ThePluviophilee

“Win, minta yang biasa dong. Udah lama banget gue nggak minum-minum nih,” ucap Giselle mengedipkan matanya kepada Winter memberikan kode.

Waktu menunjukkan pukul 11.00 malam. Saat ini mereka berempat sedang bersantai di kamar Winter menunggu datangnya tahun baru setelah seharian bermain, menonton film dan berfoto bersama.

“Oh iya, lupa. Sebentar ya gue ambilin dulu di bawah. Mau pakai es lagi apa nggak usah?”

“Pakai aja, Win. Biar nggak terlalu kuat rasanya. Takut tuh anak 2 pada nggak suka,” ucap Giselle sambil menunjuk ke arah Karina dan Ningning yang sedang mengobrol.

“Gigi! Lo kok ngajarin yang nggak bener sih! Ini kita masih pada di bawah umur loh! Aku sama Ningning nggak mau, Win. Kamu berdua sama Gigi aja yang minum,” ucap Karina dengan raut muka kesal.

“Udah nggak apa-apa kak, ikutan minum aja. Gigi pas aku tawarin pertama kali juga nolak. Tapi abis itu ketagihan. Kalo lagi mau minum-minum pasti dateng ke sini.”

“Ya justru itu bahayanya kalo ketagihan. Aku nggak mau ya kalo dateng ke sini cuma buat minum-minum doang.”

“Ya Kak Karin mah ke sini buat ngapain aja aku juga nerima. Nggak harus minum-minum doang,” ucap Winter dengan senyum malu tapi mau.

“EHEMBUCINEHEM. Udah win buruan sana lo ambil minumannya. Gue penasaran mau nyobain juga,” ucap Ningning yang langsung duduk menjauh dari Karina setelah tatapan Karina berubah 180 derajat kepadanya.

“Hahaha siap. Sebentar gue ambil ke bawah dulu.” Winter meninggalkan kamarnya untuk mengambil minuman di dapur.


“Woy, bukain pintunya dong. Tangan gue penuh nih,” teriak Winter sambil menendang-nendang pintu dengan kakinya.

Winter kaget saat melihat Karina yang membukakan pintu untuknya karena hampir saja ia menendang kaki Karina.

“Eh maaf, kak. Untung nggak kena.”

“Sini aku bantuin,” ucap Karina masih dengan muka galaknya, mengambil nampan berisi 4 buah gelas dan mangkuk berisi es batu.

Winter segera masuk dan meletakkan kantong plastik yang berisi 4 botol minuman di atas meja.

“Lah, ini mah temulawak si anjir. Gue kira apaan,” ucap Ningning setelah melihat isi plastik yang dibawa Winter.

“Ya emang temulawak. Lo kira apaan deh, Ning?” ucap Winter sambil menyengir lebar melihat Ningning dan Karina.

Ningning hanya bisa tertawa dan Karina masih terdiam duduk di depan ranjang melihat kesibukan 3 temannya yang sedang heboh menuangkan minuman ke gelas.

“Nih kak diminum temulawaknya. Tenang aja nggak bikin mabuk kok.”

Winter memberikan gelas yang berisikan temulawak dan es batu kepada Karina. Karina mencoba minuman itu untuk pertama kalinya.

“Enak juga, Win,” ucap Karina sambil mencoba menghabisi minuman itu dalam 1 kali teguk. Sampai tiba waktunya Winter mengucapkan kalimat yang membuat minuman di mulutnya kembali keluar.

“Aku daripada mabuk minuman mendingan dimabuk cinta sih, kak.”

“UHUK.. UHUK.. UHUK...” Karina memuncratkan minuman yang ada di mulutnya. Tenggorokannya terasa sakit. Mukanya memerah mendengar ucapan Winter.

“Ya Allah, kak. Pelan-pelan makanya minumnya. Tadi marah-marah pas ditawarin. Sekarang nafsu banget minumnya,” ucap Winter yang langsung mengambil handuk untuk membereskan kekacauan yang dihasilkan Karina.

Karina hanya bisa menunduk malu. Malu mendengar ucapan Winter dan malu karena kebodohannya yang memuncratkan minuman.

Giselle dan Ningning yang sedari tadi memperhatikan keduanya hanya bisa tertawa terbahak-bahak.

Setelah selesai merapikan kekacauan yang Karina buat dan tawa Giselle serta Ningning mereda, Mereka melanjutkan menunggu datangnya tahun baru dengan bermain.

“Main truth or dare aja yuk sambil nunggu jam 12,” ajak Giselle mengambil botol kosong dan berjalan ke tengah ruangan kamar Winter.

Saat ini mereka sedang duduk melingkar dengan urutan Karina, Giselle, Winter dan Ningning. Giselle mulai memutar botol dan berhenti mengarah ke Ningning.

“Asikkk. Truth or dare, Ning?” ucap Winter yang bersemangat saat teman sekelasnya itu mendapat giliran pertama.

Dare ajalah cemen banget masa pilih truth.”

“Ya udah yang gampang dulu ya. Tunjukin muka jelek lo. Yang lain jangan pada ketawa,” ucap Giselle meminta yang lain untuk diam dan fokus kepada Ningning.

Ningning mencoba menarik mulutnya ke bawah sehingga hidungnya ikut tertarik. Matanya ia buat sipit dan lipatan lehernya sengaja ia tunjukkan. Awalnya ketiga temannya berhasil menahan tawa. Namun ketika Ningning mengeluarkan suara aneh, mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak.

“HAHAHAHA.. Jelek banget lo sumpah Ning nggak bohong,” ucap Winter dengan suaranya yang melengking sambil memukul pundak Ningning.

“Hahahaha. Udah ya lanjut lagi. Keburu tahun baru yang ada kalo ketawa terus. Gue puter lagi ya,” ucap Giselle sambil memutar botol kosong.

Botol itu kini berhenti tepat ke arah Winter.

Dare. Udah buruan apaan sini. Gampang kalo buat muka jelek doang mah.”

