ThePluviophilee

Without you ARound, i can'T smilE aGain


Karina melangkahkan kakinya turun perlahan dari tangga, berjalan menghampiri Winter yang sedang asik bermain dengan Zero di teras kosan. Tidak seperti 1 bulan lalu saat awal keributan terjadi, kali ini Winter tersenyum saat melihat sosok Karina mendekatinya.

Sudah 1 minggu berlalu semenjak Winter selalu menghindar tiap kali Karina ingin menemuinya. Ia sengaja menghindar karena tidak ingin terlalu berketergantungan kepada Karina, mengingat Karina akan segera pergi meninggalkan kosan. Namun, melihat senyum Karina hari ini setelah 1 minggu tidak bertemu, membuat Winter kembali merasakan perasaan menggelitik di perutnya. Ingin sekali rasanya memutar waktu kembali ke 1 minggu lalu saat Karina selalu berada di sisinya.

Tidak jauh berbeda dengan Winter, Karina merasakan sesak di dadanya yang selama 1 minggu ini sangat mengganggunya luruh saat melihat senyum manis dari Winter. Ingin sekali rasanya melanjutkan waktu ke depan seperti 1 minggu lalu saat Winter selalu ada di sisinya. Saat semuanya masih baik-baik saja. Saat Winter tidak menjauh darinya.

“Kita mau ngobrol di mana, Win?” tanya Karina sambil mengelus Zero yang bermain-main di kakinya.

“Temenin gue makan malam dulu yuk di warteg depan. Gue yang traktir. Anggep aja kado dari gue sebelum lo pindah kosan,” jawab Winter tersenyum kecut saat mengingat waktunya bersama Karina yang tinggal sebentar lagi.

Karina menggendong Zero di kakinya lalu membawanya masuk ke dalam rumah. “Zero di dalem dulu yah sebentar. Kakak mau beli makan dulu. Zero jangan nakal yah. Nanti kita main lagi.” Karina mencium kepala Zero lalu menurunkannya dari gendongan.

“Karin, lo ngeledekin gue ya?” Winter memukul pundak Karina yang sedang menutup pintu karena menirukan ucapan pamitnya pada Zero seperti 1 bulan lalu saat mereka akan pergi ke warteg bersama untuk pertama kalinya. Walaupun pada akhirnya gagal.

“Dih, ngeledekin apaan sih. Emang lo doang yang boleh pamitan sama Zero. Wleee.” Karina menjulurkan lidahnya lalu tertawa saat melihat Winter mengerucutkan bibirnya.

“Gemes banget sih. Kaya bayi.” Karina mencoba mencubit pipi Winter yang langsung mendapat tepisan dari pemiliknya.

“Apaan sih. Dibilangin gue bukan bayi.”

“Iya deh bukan bayi. Awas jangan main lari aja ya. Nanti lo jatoh lagi. Terus kita batal lagi ke wartegnya.” Karina tersenyum saat melihat Winter gelagapan.

“Kariiinnn... Jangan ledekin gue terussss,” rengek Winter melipat kedua tangannya ke depan dada.

“Hahaha. Iya, gue diem deh. Jadi mau makan nggak? Atau mau ngobrol di sini aja?”

“Jadilah. Gue laper banget. Ngobrolnya nanti aja abis makan, kita nongkrong dulu di lapangan badminton.” Winter berjalan terlebih dahulu meninggalkan kosan yang kemudian diikuti oleh Karina.


Winter dan Karina baru saja keluar dari warteg setelah menyelesaikan makan malam mereka. Saat ini keduanya sedang berjalan menuju ke lapangan dekat kosan untuk memulai pembicaraan empat mata. Winter yang berjalan beberapa langkah di depan Karina sedang asik meminum temulawak dalam kantong plastik di tangannya ketika sebuah motor berkecepatan tinggi muncul dari gang kecil di sebelah kanannya.

“WINTER!” teriak Karina saat melihat Winter tersungkur di tanah.

“WOI! TOLOL! KALO NGGAK BISA NYETIR YANG BENER NGGAK USAH NAIK MOTOR, GOBLOK! DI GANG KECIL KOK NGEBUT!” Teriak Karina kepada pengendara motor yang kabur tidak bertanggung jawab.

“Karin! Kok lo jadi kasar sih ngomongnya! Isshhh.” Winter meringis saat merasakan perih di telapak tangan dan lututnya yang terluka.

“Ya kalo dia nggak tolol, lo nggak bakal jatuh kaya gini, Win. Sorry, ya. Seharusnya tadi gue narik lo sebelum keserempet motor.” Karina mengecek luka pada tubuh Winter, mengeluarkan tisu kecil dari kantongnya lalu mengelap darah pada lukanya.

“Nggak usah minta maaf. Bukan lo yang salah,” ucap Winter mencoba berdiri namun rasa sakit pada pergelangan kakinya membuatnya terduduk kembali.

“Tuh kan lo sampe keseleo gitu. Lo naik ke punggung gue aja cepetan. Gue gendong sampe kosan.” Karina berjongkok di depan Winter memintanya untuk naik ke punggungnya.

“Nggak mau ah. Apaan sih gue masih bisa jalan. Lo pegangin tangan gue aja.” Bentak Winter menolak digendong Karina.

“Batu banget kalo dikasih tau. Lo berdiri aja nggak bisa. Buruan naik atau gue tinggalin biar lo ngesot sendiri ke kosannya.” Karina menolehkan kepalanya ke belakang memasang wajah kesal dengan mata melotot. Dengan terpaksa Winter menaiki punggung Karina. Tangannya ia lingkarkan di leher Karina.

“Pegangan yang kenceng ya. Jangan sampe jatoh lagi.” Karina berdiri perlahan, membetulkan posisi Winter di punggungnya lalu berputar balik menuju kosan.

Selama perjalanan menuju kosan, keduanya hanya diam saja. Karina sedang asik dengan dunianya sendiri, bersenandung lagu yang muncul di pikirannya ketika ia merasakan basah di pundaknya. Tak lama kemudian, terdengar suara isak tangis dari belakangnya.

“Win? Sakit banget ya? Tahan dulu ya. Sebentar lagi sampe kok.” Karina mengelus paha Winter di pinggulnya mencoba menenangkannya. Namun bukannya berhenti, tangisan Winter malah semakin menjadi. Merasa khawatir, Karina menghentikan langkahnya untuk mengecek keadaan Winter.

“Win, lo kenapa? Ngomong dong jangan nangis aja. Kalo sakit banget bilang. Biar gue lari ke kosannya.”

“Warteg,” jawab Winter singkat masih sambil menangis.

“Iya, barusan kita ngelewatin warteg tempat makan tadi. Di depan belok kiri terus setelah rumah ke 10 sampai kosan deh. Gue inget kok jalan ke kosan. Lo nggak bakalan gue culik.” Goda Karina mencoba mencairkan suasana. Namun Winter masih tetap menangis dalam gendongannya.

“Temulawak.”

“Hmmmm?” tanya Karina bingung.

“Temulawak gue jatoh tadi. Padahal masih banyak banget. Gue udah lama nggak minum temulawak,” jawab Winter lirih. Menangisi temulawaknya yang terjatuh tadi.

“Anjir lo, Win. Bikin gue panik aja. Iya ini kita balik lagi ya ke warteg. GUE BELIIN LO TEMULAWAK 1 LUSIN SEKALIAN. Jangan nangis lagi. Gue nggak suka ngeliat lo nangis.” Karina pun berputar balik menuju warteg, membeli temulawak untuk Winter.


Waktu menunjukan pukul 7.30 malam ketika mereka sampai di kosan. Di kamar Winter, Karina sedang membersihkan luka pada kaki yang lebih muda, setelah sebelumnya memasang kompres dingin di pergelangan kaki Winter yang keseleo. Sedangkan yang dibersihkan lukanya sedang asik duduk di ranjang, menikmati 2 plastik es temulawak dalam genggamannya.

“Pelan-pelan minumnya. Nanti keselek,” ucap Karina saat akan mulai mengoleskan antiseptik ke bagian luka di kaki Winter.

Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..” Winter tersedak karena kaget merasakan perih di kakinya saat Karina mengoleskan salep.

“Dibilangin pelan-pelan. Bocil banget sih jadi orang.” Karina mengambil kantong plastik minuman yang sudah kosong dari tangan Winter, membuangnya ke tempat sampah lalu mengambil tisu dari nakas. Ia duduk di samping Winter, mengelap pakaian Winter yang basah terkena muncratan minuman dari mulutnya.

“Udah ah. Gue bisa sendiri.” Winter menarik tisu dari tangan Karina. Pipinya terasa panas saat menyadari posisi Karina yang sangat dekat dengan wajahnya.

“Udah dibantuin bukannya terima kasih. Ya udah gue mau ke kamar dulu. Kalo kompres di kakinya udah nggak dingin kabarin gue aja. Nanti gue tuker sama yang masih dingin di kulkas.” Karina beranjak dari duduknya, bersiap untuk menuju kamarnya. Namun, dengan cepat Winter menarik tangannya.

“Lo jangan pergi dulu. Tadi katanya ada yang mau diomongin. Gue juga belom ngasih tau lo yang mau gue bilang.”

“Besok aja ya. Lo butuh istirahat, Win. Besok kan juga masih ketemu.” Karina menepuk-nepuk tangan Winter yang menggenggamnya erat. Tak lama kemudian Winter melepaskan genggamannya dari tangan Karina. Mengira Winter sudah mengizinkannya untuk kembali ke kamar, Karina mengusap kepala Winter yang kini tertunduk lalu berjalan menuju pintu ketika ia mendengar tangisan dari Winter.

“Win, lo kenapa nangis lagi? Sakit banget ya kakinya? Mau gue panggilan Mbak Taeyeon?” tanya Karina khawatir. Ia telah kembali berdiri di depan Winter sambil mengusap kepalanya.

Bukannya menjawab pertanyaan Karina, Winter justru melayangkan pelukannya ke tubuh Karina. Karina yang bingung hanya bisa menenangkan Winter sambil mengusap punggungnya.

“Karin jangan pergi,” ucap Winter masih sambil memeluk Karina saat tangisannya sudah mulai mereda.

“Iya gue nggak pergi kok. Gue temenin lo malam ini ya. Tapi lo jangan nangis lagi.”

“Bukan itu. Maksud Winter, Karin jangan pindah kosan.”

Mendengar ucapan yang lebih muda, Karina melepaskan pelukan Winter dari tubuhnya lalu duduk di samping Winter sambil menggenggam kedua tangannya.

“Winter nggak mau jauh dari Karin. Winter minta maaf kalo udah buat Karin risih. Seminggu kemarin tanpa Karin, hidup Winter rasanya hampa. Winter nggak bisa senyum kalo nggak ada Karin. Winter lebih memilih seminggu tanpa Upin Ipin daripada seminggu tanpa Karin.” Dengan matanya yang berkaca-kaca ia beranikan diri untuk menatap Karina.

Karina menarik nafas panjang setelah mendengar ucapan Winter. Sambil mengencangkan genggamannya Karina berucap,

“Winter, sorry...”

Dan tangis Winter kembali pecah mendengar 2 kata yang terucap dari mulut Karina.

