Warteg 3.0
Without you ARound, i can'T smilE aGain
Karina melangkahkan kakinya turun perlahan dari tangga, berjalan menghampiri Winter yang sedang asik bermain dengan Zero di teras kosan. Tidak seperti 1 bulan lalu saat awal keributan terjadi, kali ini Winter tersenyum saat melihat sosok Karina mendekatinya.
Sudah 1 minggu berlalu semenjak Winter selalu menghindar tiap kali Karina ingin menemuinya. Ia sengaja menghindar karena tidak ingin terlalu berketergantungan kepada Karina, mengingat Karina akan segera pergi meninggalkan kosan. Namun, melihat senyum Karina hari ini setelah 1 minggu tidak bertemu, membuat Winter kembali merasakan perasaan menggelitik di perutnya. Ingin sekali rasanya memutar waktu kembali ke 1 minggu lalu saat Karina selalu berada di sisinya.
Tidak jauh berbeda dengan Winter, Karina merasakan sesak di dadanya yang selama 1 minggu ini sangat mengganggunya luruh saat melihat senyum manis dari Winter. Ingin sekali rasanya melanjutkan waktu ke depan seperti 1 minggu lalu saat Winter selalu ada di sisinya. Saat semuanya masih baik-baik saja. Saat Winter tidak menjauh darinya.
“Kita mau ngobrol di mana, Win?” tanya Karina sambil mengelus Zero yang bermain-main di kakinya.
“Temenin gue makan malam dulu yuk di warteg depan. Gue yang traktir. Anggep aja kado dari gue sebelum lo pindah kosan,” jawab Winter tersenyum kecut saat mengingat waktunya bersama Karina yang tinggal sebentar lagi.
Karina menggendong Zero di kakinya lalu membawanya masuk ke dalam rumah. “Zero di dalem dulu yah sebentar. Kakak mau beli makan dulu. Zero jangan nakal yah. Nanti kita main lagi.” Karina mencium kepala Zero lalu menurunkannya dari gendongan.
“Karin, lo ngeledekin gue ya?” Winter memukul pundak Karina yang sedang menutup pintu karena menirukan ucapan pamitnya pada Zero seperti 1 bulan lalu saat mereka akan pergi ke warteg bersama untuk pertama kalinya. Walaupun pada akhirnya gagal.
“Dih, ngeledekin apaan sih. Emang lo doang yang boleh pamitan sama Zero. Wleee.” Karina menjulurkan lidahnya lalu tertawa saat melihat Winter mengerucutkan bibirnya.
“Gemes banget sih. Kaya bayi.” Karina mencoba mencubit pipi Winter yang langsung mendapat tepisan dari pemiliknya.
“Apaan sih. Dibilangin gue bukan bayi.”
“Iya deh bukan bayi. Awas jangan main lari aja ya. Nanti lo jatoh lagi. Terus kita batal lagi ke wartegnya.” Karina tersenyum saat melihat Winter gelagapan.
“Kariiinnn... Jangan ledekin gue terussss,” rengek Winter melipat kedua tangannya ke depan dada.
“Hahaha. Iya, gue diem deh. Jadi mau makan nggak? Atau mau ngobrol di sini aja?”
“Jadilah. Gue laper banget. Ngobrolnya nanti aja abis makan, kita nongkrong dulu di lapangan badminton.” Winter berjalan terlebih dahulu meninggalkan kosan yang kemudian diikuti oleh Karina.
Winter dan Karina baru saja keluar dari warteg setelah menyelesaikan makan malam mereka. Saat ini keduanya sedang berjalan menuju ke lapangan dekat kosan untuk memulai pembicaraan empat mata. Winter yang berjalan beberapa langkah di depan Karina sedang asik meminum temulawak dalam kantong plastik di tangannya ketika sebuah motor berkecepatan tinggi muncul dari gang kecil di sebelah kanannya.
