You're Not Alone
Jam menunjukkan pukul 19.30. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam berdua di lantai bawah. Di rumah bertingkat dua ini, Winter hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Orang tuanya telah bercerai saat Winter kelas 3 SMP dan ibunya sudah memiliki keluarga baru lagi.
Di halaman belakang, terdapat rumah kecil tempat bibinya yang biasa membantu mengurus rumah dan suaminya yang merupakan supir keluarga Winter tinggal. Jadi saat malam hari, biasanya Winter hanya sendirian di rumahnya karena ayahnya sering pulang larut malam. Atau tidak pulang sama sekali.
“Sini kak,” panggil Winter sambil menepuk kasur di sebelahnya setelah Karina keluar dari kamar mandi sehabis berganti baju dan cuci muka. Karina segera menghampiri Winter, yang menjulurkan tangannya meminta peluk. Karina menyenderkan kepalanya di headboard setengah berbaring, tangan kanannya mengelus kepala Winter yang bersender di dadanya sambil memeluknya.
“Kak,” panggil Winter sambil memainkan kancing piyama Karina.
“Iya sayang?” ucap Karina.
“Aku nanti pas kuliah ngga tinggal di rumah lagi.” Winter mendongakan kepalanya ke arah Karina yang saat ini sedang melihatnya dengan tatapan bingung.
“Papa tadi ngasih tau di kamarnya ada kotak kuning isi kunci mobil sama apartemen buat aku pake pas kuliah nanti.”
“Terus rumah kamu kosong dong berarti?” tanya Karin heran.
“Iya, papa juga jarang pulang. Atau mau disewain kali buat syuting sinetron indosiar,” ucap Winter, tertawa geli membayangkannya.
“Tapi kamu bakalan sering pulang ke rumah kan? Setiap weekend gitu?” tanya Karina.
“Nggak tau juga sih, Kak. Toh nggak ada bedanya. Di rumah aku selalu sendirian. Di apartemen nanti juga sendirian,” ucap Winter sambil menghembuskan nafas panjang.
“Heeh jangan ngomong gitu. Nanti aku bakalan sering mampir kok ke tempat kamu,” kata Karina sambil mengencangkan pelukannya pada Winter.
Keduanya termenung dalam pikiran masing-masing. Karina yang merasa kasihan dengan keadaan Winter berjanji di dalam hati tidak akan membiarkan kekasihnya merasa kesepian selama bersama dirinya. Dan Winter yang kesepian, merasa takdir hidup itu lucu. Semua kebutuhan primer, sekunder dan tersiernya tercukupi dari lahir. Bahkan lebih dari cukup. Namun bukan itu yang selama ini Winter butuhkan. Yang dibutuhkannya hanyalah keluarga. Dan Winter tetap berterima kasih walaupun keluarga adalah sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan, setidaknya Karina akan selalu ada di sisinya. Untuk saat ini.
“Sayang, kamu nggak mau nyusu?” ucap Karina tiba-tiba, membangunkan Winter dari lamunannya. Dengan cepat ia mengangkat kepalanya dari dada Karina dan membuka mulutnya “HAH?”
Karina bingung melihat pipi dan telinga Winter yang memerah. Diletakannya telapak tangannya di kening Winter. “Kamu kenapa sih malah nganga gitu. Tiba-tiba merah juga mukanya padahal ngga demam. Pertanyaan aku juga ngga dijawab. Kamu tumben ngga bikin susu udah jam segini?” cerocos Karina heran dengan sikap pacarnya.
Sadar akan kebodohannya Winter langsung bangun dari kasur, menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan diri. “Hehehe kaget kirain susu murni,” gumam Winter setengah berbisik.
“Kamu ngga mikir aneh-aneh kan Win?” ucap Karina bersiap melempar bantal ke arah Winter.
Winter segera berlari menghindar dari Karina ke arah pintu sambil berteriak “Ya ampun nggak Kak mikir aneh apaan coba. Udah ah aku bikin susu dulu di bawah,” ucap Winter meninggalkan kamarnya secepat kilat.