Jika mencintai seorang wanita rasanya akan sesakit ini, Winter hanya bisa berharap 2 orang pria yang selama ini selalu menemaninya tidak akan menyakiti hatinya seperti Karina.

Setelah membalas pesan dari Winter, Karina bergegas turun menuju kamar Mbak Taeyeon untuk mengambil selimut tambahan. Selama 5 menit Karina berlalu-lalang dari kamar Mbak Taeyeon ke ruang laundry untuk mencari selimut tambahan, namun hasilnya nihil. Tidak ingin membuat Winter menunggu lebih lama, Karina menyudahi pencariannya. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju kamar Winter dengan tidak lupa membawa segelas air minum, obat penurun demam dan plester kompres demam.


Saat Karina membuka pintu, terlihat Winter menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan selimut. Dengan bantuan cahaya dari lampu tidur, Karina berjalan menghampiri Winter. Secara perlahan ia turunkan selimut yang menutupi kepala Winter setelah meletakkan gelas dan obat demam di nakas.

Mmmm... Papap jamngan sakib,” racau Winter saat Karina menurunkan selimutnya.

“Win, bangun yuk. Minum obatnya dulu abis itu tidur lagi,” bujuk Karina yang kini telah duduk di ranjang sambil mengelus rambut Winter mencoba membangunkannya.

Merasakan sentuhan di kepalanya, Winter pun terjaga dan membuka matanya secara perlahan. Dalam keadaan setengah sadar ia menarik tangan kanan Karina dari kepalanya dan meletakkannya di atas pipinya. Mencoba mencari tambahan kehangatan dari telapak tangan Karina.

“Dingin... Mau selimut... Pusing...” ucap Winter saat melihat Karina di hadapannya.

“Iya, minum obat dulu makanya. Abis itu gue ambilin selimut di atas ya. Selimut di bawah lagi pada dibawa ke laundry semua kayanya sama Mbak Taeyeon,” ucap Karina sambil merapikan poni Winter yang menutupi keningnya untuk menempelkan plester kompres demam. Winter meringis saat merasakan dinginnya plester kompres demam menempel di keningnya dan berusaha melepasnya saat itu juga. Namun, dengan sigap Karina menahan tangan Winter.

“Jangan di lepas dong, Win. Kan biar demamnya cepet turun. Sekarang duduk dulu yuk minum obatnya.”

Mendengar kata obat dari mulut Karina, Winter pun memutar badannya memunggungi Karina dan kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Karina menarik nafas panjang melihat tingkah Winter sambil mencoba mencari cara agar Winter mau meminum obatnya. Sampai akhirnya ia teringat pesan dari Mbak Taeyeon sebelum pergi ke Bogor.

“Win, kalo misalnya Winter lagi sakit, terus disuruh minum obat tapi Winter nolak berarti Winter na...”

”...kal,” jawab Winter dari balik selimut.

“Kalo nakal, kata Mbak Taeyeon, Karin boleh ngapus koleksi Upin Ipin Winter nggak? “

“Boleh.”

“Winter nakal nggak?”

“Nggak.”

“Mau minum obat?”

“Mau.”

Winter pun membuka selimutnya sampai ke perut lalu kembali memutar badannya ke posisi terlentang setengah duduk setelah mendengar konsekuensi apabila ia tidak mau meminum obatnya. Karina segera memberikan 1 buah tablet obat dan segelas air mineral sebelum Winter berubah pikiran.

“Hoeeek.. Pahit..” rengek Winter setelah meminum obatnya.

“Namanya juga obat, Win. Kalo manis namanya Win...”

“Ter...”

“Pinter banget sih yang lagi sakit,” ledek Karina mencubit dagu Winter.

“Karin apaan sih. Winter lagi sakit gini masih aja suka iseng,” rengek Winter yang kini sudah kembali ke posisi tidur setelah menyadari maksud ucapan Karina.

“Hahahaha. Gue bercanda doang biar pusing lo cepet ilang. Sekarang lo tidur lagi sana. Gue mau ke atas dulu sebentar ngambil selimut tambahan.” Karina bersiap berdiri untuk mengambil selimut di kamarnya namun dengan sigap Winter menarik baju Karina, mencegahnya untuk bangun dari ranjang.

“Nggak boleh. Karin di sini aja temenin Winter.”

“Iya, abis ngambil selimut nanti gue temenin lagi.”

“Nggak mauu. Pokoknya Karin nggak boleh kemana-mana.” Winter menarik tangan Karina dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya agar Karina tidak pergi meninggalkannya.

“Ya udah gue nggak kemana-mana tapi lepasin tangan gue dulu ya? “

“Nggak mau nanti Karin kabur.”

Karina membuang nafas panjang. Mengalah dan membiarkan Winter menggenggam tangannya.

Gemes banget ini bocil satu kalo lagi sakit jadi clingy gini. Karin lo harus kuat. Jangan mikirin yang macem-macem,” batin Karina sambil menggelengkan kepalanya.

“Ya udah Winter sekarang tidur ya. Biar besok pagi udah enakan badannya.”

Dengan wajah memelas Winter menatap mata Karina “Tapi Karin janji jangan kemana-mana.”

“Iya, Karin janji.”

Mendengar ucapan Karina, Winter kemudian menggeser tubuhnya ke arah dinding memberikan ruang yang lebih besar untuk Karina, masih sambil menggenggam tangannya.

“Winter, jangan terlalu mepet ke dinding tidurnya. Nanti lo tambah kedinginan.”

“Karin, geseran ke sini.” Winter melepas genggamannya dan menepuk ruang kosong di sebelahnya meminta Karina untuk mendekat ke sisinya.

“Gue duduk di ujung sini aja nggak apa-apa. Biar lo nggak terlalu mepet dinding.”

“Karin jangan duduk. Karin tiduran juga sama Winter.” Winter kembali menarik kaos yang dipakai Karina memintanya untuk berbaring di sebelahnya.

“Kasurnya sempit, Win. Nggak muat kalo gue tidur di sini juga. Gue duduk aja nggak apa-apa kok,” jawab Karina seadanya, mencari alasan walaupun sebenarnya ranjang Winter masih memiliki ruang yang cukup untuk mereka berdua berbaring.

“Winter kan lagi kedinginan. Biasanya kalo Winter kedinginan, Mbak Taeyeon selalu meluk Winter. Tapi sekarang Mbak Taeyeon lagi nggak ada di sini. Jadi nggak ada yang bisa meluk Winter.”

“Ya udah gue ambil selimut dulu ke atas ya biar lo nggak kedinginan,” ucap Karina berharap Winter mengizinkannya sehingga ia tidak perlu berbaring di sebelah Winter.

“Nggak boleh. Tadi kan Karin udah janji nggak bakal ninggalin Winter.”

“Hhhhhh... Iya, gue nggak kemana-mana deh. Jadi Winter mau Karin peluk?” Karina mengulurkan kedua tangannya ke arah Winter, dengan senyum menggoda ia menggerakkan kedua alisnya.

“Winter nggak minta dipeluk Karin. Karin sendiri yang nawarin mau meluk Winter.”

”....”

Karina terdiam mendengar ucapan Winter. Tangannya ia jatuhkan ke samping badannya. Sambil memijat kepalanya ia bergumam di dalam hati. “Yailah dia yang ngasih kode minta peluk, malah dia yang gengsi. Awas aja abis gue peluk tiba-tiba besok ngadu ke Mbak Taeyeon yang aneh-aneh. Bisa diusir dari kosan gue.

Karena tidak mendapat tanggapan dari Karina, Winter kembali memunggungi Karina dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut secara kasar. Merasa lelah karena waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 dini hari dan rasa kantuk mulai menyelimutinya, Karina mengesampingkan egonya dan mengistirahatkan tubuhnya di sebelah Winter.

“Jadi mau dipeluk nggak? Kalo nggak gue tidur duluan ya?” tanya Karina setelah mendapat posisi yang nyaman menghadap Winter yang masih menutup tubuhnya dengan selimut.

“Nggak jadi. Karin terpaksa meluk Winternya,” jawab Winter ketus.

“Nggak kok. Sini buruan kalo mau peluk. Tadi katanya kedinginan.”

Winter membalikkan badannya lalu menurunkan selimut yang menutupi kepalanya. Ia tersipu malu saat menyadari jarak yang begitu intim antara dirinya dan Karina. Winter pun memundurkan badannya menempel dinding.

“Kok malah ngejauh? Tadi katanya minta dipeluk?” Dengan tenang Karina merentangkan kedua tangannya ke arah Winter memintanya untuk mendekat walaupun pada kenyataannya jantungnya sedang berdetak tidak karuan.

“Nggak jadi. Winter malu dipeluk Karin.” bisik Winter menutup mukanya yang terasa panas dingin dengan selimut.

“Gemes banget sih yang lagi sakit. Nggak usah malu. Sini cepetan. Gue udah ngantuk banget nih.”

Dengan perlahan Winter mendekatkan tubuhnya, menjadikan lengan Karina sebagai bantal. Karina membuka selimut yang menutupi tubuh Winter dan masuk ke dalamnya lalu menarik tubuh mungil Winter yang menggigil, mendekapnya lebih erat menghilangkan jarak diantara keduanya. Dagunya ia tempelkan ke puncak kepala Winter.

“Santai aja, Win. Nggak usah tegang gini badannya. Anggep aja gue Mbak Taeyeon,” ucap Karina saat merasakan tubuh Winter yang terasa kaku dalam pelukannya. Karina mengelus punggung Winter dengan tangan kirinya sambil sesekali menepuknya pelan dari dalam selimut.

“Pelukan Mbak Taeyeon rasanya nggak seempuk ini,” bisik Winter tak sengaja mengatakan isi hatinya setelah merasa nyaman dalam pelukan Karina.

“Lo ngomong apa, Win?” Karina melepaskan Winter dari pelukannya mencoba menatap mata Winter yang kini terpejam.

“Karin berisik ah. Tadi katanya mau tidur. Winter udah ngantuk tau,” bentak Winter menarik tubuh Karina kembali untuk memeluknya.

Kok jadi gue yang dimarahin sih,” batin Karina.


Malam semakin larut. Sesekali terdengar suara dengkuran kecil dari Winter yang menandakan sang pemilik kamar telah tertidur. Karina pun dalam keadaan setengah sadar bersiap menuju ke alam mimpinya saat ia mendengar Winter meracau di dalam tidurnya. Sambil tersenyum ia mendengarkan celotehannya.

Karin, makasih udah mau sabar sama Winter. Maaf kalo Winter suka kekanak-kanakan. Karin jangan marah sama Winter lagi ya. Winter sayang banget sa....” Karina menahan nafasnya, jantungnya berdebar kencang menantikan kalimat selanjutnya.

....ma Upin Ipin. Hehehe. Upin... Ipin... Tungguin Winter.” Karina pun menghembuskan nafas yang ia tahan. Tubuhnya bergetar menahan tawa tak ingin membangunkan Winter di pelukannya.

Makasihnya ke gue. Minta maafnya juga ke gue. Tapi sayangnya ke Upin Ipin. Berat banget saingan lo ada 2 orang, Rin,” batin Karina yang tak lama kemudian menyusul Winter ke alam mimpi.