“Dih belom ditanyain juga. Siapa bilang buat muka jelek lagi. Kalo gitu gue tantang buat cium orang yang ada di depan lo,” ucap Ningning sambil melirik ke Giselle.

“Oh iya, kalo lo nolak, hukumannya cium orang yang ada di depan lo juga ya. Lupa tadi bilang pas di awal,” ucap Giselle menimpali perkataan Ningning. Keduanya melirik satu sama lain sambil menahan tawa.

“Nggak lah apaan sih kok jadi gini dare-nya”

“Kok gue jadi ikutan kena juga sih?”

Karina dan Winter menolak secara bersamaan. Saat ini muka keduanya memerah. Jantung mereka berdegup kencang memikirkan tantangan itu. Sejujurnya, siapa yang tidak senang mencium dan mendapat ciuman dari pujaan hati. Tapi tidak dengan cara seperti ini.

“Woy! Malah bengong lo berdua. Buruan kerjain tantangannya, Win. Jangan dibayangin doang. 15 menit lagi udah 2012 anjir,” ucap Giselle melempar bantal ke arah Winter.

“Sabar sih. Kok jadi lo yang nafsu.”

Winter berjalan dengan lututnya menghampiri Karina. Tangannya berkeringat. Jantungnya berdegup kencang. Pipinya terasa panas. Karina yang dihampiri hanya bisa menutup matanya dengan kepala yang sedikit menunduk. Ia yakin ketiga temannya, apalagi Winter dapat mendengar betapa kencang detak jantungnya saat ini.

“Gue hitung sampai 3 ya. Lama lo abisan,” ucap Giselle yang kemudian mulai menghitung bersama Ningning.

“Satu..”

“Dua...”

“Tiga...”

Winter pun langsung mencium tangan Karina yang berada di paha seperti anak yang sedang sungkem kepada orang tuanya.

“Assalamualaikum, pergi dulu bu,” ucap Winter yang langsung kabur ke kamar mandi setelah mencium tangan Karina.

Giselle dan Ningning langsung tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Winter. Sedangkan Karina hanya bisa terdiam masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

“Sabar-sabar aja ya rin kalo udah jadian nanti. Emang agak ajaib kelakuannya,” ucap Giselle menyemangati temannya itu.

Tidak lama kemudian, Winter keluar dari kamar mandi seperti tidak terjadi apa-apa. Ia kembali duduk di depan Karina yang masih tidak berani untuk menatap matanya.

“Cupu lo, Win. Dikasih kesempatan malah disia-siain,” ucap Ningning sambil memutar botol kembali.

Sorry, bukannya cupu. Gue menghargai Kak Karin yee. Bukan main nyosor-nyosor aja kaya lo sama Gigi.”

“Udah heh kok malah bahas gue. Nyosor-nyosor lo kira soang. Nah pas nih berhenti di Karin. Truth or dare, rin?”

Truth aja,” jawab Karina singkat. Lebih baik jujur daripada harus melakukan hal yang membuat jantungnya seperti mau copot.

“Kapan lo mau nembak Winter?”

Untuk kedua kalinya jantung Karina seperti mau lepas dari rongga dadanya. Ingin sekali ia menempelkan lakban ke mulut Giselle saat ini juga.

Karina mulai gelisah karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak ingin membuat Winter merasa canggung.

Melihat Karina yang merasa tidak nyaman, Winter akhirnya mengeluarkan suara.

“Eh, 3 menit lagi tahun baru. Turun yuk ke bawah. Biasanya bakal banyak yang nyalain kembang api,” ajak Winter yang langsung beranjak dari duduknya dan berlari keluar kamar yang diikuti oleh Giselle dan Ningning yang kompak berteriak “Halah alasan aja lo. Mau kabur ya”. Sedangkan Karina mencoba mengambil sesuatu dari tasnya dan memasukkannnya ke kantong celana baru mengikuti ketiga temannya turun ke bawah.


Di taman belakang rumah Winter, suara gemuruh dari petasan dan kembang api meramaikan suasana tahun baru yang akan terjadi kurang dari 1 menit lagi. Sesekali juga terdengar suara tiupan terompet dari kejauhan. Giselle dan Ningning sedang berlarian di taman beratapkan percikan cahaya kembang api yang dinyalakan tetangga sekitar rumah Winter.

Winter segera menarik tangan Karina menuju taman untuk melakukan hitung mundur ketika Karina sampai di pintu belakang.

“Sepuluh...”

“Sembilan...”

“Delapan...”

“Tujuh...”

“Enam...”

“Lima...”

“Empat...”

“Tiga...”

“Dua...”

“Satu...”

HAPPY NEW YEAR

Mereka semua berteriak sambil melompat girang menyambut kedatangan tahun 2012.

“Winter, happy birthday ya!” ucap Ningning sambil memeluk teman sebangkunya itu.

Thank you, Ning. Makasih juga ya udah mau tahun baruan di sini.”

“Win, makin tua aja lo. Selamat ulang tahun yaa. Jangan kelamaan,” ucap Giselle sambil mengedipkan matanya.

“Tetep aja tuaan lo. Hahaha. Makasih ya, Gi. Kelamaan apaan sih. Belom ada sejam umur gue nambah.”

Giselle dan Ningning lalu kembali bermain kejar-kejaran meninggalkan Karina dan Winter untuk berbicara.

Karina menarik tangan Winter untuk duduk di bangku taman.

Suara petasan dan kembang api yang tidak berhenti bergemuruh sedari tadi kini mulai mereda. Yang tersisa hanyalah suara teriakan Ningning dan Giselle yang sedang asik bermain.

“Selamat ulang tahun ya, Winter,” ucap Karina sambil mengelus rambut Winter.

“Makasih kak. Makasih juga ya udah mau jauh-jauh dateng ke sini. Semoga nggak trauma ya. Hehehe.”

“Nggak lah. Aku seneng kok main ke sini. Oh iya, aku ada sesuatu buat kamu.” Karina mengeluarkan kantong kertas kecil berwarna biru dan memberikannya ke Winter.

