Warteg 1.0
Setelah 5 menit menunggu sambil bermain dengan Zero di teras kosan, Karina akhirnya menampakkan batang hidungnya.
“Lama banget sih turunnya? Dandan dulu ya lo?” tanya Winter saat melihat Karina berjalan menuju teras.
“Siapa yang dandan sih. Gue cuci muka doang.”
Saat Karina sudah tiba di teras, Winter menggendong Zero dan membawanya ke dalam rumah. “Zero di dalem dulu yah sebentar. Kakak mau beli makan dulu. Zero jangan nakal yah. Nanti kita main lagi.” Winter mencium kepala Zero lalu menurunkannya dari gendongan.
“Ayo, buruan. Laper banget nih gue,” ucap Winter setelah menutup pintu rumah dan berjalan cepat meninggalkan Karina.
“Sama anjing aja manis bener. Giliran sama gue udah kaya preman pasar ngomongnya,” gumam Karina sambil berlari mengejar Winter.
Diperjalanan menuju warteg yang berjarak 200m dari kosan, keduanya hanya berjalan berdampingan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Berbeda dengan perilakunya di grup chat yang tampak beringas, saat ini Winter tampak menggemaskan seperti anak kecil yang akan pergi bermain ditemani kakaknya.
Dari samping, sesekali Karina melirik ke arah Winter dan tersenyum saat mendengar Winter menyenandungkan lagu yang terdengar familiar di telinganya.
“Di chat doang keliatan galak. Aslinya kalo lagi diem kaya bayi gini. Gemes banget” gumam Karina dalam hati.
“Ngapain lo senyum-senyum ngeliatin gue?”
“Suara lo bagus deh. Lo nyanyi lagu apa sih? Kaya familiar di kuping gue.”
“Gue nyanyi lagu Upi... Eh lagu Uptown Girl maksudnya.”
“Hah? Perasaan Uptown Girl nggak gitu deh lagunya?”
“Lo-nya aja yang budek. Orang gue nyanyi itu kok dari tadi.”
Winter kembali berjalan cepat meninggalkan Karina di belakangnya. Namun karena Karina memiliki kaki yang lebih jenjang dengan mudah ia berhasil mengejar Winter.
Dari samping Karina kembali memperhatikan paras Winter yang kini sedang mengerucutkan bibirnya. Lalu ia teringat lagu yang dinyanyikan oleh Winter bukanlah Uptown Girl melainkan Upin Ipin. Dan Karina kembali tersenyum membayangkannya.
“Lo tuh kenapa sih dari tadi senyum-senyum ngeliatin gue terus? Naksir?”
“Dih pede banget jadi orang. Lo sadar nggak sih kalo lagi diem gini lo tuh gemes banget kaya bayi?”
“Kaya bayi apaan sih. Gue udah kuliah bukan bayi lagi!” bentak Winter sambil berlari meninggalkan Karina dengan wajahnya yang kini berwarna kemerahan.
Tanpa Winter sadari, dirinya menginjak batu saat berlari yang membuatnya terpleset dan jatuh. Karina pun segera berlari menghampiri Winter dan membantunya untuk bangun.
“Jangan pegang-pegang! Gue bisa bangun sendiri!”
“Kenapa harus marah-marah sih. Gue cuma mau bantuin lo doang.”
“Gue nggak butuh dibantuin!” bentak Winter saat Karina sedang menarik badannya ke posisi setengah berdiri.
Merasa kesal, Karina melepaskan genggamannya dan membiarkan Winter kembali terjatuh.
“Kok lo malah ngelepas sih?”
“Tadi katanya nggak mau dibantuin? Ya gue lepaslah. Udahlah gue balik ke kosan aja. Lo makan sendiri sana. Nanti uang mangkoknya gue ganti.”
Karina berjalan berbalik arah menuju kosan meninggalkan Winter yang masih duduk terdiam di pinggir jalan.