Saat Karina turun, Winter terlihat sedang asik menikmati makanannya di meja makan.

“Gue nggak tau lo biasanya beli apa jadi gue asal pilih aja tadi.” Winter mendorong piring berisi makanan ke arah Karina yang kini duduk di depannya.

“Dimakan jangan diliatin doang. Tenang aja nggak gue racunin kok,” ucap Winter sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

“Makasih ya, Win.” Karina memberikan senyuman manisnya ke Winter lalu menyendokan makanan ke mulutnya.

Yang diberikan senyuman manis pun merasa salah tingkah dan tersedak makanan yang sedang dikunyahnya.

Uhuk... Uhuk... Uhuk...

Dengan muka merah Winter menepuk-nepuk dadanya. Karina segera beranjak dari duduknya dan berlari mengambilkan segelas air minum lalu memberikannya kepada Winter yang langsung menghabiskannya dalam satu kali teguk. Karina membantu mengelus punggung Winter untuk menenangkannya.

“Lo nggak apa-apa kan? Gue tau lo laper tapi pelan-pelan makannya biar nggak keselek.” Karina mengambil tisu di meja makan lalu mengelap pipi Winter dengan tisu yang dipegangnya dengan tangan kirinya yang masih mengelus-elus punggung Winter.

“Ngapain megang-megang pipi gue sih! Gue bisa sendiri,” bentak Winter menepis tangan Karina dari pipinya.

“Gue cuma mau nolongin lo doang. Itu pipi lo belepotan makanan. Apa susahnya sih nerima pertolongan orang. Kaya bocil banget kalo ditolongin selalu marah karena apa-apa maunya serba sendiri.” Karina mencubit pipi Winter gemas.

“Apaan sih dibilang jangan pegang-pegang pipi gue!” Yang dicubit kembali menepis tangan Karina sambil memelototkan matanya.

“Ogu... Ogu... Ogu... Serem banget sih melototnya.” Karina kini mengusap-usap puncak kepala Winter dengan sengaja hanya untuk melihat reaksi Winter yang menggemaskan.

“Jangan pegang-pegang kepala gue!” Winter menundukkan kepalanya dengan cepat menghindari elusan tangan Karina dan tanpa sengaja menjedotkan kepalanya ke meja makan.

“AWWW... LO SIH NGELUS-NGELUS KEPALA GUE! JADI KEJEDOT KAN!”

“Dih kok jadi salah gue? Kan lo sendiri yang ngehindar. Udahlah gue makan di kamar aja kalo gitu sekalian ngerjain tugas. Capek dimarahin terus sama lo. By the way thank you for the food, Win.” Karina mengambil piringnya yang masih penuh dan meninggalkan Winter menuju ke kamarnya sambil tersenyum senang karena berhasil membuat Winter kesal.

Saat Karina sudah menghilang dari pandangannya, Winter kembali menepuk-nepuk dadanya yang sedari tadi tidak berhenti berdetak kencang.

“Ini perasaan gue keselek udah dari tadi kenapa masih deg-degan aja sih.”

Saat Karina turun, Ryujin, Ning dan Giselle sudah berkumpul terlebih dahulu di meja makan, menyisakan kursi kosong untuknya, Winter dan Mbak Taeyeon yang keduanya masih berada di kamar masing-masing.

“Gi, tukeran tempat duduk dong,” bujuk Karina kepada sahabatnya, berharap ia tak perlu duduk bersebelahan dengan Winter.

Di meja makan berbentuk persegi panjang itu, Ryujin dan Ning sudah menempati 1 sisi meja makan dan menyisakan 2 kursi kosong di seberangnya. Sedangkan di seberang Giselle, masih terdapat kursi kosong yang biasa ditempati oleh Mbak Taeyeon.

“Nggak ah. Gue udah pewe di sini. Lo dudukin kursi Mbak Taeyeon aja sana kalo mau.”

“Gi, ayo dong tukeran hari ini aja. Nggak mungkin juga gue dudukin kursi Mbak Taeyeon. Gue malu kalo duduk di se...”

“Karin, kok nggak duduk?” tanya Mbak Taeyeon saat keluar dari kamar, memotong pembicaraan antara Karina dan Giselle.

Tidak lama kemudian Winter pun keluar dari kamarnya dan dengan terpaksa Karina harus duduk bersebelahan dengan Winter.

“Ayo dimakan nanti keburu dingin loh steaknya. Jangan lupa makasih sama Giselle,” ucap Mbak Taeyeon.

“Terima kasih Kakak Giselle.” Ryujin dan Ning dengan kompak menirukan suara anak kecil yang diikuti gelak tawa dari penghuni kosan, kecuali Winter dan Karina yang masih merasa canggung satu sama lain.

Sambil menikmati hidangan, para penghuni kosan bercengkrama satu sama lain saling bertanya tentang kesibukan masing-masing. Semua terlihat menikmati hidangan yang disediakan kecuali Winter dan Karina. Untuk pertama kalinya Karina merasa makanan kesukaannya terasa biasa saja karena ia tidak bisa mengontrol detak jantungnya sejak Winter duduk di sebelahnya.

Sedangkan Winter, katakan saja Winter dan steak adalah musuh besar. Bukan karena ia alergi atau tidak suka, tapi selama ini saat makan steak bersama keluarganya, Bapak Danang dan Ibu Danang dengan senang hati akan memotongkan daging untuk putri kesayangannya. Bahkan tidak jarang ikut menyuapi Winter sampai makanannya habis. Dan saat orang tuanya tidak ada seperti saat ini, satu-satunya orang yang bisa ia harapkan adalah Mbak Taeyeon. Namun sayangnya Mbak Taeyeon terlalu sibuk dengan makanan dan gawainya sampai tidak sadar Winter sudah memelototinya dari tadi.

Setelah berulang kali gagal mencoba memotong daging di piringnya, akhirnya Winter menyerah dan meletakkan pisau dan garpu secara kasar di atas piringnya. Semua mata kini tertuju pada Winter yang membuat kegaduhan di makan malam itu. Tidak senang menjadi pusat perhatian, Winter beranjak dari kursinya dan segera masuk kembali ke kamarnya meninggalkan steak yang belum ia makan sama sekali.

“Adek! Kok main pergi aja sih kamu. Abisin dulu ini makanannya,” teriak Mbak Taeyeon saat melihat piring Winter.

“Adek udah kenyang!” jawab Winter dari dalam kamarnya.

“Maaf ya semuanya. Mbak lupa Winter harus dipotongin dagingnya kalo makan steak,” ucap Mbak Taeyeon sambil menarik piring milik Winter untuk memotong dagingnya yang kemudian dihalangi oleh Karina.

“Biar Karin aja yang motongin, Mbak.”

Mbak Taeyeon terdiam. Dahinya mengkerut dan dengan mata tajamnya ia memandangi wajah Karina yang kini terlihat gelagapan. Merasa terlalu ikut campur, Karina melepaskan genggamannya dari piring Winter dan menundukkan kepalanya sambil meremas bantalan kursi yang didudukinya.

“Kamu mau bikin deg-degan adek mbak lagi ya?” tanya Mbak Taeyeon sambil tersenyum jahil dan memainkan kedua alisnya. Giselle, Ryujin dan Ning yang melihatnya pun langsung tertawa melihat Karina yang salah tingkah.

“Mbaaak, Karin tadi bercanda doang sumpah. Karin nggak maksud ngegodain Winter. Jangan diungkit-ungkit lagi, please.”

“Bohong Mbak bohong.”

“Iya, Mbak. Jangan percaya, Mbak.”

“Coba cek handphone-nya, Mbak. Jangan-jangan udah lama sayang-sayangannya.”

Ucap Ryujin, Ning dan Giselle bersamaan berusaha memanas-manasi suasana yang membuat Mbak Taeyeon tertawa saat mendengarnya.

“Hahaha. Iya, maaf. Mbak bercanda doang kok. Tolong bantuin mbak potongin dagingnya dan kasih ke Winter ya, sayang. Mbak mau ada zoom meeting 5 menit lagi. Nanti piring kotor kalian ditumpuk di dapur aja. Biar mbak yang nyuci. Giselle makasih banyak ya. Mbak ke kamar duluan ya, semuanya.”

Mbak Taeyeon pun meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya meninggalkan Karina, Giselle, Ryujin dan Ning yang sudah hampir selesai menikmati hidangan.

“Sayang, potongin daging aku dong.”

“Aku juga mau, sayang.”

“Sayang, aku juga ya.”

Ledek Giselle, Ryujin dan Ning secara bersamaan saat Karina sedang memotong daging untuk Winter.

“Mau bibir siapa duluan sini gue potong kalo masih banyak bacot,” balas Karina sambil mengetuk pisau di tangannya ke piring.

Ketiga temannya tersebut langsung terdiam saling melirik satu sama lain kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Bercanda, Rin. Udah sana buruan suapin bayi galak lo. Kesian pasti kelaparan belom makan sama sekali.” Giselle beranjak dari duduknya menuju ke dapur dan diikuti Ryujin dan Ning yang sudah menyelesaikan makan malam mereka.


Tok... Tok... Tok...

“Win, gue masuk ya. Pintunya nggak dikunci kan?”

Karena tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar, Karina memberanikan diri masuk sambil membawa piring dan gelas di kedua tangannya. Di dalam kamar itu, Winter terlihat meringkukan badannya menghadap dinding dengan tubuhnya yang ditutupi selimut.

“Win, ayo makan dulu. Ini dagingnya udah dipotongin.”

“Gue nggak laper.”

“Nggak laper gimana. Lo tadi cuma makan side dish-nya doang. Dagingnya belom lo makan sama sekali.”

“Gue udah kenyang!”

“Winter... Ayo dong dimakan dulu. Kalo udah dingin nanti nggak enak loh.”

“Kalo nggak enak dibuang aja.”

“Win, ayo dong sehari aja bisa nggak sih dewasa sedikit. Jujur aja gue suka bingung sama lo. Kalo ditolongin suka marah-marah. Tapi kalo nggak ditolongin malah marah-marah juga. Nggak semua orang bisa nge.....”

BRUK...

Sebuah bantal mendarat kencang ke arah Karina diikuti suara pecahan piring dan gelas yang terlepas dari genggamannya. Dengan wajah panik Winter segera bangun dari tidurnya dan bergegas untuk membersihkan kekacauan yang ia sebabkan.

“Jangan turun dari kasur. Lo diem aja di situ biar gue yang beresin,” perintah Karina dengan nada tenang.

Karina berlari keluar kamar untuk mengambil sapu, pengki dan kain pel untuk membersihkan serpihan beling di kamar Winter.

Mbak Taeyeon yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar keributan heran melihat Karina dengan baju basah dan kotor keluar dari kamar adiknya. Ia pun segera berlari menuju kamar Winter dan kaget saat melihat pecahan piring dan gelas berserakan di lantai. Sedangkan sang pemilik kamar terlihat sedang duduk di pojok kasur mendekap kedua kakinya dengan kepala tertunduk.