“Ya ampun. Makasih ya, kak. Jadi ngerepotin. Aku buka ya?”

Karina menganggukan kepalanya. Winter segera membuka hadiah dari Karina. Bibirnya tersenyum saat melihat isinya. Sebuah gelang dengan origami bintang berwarna biru dan putih.

“Aku pakaikan ya, Win.”

Karina memakaikan gelang tersebut ke pergelangan tangan kiri Winter. Dengan sangat antusias Winter memeluk erat Karina.

“Makasih banyak ya, kak. Bagus banget gelangnya.”

“Sama-sama, Win. May it be a light to you in dark places, when all other lights go out. Jangan sampai hilang ya,” ucap Karina sambil mengelus rambut Winter.

Malam itu, disaksikan rembulan dan bintang di langit serta pepohonan yang bergoyang tertiup angin, sepasang muda-mudi sedang mengukir kisahnya.

Bel sekolah berbunyi menandakan jam pulang telah tiba. Winter secepat mungkin merapikan barang-barangnya karena tidak ingin Karina menunggu lama.

“Ning, mau ikut ke kelas Kak Karin sama Gigi nggak?” tanya Winter kepada Ningning yang sedang merapikan barang-barangnya.

“Ikut dong, Win. Bentar ya gw beberes dulu,” kata Ningning sambil memasukkan barang-barangnya ke tas.

“Duduk dulu sih, Win. Nggak bisa diem banget lo dari jam pelajaran terakhir kaya ulet keket.”

“Udah buruan. Takut Kak Karin makin ngambek kalo kelamaan,” ucap Winter yang segera berlari meninggalkan kelas setelah melihat Ningning selesai merapikan barang-barangnya.

“Winter! Lah malah ninggalin. Dasar bucin,” ucap Ningning sambil berlari mengejar Winter.

Di ujung lorong, Karina dan Giselle sedang mengobrol di kursi teras kelas mereka sambil menunggu Winter datang.

“KAK KARIIINNN,” teriak Winter dari jarak 5 meter sambil berlari.

“Pacarlo malu-maluin banget anjir. Berasa sekolah punya dia teriak-teriak gitu,” ucap Giselle kepada Karina yang saat ini sedang menutup mukanya karena malu.

“Ini lo berdua ngapain pada lari segala sih. Kaya dikejar setan aja,” ucap Giselle saat Winter berhenti di depannya dan tidak lama kemudian Ningning datang menghampirinya.

“Tadi Winter ngajak ke sini bareng. Tapi tiba-tiba ninggalin. Makanya aku kejar,” ucap Ningning sambil mengatur nafasnya kembali normal.

“Maaf ya Kak Karin sama Gigi kelamaan nungguinnya,”

“Yee giliran Karin aja pake kak lu. Pas sama gue cuma panggil nama,” ucap Giselle sambil berpura-pura ingin memukul Winter.

“Iya maaf deh KAK GIGI,” ucap Winter sambil memasang muka kesal.

“Ewww... Geli ah. Udah panggil gue kaya biasa aja,” ucap Giselle sambil tertawa.

Giselle dan Winter sudah berteman sejak mereka masih kecil. Kebetulan rumah Giselle hanya berjarak 10 meter dari rumah Winter. Dan keduanya selalu masuk ke sekolah yang sama sejak TK sampai SMA. Giselle juga yang memperkenalkan Karina kepada Winter.

“Udah lo urusin tuh pacar lo. Cemberut terus dari pagi kaya lagi banyak utang. Ning, balik yuk. Gue sama Ningning duluan ya,” pamit Giselle.

“Ayo, kak. Duluan ya Win, Kak Karin,” ucap Ningning meninggalkan Karina dan Winter.

“Sini kak geseran duduknya. Baliknya nanti aja. Aku mau ngobrol dulu,” ucap Winter yang langsung menduduki kursi yang ditempati Giselle tadi.

“Lagi sakit gigi ya kak? Kata Gigi cemberut terus dari pagi,” ucap Winter sambil tertawa. Karina mencubit bahu Winter kencang. Yang di cubit hanya bisa tertawa meringis.

“Tutup matanya dulu, kak. Aku mau ngasih sesuatu.”

“Nggak mau ah. Nanti aku ditinggalin sendirian di sini,” ucap Karina masih dengan muka juteknya.

“Ya Allah nggak bakalan aku tinggalin kak. Kalo kakak nggak merem malah kita nggak bakalan pulang yang ada.”

Karina akhirnya pasrah dan menutup matanya. Winter segera mengeluarkan sesuatu dari tas tenteng yang sedari tadi ia genggam rapat.

“Sekarang buka matanya, kak,” ucap Winter sambil memegang sesuatu di depan wajah Karina.

Happy birthday Kak Karin tersayang. Aku nggak lupa kok sama ulang tahun kakak. Emang sengaja mau ngucapinnya pas pulang sekolah.”

Karina langsung memeluk tubuh Winter. Ia pikir Winter lupa dengan hari ulang tahunnya. Karena sudah 2 kali Karina bertemu Winter hari ini –saat pagi hari sebelum masuk kelas dan istirahat siang– namun Winter bersikap seolah hari ini tidak ada apa-apa.

“Kak, pelan-pelan meluknya. Nanti bunganya hancur ini,” ucap Winter sambil mencoba melepas pelukan Karina.

“Makasih ya Win. Aku kira kamu lupa hari ini ulang tahun aku,” ucap Karina sambil mengambil bunga dari tangan Winter.

“Nggak bakal lupa lah kak. Masa iya aku bisa lupa tanggal lahirnya bidadari yang turun dari khayangan.”

“Ihhh apa sih kamu gombal banget masih kecil,” ucap Karina sambil mencubit pipi Winter

“Kecil gini tapi kakak suka kan?” ucap Winter sambil menaik turunkan alisnya.

“Oh iya ini juga buat kakak. Ada cemilan sama surat. Tapi bacanya di rumah aja ya. Jangan di sini. Bunganya masukin aja kak ke tasnya.”

