab Karina seadanya, mencari alasan walaupun sebenarnya ranjang Winter masih memiliki ruang yang cukup untuk mereka berdua berbaring.

“Winter kan lagi kedinginan. Biasanya kalo Winter kedinginan, Mbak Taeyeon selalu meluk Winter. Tapi sekarang Mbak Taeyeon lagi nggak ada di sini. Jadi nggak ada yang bisa meluk Winter.”

“Ya udah gue ambil selimut dulu ke atas ya biar lo nggak kedinginan,” ucap Karina berharap Winter mengizinkannya sehingga ia tidak perlu berbaring di sebelah Winter.

“Nggak boleh. Tadi kan Karin udah janji nggak bakal ninggalin Winter.”

“Hhhhhh... Iya, gue nggak kemana-mana deh. Jadi Winter mau Karin peluk?” Karina mengulurkan kedua tangannya ke arah Winter, dengan senyum menggoda ia menggerakkan kedua alisnya.

“Winter nggak minta dipeluk Karin. Karin sendiri yang nawarin mau meluk Winter.”

”....”

Karina terdiam mendengar ucapan Winter. Tangannya ia jatuhkan ke samping badannya. Sambil memijat kepalanya ia bergumam di dalam hati. “Yailah dia yang ngasih kode minta peluk, malah dia yang gengsi. Awas aja abis gue peluk tiba-tiba besok ngadu ke Mbak Taeyeon yang aneh-aneh. Bisa diusir dari kosan gue.

Karena tidak mendapat tanggapan dari Karina, Winter kembali memunggungi Karina dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut secara kasar. Merasa lelah karena waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 dini hari dan rasa kantuk mulai menyelimutinya, Karina mengesampingkan egonya dan mengistirahatkan tubuhnya di sebelah Winter.

“Jadi mau dipeluk nggak? Kalo nggak gue tidur duluan ya?” tanya Karina setelah mendapat posisi yang nyaman menghadap Winter yang masih menutup tubuhnya dengan selimut.

“Nggak jadi. Karin terpaksa meluk Winternya,” jawab Winter ketus.

“Nggak kok. Sini buruan kalo mau peluk. Tadi katanya kedinginan.”

Winter membalikkan badannya lalu menurunkan selimut yang menutupi kepalanya. Ia tersipu malu saat menyadari jarak yang begitu intim antara dirinya dan Karina. Winter pun memundurkan badannya menempel dinding.

“Kok malah ngejauh? Tadi katanya minta dipeluk?” Dengan tenang Karina merentangkan kedua tangannya ke arah Winter memintanya untuk mendekat walaupun pada kenyataannya jantungnya sedang berdetak tidak karuan.

“Nggak jadi. Winter malu dipeluk Karin.” bisik Winter menutup mukanya yang terasa panas dingin dengan selimut.

“Gemes banget sih yang lagi sakit. Nggak usah malu. Sini cepetan. Gue udah ngantuk banget nih.”

Dengan perlahan Winter mendekatkan tubuhnya, menjadikan lengan Karina sebagai bantal. Karina membuka selimut yang menutupi tubuh Winter dan masuk ke dalamnya lalu menarik tubuh mungil Winter yang menggigil, mendekapnya lebih erat menghilangkan jarak diantara keduanya. Dagunya ia tempelkan ke puncak kepala Winter.

“Santai aja, Win. Nggak usah tegang gini badannya. Anggep aja gue Mbak Taeyeon,” ucap Karina saat merasakan tubuh Winter yang terasa kaku dalam pelukannya. Karina mengelus punggung Winter dengan tangan kirinya sambil sesekali menepuknya pelan dari dalam selimut.

“Pelukan Mbak Taeyeon rasanya nggak seempuk ini,” bisik Winter tak sengaja mengatakan isi hatinya setelah merasa nyaman dalam pelukan Karina.

“Lo ngomong apa, Win?” Karina melepaskan Winter dari pelukannya mencoba menatap mata Winter yang kini terpejam.

“Karin berisik ah. Tadi katanya mau tidur. Winter udah ngantuk tau,” bentak Winter menarik tubuh Karina kembali untuk memeluknya.

Kok jadi gue yang dimarahin sih,” batin Karina.


Malam semakin larut. Sesekali terdengar suara dengkuran kecil dari Winter yang menandakan sang pemilik kamar telah tertidur. Karina pun dalam keadaan setengah sadar bersiap menuju ke alam mimpinya saat ia mendengar Winter meracau di dalam tidurnya. Sambil tersenyum ia mendengarkan celotehannya.

Karin, makasih udah mau sabar sama Winter. Maaf kalo Winter suka kekanak-kanakan. Karin jangan marah sama Winter lagi ya. Winter sayang banget sa....” Karina menahan nafasnya, jantungnya berdebar kencang menantikan kalimat selanjutnya.

....ma Upin Ipin. Hehehe. Upin... Ipin... Tungguin Winter.” Karina pun menghembuskan nafas yang ia tahan. Tubuhnya bergetar menahan tawa tak ingin membangunkan Winter di pelukannya.

Makasihnya ke gue. Minta maafnya juga ke gue. Tapi sayangnya ke Upin Ipin. Berat banget saingan lo ada 2 orang, Rin,” batin Karina yang tak lama kemudian menyusul Winter ke alam mimpi.