Untitled
17 November 2060 Siang hari
Winter baru saja selesai menceritakan kembali kisah perjalanan hidupnya, awal mula pertemuannya dengan belahan jiwanya sampai keberaniannya untuk akhirnya mengikrarkan janji suci untuk selalu bersama dalam sehidup dan semati, ketika tangan yang selalu ia genggam erat selama 48 tahun itu terlepas dari genggamannya.
Karina baru saja selesai mendengarkan kembali kisah perjalanan hidupnya, awal mula pertemuannya dengan belahan jiwanya sampai keberaniannya untuk akhirnya menerima janji suci untuk selalu bersama dalam sehidup dan semati, ketika tangannya yang selalu di genggam erat selama 48 tahun itu melepaskan genggamannya.
Siang itu, di depan belahan jiwanya dan 2 malaikat kecilnya–begitu Karina dan Winter biasa memanggil kedua anaknya–Karina pergi meninggalkan semua kenangannya untuk memulai hidup baru di tempat peristirahatan abadinya.
Tidak ada air mata dalam perpisahan itu. Tidak ada teriakan histeris yang menyayat hati. Yang ada hanyalah senyuman perpisahan karena mereka pasti akan bersatu. Yang ada hanyalah ucapan perpisahan karena mereka pasti akan bertemu kembali.
Winter perlahan beranjak dari duduknya. Meninggalkan ciuman hangat di dahi yang dingin. Tangan keriputnya mengelus rambut putih belahan jiwanya untuk yang terakhir kali. Dengan senyum, Winter mengikhlaskan kepergian Karina.
“We are always together forever and never have been apart. You hold my heart forever. You are my forever.”
Dengan bantuan kedua malaikat kecilnya, Winter pergi meninggalkan belahan jiwanya untuk mempersiapkan proses pemakaman.
17 November 2060 Malam hari
Proses pemakaman telah selesai sejak sore hari tadi. Saat ini, Winter sedang berada di kamarnya mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian mengurus prosesi pemakaman.
Kamarnya terasa sunyi. Pikirannya terasa sepi. Hatinya terasa hampa. Hidupnya terasa merana.
Setelah proses pemakaman selesai dan kerabat serta kedua malaikat kecilnya pergi meninggalkannya untuk beristirahat, Winter baru merasakan betapa sakit hatinya ditinggal pergi belahan jiwanya. Air mata yang ia coba tahan akhirnya mengalir dari kedua matanya. Pikirannya kembali mengingat momen-momen akhir kebersamaannya dengan Karina.
8 Januari 2060
“Karin, nggak nyangka banget ya udah 42 tahun kita hidup bersama. Dari kamu masih suka lari ngejar aku, pas aku ngisengin kamu sampe sekarang buat jalan aja kita harus pakai bantuan tongkat,” ucap Winter sambil mengelus tangan keriput milik Karina.
Mereka baru saja menyelesaikan acara makan malam anniversary ke 39 tahun kebersamaan mereka sejak mengikrarkan janji suci bersama kedua malaikat kecilnya. Iya, malaikat kecil yang memilih mereka saat keduanya dengan yakin ingin memiliki 'little Karina' dan 'little Winter' untuk menambah kebahagiaan dari keluarga kecil mereka tepat 2 tahun setelah keduanya mengucapkan ikrar janji suci.
“Untung sekarang kamu berkurang jauh isengnya. Nggak kebayang aku harus ngejar-ngejar kamu pake tongkat. Yang ada aku guling-guling kali ya.”
Keduanya tertawa membayangkan kehebohan yang terjadi jika mereka bermain kejar-kejaran di usia yang tidak muda ini.
“Jangan bosen-bosen ya sama aku. Walaupun aku yakin kamu sebenernya udah muak banget sama aku.” Winter tersenyum sambil membenarkan posisi tidurnya. Saat ini keduanya sedang dalam posisi menghadap satu sama lain.
“Ya mau gimana lagi. Udah telat banget juga kayanya kalo bosen sama kamu. Jadi aku cuma bisa pasrah,” ucap Karina sambil mengelus rambut putih Winter.