“Makasih banyak ya. Nanti pasti aku baca di rumah,” ucap Karina sambil memberi kecupan di pipi Winter.

Winter terpaku mendapatkan ciuman pertamanya dari karina. Tangannya ia letakan di pipi yang dicium, pipinya memerah dan bibirnya tersenyum malu.

Melihat Winter yang diam saja, Karina berniat untuk menggoda Winter lagi dengan mencium pipinya kembali namun tiba-tiba...

“HEH! Siapa itu bukannya pulang malah ciuman di ujung lorong. Saya lem sini bibirnya biar nempel terus sekalian,” teriak Pak Joko, satpam sekolah yang sedang berkeliling untuk mengunci kelas.

Tersadar mendengar teriakan Pak joko, Winter segera bangun dan menarik tangan Karina untuk kabur sebelum Pak Joko mendekat.

“Kabur dulu, Kak. Nanti lagi kalo masih kurang nyiumnya,” ucap Winter kepada Karina sambil menarik tangannya untuk berlari bersama. Kali ini Karina hanya bisa tersipu malu mendengar ucapan Winter.

Waktu menunjukan pukul 06.00 pagi di kosan Karina. Ia terbangun dengan 29 pesan singkat dari Winter. Semalam, Karina sengaja untuk tidur cepat setelah pulang dari kantor karena ia berniat untuk bangun lebih pagi demi menyelesaikan pekerjaan kantornya terlebih dahulu, sebelum pergi ke apartemen Winter.

Karina tersenyum melihat pesan dari Winter. Jika sober Winter terlihat seperti orang dewasa dengan jokes recehnya, tipsy winter justru kebalikannya. Ia terlihat seperti anak kecil polos yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Tentu saja tetap dengan jokes recehnya. Karena Winter tanpa jokes recehnya bukanlah Winter yang ia kenal.

Karina sengaja tidak membalas pesan dari Winter karena takut membangunkan kekasihnya itu. Ia hanya ingin sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya dan menghampiri Winter di apartemennya. Karena Karina yakin ada sesuatu yang terjadi semalam saat Winter bertemu dengan ayahnya, melihat dari pesan yang dikirim Winter semalam.


Karina tiba di apartemen Winter pukul 10.00 setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia membawa tas kerja berisi laptop serta tas ransel berisi baju ganti dan baju untuk ke kantor. Karina berencana berangkat ke kantor hari senin nanti dari apartemen Winter karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.

“Winter?” panggil Karina setelah menutup pintu. Suara tv terdengar sayup-sayup dari living room.

“Sayang, kamu udah bangun?” panggil Karina lagi namun tidak ada jawaban dari kekasihnya.

Karina berjalan menuju living room setelah meletakkan tas kerja dan ranselnya di ruang kerja Winter.

“Pantesan dipanggilin nggak nyaut,” gumam Karina melihat Winter yang masih tertidur nyenyak di sofa. Badannya meringkuk kedinginan tanpa selimut. Di meja, berserakan makanan ringan dan 2 botol bir kosong. Bukan temulawak seperti pengakuannya.

Karina bergegas mengambil selimut dari kamar Winter dan menutupi tubuh Winter yang kedinginan itu. Setelah itu ia membersihkan meja yang berserakan cemilan dan botol kosong.

Sambil menunggu Winter bangun, Karina bergegas menyiapkan makan siang di dapur. Kebetulan masih ada stok 1 ekor ayam di kulkas. Karina berencana membuat sup ayam untuk membantu Winter menghilangkan pengarnya saat bangun nanti.


Winter terbangun karena mendengar suara dari dapur. “Karin?” panggil Winter, namun Karina tidak mendengarnya karena terlalu asik memasak. Winter melirik jam dinding di atas tv yang menunjukkan pukul 11.30 siang.

Winter mencoba bangun dari sofa namun terduduk kembali karena kepalanya yang pusing. Setelah 5 menit berusaha menstabilkan kepalanya yang berat, Winter berjalan perlahan menghampiri Karina di dapur.

Winter tersenyum melihat punggung Karina yang sedang asik memasak sambil bersenandung lagu Bruno Mars-Marry You. Bergerak perlahan, ia berjalan menghampiri Karina, mencoba memeluknya dari belakang. Karina berteriak saat tangan Winter melingkar di pinggangnya. Hampir saja ia memukul Winter dengan sodet yang dipegangnya.

“Winter! Bikin kaget aja. Untung aku nggak sampe mukul kamu.” ucap Karina sambil mengelus punggung tangan Winter di perutnya. Ia melanjutkan mengaduk panci berisi sup ayam yang masih setengah mendidih.

Winter hanya tertawa kecil, mengencangkan pelukannya dan menempelkan wajahnya pada rambut belakang Karina.

“Hmmm.. Wangi banget,” gumam Winter sambil menggerakkan tubuhnya dan Karina ke kanan dan ke kiri.

“Sabar ya, sebentar lagi mateng kok,” ucap Karina sambil meniup sendok di tangannya. Mencicipi makanan yang dimasaknya.

“Bukan makanannya. Kamu wangi banget hari ini,” Winter menjatuhkan dahinya ke pundak Karina, hidungnya kembali menghirup dalam aroma tubuh Karina. Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua matanya. Tidak ingin Karina tahu, Winter segera mengangkat wajahnya dari pundak Karina.

Sayangnya, Winter telat menyadarinya. Air matanya terlanjur jatuh membasahi pundak Karina yang memakai blouse sabrina. Menyadari tetesan air di pundaknya, Karina segera mematikan kompor dan membalikkan badannya menghadap Winter.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya Karina khawatir. Tangannya memegang dagu Winter berusaha membuat Winter untuk fokus kepadanya.

“Nggak apa-apa kok. Tadi kena asap aja makanya agak perih,” ucap Winter mengelap air matanya sambil mencoba tersenyum.

“Aku mandi dulu ya sebentar biar segeran dikit,” ucap Winter memberi kecupan di bibir Karina dan berbalik badan menuju kamarnya.