“Adek! Kamu ngapain sih sampe pada pecah gini? Karin sini biar mbak aja yang beresin semuanya. Kamu istirahat aja,” ucap Mbak Taeyeon saat Karina masuk ke kamar membawa peralatan.

“Udah nggak apa-apa Mbak biar Karin aja. Itu tadi handphone mbak bunyi terus di kamar kayanya ada telepon penting.”

“Karin, makasih banyak ya. Maaf Mbak jadi ngerepotin kamu terus.” Mbak Taeyeon berlari meninggalkan Winter dan Karina menuju kamarnya.

Tidak ada pertukaran kata yang terjadi selama Karina membersihkan lantai kamar. Berulang kali Winter mencoba membuka mulutnya untuk meminta maaf namun lidahnya terasa kaku. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya ketika ia mencoba berbicara.

Saat Karina telah selesai dan bersiap meninggalkan kamarnya, Winter akhirnya memiliki keberanian untuk mengucapkan permintaan maafnya.

“Karin, sumpah gue nggak maksud bikin kekacauan kaya tadi. Lo jangan marah ya. Karin maafin gue, please,” ucap Winter dengan mata berkaca-kaca merasa bersalah dengan sikap kekanak-kanakannya tadi.

Dalam diam Karina pergi meninggalkan Winter tanpa jawaban.

“Karin, jangan diemin gue,” ucap Winter lirih saat Karina menutup pintu kamarnya.

Sambil memegang dadanya yang terasa sesak, Winter merasakan patah hati untuk kedua kalinya di dalam hidup. Patah hati pertamanya ia rasakan saat melihat Ipin kehilangan syal merahnya di serial Upin Ipin 'Kain Merah Ipin'. Dan patah hati keduanya ia rasakan saat melihat Karina menghilang dari pandangannya saat ia menantikan jawaban.

Setelah ditolak mentah-mentah oleh Winter saat menawarkan congfan miliknya di whatsapp, Karina akhirnya memberanikan diri untuk mengantarkannya langsung ke kamar Winter.

tok... tok... tok...

“Win, bukain pintunya. Ini ambil aja congfannya buat lo.”

“Nggak mau. Lo kasih aja ke yang lain. Gue udah kenyang.”

“Udah kenyang apaan sih? Gue tau lo tadi nggak kedapetan congfan ya. Buruan ini ambil.”

Saat Karina sedang membujuk Winter untuk membukakan pintu kamarnya, Mbak Taeyeon datang menghampiri Karina setelah selesai melakukan panggilan telepon dengan mamanya.

“Kenapa Karin?”

“Ini Mbak, Karin mau ngasih congfan buat Winter tapi Winternya nggak mau. Ngambek kayanya, Mbak.”

“Loh, kamu nggak doyan ya?”

“Doyan, Mbak. Cuma kasihan aja Winternya, gara-gara Karin jadi nggak kedapetan congfan.”

Mbak Taeyeon memicingkan matanya sambil menepuk pelan pundak Karina lalu berkata “Kamu perhatian banget sih sama Winter. Udah biarin aja dia kelaparan. Eh, sebentar deh.” Mbak Taeyeon menghentikan tepukannya lalu menggoyangkan pundak Karina sedikit kencang.

“Jangan-jangan kamu suka sama si bocil ya?”

“Ih, apaan sih Mbak. Karin tuh cuma kasihan doang. Mbak Taeyeon sih adeknya dikerjain terus. Orang dia yang janjian sama abangnya malah Winter yang nggak dikasih congfan. Kasihan tau, Mbak. Nanti kalo kelaparan gimana? Kalo sampe sakit kan malah ngerepotin. Emangnya Mbak Taeyeon mau ka...”

“Iya... Iya... Maaf Karin, Mbak salah nanya ke kamu... Mbak percaya kok kamu nggak suka sama si bocil,” ucap Mbak Taeyeon memotong omongan Karina sambil tersenyum geli.

“Ya udah kamu standby aja di deket pintu. Nanti begitu si bocil keluar kamu langsung masuk ya.”

“Emang Winternya bakalan keluar, Mbak? Orang ngambek gitu.”

“Kamu percaya aja sama Mbak pokoknya. Siap-siap ya.”

Karina merapatkan badannya ke dinding kamar Winter sedangkan Mbak Taeyeon berjalan menjauh dari pintu kamar Winter.

“Eh, mama. Tumben dateng ke sini? Kangen ya sama adek?” teriak Mbak Taeyeon lantang mencoba menarik perhatian Winter.

Secepat kilat Winter membuka pintu kamarnya dan dengan wajah sumringah ia berlari keluar kamar untuk menghampiri mamanya.

Namun tak dinyana semua hanya akal-akalan Mbak Taeyeon saja. Dengan raut wajah kecewa dan kepala ditekuk, Winter kembali masuk ke kamar diiringi suara tawa Mbak Taeyeon yang seperti orang kesurupan.

“Kirain mama beneran dateng. Adek kan kangen sama mama,” ucap Winter lirih sambil menutup pintu kamarnya.

“Nyokap lo agak sorean tadi gue denger baru bisa ke sininya,” bisik Karina yang mencoba menahan tawanya karena Winter masih belum menyadari bahwa Karina telah berhasil memasuki kamarnya.

“Ohh.. Baru sore ke sininya. Winter lanjut nonton Upin Ipin dulu deh sam... AAAAAAHHHHHHHH! LO NGAPAIN ADA DI KAMAR GUE?” teriak Winter kaget saat berbalik badan dan melihat Karina berdiri di belakangnya.

“Hahahaha... Gue mau ngasih congfan buat lo.”

“Kan gue bilang kasih ke yang lain aja!”

“Yang lain udah pada kenyang. Tinggal lo doang yang belum makan.” Karina menjulurkan tangannya yang memegang plastik berisi bungkus congfan ke arah Winter.

“Nggak mau ah.”

“Winter... Sayang...”

“L-Lo nga-ngapain manggil gue sa-sayang?” tanya Winter gugup dengan wajahnya yang mulai memerah saat mendengar kata sayang dari mulut Karina.

“Hah? Maksud gue sayang ini congfannya kalo nggak ada yang makan.”

Sadar akan kebodohannya, Winter segera menarik kasar plastik congfan dari tangan Karina.

“Udah keluar buruan. Gue mau lanjut ngerjain tugas.” ucap Winter sambil mendorong tubuh Karina.

“Ya udah, nggak usah dorong-dorong sih. Nonton upin-ipin aja sok-sokan ngerjain tugas,” ucap Karina saat melihat layar komputer Winter.

“KELUAR BURUAN.”

“Hehehe.. Iya, sayang. Sabar sih,” ledek Karina sambil mengelus-elus kepala Winter.

“Lo tuh apaan sih. Demen banget ngelus-ngelus kepala gue!” bentak Winter sambil menepis tangan Karina dari kepalanya.

“Ya kan sayang... Kalo nggak sayang juga gue nggak bakal ngelus-ngelus. Hahahaha...” Karina kembali tertawa saat berhasil membuat Winter salah tingkah.

“Karin nggak lucu ah!” ucap Winter dengan muka cemberut dan pipi kemerahan.

“Ya emang. Soalnya yang lucu itu elo.”

Tak tahan mendengar ledekan Karina, dengan sekuat tenaga Winter mendorong tubuh Karina keluar dari kamarnya. Ia pun menutup pintu dengan sangat kencang sampai dinding kosan terasa bergetar. Sambil memegang dadanya, Winter kembali duduk di kasurnya untuk menenangkan diri.

“Winter kayanya harus ke dokter secepatnya deh. Jantung Winter sering banget deg-degan nggak jelas akhir-akhir ini.”

Waktu menunjukan pukul 21.00 saat Winter tiba di rumah. Setelah mengunci pagar dan mobil, dengan tubuh yang sangat lelah Winter masuk perlahan ke dalam rumah yang lampunya sudah padam.

Setelah meletakkan tas kerjanya di sofa dan minum segelas air putih di dapur, Winter berjalan menghampiri Karina di kamar.

Karina sedang asik membaca buku di ranjang ketika ia mendengar pintu kamar dibuka. Dengan segera, ia menutup bukunya dan berjalan menghampiri Winter.

“Jangan peluk. Badan aku kotor banget seharian ini ketemu banyak orang. Kamu lanjut baca dulu aja. Nanti kalo aku udah selesai mandi, aku panggil kamu ya,” ucap Winter memberikan senyuman manisnya kepada Karina yang cemberut karena dilarang untuk memeluk.

“Aku nggak jadi keramas hari ini, sayang. Nanti kamu selesai mandi langsung tidur aja ya. Kamu pasti capek banget hari ini.” Karina merasa kasihan setelah melihat wajah Winter yang terlihat sangat lelah. Matanya sayu dengan lingkar hitam yang terlihat jelas di bawah matanya. Bibirnya terlihat pucat.

“Dih, kok gitu sih. Siapa bilang aku capek. Pokoknya nanti aku selesai mandi kamu langsung masuk aja ya pas aku panggil.”


20 menit kemudian, Winter keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan menghampiri Karina yang tertidur dengan buku menutupi wajahnya.

“Jangan pura-pura tidur. Aku tadi ngedenger suara kamu ketawa pas baca buku.”

Winter mengambil buku yang menutupi wajah Karina dan meletakkannya di nakas.

“Sayang, udahan pura-puranya. Akting kamu jelek tau.”

Winter mengelus kepala Karina dan tersenyum saat melihat kedua sudut bibir Karina naik saat rambutnya dipegang.

“Ya udah deh aku pakai baju aja kalo kamu nggak jadi keramas,” ucap Winter melepaskan tangannya dari kepala Karina.

“AAAAAHHHHH. Winter kamu bikin kaget aja. Katanya mau pakai baju,” teriak Karina yang kaget melihat wajah Winter hanya berjarak 5 cm dari mukanya saat membuka matanya.

“Hahahaha. Ya lagian kamu pura-pura tidur segala. Ayo sayang cepetan aku keramasin dulu biar tidurnya enak.”

“Nggak mau, sayang. Udah malam ini. Besok-besok aja keramasnya,” ucap Karina sambil menarik tangannya dari genggaman Winter.

Mendapat penolakan dari Karina, Winter akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Namun, yang dilakukan selanjutnya membuat Karina berteriak histeris.

Winter mengangkat tubuh Karina dengan bridal style dan membawanya menuju kamar mandi. Siapa sangka tubuh mungilnya mampu mengangkat tubuh Karina yang lebih besar darinya.

“Winter! Turunin aku. Hahahaha.”

“Ya Allah aku takut tulang kamu patah, sayang.”

“Winter geli ih jarinya jangan digerak-gerakin gitu.”

“Sayang! Awas, kepala aku hampir kepentok pintu.”

Karina tak henti-hentinya berteriak meminta agar Winter segera menurunkannya dari gendongan.

Setelah sampai di kamar mandi, Winter baru menurunkan tubuh Karina dan mendudukannya di kursi yang telah ia siapkan di depan wastafel.

“Udah enak belum posisinya?”

“Hmmmmm...” Karina memberikan senyuman dan menutup kedua matanya saat Winter mengelus kepalanya.

