We're All Weak for Someone
Tak perlu waktu lama bagi Karina, membatalkan semua rencananya yang telah ia atur untuk 1 minggu ke depan setelah melihat kiriman foto Winter di instagram. Walaupun pesan terakhir yang ia kirim belum dilihat apalagi dibalas oleh Winter, dengan penuh cemas Karina pergi meninggalkan Bandung.
Saat ini Karina baru saja tiba di apartemen Winter setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Setelah meletakkan tas ranselnya di sofa, ia bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas air mineral dan obat penghilang rasa sakit di kotak obat.
Saat membuka pintu kamar, terlihat Winter tertidur pulas di ranjang dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya yang mungil. Dengan senyum tipis di bibirnya, perlahan Karina menghapus jarak yang telah ia ukir selama 1 bulan terakhir untuk kembali ke sisi kekasihnya.
“Sayang, bangun yuk. Minum obatnya dulu biar enakan perutnya,” ucap Karina yang kini telah duduk di samping kekasihnya, mencoba membangunkan Winter dengan memberikan usapan di kepala.
“Aku saking kangennya sama kamu sampai ngerasa kamu beneran ada.... HOEEEK...” Winter yang membuka matanya saat merasakan usapan di kepala segera berlari menuju kamar mandi saat rasa mual dan sakit di perutnya tak tertahankan. Karina yang sudah biasa melihat hal seperti ini setiap bulannya bergegas menyusul Winter ke kamar mandi.
Merasa sedikit lega setelah mengeluarkan isi perutnya yang sebenarnya masih kosong, Winter segera berkumur untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Dengan tubuh gemetar, rasa sakit di perut dan keringat dingin yang mengucur, Winter berusaha sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak terjatuh di kamar mandi. Karina yang merasa tubuh Winter terlihat lunglai segera memeluknya dari belakang berusaha menopang tubuh sang kekasih agar tidak terjatuh.
“Karin? Ini beneran kamu? Bukannya tadi pagi kamu masih di Bandung?” Winter terkejut saat merasakan pelukan dari belakang tubuhnya. Ia masih berpikir Karina yang mengusap kepala dan membantunya saat muntah tadi hanyalah halusinasi.
“Nanti aku jelasin ya. Sekarang kita balik ke kamar dulu.” Karina mengambil handuk kecil dari rak lalu mengelap wajah kekasihnya yang basah. Dengan perlahan ia menuntun tubuh lunglai Winter kembali ke kamar.
Setelah membantu Winter mendapatkan posisi nyaman di ranjangnya, Karina kembali duduk di samping Winter, mengambil minyak telon dari laci nakas lalu membalurkannya ke bagian perut dan dada kekasihnya untuk memberikan kehangatan dan menghilangkan rasa mual. Winter yang masih tidak percaya sang pujaan hati telah kembali, hanya bisa menatap Karina sambil memamerkan senyum lebar dari bibirnya seakan lupa dengan rasa sakit yang dideritanya.
“Kamu kenapa sih ngeliatin aku kaya gitu? Serem tahu, kaya pervert.”
“Aku masih nggak percaya kamu ada di sini. Tahu gitu aku dapet setiap hari aja ya biar kamu nggak ninggalin aku,” ucap Winter menarik tangan Karina dari perutnya lalu menciumnya.
“HEH! Jangan ngomong sembarangan deh kamu. Aku tuh paling nggak suka ya ngeliat kamu kalo lagi dapet kaya gini. Kalo kamu bisa transfer rasa sakitnya ke aku, mendingan aku aja yang ngerasain semuanya. Daripada ngeliat kamu selalu tersiksa kaya gini. Sekarang mendingan kamu minum dulu obatnya biar enakan,” cecar Karina sambil memberikan segelas air mineral dan 1 buah tablet obat penghilang rasa sakit. Winter segera mengambil gelas dari tangan Karina lalu meminum obat yang diberikan kepadanya.
“Karin?” panggil Winter setelah meminum obat.
“Kenapa, sayang?” tanya Karina sambil mengusap perut kekasihnya mencoba memberikan pijatan untuk menambahkan rasa hangat.
“Jangan tinggalin aku lagi ya, please. Aku nggak bisa kalo harus jauh dari kamu.”