Kali ini Karina semakin yakin telah terjadi sesuatu tadi malam antara Winter dan ayahnya.


Setelah selesai makan siang dan menghabiskan 2 mangkuk sup -aku makan ini setiap hari nggak bakalan bosen kayanya- Winter mengajak Karina untuk beristirahat di kamarnya.

“Winter, jangan tiduran dulu. Kamu baru abis makan 2 mangkuk sup. Nanti muntah,” ucap Karina menepuk-nepuk bahu Winter memintanya untuk segera duduk seperti dirinya. Karina menjulurkan kedua tangannya, memberikan kode kepada Winter untuk bersandar di tubuhnya.

“Sayang, aku mau nanya dong sama kamu. Tapi jawab jujur ya,” ucap Winter setelah menemukan posisi nyaman dipelukkan Karina.

“Kamu pernah ngerasa nyesel nggak sih pacaran sama aku?” tubuh Winter sedikit menegang setelah memberikan pertanyaan tersebut.

“Aku nggak tau apa yang kamu omongin sama papa kamu kemarin, ngeliat dari drunk teks kamu semalam sampai sikap aneh kamu hari ini aku yakin kamu lagi mikirin sesuatu,” ucap Karina tidak menjawab pertanyaan Winter.

“Aku nggak pernah nyesel pacaran sama kamu selama ini. Satu penyesalan aku cuma kenapa aku nggak nembak kamu dari semester 1 waktu SMA dulu.”

“Kamu nggak nyesel walaupun jenis kelamin kita sama? Kepercayaan kita beda? Sikap kekanak-kanakan aku yang sering nyusahin kamu?” air mata mulai mengalir dari sudut mata Winter.

Karina melepaskan pelukannya, meminta Winter untuk duduk menghadapnya. Tangannya mengepal kedua tangan Winter sambil sesekali mengelus punggung tangannya.

“Dari awal aku pilih kamu jadi pacar aku, aku udah mikirin semuanya, sayang. Aku udah yakin sama pilihan aku. Kalo jenis kelamin kita beda, aku justru nggak bakalan milih kamu. Kamu kan tau aku sukanya perempuan. Kalo kepercayaan kita sama apa bakal mempermudah jalan kita juga? Justru dengan perbedaan itu kita bisa lebih saling menghargai satu sama lain. Perbedaan itu yang ngebuat kita bisa saling menguatkan satu sama lain.”

“Di dunia yang isinya selalu menilai perbuatan orang lain tanpa melihat proses di baliknya, pasti akan ada orang yang nggak suka sama hal yang kita lakuin. Kita nggak bisa maksain mereka buat melihat hal dengan pandangan yang sama dengan kita. It's okay to be selfish sometime, Win. Selama itu nggak ngerugiin siapapun.  Don't let others shitty opinion get into your head. Karena yang ngejalanin semua ini kita. Ini proses perjalanan hidup kita. Aku dan kamu. Bukan mereka,” ucap Karina sambil menghapus air mata Winter.

“Kalo masalah sikap kekanak-kanakan kamu... Ya aku cuma pasrah aja. Mau diilangin juga nggak bisa.” Karina tertawa mendengar rengekan dari mulut Winter.

“Semalam kan kamu bilang kalo kamu nggak sempurna. Aku juga nggak sesempurna itu kok, sayang. Sekarang gimana caranya dari ketidaksempurnaan itu kita buat jadi sempurna. Kalo kamu dari awal udah terlalu sempurna, aku kaya pacaran sama Andra and The Backbone nggak sih?” ucap Karina sambil tertawa mencoba menghibur Winter.

“Sini peluk dulu ucuk ucuk ucuk udah jangan dipikirin terus. Kita nikmatin aja semua yang kita jalanin sekarang ya.” Karina memeluk erat Winter lalu memberikan ciuman di keningnya.

Hari itu mereka habiskan bersama di kamar Winter sambil menonton film.

Sore itu Winter tiba di rumahnya pukul 17.00. Dua jam lebih awal dari waktu makan malam yang ditentukan ayahnya. Ia sengaja datang lebih awal —setelah selesai mengurus berkas di kampusnya—karena ingin bermain-main sebentar di kamarnya setelah hampir 4 tahun tidak pulang ke rumah.

Setelah melepas kangen dengan bibi yang biasa mengurus rumah, Winter segera naik ke lantai 2 menuju kamarnya.

Tidak banyak yang berubah dari kamar yang ditinggal penghuninya selepas lulus SMA itu. Barang-barangnya masih tertata rapi seperti saat ia meninggalkannya.

Winter berkeliling kamarnya, mencoba mengenang kembali memorinya di kamar itu. Setelah puas bernostalgia, Winter merebahkan tubuhnya di spot favoritnya. Tidak lama kemudian Winter pun terlelap di kasurnya.


Winter terbangun oleh suara ketukan dari pintu kamarnya.

“Non, ditunggu bapak di meja makan.”

“Iya bi, aku cuci muka dulu sebentar,” ucap Winter bergegas menuju kamar mandi.

Setelah mengeringkan mukanya dengan handuk dan merapikan pakaiannya, Winter bergegas turun ke lantai bawah.

“Kamu sampai di rumah jam berapa tadi?” tanya ayah Winter membuka pembicaraan sambil menyendokan nasi ke piringnya.

“Jam 5, pa. Tadi abis ngurus-ngurus berkas di kampus langsung mampir ke sini,” ucap Winter sambil memilih lauk yang diinginkannya.

“Jadwal wisuda kamu sudah keluar?”

“Belum ada kepastian, pa. Tapi kalo nggak salah sekitaran akhir Agustus.”

“Akhir Agustus kemungkinan papa lagi nggak di sini. Nanti kamu kabarin papa aja kalo ada yang harus dibayar untuk wisuda.”

“Iya, pa,” jawab Winter singkat. Nafsu makannya hilang seketika.

Setelah itu mereka menyelesaikan makan malam dalam keheningan.


Setelah selesai makan malam, mereka pindah duduk di taman belakang untuk melanjutkan pembicaraan yang belum selesai tadi.