Mendapat lampu hijau, dengan perlahan Winter membasahi rambut Karina.

Butuh waktu 5 menit untuk membasahi rambut Karina yang panjang dan tebal itu.

Setelah basah, Winter mengusapkan shampoo dengan aroma lavender kesukaannya ke rambut Karina.

Sesekali terdengar suara lenguhan saat Winter mengencangkan pijatannya pada kepala Karina.

“Kamu kenapa sih suka banget ngeramasin aku, sayang?” tanya Karina masih dengan matanya yang terpejam.

“Aku juga bingung. Tapi entah kenapa aku kaya dapet energi setiap selesai ngeramasin kamu.”

“Sebentar...”

“Kenapa, sayang? Mata kamu perih ya? Aku cuci tangan dulu sebentar,” ucap Winter yang panik saat Karina menyentuh tangannya.

“Ih, bukan gitu, sayang. Aku baru ngeh kalo abis dikeramasin kamu, badan aku rasanya jadi relaks banget. Tidur aku jadi nyenyak. Ternyata kamu ya yang sedot energi aku,” ucap Karina sambil mengelus lengan Winter.

“Dih, kamu bikin aku panik aja. Yah, jadi ketahuan deh ya kalo aku sebenernya hantu yang suka sedot energi kamu. Makanya secapek apapun aku setiap pulang kerja, aku nggak masalah buat ngeramasin kamu. Soalnya itu salah satu cara buat ngebalikin energi aku.”

“Cara lainnya apa?” tanya Karina penasaran.

“Disayang kamu lah.” Winter tersenyum sambil mengedipkan matanya.

“Agak nyesel ya aku pas denger jawabannya.”

“Dih, kok kamu gitu. Kamu nggak sayang sama aku?”

“Aduh, sayang. Mata aku perih.”

“Apaan sih. Kena juga nggak.”

“Ihhh.. Seriusan... Cepetan cium mata aku sebelum aku nangis,” ucap Karina sambil mengedipkan kedua matanya.

Winter mencium kedua mata Karina sambil tersenyum.

“Ini kamu beneran perih apa akal-akalan aja sih?”

“Seriusan, sayaang. Bibir kamu kok tumben sih dingin banget. Tuh, sekarang hidung aku gatel banget rasanya.”

“Tangan aku masih berbusa, Kariinnn. Tangan kamu kan bersih. Garuk sendiri dong, sayang.”

“Nggak mau digaruk. Maunya dicium juga biar nggak gatel lagi.”

Winter hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Karina. Saat-saat bersama seperti ini yang membuatnya lupa dengan rasa lelah setelah seharian di kantor.

“Muaaah.. Udah ya. Aku mau bilas rambut kamu dulu. Udah 15 menit kita di kamar mandi. Belum lagi nanti aku harus ngeringin rambut kamu yang panjang banget ini.”

“Kok kamu kaya nggak ikhlas gitu sih, sayang?”

Winter menghembuskan nafas panjang sebelum memulai ucapannya.

“Bukannya nggak ikhlas, Karin. Aku cuma takut khilaf terus kita baru keluar dari kamar mandi besok pagi.”

“Ya udah sih sesekali ini,” ucap Karina sambil mengigit bibirnya, mencoba menggoda Winter.

“Niatnya sekali tapi jadinya berkali-kali. Besok kita masih kerja, sayang. Udah ya aku bilas rambut kamu dulu,” ucap Winter bersiap menyalakan air untuk membilas rambut Karina.

“Nanti dulu. 5 menit lagi, please. Abis itu kamu baru bilas rambut aku.”

“Awas ya kalo minta lebihin lagi.”

Winter kembali memijat kepala Karina yang berbusa sambil bersenandung ketika Karina tiba-tiba berteriak kesakitan.

“Kenapa, sayang? Aku kekencengan ya pijat kepala kamunya?” tanya Winter khawatir.

“Nggak kok. Ini bibir aku tiba-tiba sakit,” ucap Karina sambil mengelus bibirnya.

“Terus?”

“Harus dicium biar sembuh.”

“Sayang, tadi kamu aku ajakin keramas sempet nolak loh. Sekarang malah mancing terus.”

“Mancing apa sih. Ya udah, kalo nggak dicium aku tidur di kamar mandi aja kalo gitu.”

“Kaya yang berani aja. Ini malam jumat loh, sayang. Hiiii serem.”

“Nggak takut. Wleeee.”

“Karin... Kamu tumben clingy banget gini. Tanggal berapa sih sekarang emangnya?” Winter melihat jam tangannya dan menyadari bahwa saat ini adalah waktunya Karina memasuki masa PMS.

“Tanggal tua.”

Karina melipat kedua tangannya dan mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang mengambek.

Gemas melihat tingkah Karina, akhirnya Winter menyerah dan mencium bibirnya.

Berharap mendapat senyuman setelah memberikan ciuman namun Karina tetap ngambek tanpa mengubah posisi sama sekali.

“Karin, kan udah aku cium. Kok masih ngambek sih?”

“Duduk dulu sini.”

“Kursinya kan cuma satu, sayang. Aku disuruh duduk di lantai maksudnya?”

“Aku pangku maksudnya,” ucap Karina sambil menepuk kedua pahanya.

“Sayang....”

“Ya udah. Aku tidur dulu ya.” Karina menutup kedua matanya dengan bibir yang masih dibuat mengerucut dan tangan dilipat di dada.

Sadar dengan hari yang sudah semakin malam dan akan butuh waktu 20 menit untuk mengeringkan rambut Karina, Winter akhirnya pasrah dan duduk di pangkuan Karina.

Bibir Karina tersenyum saat menyadari Winter telah duduk di pangkuannya. Namun ia tetap menutup matanya dan berpura-pura tidur.

“Akting kamu jelek.”

Winter memberikan ciuman ke kedua mata Karina.

“Seharusnya kita udah selesai dari tadi.”

Ciuman kedua mendarat di hidung Karina.

“Tau gitu tadi aku biarin aja kamu nggak usah keramas hari ini.”

Ciuman ketiga Winter berikan pada tahi lalat di bawah bibir Karina.

“Kamu tau aku paling lemah sama bibir kamu.”

Winter terdiam tidak lagi memberikan ciuman kepada Karina.

Karina yang kesal karena Winter tidak melanjutkan ciumannya akhirnya membuka matanya dan menarik tubuh Winter ke dalam pelukannya.

Dan bibir mereka pun akhirnya bersentuhan.

Dengan penuh nafsu Winter mencium bibir sintal milik Karina. Tangannya yang masih berbusa ia letakkan pada kepala Karina dengan sesekali memberikan pijatan kencang.

Suara lenguhan dari keduanya terdengar menggema di dinding kamar mandi yang tidak terlalu luas itu.

Ciuman dan gigitan mereka lakukan silih berganti. Sesekali lidah mereka ikut bermain, bertautan satu sama lain.

Detik berubah menjadi menit. Lima menit berubah menjadi lima belas menit.

Suhu kamar mandi terasa memanas dan ciuman keduanya semakin ganas.

Tersadar akan dirinya yang terjatuh dalam perangkap Karina, Winter menghentikan ciumannya sambil mencoba mengambil nafas.

Setelah nafasnya kembali normal, Winter berusaha bangun dari pangkuan kekasihnya namun dengan sigap Karina menahannya.

“Udah ya, sayang. Kamu tadi bilang 5 menit doang. Ini udah lebih banget ya.” Winter akhirnya berhasil bangun dari pangkuan Karina dan mulai membilas rambut kekasihnya.

“Lihat nih, tangan aku keriput gara-gara kamu.”

“Ihhh... Biasanya kalo keriput juga kamu nggak pernah ngeluh. Malah minta lagi.”

“Beda konteks, sayaang.”

“Apa bedanya sih. Kan sama-sama keriput, basah terus...”

“Kamu pilih diem atau aku siram mukanya?” Winter menghentikan omongan Karina sebelum semakin menjurus ke arah lain.

“Kaya yang berani aja kamu nyiram muka aku. Kecuali kalo pas di kasur tuh baru kamu AAAAAARGRGRGHHHHH.... SAYANG, KAMU KOK SIRAM MUKA AKU BENERAN?”

Karina segera mengangkat kepalanya yang menyebabkan bajunya basah terkena tetesan air dari rambut.

“Ya siapa suruh nggak bisa diem!”

“Ya kamu kalo di kasur juga nggak...”

“Karin!” Winter kembali memotong omongan Karina.

“Udahlah kamu beneran tidur di kamar mandi aja hari ini.” Winter berjalan keluar kamar mandi meninggalkan Karina dengan rambut basahnya.

“Ya udah. Aku nggak takut kok. Wleee.”

Karina beranjak dari duduknya untuk mengambil handuk ketika listrik rumah mereka padam.

“WIIINN!”

“WINTERRRR!!”

“INI RUMAH KITA DOANG YANG MATI LISTRIK APA RUMAH SEBELAH JUGA?”

“WINTERRRR! KOK KAMU DIEM AJA SIH?”

Merasa takut, Karina akhirnya berlari keluar kamar mandi untuk menghampiri Winter.

Namun karena lantai yang basah, Karina terpleset dan kepalanya terbentur ke lantai yang membuat dirinya tidak sadarkan diri.


Waktu menunjukan pukul 21.45 saat Winter tiba di rumah. Setelah mengunci pagar dan mobilnya, dengan tubuh yang sangat lelah Winter masuk perlahan ke dalam rumah yang lampunya sudah padam.

Setelah meletakkan tas kerjanya di sofa dan minum segelas air putih di dapur, Winter berjalan menghampiri Karina di kamar.

Winter panik saat membuka pintu kamar melihat karina tergeletak di depan pintu kamar mandi dengan rambut basah sambil memegang handuk.

“Karin, bangun sayang. Kamu kenapa tiduran di lantai sambil basah-basahan gini sih?” tanya Winter sambil berjongkok mencoba membangunkan Karina.

“Sayang, bangun dong. Kamu jangan bikin aku panik.” Winter mencoba memeriksa denyut nadi dan nafas Karina. Semua terasa normal.

Winter berlari menuju nakas untuk mengambil minyak kayu putih dan meletakkannya di hidung Karina.

5 menit kemudian Karina mulai sadar dan membuka matanya.

“Lampunya udah nyala dari tadi? Kamu jahat banget ninggalin aku gelap-gelapan. Aku panggilin nggak nyaut lagi!” Karina mencoba duduk sambil memukul pundak Winter.

Dengan wajah bingung Winter membantu Karina bangun dan memintanya duduk di ranjang.

“Aku mandi dulu ya sebentar. Abis itu aku keringin rambut kamu.”

“Kamu kok mandi lagi sih, sayang? Tadi kan kamu udah mandi sebelum keramasin aku? Terus kok kamu pake baju kerja lagi?” tanya Karina bingung.

“Aku ikut kamu ke kamar mandi pokoknya. Aku takut. Kamu jangan ninggalin aku sendirian lagi,” rengek Karina.

“Kamu pasti pusing ya? Aku mandi dulu 5 menit aja abis itu aku keringin rambut kamu terus kita tidur ya. Pintu kamar mandi aku buka. Aku bakalan ngajak kamu ngobrol selama mandi. Kamu jangan takut ya,” Winter mencium kening Karina dan berjalan menuju kamar mandi.