Tanpa terasa air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Karina yang panik saat melihat Winter menangis segera berbaring menghadap sang kekasih dan mendekap tubuhnya erat. Berkali-kali ia kecup puncak kepala kekasihnya berusaha meyakinkan Winter bahwa dirinya tidak akan kemana-mana. Tak pernah sekalipun terlintas di benak Karina melihat Winter yang serapuh ini dalam waktu 4 tahun mereka bersama.
“Ssssttt... Jangan nangis dong, sayang. Iya, kamu tenang aja. Pokoknya aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi. Maaf ya aku kelamaan ninggalin kamu.” Karina mengusap punggung Winter, mencoba menenangkannya yang masih menangis dalam pelukan.
“Tapi kamu bukan seharusnya di Bandung sampai minggu depan, ya? Kok tiba-tiba udah ada di sini aja?” tanya Winter saat tangisnya mulai mereda.
“Rencananya gitu. Tapi pas aku lihat instagram story kamu tadi pagi, aku langsung check out dan buru-buru ke sini. Karena aku takut kamu kenapa-kenapa. Orang hotel sampai bingung pas aku mau check out padahal aku udah pesan hotel sampai minggu depan.”
Winter melepaskan pelukan Karina dari tubuhnya setelah mendengar ucapan sang kekasih. Dengan wajah terkejut ia berkata, “Karin, kamu mendingan balik aja ke Bandung. Kan sayang, Karin. Aku udah nggak apa-apa kok. Soalnya udah ngeliat kamu se... HOEEEK...” rasa mual kembali dirasakan Winter. Karina bergegas mengambil ember kecil yang telah ia siapkan dari bawah ranjang lalu memeganginya di depan wajah Winter sambil mengusap punggungnya. Untungnya, tak ada yang keluar dari mulut Winter karena memang perutnya sudah kosong. Hanya saja rasa mual dan sakit di perut yang teramat sangat membuat Winter merasa ingin muntah. Setelah selesai berkumur dan membuangnya di ember, keduanya kembali berbaring dengan Karina menghadap ke arah Winter yang berbaring dengan posisi terlentang.
“Udah ya. Kamu nggak usah sok kuat. Aku tuh selalu ingat 2 hari pertama kalo lagi dapet, kamu pasti harus bed rest. Jadi berhenti suruh aku balik ke hotel karena sayang. Aku lebih sayang sama kamu daripada sama hotel, Win. Kamu juga bukannya langsung kabarin aku malah update di instagram aja. Aku kan udah bilang kalo ada hal darurat kamu harus langsung kabarin aku.” Winter yang sedang memejamkan matanya sambil menikmati usapan tangan Karina di perutnya, tersenyum saat mendengarkan ucapan Karina. Tanpa ia sadari air mata kembali mengalir dari sudut matanya.
“Bayi aku kenapa nangis terus sih hari ini. Aku tinggal sebulan kok jadi cengeng gini,” goda Karina kepada Winter yang kini mencoba tersenyum dalam tangisnya.
“Kamu sering bergadang ya selama aku pergi, sayang?” tanya Karina khawatir saat melihat lingkar hitam di bawah mata Winter yang terlihat jelas. “Pipi tembem kamu juga makin tirus gini. Pasti kamu sering nunda makan ya?” Winter yang rindu mendengar ocehan dari kekasihnya merasakan hangat di dada saat mendengar pertanyaan yang tak kunjung henti keluar dari mulut Karina.
“Kamu nih aku tanyain malah senyum-senyum aja!”
“Aku kangen banget dimarahin sama kamu kaya gini. Jujur selama kamu nggak ada aku jadi sering bergadang soalnya aku susah tidur.”
“Kamu nggak salah susah tidur? Kalo kita sleep call-an aja kamu sering banget ninggalin aku tidur duluan. Bahkan kalo aku lagi nginep di sini dan kita lagi ngobrol kamu biasanya langsung ketiduran pas nempel di pundak aku.”
“Iya, tapi itu semua karena aku lagi sama kamu. Suara kamu bikin pikiran aku jadi tenang. Pundak kamu tempat paling nyaman untuk aku bersandar. Makanya tanpa kamu aku jadi susah tidur.”
“Terus pipi kamu jadi tirus karena nggak bisa makan aku?”
“Itu salah satunya. AWWWW PELAN-PELAN SIH NYUBITNYA. Kamu yang nanya tapi kamu juga yang marah.” Winter mengusap-usap pinggangnya yang dicubit oleh kekasihnya. Merasa bersalah, Karina pun mengecup pipi kekasihnya.