“Kamu masih pacaran sama Karina?” tanya Ayah Winter sambil menyalakan rokoknya.

“Masih, pa,” jawab Winter pelan. Selama ini, ayahnya tidak pernah membahas tentang hubungannya dengan Karina.

“Kamu sudah dewasa Winter. Sebentar lagi kamu akan masuk dunia kerja dan meneruskan perusahaan papa,” ucap ayahnya sambil menghisap rokoknya.

Mengetahui arah pembicaraan ayahnya, ingin rasanya Winter segera pergi dari rumahnya.

“Kamu itu pacaran karena selama ini kamu kesepian aja. Bukan karena cinta. Nanti kalo kamu sudah masuk dunia kerja, sudah merasakan sibuknya mencari uang, kamu bakalan sadar kalo pacaran itu cuma buang-buang waktu aja.”

Winter mengencangkan pegangannya pada kursi yang ia duduki.

“Kamu lihat papa. Papa merasa lebih bahagia setelah pisah dari mama kamu. 16 tahun hidup papa terbuang sia-sia.”

Oke, cukup. gumam Winter dalam hati.

“Maaf pa, tanpa mengurangi rasa hormat Winter ke papa, Winter punya jalan hidup sendiri. Tolong jangan samain Winter sama papa. Papa mungkin ngira selama ini Winter pacaran cuma buat pelarian doang. Tapi Winter serius sama Karina. Papa boleh ngatur Winter seumur hidup untuk jadi boneka papa. Tapi kalo urusan cinta, tolong papa jangan ikut campur.” Winter segera beranjak dari duduknya.

“Winter pamit, pa. Takut kena macet di jalan. Makasih buat makan malamnya.” pamit Winter sambil mencium tangan ayahnya.

Winter berjalan secepat mungkin menuju mobilnya. Dengan tergesa-gesa ia membuka kunci mobilnya dan melempar tasnya ke kursi belakang dengan kasar. Winter segera menancapkan gas meninggalkan rumahnya.

Jam dinding di kamar Winter menunjukan pukul 12.30 siang. Sudah 2 jam Winter kembali dari kampusnya sehabis mengumpulkan tugas UTS dan absen ujian di meja dosen. Semalam ia begadang sampai jam 3 pagi demi menyelesaikan tugas ujiannya itu.

Saat ini Winter sedang tertidur pulas di kamarnya, memakai sweater tebal, celana training panjang dan kaos kaki double. Selimut tebal menutupi tubuhnya dari ujung kaki sampai leher. Ia sengaja tidak menyalakan AC sama sekali. Karena tanpa AC pun tubuhnya tetap menggigil kedinginan. Sesekali terdengar suara racauan dari mulutnya.

Di luar, terdengar suara kunci pintu apartemen Winter terbuka. Karina masuk perlahan setelah meletakkan access card yang diberikan Winter kepadanya saat anniversary mereka 5 bulan lalu ke rak coklat dekat pintu masuk.

Karina segera pergi ke dapur untuk menghangatkan bubur yang baru saja ia beli untuk Winter. Selagi menunggu buburnya mendidih, Karina menyiapkan air minum di gelas dan merapikan obat yang ia beli di apotek.

Pagi tadi Karina terbangun dengan hati yang berat. Tidurnya tidak nyenyak karena pertengkaran yang terjadi semalam dengan Winter. Ia masih merasa kesal dengan ucapan Winter tadi malam. Namun ia memahami tekanan yang dirasakan Winter saat ini. Apalagi dengan kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit. Maka dari itu, pagi tadi Karina bergegas memesan tiket travel jurusan Bandung – Jakarta untuk menemui Winter.

Saat meminta izin orangtuanya, ia beralasan bahwa temannya ada yang sakit sendirian di kosan dan tidak ada yang merawat. Tentu saja orang tuanya melarang. Namun saat mendengar ucapan Karina selanjutnya, orang tuanya akhirnya memberikan izin.

“Karin nggak pernah merasa setertekan ini selama liburan. Kita liburan bertiga tapi Karin tuh nggak ngerasa senang malah kaya lagi di penjara. Keluarga lain liburan bareng itu saling ngobrol, ketawa bareng, bercanda bareng. Bukan diem-dieman aja dan cuma terlihat bahagia kalo di depan orang lain,” ucap Karina penuh emosi. Bukan bermaksud untuk durhaka, hanya saja ia merasa muak dengan sikap kedua orang tuanya yang kekanak-kanakan.

Dan begitulah alasan kenapa Karina bisa berada di apartemen Winter saat ini. Padahal seharusnya ia ada di Bandung.

Setelah selesai menyiapkan semuanya, secara perlahan Karina membuka pintu kamar Winter dengan sikunya sambil membawa nampan berisi bubur, air minum dan obat. Mulutnya tersenyum namun hatinya sedih melihat Winter yang tertidur pulas dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.

Karina meletakkan nampan yang ia bawa di meja nakas samping kasur dan segera duduk di kasur samping Winter. Tangannya merapikan poni Winter yang menutupi wajahnya. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Winter. Demamnya masih tinggi. Karina pun mengambil bye bye fever yang ia beli tadi dan menempelkannya di dahi Winter.

“Hngggmm.... Maaf.... Mmmmnggg... Kariinn... Maaf....” Winter meracau dalam tidurnya. Dahinya berkerut, tangannya bergerak dari balik selimut.

“Sayang, bangun yuk. Kamu makan dulu abis itu minum obat,” ucap Karina sambil mengelus kepala Winter mencoba membangunkannya.

“Winter, ayo bangun sayang. Makan dulu ya biar cepet sembuh,” panggil Karina halus. Saat ini posisinya berbaring miring menghadap Winter, dengan tangan kanannya menumpu kepala dan tangan kiri mengelus pipi Winter.