5 menit kemudian, masih menggunakan bathrobe, Winter meminta Karina duduk di kursi rias untuk mengeringkan rambutnya.

“Maaf aku pulangnya kemaleman ya, sayang. Kamu sampe keramas duluan gini. Tadi mobil aku bannya bocor. Jadi harus nyari bengkel dulu.”

Karina menarik tangan Winter dari kepalanya dan meremasnya kencang.

“Kamu bercandanya nggak lucu ah. Jelas-jelas tadi kamu yang ngeramasin aku. Pake pura-pura mandi lagi segala. Aku minta maaf kalo aku ngisengin kamu terus tadi di kamar mandi. Tapi kamu jangan bikin aku takut gini dong.”

“Siapa yang bercanda sih. Kamu coba cek handphone kamu deh. Tadi aku wa kamu jam 21.15 ngasih tau kalo aku pulang telat.”

Karina berjalan mengambil handphone-nya dan berteriak saat melihat pesan dari Winter. Ia melempar handphone-nya ke kasur dan berlari memeluk Winter. Karina menangis ketakutan dalam pelukan Winter.

“Terus yang tadi ngeramasin aku siapa dong, sayang?”

“Mungkin tadi kamu cuma mimpi dikeramasin sama aku. Tadi kan kamu jatuh terus kepala kamu kebentur lantai jadi kamu masih agak linglung. Kamu tenang aja ya, yang penting sekarang aku udah di sini,” ucap Winter sambil mengelus rambut Karina.

Tidak lama kemudian lampu kamar mereka berkedip dan listrik kembali padam. Samar-samar terdengar suara gamelan dari kejauhan. Karina mengencangkan pelukannya ke tubuh Winter. Tubuhnya merinding dan bulu kuduknya berdiri. Kegelapan dan samar suara gamelan membuat suasana terasa mencekam.

Dengan tenang Winter mengelus punggung Karina dan mengencangkan pelukannya lalu berbisik...

“Katanya tadi kamu nggak takut tidur sendirian di kamar mandi walaupun sekarang malam Jumat. Sekarang kamu mau sendirian atau saya temenin? HIHIHIHI.”

—SELESAI—

Setelah 5 menit menunggu sambil bermain dengan Zero di teras kosan, Karina akhirnya menampakkan batang hidungnya.

“Lama banget sih turunnya? Dandan dulu ya lo?” tanya Winter saat melihat Karina berjalan menuju teras.

“Siapa yang dandan sih. Gue cuci muka doang.”

Saat Karina sudah tiba di teras, Winter menggendong Zero dan membawanya ke dalam rumah. “Zero di dalem dulu yah sebentar. Kakak mau beli makan dulu. Zero jangan nakal yah. Nanti kita main lagi.” Winter mencium kepala Zero lalu menurunkannya dari gendongan.

“Ayo, buruan. Laper banget nih gue,” ucap Winter setelah menutup pintu rumah dan berjalan cepat meninggalkan Karina.

“Sama anjing aja manis bener. Giliran sama gue udah kaya preman pasar ngomongnya,” gumam Karina sambil berlari mengejar Winter.


Diperjalanan menuju warteg yang berjarak 200m dari kosan, keduanya hanya berjalan berdampingan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Berbeda dengan perilakunya di grup chat yang tampak beringas, saat ini Winter tampak menggemaskan seperti anak kecil yang akan pergi bermain ditemani kakaknya.

Dari samping, sesekali Karina melirik ke arah Winter dan tersenyum saat mendengar Winter menyenandungkan lagu yang terdengar familiar di telinganya.

Di chat doang keliatan galak. Aslinya kalo lagi diem kaya bayi gini. Gemes banget” gumam Karina dalam hati.

“Ngapain lo senyum-senyum ngeliatin gue?”

“Suara lo bagus deh. Lo nyanyi lagu apa sih? Kaya familiar di kuping gue.”

“Gue nyanyi lagu Upi... Eh lagu Uptown Girl maksudnya.”

“Hah? Perasaan Uptown Girl nggak gitu deh lagunya?”

“Lo-nya aja yang budek. Orang gue nyanyi itu kok dari tadi.”

Winter kembali berjalan cepat meninggalkan Karina di belakangnya. Namun karena Karina memiliki kaki yang lebih jenjang dengan mudah ia berhasil mengejar Winter.

Dari samping Karina kembali memperhatikan paras Winter yang kini sedang mengerucutkan bibirnya. Lalu ia teringat lagu yang dinyanyikan oleh Winter bukanlah Uptown Girl melainkan Upin Ipin. Dan Karina kembali tersenyum membayangkannya.

“Lo tuh kenapa sih dari tadi senyum-senyum ngeliatin gue terus? Naksir?”

“Dih pede banget jadi orang. Lo sadar nggak sih kalo lagi diem gini lo tuh gemes banget kaya bayi?”

“Kaya bayi apaan sih. Gue udah kuliah bukan bayi lagi!” bentak Winter sambil berlari meninggalkan Karina dengan wajahnya yang kini berwarna kemerahan.

Tanpa Winter sadari, dirinya menginjak batu saat berlari yang membuatnya terpleset dan jatuh. Karina pun segera berlari menghampiri Winter dan membantunya untuk bangun.

“Jangan pegang-pegang! Gue bisa bangun sendiri!”

“Kenapa harus marah-marah sih. Gue cuma mau bantuin lo doang.”

“Gue nggak butuh dibantuin!” bentak Winter saat Karina sedang menarik badannya ke posisi setengah berdiri.

Merasa kesal, Karina melepaskan genggamannya dan membiarkan Winter kembali terjatuh.

“Kok lo malah ngelepas sih?”

“Tadi katanya nggak mau dibantuin? Ya gue lepaslah. Udahlah gue balik ke kosan aja. Lo makan sendiri sana. Nanti uang mangkoknya gue ganti.”

Karina berjalan berbalik arah menuju kosan meninggalkan Winter yang masih duduk terdiam di pinggir jalan.

17 November 2060 Siang hari

Winter baru saja selesai menceritakan kembali kisah perjalanan hidupnya, awal mula pertemuannya dengan belahan jiwanya sampai keberaniannya untuk akhirnya mengikrarkan janji suci untuk selalu bersama dalam sehidup dan semati, ketika tangan yang selalu ia genggam erat selama 48 tahun itu terlepas dari genggamannya.

Karina baru saja selesai mendengarkan kembali kisah perjalanan hidupnya, awal mula pertemuannya dengan belahan jiwanya sampai keberaniannya untuk akhirnya menerima janji suci untuk selalu bersama dalam sehidup dan semati, ketika tangannya yang selalu di genggam erat selama 48 tahun itu melepaskan genggamannya.

Siang itu, di depan belahan jiwanya dan 2 malaikat kecilnya–begitu Karina dan Winter biasa memanggil kedua anaknya–Karina pergi meninggalkan semua kenangannya untuk memulai hidup baru di tempat peristirahatan abadinya.

Tidak ada air mata dalam perpisahan itu. Tidak ada teriakan histeris yang menyayat hati. Yang ada hanyalah senyuman perpisahan karena mereka pasti akan bersatu. Yang ada hanyalah ucapan perpisahan karena mereka pasti akan bertemu kembali.

Winter perlahan beranjak dari duduknya. Meninggalkan ciuman hangat di dahi yang dingin. Tangan keriputnya mengelus rambut putih belahan jiwanya untuk yang terakhir kali. Dengan senyum, Winter mengikhlaskan kepergian Karina.

“We are always together forever and never have been apart. You hold my heart forever. You are my forever.”

Dengan bantuan kedua malaikat kecilnya, Winter pergi meninggalkan belahan jiwanya untuk mempersiapkan proses pemakaman.


17 November 2060 Malam hari

Proses pemakaman telah selesai sejak sore hari tadi. Saat ini, Winter sedang berada di kamarnya mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian mengurus prosesi pemakaman.

Kamarnya terasa sunyi. Pikirannya terasa sepi. Hatinya terasa hampa. Hidupnya terasa merana.

Setelah proses pemakaman selesai dan kerabat serta kedua malaikat kecilnya pergi meninggalkannya untuk beristirahat, Winter baru merasakan betapa sakit hatinya ditinggal pergi belahan jiwanya. Air mata yang ia coba tahan akhirnya mengalir dari kedua matanya. Pikirannya kembali mengingat momen-momen akhir kebersamaannya dengan Karina.

8 Januari 2060

“Karin, nggak nyangka banget ya udah 42 tahun kita hidup bersama. Dari kamu masih suka lari ngejar aku, pas aku ngisengin kamu sampe sekarang buat jalan aja kita harus pakai bantuan tongkat,” ucap Winter sambil mengelus tangan keriput milik Karina.

Mereka baru saja menyelesaikan acara makan malam anniversary ke 39 tahun kebersamaan mereka sejak mengikrarkan janji suci bersama kedua malaikat kecilnya. Iya, malaikat kecil yang memilih mereka saat keduanya dengan yakin ingin memiliki 'little Karina' dan 'little Winter' untuk menambah kebahagiaan dari keluarga kecil mereka tepat 2 tahun setelah keduanya mengucapkan ikrar janji suci.

“Untung sekarang kamu berkurang jauh isengnya. Nggak kebayang aku harus ngejar-ngejar kamu pake tongkat. Yang ada aku guling-guling kali ya.”

Keduanya tertawa membayangkan kehebohan yang terjadi jika mereka bermain kejar-kejaran di usia yang tidak muda ini.

“Jangan bosen-bosen ya sama aku. Walaupun aku yakin kamu sebenernya udah muak banget sama aku.” Winter tersenyum sambil membenarkan posisi tidurnya. Saat ini keduanya sedang dalam posisi menghadap satu sama lain.

“Ya mau gimana lagi. Udah telat banget juga kayanya kalo bosen sama kamu. Jadi aku cuma bisa pasrah,” ucap Karina sambil mengelus rambut putih Winter.

“Syukur deh kamu sadarnya telat. Nggak kebayang juga aku kalo hidup tanpa kamu,” ucap Winter dengan wajah sedih.

“Sayang, aku kan udah sering bilang, di usia kita yang udah nggak muda ini, kamu harus selalu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.”

“Aku siap kok, sayang. Aku siap dipanggil duluan biar aku nggak perlu hidup tanpa kamu.”

“Enak aja. Nggak bisa gitu dong, sayang. Kan aku lebih tua dari kamu jadi mending aku aja yang dipanggil duluan.”

Mendengar ucapan Karina, Winter membalikkan badannya memunggungi Karina yang saat ini sedang menertawainya.

“Winter, kamu udah nggak cocok ngambek kaya gitu. Sadar umur dong, sayang,” ucap Karina sambil mengelus punggung Winter.

Selama 5 menit, Winter hanya berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Win, ayo dong udahan ngambeknya. Tidur yuk udah malam nih,” ucap Karina kini sambil mengelus rambut putih Winter.

“Karin...”

“Iya, sayang? Kenapa?”