“Abis kamu banyak banget alasannya. Jangan bilang kamu juga nggak minum vitamin kaya yang aku suruh?”
“Hehehe. Aku minum kalo inget doang.”
“Udahlah aku mending pergi lagi aja kalo gitu. Kamu aku tinggalin malah nggak berubah sama sekali.” Karina mencoba beranjak dari tidurnya. Namun, dengan sigap Winter segera menahan badan kekasihnya, menghalangi Karina untuk pergi. Karina akhirnya mengubah posisi tidurnya, saling berhadapan satu sama lain. Winter mendekatkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Karina. Kepalanya ia benamkan ke tubuh kekasihnya. Ia hirup dalam-dalam menikmati harum tubuh sang kekasih yang sudah 1 bulan ini ia rindukan. Karina pun tak mau kalah, ia kencangkan pelukannya pada tubuh Winter. Berkali-kali ia kecup puncak kepala kekasihnya, mencoba menikmati wangi shampoo pada rambut sang kekasih yang sudah 1 bulan ini ia rindukan.
“Maaf ya, sayang. Aku kayanya terlalu kaget sama permintaan kamu yang tiba-tiba sampai otak aku nggak bisa berfungsi normal.” Winter mendongakkan kepalanya mencium lembut bibir kekasihnya yang sudah lama tidak ia kecup.
“Aku yang seharusnya minta maaf karena terlalu mendadak kasih tahu kamunya. Terima kasih ya kamu udah nurutin permintaan aku. Terima kasih juga kamu udah mau bertahan sejauh ini sama aku. Maaf kalo selama ini aku terlalu banyak nuntut kamu. Maaf karena aku, kamu jad...” Winter membungkam kekasihnya dengan kecupan singkat di bibir.
“Kamu kaya Mpok Minah kebanyakan minta maaf. Yang seharusnya minta maaf itu aku, sayang. Kalo aku nggak terlalu bersikap kekanak-kanakan, kalo aku bisa lebih perhatian ke kamu, kalo aku bisa lebih aktif di hubungan kita, kamu nggak akan mungkin minta jeda kaya kemarin. Jadi mulai sekarang tolong kasih tahu aku secara langsung kalo kamu ngerasa aku mulai ngelakuin hal itu lagi ya. Aku nggak mau ngulangin hal yang sama 2 kali. Saat ini cukup jadi yang pertama dan terakhir kamu minta jeda sama aku.” Winter menutup pembicaraannya dengan mencium bibir kekasihnya. Kali ini jauh dari kesan lembut. Giginya ia mainkan, menggigit pelan bibir Karina. Yang digigit hanya bisa melenguh. Menikmati setiap gigitan yang diberikan kepadanya. Lidahnya pun tak mau kalah, seakan memaksa untuk masuk ke mulut kekasihnya.
“Sayang, maaf,” ucap Winter tiba-tiba sambil menghentikan ciumannya karena ia kembali merasakan mual.
“Iya nggak apa-apa. Kamu mendingan tidur dulu ya biar nanti pas bangun udah enakan perutnya.” Karina mengecup kening dan hidung Winter bergantian lalu kembali mendekapnya erat.
“Nggak mau. Aku masih kangen banget sama kamu.”
“Nanti pas kamu bangun kan juga aku pasti masih di sini, sayang. Hari ini aku nginep kok nemenin kamu. Jadi sekarang kamu istirahat ya.”
“Nggak mau, Karin.”
“Kan kamu mulai keluar kekanak-kanakannya lagi.”
“Aku nggak mau kamu nginep.”
Karina melepaskan Winter dari pelukan. Ia pegang dagu kekasihnya lalu diangkat dagunya untuk melihat dengan jelas tatapan mata Winter. Dadanya tiba-tiba terasa berat. Bukankah Winter baru saja berkata bahwa ia sangat merindukannya? Lalu kenapa Winter melarangnya untuk menginap? Winter yang melihat perubahan pada raut wajah kekasihnya segera menarik tangan Karina dari dagunya lalu menggenggamnya erat dan menciumnya lekat.