“WINTER!” teriak Karina saat melihat Winter tersungkur di tanah.
“WOI! TOLOL! KALO NGGAK BISA NYETIR YANG BENER NGGAK USAH NAIK MOTOR, GOBLOK! DI GANG KECIL KOK NGEBUT!” Teriak Karina kepada pengendara motor yang kabur tidak bertanggung jawab.
“Karin! Kok lo jadi kasar sih ngomongnya! Isshhh.” Winter meringis saat merasakan perih di telapak tangan dan lututnya yang terluka.
“Ya kalo dia nggak tolol, lo nggak bakal jatuh kaya gini, Win. Sorry, ya. Seharusnya tadi gue narik lo sebelum keserempet motor.” Karina mengecek luka pada tubuh Winter, mengeluarkan tisu kecil dari kantongnya lalu mengelap darah pada lukanya.
“Nggak usah minta maaf. Bukan lo yang salah,” ucap Winter mencoba berdiri namun rasa sakit pada pergelangan kakinya membuatnya terduduk kembali.
“Tuh kan lo sampe keseleo gitu. Lo naik ke punggung gue aja cepetan. Gue gendong sampe kosan.” Karina berjongkok di depan Winter memintanya untuk naik ke punggungnya.
“Nggak mau ah. Apaan sih gue masih bisa jalan. Lo pegangin tangan gue aja.” Bentak Winter menolak digendong Karina.
“Batu banget kalo dikasih tau. Lo berdiri aja nggak bisa. Buruan naik atau gue tinggalin biar lo ngesot sendiri ke kosannya.” Karina menolehkan kepalanya ke belakang memasang wajah kesal dengan mata melotot. Dengan terpaksa Winter menaiki punggung Karina. Tangannya ia lingkarkan di leher Karina.
“Pegangan yang kenceng ya. Jangan sampe jatoh lagi.” Karina berdiri perlahan, membetulkan posisi Winter di punggungnya lalu berputar balik menuju kosan.
Selama perjalanan menuju kosan, keduanya hanya diam saja. Karina sedang asik dengan dunianya sendiri, bersenandung lagu yang muncul di pikirannya ketika ia merasakan basah di pundaknya. Tak lama kemudian, terdengar suara isak tangis dari belakangnya.
“Win? Sakit banget ya? Tahan dulu ya. Sebentar lagi sampe kok.” Karina mengelus paha Winter di pinggulnya mencoba menenangkannya. Namun bukannya berhenti, tangisan Winter malah semakin menjadi. Merasa khawatir, Karina menghentikan langkahnya untuk mengecek keadaan Winter.
“Win, lo kenapa? Ngomong dong jangan nangis aja. Kalo sakit banget bilang. Biar gue lari ke kosannya.”
“Warteg,” jawab Winter singkat masih sambil menangis.
“Iya, barusan kita ngelewatin warteg tempat makan tadi. Di depan belok kiri terus setelah rumah ke 10 sampai kosan deh. Gue inget kok jalan ke kosan. Lo nggak bakalan gue culik.” Goda Karina mencoba mencairkan suasana. Namun Winter masih tetap menangis dalam gendongannya.
“Temulawak.”
“Hmmmm?” tanya Karina bingung.
“Temulawak gue jatoh tadi. Padahal masih banyak banget. Gue udah lama nggak minum temulawak,” jawab Winter lirih. Menangisi temulawaknya yang terjatuh tadi.
“Anjir lo, Win. Bikin gue panik aja. Iya ini kita balik lagi ya ke warteg. GUE BELIIN LO TEMULAWAK 1 LUSIN SEKALIAN. Jangan nangis lagi. Gue nggak suka ngeliat lo nangis.” Karina pun berputar balik menuju warteg, membeli temulawak untuk Winter.