“Bantuin aku putar balik badan. Pinggang aku sakit nggak bisa balik badan sendiri,” ucap Winter dengan nada memelas.

“Kan.. Makanya sadar umur. Udah umur segini masih ngambekan,” ucap Karina membantu Winter untuk membalikkan badannya sambil menertawakan belahan jiwanya itu.

Malam itu mereka tertidur dengan harapan siapapun yang akan semesta panggil terlebih dahulu, setidaknya jangan pisahkan mereka terlalu lama.

“Sayang, selamat ya permintaan kamu dikabulkan duluan. Tunggu aku ya di sana. Aku yakin Allah pasti menyatukan kita nggak lama lagi,” ucap Winter sambil memejamkan matanya.

Malam itu, tanpa disadari, Winter dapat tertidur pulas meskipun tanpa Karina di sisinya.

Malam itu, tanpa disadari, Winter mendapati jiwanya terasa sangat ringan seperti melayang di udara.

Malam itu, tanpa disadari, Winter mendapatkan doanya terkabulkan dalam sekejap saja.

Malam itu, tanpa disadari, Winter akhirnya dipersatukan kembali dengan belahan jiwanya yang bernama Karina.

Love of mine Someday you will die But I'll be close behind I'll follow you into the dark

No blinding light Or tunnels, to gates of white Just our hands clasped so tight Waiting for the hint of a spark

I Will Follow You into the Dark – Death Cab for Cutie

8 Januari 2012 Karina memilih Winter untuk menjadi teman hidupnya.

8 januari 2021 Winter memilih Karina untuk menjadi teman seumur hidupnya.

17 November 2060 siang Karina pergi meninggalkan Winter menuju tempat peristirahatan abadinya.

17 November 2060 malam Winter pergi menyusul Karina menuju tempat peristirahatan abadinya.

Aku nggak mau milih iya atau nggak. Aku maunya forever. -Winter, 8 Januari 2012-

This love will last forever because you are my home, my life and my forever. -Winter, 8 Januari 2021-

“We are always together forever and never have been apart. You hold my heart forever. You are my forever.” -Winter, 17 November 2060-

Winter & Karina Forever


Jika memang sudah takdir, Setiap kisah pasti akan berakhir. Walaupun kadang terasa getir, Mungkin saja di semesta lain sebuah kisah baru saja terukir.

Suara tangisan terdengar di taman bermain yang sepi itu. Seorang anak perempuan berambut panjang berlari menghampiri sumber suara di ujung seluncuran.

“Halo, aku Yoo Jimin. Nama kamu siapa?” ucap anak kecil berambut panjang itu kepada anak kecil yang menangis di ujung seluncuran.

“Halo, Jiminie. Nama aku Kim Minjeong,” ucap anak kecil dengan rambut diikat masih dengan tangisan kecilnya.

“Kim Minjeong. Aku panggil kamu Mindeongi ya.”

“Mindeongi, jangan nangis ya. Mulai sekarang, aku bakalan buat kamu tersenyum terus.”

Jiminie & Mindongie Forever

“Non Karin, ini ada titipan dari Non Winter. Katanya dibuka pas Non Karin udah bersih-bersih,” ucap Pak Marno sambil menyerahkan kotak besar berwarna biru tua di depan pintu apartemen.

“Oh iya. Terima kasih pak.”

“Saya pamit dulu ya, Non. Takut keburu macet di jalan,” pamit Pak Marno kepada Karina.

“Iya, pak. Terima kasih banyak ya udah nganterin saya. Hati-hati di jalan, pak.”

“Siap, Non.”

Pak Marno segera pergi meninggalkan lantai apartemen Winter dan Karina. Dengan perlahan Karina menggesekan kartu akses ke pintu apartemen dan masuk ke dalamnya.

Karina segera membawa kotak pemberian Winter ke dalam kamar dan meletakkannya di atas ranjang. Ia ingin sekali segera membukanya. Namun pesan dari Pak Marno tadi membuatnya mengurungkan niatnya dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Tiga puluh menit kemudian, setelah selesai mengeringkan rambutnya, masih berbalut handuk di tubuhnya, Karina membuka kotak pemberian Winter dan tersenyum saat melihat isinya.

Sebuah gaun hitam dengan post it ditempel di atasnya.

8 pm. Rooftop ❤️⭐

Karina melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 19.30. Ia bergegas memakai gaun pemberian Winter dan berdandan sedikit agar terlihat layak.

Setelah merasa siap, 25 menit kemudian Karina pergi meninggalkan apartemen menuju rooftop.


the view

Waktu menunjukkan pukul 19.59 ketika pintu rooftop terbuka. Winter baru saja selesai menyalakan lilin terakhir di lantai ketika wajah Karina terlihat mengintip dari balik pintu.

Dengan segera, Winter berjalan ke arah kekasihnya itu dan menariknya menuju meja yang telah disiapkan.

Winter mempersilakan Karina untuk duduk terlebih dahulu setelah menggeserkan kursi untuknya.

“Kamu udah makan?” ucap Winter yang masih berdiri di samping Karina sambil mengelus rambutnya.

“Udah kok tadi sebelum pulang.”

“Mau minum?” tanya Winter singkat. Dirinya mulai merasa gugup saat melihat Karina dari balik pintu rooftop.

“Tumben bukan temulawak?” ledek Karina saat melihat Winter memegang botol wine.

“Kalo kamu mau temulawak, aku ambilin dulu nih di bawah.”

“Hahaha. Nggak kok. Bercanda, sayang. Kamu kelihatan tegang banget soalnya.”

“Kamu cantik banget soalnya. Aku jadi deg-degan,” ucap Winter yang segera duduk setelah menuangkan minuman ke gelas.

“Katanya kamu sibuk sampai nggak bisa ngerayain anniversary kita? Padahal aku udah ngebayangin kamu pakai pita loh” ucap Karina menarik tangan Winter dan menggenggamnya.

“Itu nanti buat bagian kedua. Kamu tumben nafsuan banget hari ini?” Winter mengedipkan matanya, menggoda Karina.

“Kamu beda banget hari ini. Kelihatan lebih glowing,” ucap Karina mencium tangan Winter yang digenggamnya.

“Kamu nggak ketuker antara aku sama kunang-kunang kan?”

“Kamu miripnya kuyang bukan kunang-kunang.” Karina tertawa melihat perubahan ekspresi wajah Winter.

“Jadi gini rasanya lagi mau romantis tapi nggak diseriusin.”

Karina kembali tertawa mendengar ucapan kekasihnya. Winter mengambil gelas di meja dan meminum isinya dalam sekali teguk.

“Sayang, pelan-pelan minumnya.”

Sorry, aku kedinginan. Hehehe.”

“Ya udah turun aja yuk. Nanti kamu sakit kalo kelamaan di sini.”

“Nanti dulu, Kariiin. Aku udah nyiapin dari pagi masa di sininya nggak sampai 10 menit,” ucap Winter menarik tangan Karina agar tidak pergi.

“Kamu kan tadi pagi ke kantor sekalian nganter aku?” tanya Karina heran.

“Hehehe. Iya aku nganterin kamu tapi abis itu aku balik ke apartemen.”

“Mentang-mentang bos seenaknya ambil cuti,” ucap Karina sambil cemberut.

“Dih bukan gitu. Aku ada alasan sendiri kenapa hari ini nggak ke kantor.”

Winter menggenggam kedua tangan Karina dan mendekatkannya ke wajahnya.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Kamu inget nggak awal mula kita ketemu, dikenalin sama Gigi pas pulang sekolah. Terus kamu malu-malu gitu pas kita kenalan. Hari itu aku bersyukur banget Gigi udah ngenalin kamu ke aku. Kalo hari itu Gigi nggak ngenalin kamu ke aku, mungkin aku yang sekarang nggak bakal ada di sini.” ucap Winter mencium kedua tangan Karina yang digenggamnya.

“Kita pacaran udah 9 tahun, tinggal bareng udah hampir 2,5 tahun. Kamu udah tau banget dalamnya aku, aku udah hafal banget kebiasaan kamu. Kalo aku boleh jujur, peran kamu ke hidup aku selama 9 tahun ini yang bisa ngebuat aku kaya sekarang. You made me for who I am now because you are my home.” Winter menghentikan pembicaraannya untuk menyeka air mata yang membasahi pipi Karina.

“Karina, waktu aku robek pertanyaan kamu dan aku ganti dengan tulisan forever 9 tahun yang lalu, aku bukannya mau sok romantis. Tapi aku beneran emang mau selamanya sama kamu. This love will last forever because you are my home, my life and my forever. Hari ini, 8 Januari 2021, setelah 9 tahun kita bersama aku mau memastikan lagi ke kamu.” Winter melepaskan genggamannya dari tangan Karina dan mengambil kotak kecil yang ia sembunyikan di bawah meja.

Will you always be by my side until the death do us part?”

Winter membuka kotak perhiasan berisi sepasang cincin. Karina tidak menjawab pertanyaan Winter namun ia langsung memeluk Winter erat diiringi dengan tangisannya yang semakin kencang.

“Kamu nggak jawab pertanyaan aku terus nangis sesenggukan gini karena sedih ya harus hidup selamanya sama aku?” tanya Winter sambil mengelus rambut Karina dengan tangan kirinya.

“Kamu diem dulu. Aku lagi terharu. Jangan ngerusak suasana.”

Winter tersenyum mendengar ucapan Karina. Ia meletakkan kotak perhiasannnya di meja dan memeluk erat tubuh Karina. Tanpa disadari air mata mulai turun dari kedua matanya. Bukan hal yang mudah bagi Winter untuk memberanikan diri mengucapkan janji untuk hidup bersama Karina sampai maut memisahkan mereka. Namun membayangkan hidup tanpa Karina sampai akhir hayatnya membuat Winter lebih merasa takut.

“Sayang, kamu kenapa nangis juga?” tanya Karina heran setelah tangisannya mulai mereda.

“Abis kasihan kamu nangis sendirian. Jadi aku temenin.”

“Lagi kaya gini masih aja ngelawak terus. Tapi sampai kita tua nanti kamu jangan pernah berubah ya. Aku suka kamu yang kaya gini walaupun sering ngeselin.” Karina melepaskan pelukannya dan mengelap air mata di pipi Winter.

“Jadi kamu mau hidup sampai tua sama aku, sayang?”

“Ya abis mau gimana lagi. Aku kan udah pernah bilang kalo baju aku udah numpuk banget di lemari. Daripada aku harus ninggalin kamu bawa barang banyak banget ya mending aku pasrah aja,” ucap Karina sambil tersenyum.

“Kalo besok hari terakhir kita tinggal di sini gimana?”

“Terus aku gimana?” tanya Karina dengan raut wajah bingung.

“Ya makanya tadi aku tanya ke kamu. Kamu mau nggak selalu ada di sisi aku selamanya. Kalo kamu mau, mulai hari minggu kita pindah tinggal di rumah aku.”

“Terus kalo misalnya aku nolak?”

“Ya kamu tinggal di sini aja nggak apa-apa. Aku ikhlas dan nggak maksa kamu. Cuma aku mau ngasih tau juga kalo semua baju kamu udah dikemas dan di bawa ke rumah tadi sore.”