“Selama 1 bulan jauh dari kamu, aku baru sadar kalo aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu. Everything i do will always remind me of you. Aku sebenarnya takut karena aku ngerasa terlalu ketergantungan sama kamu. Tapi aku lebih takut kalo harus berjauhan lagi sama kamu. I don't think i can function well without you, Karin. Aku nggak nyangka kamu bakalan balik ke aku secepat ini. Tapi aku udah amat sangat yakin sama pilihan aku. Maaf karena keadaan aku lagi kaya gini. Tapi aku nggak mau kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya.” Winter mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
“Karin, aku maunya kamu tinggal bareng sama aku, jadi teman hidup yang akan selalu ada di sisiku, yang akan membantu menuntunku, mengingatkan saat aku salah, menemaniku menjalani hari, merangkai ki...” Karina membungkam bibir Winter dengan bibirnya. Walaupun belum mendapatkan jawaban langsung dari kekasihnya, ciuman dari Karina cukup membuat Winter merasa lega telah mengungkapkan isi hatinya.
“Karin aku belum selesai ngomongnya. Main sosor aja sih. Tadi sampai mana ya? Aku tuh udah ngafalin dari minggu lalu tapi gara-gara kamu jadi lupa kan,” rengek Winter saat melepas ciuman Karina.
“Gemes banget sih baru dicium aja sampai lupa gitu. Tanpa kamu lanjutin aku akan jawab mau, sayang.”
“Bener ya! Awas kalo tiba-tiba nggak mau. Oh iya sebentar aku udah inget lagi. Merangkai kisah kita berdua sampai maut memisahkan, mengizinkan aku memanggilmu mommy di setiap saat. AWWWWW KARIN SAKIT BANGET IH GIGITNYA,” teriak Winter sambil mengelus lengannya yang digigit kencang oleh Karina.
“Ya kamu langsung ngelunjak gitu sih pas aku bilang mau.”
“Sakit, mommy,” jawab Winter lirih. Bibirnya ia kerucutkan, berlagak kesakitan.
“Sayang, jangan cari masalah ya. Inget kamu lagi dapet.”
“Ya kan yang lagi dapet aku. Mommy kan nggak. Mommy emangnya nggak kangen sama aku?”
“Win...”
“Yes, Mommy?” dengan raut wajah lugu dan mata sendu, Winter mencoba mengadu sambil berharap kekasihnya akan setuju untuk melepas rasa 'rindu'.
“Aku balik ke kosan ya sekarang?”
“Nggak boleh ih! Iya maaf aku bercanda doang. Kalo minta peluk aja boleh?”
“Boleh, tapi inget no funny business. Aku nggak mau kamu tambah capek pas lagi sakit gini.” Karina pun langsung menarik tubuh Winter dan mendekapnya erat seakan tak ingin melepasnya walau hanya sesaat.
“Win, kamu ngerti no funny business, kan?” tanya Karina tiba-tiba.
“Ngerti kok.”
“Terus tangan kamu ngapain mainin dada aku sih?” Karina menyentil kening kekasihnya hingga Winter teriak kesakitan.
“Sakit, Karin. Lagian mainin apa sih. Orang aku cuma ngelus-ngelus aja. Hehehe.”
“Bodo amat.
“Karin?”
“Kenapa lagi? Kamu kapan tidurnya kalo manggil aku terus.”
“Nanti kalo aku udah selesai dapetnya, aku bantuin kamu packing pindahan ya. Tapi seminggu ini kamu jangan pulang ke kosan. Di sini aja pokoknya temenin aku. Aku nggak mau jauh dari kamu.”
“Iya bayiii. Kamu tenang aja ya. Aku nggak akan kemana-mana kok,” ucap Karina sambil mengusap punggung Winter. Yang diusap merasakan kantung matanya semakin berat. Menikmati setiap gerak tangan kekasihnya. Merasakan ketenangan yang lama tidak Winter dapatkan selama sebulan terakhir. Tak lama kemudian nafasnya mulai terdengar teratur di pelukan Karina.
“Karin, i love you,” bisik Winter sebelum masuk ke alam mimpi.
“I love you more, Winter.”
Terkadang, jeda dalam berhubungan dibutuhkan untuk memastikan kembali sejauh mana kita mampu melangkah untuk kedepannya. Menentukan pilihan apakah lebih baik berhenti atau terus berjalan. Memberikan waktu untuk membenahi diri masing-masing sebelum kembali memulai perjalanan panjang. Pada akhirnya Karina pun menyadari, sejauh apapun kakinya membawanya pergi melangkah, tujuan akhir dari perjalanannya tetaplah Winter seorang.
—END