“Syukur deh kamu sadarnya telat. Nggak kebayang juga aku kalo hidup tanpa kamu,” ucap Winter dengan wajah sedih.
“Sayang, aku kan udah sering bilang, di usia kita yang udah nggak muda ini, kamu harus selalu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.”
“Aku siap kok, sayang. Aku siap dipanggil duluan biar aku nggak perlu hidup tanpa kamu.”
“Enak aja. Nggak bisa gitu dong, sayang. Kan aku lebih tua dari kamu jadi mending aku aja yang dipanggil duluan.”
Mendengar ucapan Karina, Winter membalikkan badannya memunggungi Karina yang saat ini sedang menertawainya.
“Winter, kamu udah nggak cocok ngambek kaya gitu. Sadar umur dong, sayang,” ucap Karina sambil mengelus punggung Winter.
Selama 5 menit, Winter hanya berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Win, ayo dong udahan ngambeknya. Tidur yuk udah malam nih,” ucap Karina kini sambil mengelus rambut putih Winter.
“Karin...”
“Iya, sayang? Kenapa?”
“Bantuin aku putar balik badan. Pinggang aku sakit nggak bisa balik badan sendiri,” ucap Winter dengan nada memelas.
“Kan.. Makanya sadar umur. Udah umur segini masih ngambekan,” ucap Karina membantu Winter untuk membalikkan badannya sambil menertawakan belahan jiwanya itu.
Malam itu mereka tertidur dengan harapan siapapun yang akan semesta panggil terlebih dahulu, setidaknya jangan pisahkan mereka terlalu lama.
“Sayang, selamat ya permintaan kamu dikabulkan duluan. Tunggu aku ya di sana. Aku yakin Allah pasti menyatukan kita nggak lama lagi,” ucap Winter sambil memejamkan matanya.
Malam itu, tanpa disadari, Winter dapat tertidur pulas meskipun tanpa Karina di sisinya.
Malam itu, tanpa disadari, Winter mendapati jiwanya terasa sangat ringan seperti melayang di udara.
Malam itu, tanpa disadari, Winter mendapatkan doanya terkabulkan dalam sekejap saja.
Malam itu, tanpa disadari, Winter akhirnya dipersatukan kembali dengan belahan jiwanya yang bernama Karina.
Love of mine Someday you will die But I'll be close behind I'll follow you into the dark
No blinding light Or tunnels, to gates of white Just our hands clasped so tight Waiting for the hint of a spark
I Will Follow You into the Dark – Death Cab for Cutie
8 Januari 2012 Karina memilih Winter untuk menjadi teman hidupnya.
8 januari 2021 Winter memilih Karina untuk menjadi teman seumur hidupnya.
17 November 2060 siang Karina pergi meninggalkan Winter menuju tempat peristirahatan abadinya.
17 November 2060 malam Winter pergi menyusul Karina menuju tempat peristirahatan abadinya.
Aku nggak mau milih iya atau nggak. Aku maunya forever. -Winter, 8 Januari 2012-
This love will last forever because you are my home, my life and my forever. -Winter, 8 Januari 2021-
“We are always together forever and never have been apart. You hold my heart forever. You are my forever.” -Winter, 17 November 2060-
![]()
Jika memang sudah takdir, Setiap kisah pasti akan berakhir. Walaupun kadang terasa getir, Mungkin saja di semesta lain sebuah kisah baru saja terukir.
Suara tangisan terdengar di taman bermain yang sepi itu. Seorang anak perempuan berambut panjang berlari menghampiri sumber suara di ujung seluncuran.
“Halo, aku Yoo Jimin. Nama kamu siapa?” ucap anak kecil berambut panjang itu kepada anak kecil yang menangis di ujung seluncuran.
“Halo, Jiminie. Nama aku Kim Minjeong,” ucap anak kecil dengan rambut diikat masih dengan tangisan kecilnya.
“Kim Minjeong. Aku panggil kamu Mindeongi ya.”
“Mindeongi, jangan nangis ya. Mulai sekarang, aku bakalan buat kamu tersenyum terus.”
![]()