“Kamu bercanda kan, sayang? Terus kalo aku nolak gimana?”

“Kamu dari tadi nanya kalo nolak terus. Emang kamu ada kepikiran buat nolak aku?” tanya Winter dengan muka cemberut.

“Ya nggaklah. Aku nggak pernah kepikiran hidup tanpa kamu.”

“Ya aku juga udah yakin kamu nggak bakalan nolak. Makanya semua barang-barang kamu udah diangkut semua. Jadi hari minggu kita nggak perlu repot-repot pindahan barang.”

“Tapi kamu nyisain baju buat aku pakai sampai hari minggu kan, sayang?”

Winter membuka mulutnya dengan mata membelalak.

“Sayang, aku lupa nyisain baju kamu sampai hari minggu.”

“Winter! Kamu kalo mau ngasih kejutan nggak gini juga caranya.” Karina segera bangun dari duduknya dan berlari menuju pintu rooftop.

“Karin! Jangan pergi dulu. Ya Allah cincinnya aja belum dipasang udah mau kabur duluan. Kamu katanya mau hidup sampai tua sama aku. Belum ada sejam udah kabur gini. Aku udah pisahin baju kamu. Kamu tenang aja. Aku bercanda doang tadi,” teriak Winter sambil mematikan lilin yang masih menyala mengelilingi meja dan tidak lupa mengambil kotak cincin yang isinya masih tertata rapi di dalamnya.

Karina segera menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Winter. Ia memutar balik badannya dan kembali berjalan menghampiri Winter.

“Kalo bercanda jangan kelewatan makanya.”

“Sorry, babe. Aku janji kalo bercanda lihat situasi dulu.”

“Coba ulangin sekali lagi.”

“Aku janji kalo bercanda lihat situasi dulu.”

“Bukan itu. Yang sebelumnya.”

“Sorry, babe?”

“Cepetan pasangin cincinnya ke aku. Aku udah nggak tahan,” ucap Karina sambil menjulurkan tangannya ke Winter.

“Kamu mau pipis, babe?” tanya Winter sambil memakaikan cincin ke jari manis Karina.

Karina segera menarik tangan Winter untuk turun ke apartemen mereka namun Winter menahannya.

“Kamu kebelet banget, babe? Kamu nggak mau pasangin cincinnya buat aku? Ya Allah nggak ada romantis-romantisnya banget ini masangin cincin sambil kebelet.”

Karina segera memakaikan cincin di jari manis Winter. Lalu dengan penuh nafsu Karina mencium bibir Winter. Winter melempar kotak perhiasan yang dipegangnya dan memeluk tubuh Karina erat.

Babe, kamu katanya tadi kebelet. Turun dulu yuk. Nanti ngompol loh,” ucap Winter saat sedang mencoba mengambil nafas.

“Aku kebelet pikpokpak slebew slebew,” bisik Karina di telinga Winter.

Winter segera mendorong tubuh Karina.

“Sayang, kamu ngerusak suasana banget sumpah,” ucap Winter sambil tertawa.

“Ya udah kalo nggak mau. Aku sendirian juga bisa,” ucap Karina sambil berjalan meninggalkan Winter.

“Sayang! Bukan gitu maksudnya. Enak aja mau sendirian. Ya Allah tadi kelempar kemana lagi kotak cincinnya. Karin tungguin dulu.”

“Buruan Winter. Aku hitung sampai 5 ya atau nggak aku tinggal.”

“Udah ketemu! Ayo ki...” Winter terdiam melihat Karina yang sudah menghilang dari pandangannya.

Winter pun segera berlari untuk mengejar Karina.


9 tahun bukanlah waktu yang cepat bagi keduanya untuk meyakinkan diri masing-masing bahwa mereka ingin melanjutkan kehidupan bersama sampai maut memisahkan.

Namun, 9 tahun juga bisa saja terasa cepat bagi pasangan yang sudah mengikrarkan janjinya untuk hidup bersama sampai maut memisahkan.

Semuanya tergantung bagaimana mereka berdua akan menjalaninya.

Semoga saja Winter dan Karina masih akan selalu bersama sampai maut memisahkan mereka.

Acara Pensi baru saja selesai dengan penutupan dari band indie Efek Rumah Kaca. Seluruh siswa satu-persatu mulai meninggalkan lapangan untuk pulang ke rumah masing-masing. Beberapa panitia masih terlihat di sekitar panggung yang sedang dibongkar itu.

Tidak jauh dari panggung, tampak Winter dan Giselle yang sedang asik mengobrol. Saat ini mereka hanya berdua saja karena Karina sedang sibuk dengan tugasnya sebagai panitia dan Ningning tidak datang karena sakit.

“Win, baliknya nanti dulu ya. Gue mau nyari keong dulu sebentar,” ucap Giselle sambil tersenyum malu.

Awas aja lo berdua kalo sampai nggak jadian,” gumam Giselle dalam hati.

“Hah? Kenapa tiba-tiba mau nyari keong? Lo sehat, Gi?” ucap Winter dengan muka bingung.

“Gue nyari keong demi masa depan lo pokoknya. Mau ikut nggak?”

“Lah, kok jadi gue. Ikutlah. Males juga gue di sini sendirian.”

Setelah 30 menit berkeliling sekolah, Giselle dan Winter belum menemukan 1 keong sama sekali. Winter mulai terlihat lelah. Sedangkan Giselle masih bersemangat karena ia tidak ingin menggagalkan rencana temannya.

“Gi, balik aja yuk. Udah 30 menit ini kita nggak nemu keong sama sekali. Pegel banget kaki gue muterin sekolah nggak jelas,” ucap Winter dengan muka cemberut.

“Sabar. Feeling gue sebentar lagi keongnya ketemu.”

5 menit kemudian, Karina menghampiri Winter dan Giselle yang berdiri tidak jauh dari panggung tadi.

“Nah, keongnya dateng juga akhirnya,” ucap Giselle setelah melihat Karina jalan mendekat.

“Halo, Gi. Winter. Winternya gue pinjem dulu ya, Gi,” ucap Karina sambil menarik tangan Winter.

“Jangan kelamaan, Rin. Pegel gue setengah jam nyariin keong.”

“Iya, tenang aja.”

Seperti anak ayam yang mengikuti induknya, Winter hanya bisa pasrah saat Karina menariknya menuju pohon besar tidak jauh dari lapangan.

“Capek ya Win abis nyari keong?” tanya Karina yang tertawa sambil merapikan rambut Winter yang sedikit berantakan.

“Tadinya iya. Tapi abis ketemu Kak Karin langsung seger lagi nih.” Winter memamerkan senyum lebarnya kepada Karina.

“Maaf ya kamu jadi nggak bisa langsung pulang. Sebenernya aku yang nyuruh Gigi buat nahan kamu pulang. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Karina sambil memegang tangan Winter.

“Kak Karin sakit ya? Kok tangannya dingin banget sih? Aku anter pulang aja yuk, Kak. Ngomongnya nanti aja di mobil,” ucap Winter panik sambil berusaha menarik tangan Karina.

“Eh aku nggak sakit kok, Win. Lagi gugup aja. Hehehe.”

“Ya Allah, Kak. Gugup kenapa? Kaya lagi mau nembak orang aja pake gugup segala.”

“Iya bener, Win.”

“Ohh pantesan gugup banget.”

“HAH? MAKSUDNYA KAK?” Winter sedikit berteriak saat menyadari ucapan Karina.

“Iya, Winter. Aku langsung ngomong aja ya biar nggak kemalaman. Kamu mau nggak jadi pacar aku? Sebentar ya jangan dijawab dulu.” Karina mengeluarkan sebuah notebook kecil dan pulpen dari kantong jaketnya lalu menulis sesuatu di dalamnya.

“Kamu lingkarin ya jawaban yang kamu pilih.”

Winter mengambil notebook kecil itu dari tangan Karina. Di dalamnya terdapat tulisan

Mau ❤️ — Nggak Mau 💔

Karina berjalan menjauh, memberikan Winter kesempatan untuk memikirkan jawaban atas pertanyaannya. Melihat kedua temannya yang sebentar lagi akan resmi berpacaran, -harap Giselle di dalam hati- Giselle berjalan perlahan untuk memberikan selamat kepada keduanya.

Namun langkah Giselle terhenti saat ia melihat Winter merobek kertas notebook itu dan membuangnya ke tanah. Lalu di lembar halaman setelahnya, Winter meninggalkan suatu tulisan.

Setelah selesai menuliskan pesannya, Winter berjalan menuju Karina yang saat ini sedang menangis setelah melihat penolakan atas cintanya saat Winter merobek kertas notebook-nya itu.

“Maaf ya, kak,” ucap Winter yang kemudian berlari kencang menuju Giselle yang berdiri terdiam tidak jauh dari lokasi.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang terus mengalir, Karina mencoba melihat jawaban dari Winter walaupun ia sudah yakin akan penolakannnya.

“WINTER!” teriak Karina setelah membaca tulisan di notebook-nya. Ia segera berlari menuju Winter yang saat ini sedang menundukkan kepalanya dipelukan Giselle.

“Lepasin cewek gue, Gi,” ucap Karina menarik Winter dari pelukan Giselle.

“Hah? Apaan sih? Lo nggak bisa maksain Winter dong Rin kalo dia nolak lo,” ucap Giselle masih menarik tangan Winter.

“Maksain apaan sih? Nih, lo baca aja tulisannya.” Karina memberikan notebook-nya kepada Giselle.

Giselle melepas Winter dari pegangannya. Ia langsung membaca jawaban Winter pada notebook itu.

“Lah terus lo tadi ngapain lari terus meluk gue, Win?” tanya Giselle saat melihat jawaban Winter.

“Gue malu. Hehehe,” ucap Winter yang saat ini berada di pelukan Karina.

“Si anjir! Emang masih punya urat malu lo. Gue udah takut aja kalo lo berdua nggak jadian! Gue nggak mungkin harus milih buat temenan di antara lo berdua!” teriak Giselle emosi setelah mendengar ucapan Winter.

“Eh santai aja dong, Gi. Jangan marahin pacar gue,” ucap Karina sambil tersenyum mengejek Giselle.

“Awas kering itu gigi senyum mulu. Udahlah gue balik sendirian aja kalo gitu. Males jadi nyamuk.”

“Gigi, jangan ngambek gitu dong. Ayo, kita pulang. Pak Marno udah nungguin di parkiran. Kak Karin aku anterin pulang yuk sekalian. Udah malem, nggak baik cewek cantik pulang sendirian.”

“HOEKK... Aduh, gue jadi kangen Ningning. Pake nggak masuk segala lagi tuh anak. Berasa nyamuk banget gue nanti di mobil,” ledek Giselle yang tersenyum melihat temannya yang telah resmi berpacaran.

“Nggak jadi nyamuk juga sih, Gi. Kan ada Pak Marno. Nanti lo bisa ngobrol sama beliau.” ledek Winter kepada Giselle.

Mereka bertiga pun pergi meninggalkan lapangan untuk menuju parkiran. Dengan bergandengan tangan dan diiringi canda gurauan, Winter dan Karina memulai kisahnya dalam berhubungan.