Waktu menunjukan pukul 7.30 malam ketika mereka sampai di kosan. Di kamar Winter, Karina sedang membersihkan luka pada kaki yang lebih muda, setelah sebelumnya memasang kompres dingin di pergelangan kaki Winter yang keseleo. Sedangkan yang dibersihkan lukanya sedang asik duduk di ranjang, menikmati 2 plastik es temulawak dalam genggamannya.
“Pelan-pelan minumnya. Nanti keselek,” ucap Karina saat akan mulai mengoleskan antiseptik ke bagian luka di kaki Winter.
“Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..” Winter tersedak karena kaget merasakan perih di kakinya saat Karina mengoleskan salep.
“Dibilangin pelan-pelan. Bocil banget sih jadi orang.” Karina mengambil kantong plastik minuman yang sudah kosong dari tangan Winter, membuangnya ke tempat sampah lalu mengambil tisu dari nakas. Ia duduk di samping Winter, mengelap pakaian Winter yang basah terkena muncratan minuman dari mulutnya.
“Udah ah. Gue bisa sendiri.” Winter menarik tisu dari tangan Karina. Pipinya terasa panas saat menyadari posisi Karina yang sangat dekat dengan wajahnya.
“Udah dibantuin bukannya terima kasih. Ya udah gue mau ke kamar dulu. Kalo kompres di kakinya udah nggak dingin kabarin gue aja. Nanti gue tuker sama yang masih dingin di kulkas.” Karina beranjak dari duduknya, bersiap untuk menuju kamarnya. Namun, dengan cepat Winter menarik tangannya.
“Lo jangan pergi dulu. Tadi katanya ada yang mau diomongin. Gue juga belom ngasih tau lo yang mau gue bilang.”
“Besok aja ya. Lo butuh istirahat, Win. Besok kan juga masih ketemu.” Karina menepuk-nepuk tangan Winter yang menggenggamnya erat. Tak lama kemudian Winter melepaskan genggamannya dari tangan Karina. Mengira Winter sudah mengizinkannya untuk kembali ke kamar, Karina mengusap kepala Winter yang kini tertunduk lalu berjalan menuju pintu ketika ia mendengar tangisan dari Winter.
“Win, lo kenapa nangis lagi? Sakit banget ya kakinya? Mau gue panggilan Mbak Taeyeon?” tanya Karina khawatir. Ia telah kembali berdiri di depan Winter sambil mengusap kepalanya.
Bukannya menjawab pertanyaan Karina, Winter justru melayangkan pelukannya ke tubuh Karina. Karina yang bingung hanya bisa menenangkan Winter sambil mengusap punggungnya.
“Karin jangan pergi,” ucap Winter masih sambil memeluk Karina saat tangisannya sudah mulai mereda.
“Iya gue nggak pergi kok. Gue temenin lo malam ini ya. Tapi lo jangan nangis lagi.”
“Bukan itu. Maksud Winter, Karin jangan pindah kosan.”
Mendengar ucapan yang lebih muda, Karina melepaskan pelukan Winter dari tubuhnya lalu duduk di samping Winter sambil menggenggam kedua tangannya.
“Winter nggak mau jauh dari Karin. Winter minta maaf kalo udah buat Karin risih. Seminggu kemarin tanpa Karin, hidup Winter rasanya hampa. Winter nggak bisa senyum kalo nggak ada Karin. Winter lebih memilih seminggu tanpa Upin Ipin daripada seminggu tanpa Karin.” Dengan matanya yang berkaca-kaca ia beranikan diri untuk menatap Karina.
Karina menarik nafas panjang setelah mendengar ucapan Winter. Sambil mengencangkan genggamannya Karina berucap,
“Winter, sorry...”
Dan tangis Winter kembali pecah mendengar 2 kata yang terucap dari mulut Karina.
Jika mencintai seorang wanita rasanya akan sesakit ini, Winter hanya bisa berharap 2 orang pria yang selama ini selalu menemaninya tidak akan menyakiti hatinya seperti Karina.