Setengah sadar, Winter memegang tangan Karina yang mengelus pipinya. Bibirnya tersenyum saat tangannya menyentuh tangan hangat Karina. Bahkan di dalam mimpi pun Karina sangat perhatian kepadanya, pikir Winter. Rasa bersalah menyelimuti perasaan Winter mengingat ucapannya pada Karina semalam. Tanpa terasa air mata keluar dari sudut matanya. Bibirnya tidak lagi tersenyum. Dahinya mengkerut kencang. Dan nafasnya sesak terengah-engah. Dalam sekejap mimpinya berubah. Karina pergi meninggalkannya karena sifat kekanak-kanakannya.

Panik melihat perubahan Winter yang tiba-tiba, Karina segera membangunkan Winter dengan mengguncang pelan tubuhnya.

“Win, bangun sayang. Kamu mimpi buruk ya. Sayang, ayo bangun.”

Perlahan Winter membuka matanya. Nafasnya masih belum normal. Air matanya masih mengalir. Ia bingung melihat Karina di sampingnya.

“Karin,” panggil Winter dengan suara seraknya.

Karina tersenyum, bersiap membalikkan badannya, mengambilkan air minum untuk Winter. Namun dengan cepat Winter menarik tubuhnya dan memeluknya. Wajahnya dibenamkan di dada Karina. Suara isakan terdengar jelas dari mulut Winter.

“Sayang jangan pergi. Maafin omongan aku kemarin. Aku salah udah ngelampiasin semuanya ke kamu.”

Karina mengencangkan pelukannya lalu mengelus punggung Winter. Bibirnya mencium puncak kepala Winter. Mencoba menenangkannya.

“Aku nggak mau pergi, Win. Aku cuma mau ngambil minum. Kamu sekalian makan dulu yuk. Udah aku beliin bubur buat kamu. Nanti keburu dingin,” ucap Karina sambil mengambil air minum setelah Winter melepaskan pelukannya.

Winter mengambil gelas yang diberikan Karina dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Karina mengambil gelas yang sudah kosong setengah dari tangan Winter dan meletakkannya kembali di meja. Lalu ia menyodorkan mangkuk bubur ke Winter.

“Dimakan dulu yuk buburnya. Abis itu minum obat.” Karina menyodorkan mangkung berisi bubur itu ke Winter.

“Nggak mau makan. Aku masih kenyang.”

“Emang kapan kamu terakhir makan?” tanya Karina curiga.

“Kemarin siang.”

“Winter ini sekarang udah mau jam 1 siang. Kamu udah 24 jam nggak makan. Ayo makan dulu biar bisa minum obat.”

“Maunya disuapinnn,” rengek Winter manja.

“Kemarin aja marah-marah katanya bisa ngurus diri sendiri. Sekarang minta disuapin,” celoteh Karina meledek Winter.

“Kariinnn kok gitu ngomongnya,” ucap Winter sambil ngambek. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Oh yaudah kalo mau ngambek mending aku balik ke Bandung aja,” ucap Karina sambil berpura-pura bangun dari kasur.

Winter langsung membuka selimutnya. Matanya berkaca-kaca. Ia menarik tangan Karina mencegahnya untuk pergi. “Jangan pergi.”

“Kamu tuh kalo lagi sakit gini manja banget kaya anak bayi. Nggak kok sayang aku nggak bakalan pergi,” ucap Karina sambil memeluk Winter erat, tangan kanannya mengelus punggungnya dan bibirnya berkali-kali mencium rambut Winter.

Kamu tenang aja win. Aku nggak bakalan kaya orang tuaku yang selalu lari dari masalah tanpa menyelesaikannya, ucap Karina di dalam hatinya.

Jam menunjukkan pukul 19.30. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam berdua di lantai bawah. Di rumah bertingkat dua ini, Winter hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Orang tuanya telah bercerai saat Winter kelas 3 SMP dan ibunya sudah memiliki keluarga baru lagi.

Di halaman belakang, terdapat rumah kecil tempat bibinya yang biasa membantu mengurus rumah dan suaminya yang merupakan supir keluarga Winter tinggal. Jadi saat malam hari, biasanya Winter hanya sendirian di rumahnya karena ayahnya sering pulang larut malam. Atau tidak pulang sama sekali.

“Sini kak,” panggil Winter sambil menepuk kasur di sebelahnya setelah Karina keluar dari kamar mandi sehabis berganti baju dan cuci muka. Karina segera menghampiri Winter, yang menjulurkan tangannya meminta peluk. Karina menyenderkan kepalanya di headboard setengah berbaring, tangan kanannya mengelus kepala Winter yang bersender di dadanya sambil memeluknya.

“Kak,” panggil Winter sambil memainkan kancing piyama Karina.

“Iya sayang?” ucap Karina.

“Aku nanti pas kuliah ngga tinggal di rumah lagi.” Winter mendongakan kepalanya ke arah Karina yang saat ini sedang melihatnya dengan tatapan bingung.

“Papa tadi ngasih tau di kamarnya ada kotak kuning isi kunci mobil sama apartemen buat aku pake pas kuliah nanti.”

“Terus rumah kamu kosong dong berarti?” tanya Karin heran.

“Iya, papa juga jarang pulang. Atau mau disewain kali buat syuting sinetron indosiar,” ucap Winter, tertawa geli membayangkannya.

“Tapi kamu bakalan sering pulang ke rumah kan? Setiap weekend gitu?” tanya Karina.

“Nggak tau juga sih, Kak. Toh nggak ada bedanya. Di rumah aku selalu sendirian. Di apartemen nanti juga sendirian,” ucap Winter sambil menghembuskan nafas panjang.

“Heeh jangan ngomong gitu. Nanti aku bakalan sering mampir kok ke tempat kamu,” kata Karina sambil mengencangkan pelukannya pada Winter.

Keduanya termenung dalam pikiran masing-masing. Karina yang merasa kasihan dengan keadaan Winter berjanji di dalam hati tidak akan membiarkan kekasihnya merasa kesepian selama bersama dirinya. Dan Winter yang kesepian, merasa takdir hidup itu lucu. Semua kebutuhan primer, sekunder dan tersiernya tercukupi dari lahir. Bahkan lebih dari cukup. Namun bukan itu yang selama ini Winter butuhkan. Yang dibutuhkannya hanyalah keluarga. Dan Winter tetap berterima kasih walaupun keluarga adalah sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan, setidaknya Karina akan selalu ada di sisinya. Untuk saat ini.

“Sayang, kamu nggak mau nyusu?” ucap Karina tiba-tiba, membangunkan Winter dari lamunannya. Dengan cepat ia mengangkat kepalanya dari dada Karina dan membuka mulutnya “HAH?”

Karina bingung melihat pipi dan telinga Winter yang memerah. Diletakannya telapak tangannya di kening Winter. “Kamu kenapa sih malah nganga gitu. Tiba-tiba merah juga mukanya padahal ngga demam. Pertanyaan aku juga ngga dijawab. Kamu tumben ngga bikin susu udah jam segini?” cerocos Karina heran dengan sikap pacarnya.

Sadar akan kebodohannya Winter langsung bangun dari kasur, menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan diri. “Hehehe kaget kirain susu murni,” gumam Winter setengah berbisik.

“Kamu ngga mikir aneh-aneh kan Win?” ucap Karina bersiap melempar bantal ke arah Winter.

Winter segera berlari menghindar dari Karina ke arah pintu sambil berteriak “Ya ampun nggak Kak mikir aneh apaan coba. Udah ah aku bikin susu dulu di bawah,” ucap Winter meninggalkan kamarnya secepat kilat.

“Win...” Karina terdiam setelah memanggil nama Winter. Hanya terdengar suara isakan kecil dari mulut Karina.

“Kaak, lepasin aja semuanya ya jangan dipendam. Aku bakal dengerin semuanya kok,” ujar Winter berusaha menenangkan kekasihnya itu.

Mendengar ucapan Winter, tangisan Karina semakin menjadi. Ia mencoba melepaskan rasa sesak yang dari tadi mengganjal di dadanya.

Winter hanya terdiam mendengarkan Karina menangis. Ia sengaja memberikan waktu bagi Karina untuk menenangkan dirinya.

Setelah 5 menit, tangisan Karina mulai mereda. Ia mulai membuka suara menceritakan apa yang terjadi saat makan malam di hari natal yang seharusnya menjadi momen bahagia keluarganya.

-flashback-

Keluarga Karina sedang makan malam bersama di ruang makan setelah pulang dari peribadatan di gereja. Di meja kotak itu Karina dan kedua orang tuanya duduk berhadapan sambil menikmati makan malam.

Suasana hening berubah saat ayahnya menanyakan hal tentang masa depannya.

“Kamu rencananya jadi mau lanjut kuliah di mana, Rin?” tanya ayahnya sembari menambahkan kuah sup ke dalam mangkuknya.

“Aku rencana mau kuliah di UI aja pa. Biar deket pulang pergi ke rumah. Nggak perlu ngekos,” ujar Karina sambil mengunci layar hpnya. Ia sudah selesai makan dan sedang chatting dengan Winter. Karina adalah murid yang pintar. Ia sudah mendapat undangan dari PTN favorit karena kecerdasannya. Sebenarnya alasan utama Karina tidak mau kuliah di luar kota karena ia tidak ingin berjauhan dari Winter.

“Oh ya udah bagus kalo gitu. Biar mama kamu ngga terus-terusan keluar dan ngumpul-ngumpul ngga jelas,” tegas ayahnya.*

Dan keributan pun dimulai. Ibu Karina tidak terima dengan perkataan suaminya. Ia merasa selama ini sudah berbakti kepada suaminya dengan mengurus keluarganya dengan sungguh-sungguh. Dan kegiatan berkumpul bersama teman-temannya hanyalah salah satu cara untuk menghilangkan jenuh saat Karina dan suaminya tidak di rumah. Teriakan demi teriakan terdengar bersahutan karena keduanya tidak ada yang mau mengalah.

PLAKK

Bunyi tamparan mengagetkan Karina yang sedang termenung melihat keributan orang tuanya. Selama ini Karina sering mendengar orang tuanya bertengkar saat di kamarnya. Namun ini adalah kali pertama ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya menampar ibunya. Karina segera menghampiri ibunya untuk memeluknya, namun ayahnya melarang Karina untuk mendekat dan menyuruh Karina untuk masuk ke kamar. Karina pun terpaksa menuju ke kamarnya sambil menahan tangis dan ketakutan melihat perilaku ayahnya. Siapa sangka malam natal yang seharusnya menjadi malam damai penuh suka cita berubah menjadi malam yang meninggalkan luka bagi Karina.

-end of flashback-

“Mama kamu sekarang gimana? Papa kamu ngga ngapa-ngapain kamu kan?” tanya Winter setengah panik setelah mendengar cerita Karina.

“Aku nggak tau mama gimana. Tadi pas aku mau ke kamar, mama lagi nangis di lantai. Sekarang di bawah udah sepi ngga ada suara lagi. Aku nggak apa-apa win. Cuma masih shock aja. Papaku emang temperamental. Tapi aku masih nggak nyangka papa sampe berani main tangan sama mama,” kata Karina sambil sesekali membuang ingusnya.

“Yaudah, sekarang kakak tidur ya. Pasti capek tadi abis dari gereja juga kan. Jangan nangis terus ya kak. Nanti muka pacarnya aku jadi jelek,” kata Winter sambil cengengesan. Mencoba mencairkan suasana.

Karina tertawa kecil mendengar ledekan Winter. “Iya sayang aku mau cuci muka dulu ya. Muka aku kucel banget. Kamu juga tidur ya sayang. Makasih udah dengerin cerita aku. Maaf ya kita ngga jadi video call-an.”

“Iya kak Karin sayaang ngga apa-apa kok. Sekarang yang penting kakak istirahat dulu ya. I love you to the moon and back. Good night, kak,” ucap Winter.

I love you too, sayang. Thank you for being there for me. Good night, Win,” ucap Karina memutuskan sambungan telepon dan beranjak dari kasur menuju kamar mandi.